NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Lima

Cahaya matahari pagi yang baru saja menyembur dari balik cakrawala Pegunungan Timur menyapu Desa Jinan dengan kehangatan yang terasa begitu murni. Di halaman depan gubuk kayu Zhou Ji Ran, embun yang menempel pada daun-daun sawi hijau primadona mulai menguap, menciptakan kabut tipis yang beraroma tanah subur dan kedamaian. Pohon Memori yang kini telah tumbuh rimbun di samping teras memberikan naungan yang sejuk, helai daunnya yang berwarna perak sesekali bergetar ditiup angin sepoi-sepoi, mengeluarkan suara denting halus yang menenangkan jiwa siapa pun yang mendengarnya.

Mo Ye, yang kini telah sepenuhnya menerima identitas barunya sebagai Juru Taman Tingkat Satu, terlihat sedang berjongkok di dekat pagar tanaman pagar yang mengelilingi kedai teh. Gunting taman besarnya bergerak dengan presisi yang mengerikan. Setiap dahan yang tidak simetris, setiap daun yang mulai menguning, dan setiap ranting yang tumbuh keluar dari pola yang ditentukan, dipotongnya dalam satu gerakan bersih. Ia tidak lagi memikirkan tentang penghapusan realitas atau pemangkasan akar takdir; fokusnya kini tertuju sepenuhnya pada estetika pagar tanaman tersebut. Baginya, keteraturan visual adalah bentuk tertinggi dari stabilitas data yang bisa ia capai di dunia fisik ini.

"Mo Ye, jangan terlalu pendek memotong bagian bawahnya. Akar tanaman itu butuh sedikit naungan agar tanahnya tidak terlalu cepat kering saat siang nanti," tegur Zhou Ji Ran dari teras, suaranya terdengar malas namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Mo Ye berhenti sejenak, menoleh ke arah Zhou Ji Ran dengan wajah datarnya yang tanpa ekspresi. "Diterima. Menyesuaikan parameter pemangkasan sebesar sepuluh persen untuk retensi kelembapan tanah."

Zhou Ji Ran hanya mengangguk kecil, lalu kembali menyesap teh melatinya yang masih mengepulkan uap. Di sampingnya, Gu Lao sedang asyik memilin janggut putihnya sambil memperhatikan sembilan naga perak yang sedang bermain-main di aliran sungai irigasi. Naga-naga itu kini tampak sangat bahagia; tugas mereka memutar kincir air kini dilakukan dengan santai karena sistem irigasi yang dibangun oleh para prajurit zirah emas sudah sangat efisien.

"Ji Ran," ucap Gu Lao pelan. "Kau tahu, kedamaian ini terasa sangat mahal. Aku bisa merasakan ada perubahan suhu yang drastis dari arah Pegunungan Matahari. Udara yang mengalir ke lembah kita tidak lagi membawa aroma hutan, melainkan aroma belerang dan logam yang mendidih."

"Aku sudah merasakannya sejak tadi malam, Gu Lao," sahut Zhou Ji Ran santai. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja kayu yang permukaannya sudah halus dipoles oleh Ye Hua. "Hama yang satu ini tampaknya sangat suka bermain dengan api. Tapi kebetulan sekali, Chen Long mengeluh bahwa api dari kayu bakar biasa tidak cukup stabil untuk teknik pemanggangan barunya. Kita butuh sumber panas yang lebih konstan untuk dapur restoran."

Tiba-tiba, langit di arah barat berubah menjadi merah membara, seolah-olah matahari sedang mencoba untuk terbit dari arah yang salah. Awan-awan yang tadinya putih bersih seketika terbakar menjadi warna oranye pekat, dan suhu di Desa Jinan mulai merangkak naik dengan sangat cepat. Suara gemuruh seperti ribuan naga api yang sedang meraung terdengar dari kejauhan, menggetarkan permukaan air di Telaga Teratai Imortal.

Lin Xiaoqi keluar dari dapur dengan wajah yang sedikit memerah karena udara yang tiba-tiba menjadi panas. "Tuan! Sawi-sawi di kebun mulai layu! Apa yang terjadi dengan cuaca hari ini?"

