NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 : Panggung Sendiri

Hari itu akhirnya tiba. Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamarku, memberikan cahaya hangat yang seolah menjadi pertanda bahwa hari ini akan menjadi hari yang spesial. Hari ini adalah hari Pameran Budaya dan Teknologi di sekolahku. Setelah berminggu-minggu berkutat dengan desain di Ibis Paint X dan bergulat dengan kode-kode website yang sempat membuatku pusing, hari ini adalah saatnya segalanya ditampilkan di depan guru dan teman-teman satu sekolah.

Aku terbangun dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada rasa cemas yang berlebihan. Tidak ada lagi rasa rendah diri yang menghantui. Yang ada hanyalah rasa tidak sabar untuk menunjukkan apa yang sudah aku kerjakan.

Aku segera bergegas menuju meja belajarku. Laptopku sudah tersusun rapi, baterainya penuh, dan flashdisk cadangan sudah ada di saku rok. Aku memeriksa sekali lagi hasil coding yang kemarin sempat diperbaiki. Semuanya berjalan lancar. Responsif di layar HP, navigasi yang mulus, dan desain yang estetis. Aku tersenyum tipis. Ternyata, jika aku berusaha cukup keras, aku bisa melakukan hal-hal yang dulu kupikir mustahil bagi anak SMP sepertiku.

Saat aku turun ke ruang makan, Kak Hazel sudah ada di sana, sedang sibuk dengan kopinya dan layar ponselnya. Dia mendongak saat mendengar langkah kakiku.

"Tumben udah rapi? Biasanya gue harus teriak-teriak dulu di depan pintu kamar lo," godanya dengan senyum khasnya.

"Hari ini hari Khusus, Kak. Harus on time!" jawabku antusias sambil menarik kursi dan duduk di depannya.

Hazel meletakkan ponselnya, lalu menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Gue liat lo sibuk banget seminggu ini. Koding-kodingan sampai malem, desain poster... Gue yakin hasilnya pasti bagus. Lo udah kerja keras."

"Makasih, Kak," ucapku tulus. "Aku cuma pengen nunjukin kalau proyek ini bukan asal-asalan."

"Gue tau," Hazel mengangguk pelan. "Dan gue bangga. Lo nggak cuma sekadar 'ngerjain tugas', tapi lo belajar skill baru. Itu yang paling penting. Gue nanti sore jemput lo di sekolah, ya? Gue mau liat stand lo."

"Beneran? Gak sibuk di bengkel?"

"Bengkel bisa nunggu. Adik gue lagi pameran, itu prioritas," jawabnya santai sebelum meneguk kopinya.

Mendengar itu, hatiku terasa hangat. Hubungan kami memang tidak selalu manis—terkadang dia menyebalkan, terlalu protektif, atau berisik—tapi di saat-saat seperti ini, aku sadar betapa beruntungnya aku memiliki Hazel sebagai kakak. Dia adalah pendukung nomor satuku.

Sesampainya di sekolah, suasana sudah sangat ramai. Lorong-lorong kelas yang biasanya sepi di pagi hari kini berubah menjadi deretan stan-stan kreatif. Ada yang memamerkan kerajinan tangan, masakan tradisional, hingga pameran teknologi seperti yang aku ikuti.

Aku segera menuju stan kelasku. Teman-temanku sudah mulai menata meja. Saat aku membuka laptop dan menjalankan website pameran kami di layar proyektor kecil yang kami sewa, perhatian beberapa orang langsung teralih.

"Rea, itu beneran website buatan lo sendiri?" tanya Rizkia—yang sekarang, untungnya, sudah tidak lagi mencari masalah denganku. Dia menatap layar dengan takjub.

"Iya, desain sama kodenya dibikin bareng-bareng sama tim, tapi aku yang handle bagian front-end-nya," jawabku dengan nada percaya diri.

