POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.
Tapi plot twist-nya...
Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!
Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?
✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu
Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor�
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
Hanya status itu saja sudah cukup membuatnya merasa punya hak untuk mempersulit hidup Arlo dengan cara lain. Sudut bibir Jaiden perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang Penuh niat buruk. Heh… jangan harap kau bisa mendapatkan adikku semudah itu.
Memikirkan hal itu, suasana hati Jaiden justru membaik. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa status sebagai “kakak” ternyata sangat menyenangkan.
Arlo akhirnya mengangkat kepala menatap Jaiden.
Namun bukannya menjawab, ia malah dengan tenang mengambil buku latihan milik Zoya dari meja lalu membukanya perlahan.
Sikap mengabaikan itu membuat urat di pelipis Jaiden hampir pecah.
Inilah Arlo.
Pria ini terlalu hemat bicara sampai kadang membuat orang ingin mencekiknya.
Jaiden mencibir dingin.
“Ngapain kamu ada di apartemen seorang mahasiswi?” sindirnya tajam. “Apakah ini masih termasuk batas hubungan dosen dan mahasiswa?”
Ia menyilangkan tangan.
“Huh… Profesor Arlo, sebaiknya ingat batasanmu.”
Arlo akhirnya meliriknya sekilas… Tatapannya dingin dan tajam.
“Jangan samakan pikiranmu dengan pikiranku.” Suaranya tenang. “Aku datang murni untuk mengajari mahasiswaku.” Setelah jeda singkat, Arlo balik menyerang dengan nada datar: “Lagipula, kalau aku tidak boleh berada di sini… kenapa kamu boleh?”
Tatapannya turun-naik menilai Jaiden.
“Kamu yang justru terlihat seperti orang yang tidak punya niat murni.”
Jaiden hampir mengutuk dengan keras.
Dasar munafik!
Namun tentu saja ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya adalah kakak kandung Zoya sekarang sebelum ia puas mengerjai Arlo.
Jaiden pun tersenyum miring.
“Aku teman Zoya.” Nada suaranya santai penuh provokasi. “Dan bukankah wajar teman datang berkunjung?”
Ia sengaja menekankan kalimat berikutnya:
“Aku juga mengenalnya lebih dulu daripada kamu.” Dan itu memang fakta. Bahkan, ia sudah mengenal adiknya sejak gadis itu masih berada di dalam perut.
Mendengar itu, alis Arlo langsung mengernyit rapat… Tatapannya berubah sedikit dingin.
Sejak kemarin malam, setelah menyimpulkan bahwa Jaiden kemungkinan besar menyukai Zoya, Arlo sebenarnya sudah memikirkan banyak hal.
Ia tahu Jaiden tidak akan mencelakai Zoya.
Bahkan jika suatu hari nanti Tuan Muda Winarto benar-benar menyebarkan rumor soal dirinya membawa Zoya ke apartemen, Jaiden kemungkinan justru akan melindungi Zoya.
Namun masalahnya… Reputasi Jaiden terlalu buruk.
Di mata Arlo, pria itu adalah tipe playboy kelas berat yang berganti pasangan lebih cepat daripada mengganti pakaian.
Arlo benar-benar tidak merasa tenang membayangkan Zoya jatuh ke tangan pria seperti itu. Karena itulah sejak semalam ia sudah diam-diam memutuskan…
Hari ini, sambil mengajari Zoya, ia akan perlahan menasihati gadis itu agar tidak tertipu oleh rayuan manis Tuan Muda Saksomo.
Untungnya…
Dilihat dari reaksi Zoya tadi saat mereka membicarakan Jaiden, gadis itu tampaknya belum memiliki perasaan romantis terhadap jaiden.
Memikirkan itu, hati Arlo sedikit lebih tenang.
Sementara Arlo dan Jaiden saling adu tatap di ruang tamu, Zoya dan Necki sibuk memasak di dapur.
Zoya melirik Necki yang sedang mencuci sayuran di wastafel. “Kenapa kamu bisa datang bersama kakakku?”
Tanpa menoleh, Necki menjawab, “Waktu aku pulang, aku sudah melihat Tuan Muda Kedua berdiri di depan lift sambil memegang ponselnya, sepertinya mau meneleponmu. Begitu dia melihat aku datang, dia langsung menyuruhku membawanya ke sini. Katanya hari ini dia ingin makan bersama kamu.”