Ye Hua dan Bai Ling segera melompat ke teras, keduanya sudah memegang peralatan masing-masing—Ye Hua dengan sapu lidinya yang memancarkan aura pedang tajam, dan Bai Ling dengan botol kristal berisi esensi es murni.

"Ada kehadiran energi api tingkat murni yang sedang mendekat, Tuan," lapor Ye Hua dengan nada waspada. "Aura ini tidak berasal dari sistem, melainkan dari seorang ahli kultivasi kuno yang memiliki garis keturunan Matahari Abadi."

Dari kejauhan, di atas jalan setapak menuju desa, terlihat sebuah bola api raksasa meluncur dari langit seperti meteor. Bola api itu menghantam tanah di batas luar desa dengan dentuman yang memekakkan telinga, menciptakan kawah besar yang tanahnya seketika berubah menjadi magma cair. Dari dalam kawah tersebut, melangkah keluar seorang pria bertubuh raksasa dengan kulit berwarna tembaga dan rambut merah yang berkobar seperti api yang tak pernah padam. Di tangannya, ia memegang sebuah palu godam raksasa yang setiap ketukannya mengeluarkan percikan api yang bisa melelehkan baja.

Namanya adalah Huo Fen, sang Dewa Tungku dari Pegunungan Matahari, seorang ahli pandai besi legendaris yang konon bisa menempa senjata dewa menggunakan inti dari matahari yang jatuh. Ia datang ke Desa Jinan karena ia merasakan hilangnya aura murid kesayangannya—salah satu prajurit zirah emas yang kini sedang menggali irigasi—dan juga karena ia merasa terhina oleh berita bahwa ada seorang petani yang berani menawan para elit dunia atas.

"Siapa di sini yang bernama Zhou Ji Ran?!" suara Huo Fen menggelegar, gelombang panas yang dipancarkannya membuat rumput di pinggir jalan seketika mengering dan terbakar. "Keluar kau, manusia sombong! Beraninya kau memperbudak para ahli surga untuk mencangkul tanah yang kotor ini! Aku akan membakar desa ini hingga menjadi abu sebagai upacara pembersihan!"

Huo Fen mengangkat palu godamnya, bersiap untuk menghantamkan energinya ke arah Kedai Teh Kedamaian.

Zhou Ji Ran berdiri dari kursi goyangnya dengan helaan napas panjang yang sangat berat. Ia mengambil sebuah ember kayu kosong yang biasanya ia gunakan untuk menaruh cucian piring. "Sigh... setiap kali aku ingin menikmati pagi yang tenang, selalu saja ada kompor berjalan yang datang dan mencoba merusak kebunku. Xiaoqi, siapkan air dingin yang banyak. Aku rasa kita akan punya banyak logam panas untuk diolah hari ini."

Zhou Ji Ran berjalan perlahan menuju batas desa, melintasi halaman yang udaranya mulai terasa seperti di dalam oven raksasa. Ia berhenti tepat di depan Huo Fen, yang tingginya hampir dua kali lipat darinya.

"Dewa Tungku, ya?" Zhou Ji Ran menatap palu godam Huo Fen dengan pandangan menilai. "Palu itu buatannya cukup bagus, tapi distribusi panasnya masih tidak merata di bagian pangkalnya. Pantas saja kau sangat marah; peralatan kerjamu sendiri tidak sempurna."

Huo Fen tertegun sejenak. Tidak ada orang yang pernah mengkritik kualitas tempanya, apalagi seorang petani yang terlihat tidak memiliki basis kultivasi sama sekali. "Beraninya kau menghina karya seniku! Rasakan amarah dari Inti Matahari!"

Huo Fen menghantamkan palunya ke arah tanah di depan Zhou Ji Ran. Sebuah pilar api raksasa setinggi ratusan meter meledak keluar, bermaksud untuk menelan Zhou Ji Ran dan seluruh bangunan di sekitarnya dalam lautan api yang tak terpadamkan.

Para penduduk desa dan para pekerja di tebing utara seketika berteriak ketakutan. Mereka melihat bagaimana api itu membumbung tinggi, menutupi pemandangan langit. Namun, di tengah-tengah pilar api yang mengerikan itu, Zhou Ji Ran tetap berdiri tegak. Ia tidak menggunakan tameng energi atau mantra air. Ia hanya mengangkat ember kayu kosongnya tinggi-tinggi.

