NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Ekspansi Korporat di Dunia Kultivasi

​Tiga hari setelah insiden pembantaian di jembatan baja, Kota Seribu Tebing telah mengalami transformasi total.

​Panji-panji berlambang pedang petir yang dulu menghiasi setiap sudut kota telah diturunkan, digantikan oleh bendera hitam elegan dengan sulaman naga emas—logo resmi Dragon Global Corp. Sistem tata kota yang dulunya barbar dan dikuasai oleh preman keluarga kultivator kini digantikan oleh regulasi "perusahaan".

​Di bawah manajemen Nona Feng, rumah lelang, pasar herbal, dan tambang spiritual disatukan ke dalam satu ekosistem monopoli. Dan komoditas utama yang membuat seluruh kota, bahkan sekte-sekte pinggiran, bertekuk lutut adalah: Pil Murni Dragon. Pil dengan kemurnian sembilan puluh persen tanpa racun residu. Sebuah keajaiban yang membuat para kultivator rela menggadaikan pusaka leluhur mereka demi sebutir pil.

​Di bekas ruang takhta Penguasa Kota yang kini telah direnovasi menjadi kantor eksekutif bergaya modern minimalis, Arya Permana duduk bersandar di kursi kulit. Di tangannya terdapat laporan keuangan harian dalam bentuk gulungan giok digital.

​"Pemasukan bersih tiga hari ini mencapai sepuluh juta Batu Spiritual Tingkat Menengah," lapor Nona Feng, berdiri dengan postur sempurna layaknya sekretaris CEO papan atas, meski ia mengenakan gaun sutra tradisional Kunlun. "Seluruh biaya logistik tertutupi. Kami juga telah mulai membeli peta intelijen tingkat tinggi yang mengarah ke Domain Dalam, tepatnya rute menuju Puncak Darah."

​Arya mengangguk pelan, matanya tidak beranjak dari data. "Efisiensi yang memadai. Namun, hukum probabilitas menyatakan bahwa pertumbuhan eksponensial di pasar yang terisolasi akan memicu intervensi dari kompetitor skala besar."

​Tepat saat Arya menyelesaikan kalimat logisnya, pintu kantor terbuka. Elena melangkah masuk dengan langkah ringan namun memancarkan aura waspada tingkat tinggi.

​"Tuan," lapor Elena seraya menundukkan kepala. "Sebuah kapal terbang spiritual baru saja merapat di pelabuhan utara. Mereka membawa panji Sekte Pedang Petir dari Domain Dalam. Utusan Khusus mereka, Tetua Penegak Hukum Lei, menuntut audiens langsung dengan Anda."

​Nona Feng seketika menegang. "Tetua Lei... dia adalah pakar Ranah Inti Emas Tahap Menengah! Dia terkenal karena kekejamannya menghukum para pemberontak sekte. Jika mereka mengirimnya, mereka tidak berniat bernegosiasi secara damai!"

​Arya meletakkan gulungan gioknya di atas meja. Wajahnya sedatar permukaan air danau yang membeku. "Sebuah korporasi tidak pernah menolak pertemuan bisnis, Nona Feng. Biarkan dia masuk."

​Lima menit kemudian, Tetua Lei melangkah masuk ke dalam kantor eksekutif Arya. Pria itu berusia lima puluhan, dengan rambut abu-abu yang disanggul rapi dan jubah biru tua yang dipenuhi sulaman rune petir. Hawa keberadaannya sangat menekan, membuat Nona Feng kesulitan bernapas. Di belakangnya, dua pengawal Inti Emas Tahap Awal berdiri dengan sikap angkuh.

​Tetua Lei menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang tidak memiliki singgasana tradisional atau perabotan antik. Matanya kemudian tertuju pada Arya yang masih duduk santai di kursinya.

​"Jadi, kau adalah tikus dunia bawah yang membunuh Gao dan mencuri wilayah Sekte Pedang Petir," Tetua Lei membuka percakapan dengan nada merendahkan, tanpa repot-repot memberi salam. Ia mengibaskan lengan bajunya, melepaskan gelombang Qi untuk mengintimidasi Arya.