Necki melirik Zoya dengan ragu-ragu sebelum melanjutkan, “Tapi siapa yang tahu ternyata Profesor Arlo juga sudah ada di apartemen secepat itu… Aku benar-benar tidak memberitahu Tuan Muda Kedua kalau Profesor Arlo akan datang hari ini.”
Necki melangkah maju membantu Zoya sambil masih teringat kejadian tadi.
“Aku benar-benar nggak nyangka Tuan Muda Kedua punya bakat seperti itu…” katanya sambil berdecak kagum. “ck...ck... Dari kecil aku selalu melihat tuan muda kedua selalu memasang wajah keren seperti dewa yang tidak tersentuh oleh dunia fana. Tapi hari ini…”
Necki menoleh perlahan ke arah ruang tamu, lalu menahan tawa, menutup mulutnya.
“Di mataku, dia akhirnya berubah menjadi manusia biasa.”
Ia menggeleng penuh emosi. “Memang ya… nggak ada orang yang benar-benar sempurna di dunia ini.”
Zoya ikut melirik Necki dengan ekspresi rumit… Sejujurnya, ia juga syok.
Benar-benar bakat tersembunyi yang memalukan..
Namun tiba-tiba Zoya teringat sesuatu. Ia menoleh heran. “Tapi kenapa kamu pulang cepat sekali? Bukannya vaksin dan suntik vitamin BenBen biasanya lama?”
Ekspresi Necki langsung berubah kesal mendengarnya.
Plak!
Ia memukul lengan Zoya.
“Memang benar kata orang, gadis yang otaknya dipenuhi cinta memang berubah menjadi pelupa!” omelnya sambil melotot. “Kata Dr. Cantika, kamu sendiri yang sudah kasih BenBen vaksin dan vitamin untuk bulan ini! Coba ingat baik-baik kapan terakhir kali kamu bawa dia ke dokter hewan!”
Zoya langsung membeku… Ia memeras otaknya keras-keras.
Kapan, ya…
Lalu tiba-tiba ingatannya muncul.
Astaga!
Ia memang sudah membawa BenBen ke dokter lebih awal bulan ini.
Saat itu ia baru tahu rumah sakit hewan ternyata berada dekat apartemen Arlo. Karena penasaran, ia sengaja datang lebih cepat sambil berharap bisa “bertemu kebetulan” dengan Arlo.
Namun kenyataan memang sering tidak sesuai harapan… Jangankan bertemu, bayangan Arlo saja tidak terlihat. Akhirnya, ia pulang dengan kecewa sampai benar-benar melupakan kejadian itu.
Melihat wajah Necki yang masih memerah karena kesal, Zoya buru-buru memeluk lengannya dengan manja.
“Neck… maaf, aku benar-benar lupa…” katanya genit sambil menggoyang-goyangkan lengannya.
Necki hanya bisa menatap pasrah… Gadis ini benar-benar sudah terkena penyakit cinta. Sudah tidak tertolong!
“Sudah, sudah! Sana urus masakanmu!”
Sementara itu, di ruang tamu, medan perang antara Arlo dan Jaiden ternyata belum benar-benar berakhir.
Karena saat ini…
Jaiden sedang bermain dengan BenBen.
Anjing itu bahkan tidur manja di dekat Jaiden, dikelilingi berbagai mainan baru dan camilan yang tadi dibawanya.
Jaiden mengusap kepala BenBen dengan santai lalu berteriak ke arah dapur, “BenBen makin gemuk, ya.”
Namun saat mengatakan itu, matanya yang licik sengaja melirik Arlo dengan senyum tipis penuh kemenangan.
Kalimat itu jelas memiliki dua arti.
Pertama, menunjukkan bahwa dirinya sudah sangat akrab dengan BenBen sejak lama. Kedua… Menunjukkan bahwa ia jauh lebih dekat dengan Zoya. Bahkan hewan peliharaan Zoya pun lebih manja padanya.
Sementara Arlo?
Jangankan dielus, setiap kali datang ia malah digonggongi.
Benar saja.
Mendengar ucapan itu, tangan Arlo langsung mengepal pelan. Tatapannya saat memandang Jaiden berubah sangat dingin dan tidak ramah. Namun di balik ekspresi datarnya, Arlo justru sedang dipenuhi penyesalan.
Kenapa tadi ia tidak terpikir membelikan camilan anjing?
Ia hanya fokus membeli makanan untuk Zoya dan sama sekali melupakan BenBen.
Akibatnya, Jaiden berhasil memanfaatkan celah itu dengan sempurna.