Secara ajaib, pilar api yang sangat masif itu tidak membakar ember kayu tersebut. Sebaliknya, api itu seolah-olah menemukan rumah barunya. Seluruh energi panas dan lidah api yang berkobar hebat itu tersedot masuk ke dalam ember kecil milik Zhou Ji Ran seolah-olah ember itu adalah wadah tanpa dasar. Dalam hitungan detik, suhu di Desa Jinan kembali normal, dan pilar api itu hilang sepenuhnya, menyisakan Zhou Ji Ran yang kini memegang ember berisi gumpalan api yang sudah dijinakkan menjadi bola cahaya oranye kecil yang hangat.

"Ember ini memang serbaguna," gumam Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah Huo Fen yang kini mematung dengan mulut ternganga. "Sekarang, karena kau sudah memberikan modal api yang cukup bagus, aku tidak akan membiarkannya terbuang sia-sia. Chen Long! Kemari!"

Chen Long, sang juru masak dewa, segera berlari dari restorannya dengan membawa sebuah kuali perunggu besar. "Ya, Tuan! Saya siap!"

Zhou Ji Ran melemparkan bola api di dalam embernya ke bawah kuali Chen Long. Seketika, kuali itu memancarkan panas yang sangat stabil dan konstan, jauh lebih baik daripada api kayu bakar mana pun. "Gunakan api ini untuk memanggang bebek Peking-mu siang nanti. Pastikan kulitnya sangat renyah."

Huo Fen masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Amukan Matahariku... dijadikan api kompor?! Kau... kau telah menghina martabat seorang pandai besi dewa!"

Huo Fen mencoba mengangkat palunya lagi, namun ia merasa tangannya menjadi seberat ribuan ton. Zhou Ji Ran sudah berada di sampingnya, meletakkan tangannya yang ramping di atas kepala palu godam tersebut.

"Martabat pandai besi bukan diukur dari seberapa banyak kau bisa membakar, Huo Fen, tapi dari seberapa berguna alat yang kau ciptakan," ucap Zhou Ji Ran dengan suara yang sangat tenang namun membuat bulu kuduk Huo Fen berdiri. "Kau punya energi panas yang melimpah, dan kau punya palu yang kuat. Kebetulan sekali, aku sedang berencana untuk membangun sebuah jembatan permanen di atas sungai irigasi menggunakan struktur logam abadi agar tidak mudah lapuk oleh air naga. Kami butuh seorang pandai besi yang bisa menempa baja di tempat, tanpa harus membawa peralatan besar."

Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya ke arah Huo Fen. Seketika, zirah tembaga sang Dewa Tungku menyusut dan berubah menjadi apron kulit tebal yang biasa digunakan oleh pengrajin desa. Palu godam raksasanya berubah menjadi palu tempa yang ukurannya lebih manusiawi namun memiliki kepadatan yang luar biasa. Rambut apinya yang berkobar seketika padam, menyisakan rambut merah pendek yang tampak lebih rapi.

"Mulai hari ini, kau adalah Kepala Pandai Besi Desa Jinan," perintah Zhou Ji Ran. "Tugasmu adalah menempa struktur jembatan di siang hari, dan memastikan tungku di dapur Chen Long tetap menyala dengan suhu yang tepat di malam hari. Jika aku melihat suhu tungku itu turun atau jembatannya miring satu milimeter saja, aku akan memintamu untuk menempa seribu paku menggunakan kepalamu sendiri sebagai landasannya."

Huo Fen merasa seluruh kekuatannya kini telah diikat oleh hukum bumi Desa Jinan. Ia menatap palu barunya, merasakan sebuah getaran energi yang jauh lebih murni daripada energi api yang pernah ia miliki sebelumnya. Ia menyadari bahwa di bawah perintah Zhou Ji Ran, ia bisa mencapai tingkatan penempaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Saya... saya akan melaksanakan tugas saya, Tuan Zhou," ucap Huo Fen dengan suara yang kini jauh lebih rendah dan penuh rasa hormat.

"Bagus. Pergilah ke sungai sekarang. Lu Xing dan prajurit zirah emas sudah menunggu di sana. Mereka sudah menggali pondasinya, kau tinggal menyiapkan kerangka logamnya," kata Zhou Ji Ran sambil berjalan kembali ke kursi goyangnya.

