Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cheersleader
Setelah pertandingan usai, Melody melihat Giggi tampak kecewa meski tim mereka menang 4-3. Ia mendekati sahabatnya itu di parkiran sambil berusaha menghindari Adden.
"Sejelek itu ya penampilanku?" tanya Giggi sambil menenteng tas, wajahnya terlihat murung.
Melody mengerutkan dahi dan memiringkan kepala sedikit. "Enggak jelek kok, tapi juga belum bikin orang terkesan."
Giggi menghela napas panjang. "Jujur aja tadi aku amburadul. Udah coba minta kerjasama, tapi mereka semua nurut sama ketua cheerleaders terus."
Melody semakin bingung. "Lho, kenapa? Biasanya kan dia enggak ikut campur urusan kalian."
"Aku sebel banget sama musiknya, terus gerakan-gerakan di koreografinya itu aneh semua."
"Ya udah, ubah aja semuanya. Bikin koreo baru terus tampil di pertandingan berikutnya. Kalau penonton suka, mereka juga enggak bakal bisa ngomong apa-apa." Melody mengangkat bahu santai. Tiba-tiba ia menutup mulut saat melihat rombongan pemain dan cheerleaders datang mendekat. "Yang penting musiknya asik, dan kalian harus tampil lebih cemerlang."
Giggi langsung tersenyum lebar. Namun senyum itu lenyap seketika saat melihat Mihoy datang bersama yang lain. Karena ini pertandingan kandang, mereka bisa pulang pakai kendaraan masing-masing.
Mihoy langsung menyela dengan suara melengking. "Sumpah ya Giggi, tadi itu enggak sama kayak latihan. Kamu harus latihan lagi tuh, gerakanmu kaku banget."
Melody menatap tajam ke arah Mihoy, berharap cewek itu tersandung dan jatuh.
"Ngeliatin apa kamu?" Mihoy melipat tangan di dada. "Kayaknya kamu lagi pengen cari perhatian ya?"
Luccy yang berdiri di sampingnya ikut menyeringai sinis, menatap Melody dari ujung kaki sampai kepala. "Kayaknya ada yang lagi pengen jadi pusat perhatian nih."
"Lucu ya, kamu lebih baik urus aja penampilan sendiri yang norak itu sebelum nyari kesalahan orang lain. Ngomong-ngomong, koreo yang tadi itu ide kamu kan?" sahut Melody dingin. Ia ingin memperjelas bahwa Mihoy lah yang membuat konsep buruk itu, dan sekarang malah menyalahkan Giggi.
"Ngomong apaan sih kamu?" potong Mihoy dengan nada tinggi.
"Itu lho, campuran gerakan cheer sama dance. Norak banget liatnya. Anak SD yang joget di TikTok aja gerakannya lebih keren dari itu."
"Oh, terus kamu pikir kamu bisa bikin lebih bagus??"
"Daripada kamu, mending nungging aja deh ... emang keahlian kamu begitu kan, jalang gampangan!"
"Waduh ladies, santai dong," Issac langsung masuk memisahkan. "Gila, panas banget suasananya."
Adden berjalan melewati Issac. "Pulang sana, Luccy."
Mata Luccy langsung membesar. "Hah? Kan tadi katanya kamu mau nganter aku ke pesta? Aku enggak bawa kendaraan nih," rengeknya.
Pandangan Melody beralih ke arah Adden, tapi cowok itu enggan menatap matanya. "Yaudah ayo masuk mobil."
Dada Melody serasa diremas keras. Rasanya sesak sekali. Sepertinya kenangan manis satu jam yang lalu itu benar-benar sudah mau hilang. Untunglah tadi ia tidak menolak ajakan Enno.
Luccy melirik Melody dengan tatapan menang, lalu menempelkan tangannya di dada Adden. Adden hanya menatap tangan itu sebentar, tapi tidak menepisnya. Seketika mata Adden beralih menatap Melody dengan ekspresi datar, lalu segera memalingkan wajah. Melody menahan rasa kesal. Padahal baru sejam yang lalu, cowok itu begitu hangat padanya. Bodohnya, ia sampai luluh dan membiarkan semuanya terjadi.
"Eh Melody, kamu baik-baik aja kan?" tanya Messy, membuat Adden menoleh. Tapi Melody memilih membuang muka.
