Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: SAMUDRA LUAS DAN KEKUASAAN ARUS
Matahari pagi baru saja naik perlahan dari ufuk timur, menyinari Dataran Tinggi Tulang Bumi yang kini kembali tenang dan damai. Sinar keemasan itu jatuh di atas barisan pegunungan batu yang kokoh, membuatnya tampak seperti istana raksasa yang terbuat dari emas dan perunggu alami. Udara di sini kini terasa berbeda; tidak lagi kaku dan berat, melainkan segar, mengalir bebas, dan penuh dengan energi kehidupan yang murni.
Di depan Gerbang Segel Tanah yang kini bersinar terang indah, Raga berdiri berhadapan dengan Si Kepala Tanah yang wujudnya kini berubah jauh. Kulit batunya yang tadinya kasar, suram, dan keras kini menjadi halus, berwarna abu-abu keemasan, dan memancarkan cahaya keagungan yang tenang. Wajahnya yang dulu selalu garang dan penuh ancaman kini lembut namun tetap tegas, memancarkan wibawa sejati seorang Penjaga Tulang Bumi.
Di belakangnya, berbaris rapi ribuan pasukan makhluk batu yang kini juga telah kembali ke wujud asli mereka: gagah, berani, dan penuh kesetiaan pada tugas suci mereka.
"Raga... Penjaga Sejati..." ucap Si Kepala Tanah dengan suara berat namun lembut dan penuh hormat. Ia menundukkan kepala raksasanya rendah sebagai tanda penghormatan tertinggi. "Tidak ada kata yang cukup untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang telah kau lakukan. Kau tidak hanya menyelamatkan tempat ini dari kehancuran, tapi kau juga menyelamatkan jiwa kami dari kegelapan abadi dan kesesatan yang membutakan mata hati."
Raga tersenyum ramah, lalu melangkah maju meletakkan tangannya di lengan batu raksasa itu.
"Jangan katakan begitu, Kawan. Kita semua sama. Kita semua bisa salah langkah jika buta oleh ketakutan atau janji palsu. Yang terpenting adalah kau sudah sadar dan kembali ke jalan yang benar. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Si Kepala Tanah mengangguk haru. Ia lalu mengangkat tangan besarnya, dan seketika, dari dalam tanah keluar sebutir batu permata besar berwarna cokelat kemerahan, berkilau indah dan berdenyut kuat dengan energi bumi yang murni.
"Terimalah ini..." katanya seraya menyerahkan permata itu pada Raga. "Ini adalah Inti Bumi Kekal. Ini adalah bagian dari sumber kekuatan kami, sama seperti apa yang kau dapatkan dari Raja Api Purba. Dengan ini, kau akan memiliki penguasaan penuh atas segala elemen tanah dan batu. Tak ada tembok yang tak bisa kau tembus, tak ada gunung yang tak bisa kau pindahkan, dan tak ada tanah yang tak akan mendukungmu. Ini adalah sumbangsih kami untuk perjalananmu menyelamatkan dunia."
Raga menerima permata itu dengan hati-hati dan penuh hormat. Begitu tersentuh kulitnya, permata itu perlahan meleleh dan masuk ke dalam tubuhnya, menyatu dengan aliran darah dan tenaga dalamnya. Seketika, Raga merasakan berat yang mantap dan kokoh menyebar ke seluruh tubuhnya. Kini, kakinya terasa seolah tertanam kuat ke dalam inti bumi, membuatnya tak mudah tergoyahkan atau dipindahkan oleh kekuatan apa pun. Kulitnya kini sekeras batu terkuat, namun tetap lentur dan hidup.
"Terima kasih, Kawan. Aku akan menjaga kekuatan ini sebaik-baiknya untuk kebaikan semua makhluk," ucap Raga tulus.
"Dan satu lagi..." tambah Si Kepala Tanah, wajahnya kembali serius dan tegas. Ia menunjuk ke arah utara, ke mana hamparan daratan ini berakhir dan bertemu dengan garis cakrawala biru yang luas tak bertepi. "Tentang tempat tujuanmu selanjutnya: Samudra Luas, tempat Segel Air berada. Dan tentang musuhmu di sana, Si Raja Arus."
Si Kepala Tanah menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke utara seolah mengingat kenangan lama yang berat.
"Dari semua panglima perang Sang Adipati Kala, dia adalah yang paling tua, paling bijak, dan paling berbahaya. Dia tidak seperti aku yang mengandalkan kekuatan kasar dan kekerasan semata. Dia juga tidak seperti makhluk api yang bertarung dengan semangat dan amarah. Tidak... Si Raja Arus itu licik, tenang, dan sangat cerdas. Dia menguasai hukum air: yang selalu mencari celah, yang selalu berubah bentuk, yang lembut namun bisa menghancurkan gunung sekuat apa pun dengan ketekunan dan waktu."