Siang hari di Desa Jinan menjadi jauh lebih produktif dengan kehadiran Huo Fen. Suara dentuman palu tempa yang beradu dengan logam abadi terdengar bersahutan di tepi sungai, menciptakan ritme kerja yang penuh semangat. Jenderal Lu Xing dan pasukannya tampak sangat terbantu; dengan adanya api dari Huo Fen, mereka bisa menyatukan batu-batu irigasi dengan semen logam yang sangat kuat dalam hitungan menit.

Qian Fugui, yang baru saja kembali dari pengiriman logistik di desa tetangga, tampak kagum melihat jembatan yang mulai berdiri kokoh. "Luar biasa! Dengan jembatan ini, gerobak logistikku bisa bergerak dua kali lebih cepat! Efisiensi ini benar-benar akan meningkatkan surplus desa kita!"

Wu Tie, yang masih duduk di balik meja kasirnya, mencatat aset baru tersebut di buku besarnya. "Kepala Pandai Besi: Huo Fen. Nilai Tambah Infrastruktur: Tak Terukur. Biaya Operasional: Tiga porsi daging panggang dan satu liter bir gandum per hari."

Di teras kedai teh, Zhou Ji Ran sedang menikmati makan siangnya—bebek Peking yang kulitnya sangat renyah berkat api dari Huo Fen. Lin Xiaoqi, Su Ruo, Ye Hua, dan Bai Ling duduk bersamanya, suasana terasa sangat akrab dan hangat.

"Tuan, apakah Anda tidak khawatir jika semua ahli dari Dunia Atas ini akhirnya menyatu di desa kita? Suatu hari nanti, Aliansi Besar pasti akan merasa kehilangan seluruh kekuatan elitnya," tanya Su Ruo sambil menuangkan teh untuk Zhou Ji Ran.

"Biarkan saja mereka merasa kehilangan, Ruo," jawab Zhou Ji Ran setelah mengunyah daging bebeknya. "Dunia luar sana hanya tahu cara menggunakan kekuatan untuk menghancurkan. Di sini, mereka belajar bahwa kekuatan itu jauh lebih indah jika digunakan untuk membangun sesuatu yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Jika Aliansi itu pintar, mereka seharusnya mengirim seluruh anggota mereka ke sini untuk belajar bercocok tanam."

Lin Xiaoqi tertawa, ia menyandarkan kepalanya di bahu Zhou Ji Ran. "Bayangkan seluruh Dunia Atas menjadi desa petani... itu pasti akan menjadi tempat yang sangat damai."

"Mungkin itu adalah tujuan akhir yang tidak sengaja aku buat, Xiaoqi," gumam Zhou Ji Ran sambil tersenyum tipis.

Namun, di tengah suasana santai itu, Yan Fei—pemuda dari dimensi teknologi—berjalan mendekat dengan wajah yang tampak sangat pucat. Ia memegang kotak hitamnya yang kini layarnya berkedip-kedip dengan warna merah menyala yang sangat agresif.

"Tuan Zhou... saya baru saja menerima sinyal aneh dari koordinat yang tidak terdaftar di peta multisemesta. Sinyal ini bukan berasal dari energi spiritual atau teknologi... ia berasal dari sesuatu yang disebut 'Entropi Primordial'. Sesuatu yang sangat besar sedang bergerak menuju ke sini, dan ia tidak memiliki wujud fisik yang bisa saya ukur," lapor Yan Fei dengan suara gemetar.

Zhou Ji Ran menghentikan kunyahannya sejenak. Ia menatap ke arah langit yang kini sudah kembali biru, namun di baliknya, ia bisa merasakan adanya sebuah kekosongan yang sangat lapar. "Entropi Primordial... jadi 'Sang Pemangsa Akar' benar-benar tidak main-main. Mo Ye, apa kau merasakannya?"

Mo Ye, yang sedang merapikan tanaman di dekat teras, berhenti bekerja. Ia menatap ke arah langit dengan tatapan datarnya yang kini terlihat sedikit lebih serius. "Parameter deteksi: Negatif. Namun, jalur data di sekeliling desa mulai menunjukkan tanda-tanda dekomposisi. Sesuatu sedang mencoba menghapus pondasi realitas di bawah kaki kita secara perlahan."