"Aku baik-baik aja."
"Perlu tumpangan atau mau bareng Giggi?"
"Enggak usah, aku lagi nunggu orang."
Messy mengangkat alis bingung, lalu melihat sekeliling tapi tidak melihat siapa-siapa. Di sisi lain, Jojo menatap Giggi.
Sementara itu, Mihoy dan Luccy sibuk saling lempar tatapan tajam. Issac menepuk bahu temannya. "Ini bakal seru nih," katanya sambil melirik Adden.
Tiba-tiba ponsel Melody bergetar. Ia merasa lega ada alasan untuk mengalihkan perhatian, lalu segera membuka pesan masuk.
Enno: Aku udah di sini, tapi ogah turun dari mobil.
Melody: Loh kenapa?
Enno: Aku masih pengen panjang umur Melody. Adden sama kakak kamu itu bisa aja bikin aku lenyap. Coba liat ke kiri, mobil yang lampu parkirnya nyala tuh.
Astaga, ia benar-benar lupa soal itu. Matanya menyapu area parkir, dan benar saja, di pojokan sana terparkir sebuah Camaro hitam.
Melody: Camaro hitam itu?
Enno: Iya betul.
Melody: Oke tunggu sebentar ya.
Menyimpan ponselnya, Melody melihat Adden masuk ke dalam mobil, sementara Luccy masuk dengan langkah kesal dan membanting pintu. Kaca mobil Adden gelap, jadi ia tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam.
"Kendaraan kamu udah dateng?" tanya Messy lagi.
Melody mengalihkan pandangan dari mobil BMW itu lalu menatap Messy. Cowok itu berdiri dengan tangan disilang, menunggu jawaban. Melody tersenyum tipis. Beberapa minggu terakhir ini Messy sikapnya sudah seperti kakak sendiri, padahal usia Melody justru lebih tua.
"Udah dateng kok. Nanti aku nyusul ke pestanya ya."
Messy mengerutkan kening melihat Melody berjalan menuju Camaro hitam itu.
"Kamu tau alamatnya kan?" teriak Messy dari kejauhan.
Melody mengangkat tangan memberi kode oke tanpa menoleh. "Tenang aja, pasti nyampe. Aku enggak bakal hilang kok."
Sesampainya di depan mobil, pintu sisi penumpang terbuka. Melody masuk dan disambut oleh wajah Enno yang terlihat panik. Aroma parfum yang sangat menyengat langsung menusuk hidung.
"Hai."
"Hai," jawab Enno terbata-bata, matanya masih waspada memastikan mobil Adden sudah pergi.
"Santai dong, kamu tuh kelihatan banget kayak orang yang lagi ketakutan. Emangnya kenapa dipakein parfum sebotol penuh gini sih?"
"Aku... aku cuma..."
"Napas dulu," potong Melody sambil tertawa kecil, berusaha menenangkan cowok itu.
Enno menarik napas panjang lalu mengembuskannya. "Aku kan pengen wangi... Eh terus kamu tau dari mana tuh tingkah orang paranoid?"
Melody menghela napas pasrah, enggan menjelaskan detailnya. "Dari tempat asal aku dulu, banyak banget yang begitu. Udah ah ayo jalan aja."
Enno pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan area sekolah.
"Sorry ya wanginya kebanyakan," ujar Enno sambil melirik sekilas.
Jujur wanginya enak, kalau saja cowok ini tidak menyemprotkan hampir seluruh isi botol.
"Enggak kok, not bad!" Melody melihat sudut bibir Enno tersenyum tipis. "Tapi lain kali cukup beberapa semprotan aja kalau mau bikin cewek terkesan ya."
Melody mengucapkan itu karena ia bukan tipe cewek bodoh. Sangat jelas kalau Enno sedang berusaha tampil sempurna di depannya. Padahal kan katanya mereka cuma berteman biasa?
"Oke deh, noted."
"Tapi aku enggak bisa kelamaan ya. Nanti harus tetep ke pesta, terus mau nebeng pulang sama Messy."
"Menurut kamu, ada waktu enggak buat aku nunjukin sesuatu? Aku pengen banget kamu liat hasil gambar-gambar aku."
"Mau diajak ke mana nih?" Melody menyadari arah jalan mengarah ke kawasan tempat ia dulu tinggal.
"Enggak jauh kok dari sini."