Ia menatap Raga lekat-lekat, memberi peringatan berat.
"Hati-hati, Raga. Di daratan, kekuatan dan ketahanan adalah segalanya. Tapi di lautan... segalanya berubah. Di sana, tanah hilang berpijak. Di sana, berat badan tak ada artinya. Di sana, segalanya bergerak, berubah, dan mengalir terus-menerus. Apa yang kau pelajari dan kau kuasai di sini, sebagian besar tidak akan berguna di sana. Kau harus belajar kembali, belajar menjadi seperti air: lentur, menyesuaikan diri, namun tetap memiliki tujuan yang jelas."
Kanjeng Raden mengangguk berat. Ia sendiri menyadari kebenaran kata-kata itu. Sebagai makhluk api dan tanah, kekuatannya sangat hebat di tempat kering dan panas, tapi saat masuk ke wilayah air yang luas, kekuatannya akan banyak berkurang dan tertekan.
"Dan ingat baik-baik..." tambah Si Kepala Tanah lagi. "Si Raja Arus punya kekuatan mengendalikan segala arus. Arus air, arus angin, bahkan arus waktu dan nasib. Konon, dia bisa melihat masa lalu dan masa depan melalui aliran air. Dia sudah menunggu kedatanganmu sejak lama. Dia sudah menyiapkan ribuan jebakan dan rencana jahat yang tak terbayangkan akalnya. Sang Adipati Kala sangat percaya padanya, dan berjanji akan menjadikan Si Raja Arus sebagai penguasa satu dunia baru jika dia berhasil menghentikanmu di sana."
Nyi Blorong yang sedari tadi diam mendengarkan, kini maju selangkah, matanya bersinar tajam namun penuh wibawa.
"Jangan khawatir, Kawan. Air memang wilayah kekuasaannya, tapi aku juga berasal dari keturunan penguasa perairan. Aku tahu sifat air, aku tahu sifat arus. Aku mungkin tidak sekuat dia, tapi aku tahu cara berpikirnya. Kita akan berhati-hati, dan kita akan menyeimbangkan kekuatan kita seperti yang selalu kita lakukan."
Si Kepala Tanah tersenyum lega. "Denganmu ada di sisinya, Nyi Blorong, aku jadi sedikit lebih tenang. Tapi tetap saja... waspadalah. Musuh di sana bukan sekadar pengkhianat, tapi dia adalah makhluk yang dulunya adalah Penjaga Segel Air sendiri. Dia tahu segalanya tentang tempat itu, tentang kekuatannya, dan tentang segala kelemahannya."
Raga tertegun kaget mendengar itu. "Dia... dulunya penjaga tempat itu sendiri?"
"Ya..." jawab Si Kepala Tanah perlahan. "Dulu ribuan tahun yang lalu, sebelum dia tergoda dan jatuh ke dalam bujukan Sang Adipati Kala, Si Raja Arus adalah penjaga yang paling setia dan paling dicintai. Dia yang menjaga keseimbangan air, dia yang mengatur hujan dan banjir, dia yang menjaga agar air memberi kehidupan dan bukan kehancuran. Tapi karena dia merasa jasanya tidak dihargai, karena dia merasa kekuasaannya terbatas oleh aturan-aturan alam... hatinya perlahan gelap dan dia membelot. Dan karena dia tahu segala rahasia tempat itu, dialah yang paling berbahaya dari semuanya."
Berat rasanya hati Raga mendengar itu. Musuh yang dulunya adalah saudara seperjuangan. Musuh yang tahu persis bagaimana cara kerja, bagaimana pikiran, dan bagaimana kelemahan para Penjaga. Ini akan menjadi pertarungan yang paling sulit secara batin maupun fisik.
"Terima kasih atas peringatanmu, Kawan. Kami akan sangat waspada. Kami akan ingat semua kata-katamu," janji Raga tegas.
Persiapan pun diselesaikan dengan cepat. Tidak banyak bekal yang mereka bawa, karena perjalanan ke samudra akan ditempuh lewat jalan pintas yang dibantu oleh kekuatan gabungan Segel Tanah dan Segel Api. Si Kepala Tanah sendiri yang mengantar mereka sampai ke ujung daratan, berdiri tegak gagah bersama ribuan pasukannya melambaikan perpisahan dan doa keselamatan.
"Pergilah, Penjaga Sejati! Dan kembalilah dengan kemenangan! Ingatlah... di sini kau punya teman dan sekutu setia sampai darah terakhir!" seru Si Kepala Tanah lantang, suaranya bergema jauh terbawa angin.