Sepanjang hari, stan kami menjadi salah satu yang paling sering dikunjungi. Aku harus menjelaskan berkali-kali bagaimana aku membuat layout-nya agar pas di layar, bagaimana aku mengintegrasikan warna-warna budaya Mandarin ke dalam tampilan digital, dan bagaimana sistem navigasi di website itu bekerja.

Setiap kali ada pertanyaan teknis, aku tidak lagi merasa gagap. Aku menjawabnya dengan tenang, menjelaskan logika coding yang dulu sempat kutanyakan pada Luq. Aku sadar, pelajaran yang kudapat dari Luq kemarin bukan hanya sekadar "cara memperbaiki kode", tapi cara berpikir secara sistematis. Itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan sekarang menjadi milikku sepenuhnya.

Saat jam istirahat, Pak Guru Pembimbing mampir ke stan kami. Dia menatap layar laptopku cukup lama, lalu tersenyum lebar. "Rea, ini luar biasa. Kamu tidak hanya menampilkan visual yang bagus, tapi fungsi teknisnya sangat stabil. Ini adalah standar yang sangat tinggi untuk anak SMP. Lanjutkan potensimu di bidang ini."

Mendengar pujian itu, rasanya seperti beban yang selama ini kupikul di pundakku hilang begitu saja. Aku berhasil. Aku berdiri di atas kakiku sendiri, menggunakan ilmuku sendiri, dan mendapatkan pengakuan atas usahaku sendiri.

Sore harinya, sesuai janji, Hazel datang menjemput. Dia tidak hanya datang, dia membawa es kopi susu kesukaanku dari kedai favorit kami. Dia berdiri di depan stan, melihatku sedang menjelaskan proyek pada salah satu guru, dan menunggu dengan sabar. Dia tidak memotong, tidak ikut campur, dia hanya tersenyum bangga dari kejauhan.

Setelah acara selesai dan kami mulai membereskan stan, Hazel berjalan mendekat. "Gimana? Lancar?"

"Lancar banget, Kak! Pak Guru bilang ini bagus banget!" seruku bersemangat.

Hazel mengacak rambutku—perilaku khas yang dulu sering dia lakukan kalau aku masih kecil. "Gue bilang juga apa. Lo tuh kalau mau usaha, hasilnya pasti nggak main-main. Lumayan, Dek."

Kami berjalan pulang dengan motornya yang legendaris itu. Angin sore Jakarta terasa sejuk di wajahku. Sepanjang perjalanan, Hazel tidak berhenti bertanya tentang detail proyekku, tentang apa saja yang kutemukan saat koding, dan rencana apa yang ingin kulakukan selanjutnya.

Kami berjalan pulang dengan motornya yang legendaris itu. Angin sore Jakarta terasa sejuk di wajahku. Sepanjang perjalanan, Hazel tidak berhenti bertanya tentang detail proyekku, tentang apa saja yang kutemukan saat koding, dan rencana apa yang ingin kulakukan selanjutnya.

Aku sadar, di episode hidupku kali ini, aku tidak butuh siapapun untuk melindungiku atau membelaku. Aku tidak butuh drama untuk merasa diperhatikan. Aku hanya butuh ruang untuk tumbuh, dan aku beruntung memiliki kakak yang memberiku ruang itu.

Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Kamarku terasa berbeda. Bukan lagi sekadar tempat persembunyian saat aku merasa kecil, tapi tempat bagi seorang gadis yang baru saja menyelesaikan proyek pertamanya dengan sukses.

Aku mengambil ponselku dan melihat deretan foto-foto hari ini. Aku melihat fotoku di depan stan, tersenyum lebar, terlihat begitu hidup dan percaya diri. Aku tidak butuh validasi dari siapapun lagi. Aku punya diriku sendiri, aku punya Hazel, dan aku punya masa depan yang menungguku di depan sana.

Aku menutup mata, membayangkan hari esok. Mungkin akan ada tantangan baru, mungkin akan ada pelajaran yang lebih sulit. Tapi untuk malam ini, aku akan tidur dengan perasaan puas. Aku, Rea, akhirnya menemukan panggungku sendiri.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!