"Begitu ya," ucap Zhou Ji Ran tenang. Ia berdiri, membersihkan tangannya menggunakan handuk kecil. "Sepertinya pembangunan jembatan ini harus dipercepat. Kita butuh struktur yang sangat kuat untuk menahan goncangan dari kehampaan. Huo Fen! Gunakan esensi Inti Mataharimu secara maksimal pada kerangka jembatannya! Aku ingin jembatan itu tidak hanya bisa menahan air, tapi juga bisa menahan guncangan dimensi!"

"Siap, Tuan!" teriak Huo Fen dari tepi sungai.

Zhou Ji Ran kemudian berjalan menuju kebun sawinya. Ia menyentuh tanah yang hangat dengan telapak tangannya, mengirimkan sebuah gelombang energi yang sangat dalam ke seluruh penjuru desa. Ia sedang memperkuat "Domain Kedamaian" miliknya, mengubahnya menjadi sebuah benteng yang tidak hanya melindungi fisik, tapi juga melindungi eksistensi jiwa setiap penghuninya.

"Dunia ini mungkin ingin kembali ke ketiadaan," bisik Zhou Ji Ran pada tanaman sawinya. "Tapi selama aku masih ingin makan sayur bening, ketiadaan itu tidak akan pernah aku izinkan masuk ke halaman rumahku."

Malam mulai turun menyelimuti Desa Jinan. Lampu-lampu lampion mulai menyala, memberikan pendaran cahaya yang hangat di sepanjang jembatan yang baru setengah jadi. Suara dentuman palu Huo Fen terus terdengar hingga larut malam, menjadi penanda bahwa perlawanan terhadap kehampaan sedang dilakukan dengan cara yang paling nyata: dengan bekerja.

Zhou Ji Ran kembali duduk di kursi goyangnya, menatap bintang-bintang yang kini tampak bergetar. Ia tahu bahwa pertempuran berikutnya tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan sapu lidi atau air cucian piring. Ia harus menggunakan otoritas aslinya sebagai sang mantan pemilik sistem untuk mendefinisikan ulang apa yang nyata dan apa yang tidak.

"Hama besar akan segera datang," gumamnya pelan. "Tapi setidaknya, jembatannya akan selesai tepat waktu untuk kita gunakan saat panen raya berikutnya."

Ia memejamkan mata, membiarkan aroma melati dan wangi masakan Chen Long menuntunnya menuju istirahat yang damai. Tanpa misi, tanpa instruksi, ia sedang mempersiapkan diri untuk melindungi satu-satunya hal yang ia sayangi: kehidupannya yang lambat dan bermakna di atas tanah Jinan.

Segalanya berjalan dengan perlahan, penuh dengan ketegangan yang tersembunyi di balik harmoni. Sebuah perjalanan menuju ketenangan yang abadi, di mana setiap musuh hanyalah satu lagi alasan untuk menanam sesuatu yang baru. Dan bagi Zhou Ji Ran, itulah satu-satunya cara hidup yang layak ia jalani hingga langkah terakhirnya nanti.

Malam semakin larut, dan Desa Jinan pun tenggelam dalam kesunyian yang penuh dengan tekad. Sang petani legenda telah menemukan rumahnya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan entropi primordial sekalipun, untuk merusaknya. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa, jauh melampaui statistik dan angka yang pernah ia kuasai dulu.

"Tidurlah yang nyenyak, sawi-sawiku. Esok pagi kita akan menghadapi badai bersama-sama," bisik angin di sela-sela daun sawi yang hijau subur.

Dan di kegelapan yang jauh, sang pemangsa akar mulai menyadari bahwa Desa Jinan bukan lagi sekadar anomali kecil, melainkan sebuah benteng realitas yang sangat sulit untuk ditembus. Perjalanan ini baru saja memasuki fase yang paling krusial, dan setiap detiknya adalah keajaiban yang nyata. Tanpa instruksi apa pun, Zhou Ji Ran telah menjadi arsitek bagi takdirnya sendiri di atas tanah yang subur ini. Dan ia akan memastikan bahwa takdir itu tetap damai, satu hari pada satu waktu.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!