Raga, Kanjeng Raden, dan Nyi Blorong melambai kembali, lalu melangkah masuk ke dalam lorong cahaya berwarna cokelat keemasan yang terbuka lebar di hadapan mereka. Sekejap mata, pandangan mereka berubah menjadi kabur dan berputar cepat, tanah di bawah kaki mereka lenyap berganti rasa melayang di udara.
Waktu seakan berlari cepat. Ribuan kilometer daratan dan pegunungan terlewati dalam sekejap mata.
Dan saat cahaya perlahan meredup kembali, saat rasa bergerak itu hilang... kaki mereka kembali menapak di atas tanah. Tapi kali ini, tanah itu bukan lagi keras dan kering. Tanah ini basah, lunak, dan berpasir halus.
Raga membuka matanya, dan seketika napasnya tertahan takjub melihat pemandangan yang terbentang luas di hadapannya.
Mereka kini berdiri di pinggiran pantai yang sangat luas dan panjang. Di belakang mereka masih ada sisa-sisa bukit dan hutan hijau, tapi di depan sana... yang ada hanyalah hamparan biru tak bertepi.
Samudra Luas.
Lautan ini jauh lebih besar, jauh lebih luas, dan jauh lebih dalam daripada lautan mana pun yang pernah dilihat atau didengar manusia. Airnya berwarna biru tua pekat yang indah namun mengerikan, bergelombang tenang namun menyimpan kekuatan dahsyat di dalamnya. Permukaan air itu berkilauan diterpa sinar matahari, tampak lembut dan damai, tapi bagi mata yang bisa melihat, seperti mata Raga, Kanjeng Raden, dan Nyi Blorong... terlihat jelas energi raksasa yang bergerak-gerak di bawah permukaannya, arus-arus besar yang berputar, naik turun, dan berkelok-kelok bagai naga raksasa tidur.
Udara di sini sejuk, lembap, dan penuh dengan uap air yang tebal. Bau garam samar tercium jelas, bau yang segar tapi juga membawa rasa dingin yang menusuk tulang. Gelombang air menghantam pantai perlahan, berirama, seolah menjadi detak jantung dunia itu sendiri.
"Luas sekali..." bisik Kanjeng Raden takjub. Matanya menatap ke tengah samudra yang bertemu dengan langit biru di kejauhan, tak ada batas yang jelas antara mana langit dan mana air. "Bahkan gunung tertinggi kita pun akan tenggelam lenyap jika dilemparkan ke dalam sini."
Nyi Blorong melangkah maju sampai ujung air pasang. Ia merentangkan tangannya, membiarkan air laut membasahi kaki dan tubuh bagian bawahnya. Wajahnya tampak haru dan rindu, tapi juga penuh kewaspadaan tinggi.
"Aku merasakannya... Raga. Dia ada di sana. Di kedalaman paling gelap, di tempat pertemuan arus-arus raksasa. Dia merasakan kehadiran kita juga. Aku bisa mendengar suaranya... dia sedang bernyanyi, memanggil, dan menunggu..."
Raga mengencangkan ikat pinggangnya. Ia merasakan perubahan besar di sekelilingnya. Di sini, elemen tanah dan api makin melemah, sedangkan elemen air dan angin menjadi penguasa mutlak. Ia merogoh dadanya, mengeluarkan Kitab Lontar Eyang Noto. Halaman terbuka sendiri, menampilkan gambar pemandangan dasar laut yang indah namun penuh bahaya, dan sebuah gerbang besar yang terbuat dari karang dan mutiara raksasa.
Di bawah gambar itu tertulis:
"Air memberi kehidupan, tapi air juga bisa membinasakan. Air mengalahkan kerasnya batu, dan air memadamkan panasnya api. Di sini, kekuatan terbesar bukanlah yang paling kuat atau paling keras, tapi yang paling bisa menyesuaikan diri dan bertahan."
Raga menutup kitab itu perlahan, lalu menatap tajam ke arah tengah samudra yang biru pekat itu. Di sana, jauh di kedalaman sana, ada Segel Ketiga yang harus diselamatkan. Di sana, ada musuh paling cerdik dan paling berbahaya yang sudah menanti.
"Ayo teman-teman..." ucap Raga tegas dan mantap.
"Kita sudah menaklukkan Api. Kita sudah menaklukkan Batu. Sekarang... saatnya kita menghadapi Kekuatan Air dan Arus."
Tanpa ragu lagi, ketiganya melangkah maju masuk ke dalam air laut yang dingin dan dalam itu. Gelombang menyambut mereka, membuka jalan, namun seolah juga mengancam akan menutupnya kembali selamanya. Petualangan di kedalaman biru yang misterius dan penuh intrik pun dimulai!