​Gelombang Qi itu menghantam Arya, namun lenyap bagaikan angin sepoi-sepoi yang menabrak tebing karang. Tidak ada sehelai rambut pun di kepala Arya yang bergerak.

​Mata Tetua Lei sedikit menyipit melihat anomali itu, namun arogansinya dengan cepat menutupi kewaspadaannya.

​"Dengar baik-baik, anak muda. Pemimpin Sekte kami memiliki kemurahan hati yang luas. Kami mengakui kehebatanmu membunuh Gao. Oleh karena itu, sekte menawarkan sebuah kesepakatan," Lei berbicara dengan nada memerintah. "Serahkan formula Pil Murni itu kepada kami, berikan sembilan puluh persen pendapatan kota ini sebagai pajak bulanan, dan bersujudlah menjadi anjing penjaga Sekte Pedang Petir. Jika kau setuju, dosa-dosamu akan diampuni."

​Nona Feng menggigit bibirnya. Tuntutan itu bukan sekadar perampokan; itu adalah perbudakan absolut!

​Arya menatap Tetua Lei dalam keheningan yang mencekam. Matanya yang hitam legam tiba-tiba memancarkan sekelibat cahaya keemasan. Mata Dewa diaktifkan.

​Di balik arogansi dan negosiasi verbal Lei, Arya melihat sebuah aliran energi hijau transparan yang sangat tipis dan beracun merembes keluar dari pori-pori kulit Lei, menyebar perlahan memenuhi udara di dalam ruangan. Racun itu tidak berwarna, tidak berbau, dan dirancang untuk melumpuhkan Dantian musuh secara diam-diam selama percakapan berlangsung.

​[Ding! Deteksi Toksin Spiritual: Serbuk Penebas Nadi Inti Emas.]

[Efek: Membekukan sirkulasi Qi musuh dalam 3 menit.]

[Analisis: Manipulasi biologis tingkat rendah. Sistem secara otomatis menetralisir racun di udara sekitar Tuan Muda.]

​Arya tersenyum tipis. Sebuah senyum murni yang dikalkulasi secara rasional untuk mengekspresikan ejekan tertinggi.

​"Nona Feng, buka ventilasi," ucap Arya tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tampaknya utusan dari sekte besar ini tidak pernah diajarkan tentang manajemen sirkulasi udara saat mencoba menggunakan racun murahan saat bernegosiasi."

​Wajah Tetua Lei berubah drastis. Matanya membelalak tak percaya. "B-Bagaimana kau bisa menyadari Serbuk Penebas Nadi?! Racun itu bahkan tidak bisa dideteksi oleh indera Grandmaster!"

​"Karena Grandmaster kalian beroperasi menggunakan mistisisme, sementara aku beroperasi menggunakan spektroskopi energi," Arya menjawab dengan istilah yang sama sekali tidak dipahami oleh penduduk Kunlun. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya. "Waktu negosiasi telah habis. Kalian adalah variabel yang tidak efisien."

​Menyadari trik liciknya terbongkar, Lei meraung marah. "Bocah sombong! Jika kau tidak mau mati perlahan, maka matilah dengan cepat! Jurus Pedang Petir Pembelah Langit!"

​Lei mencabut pedang pusakanya yang memancarkan kilatan petir membutakan. Aura Inti Emas Tahap Menengah meledak, menghancurkan meja kaca di depan Arya menjadi debu. Lei menebas dengan kekuatan yang cukup untuk membelah seluruh gedung menjadi dua.

​"Tuan, awas!" jerit Elena.

​Arya tidak beranjak dari kursinya. Ia hanya memutar pergelangan tangannya ke arah Lei.

​[Medan Gravitasi Tirani: Tingkat Lanjut. Pemusatan Massa Absolut.]

​Bukan lima puluh meter, kali ini Arya mengompresi medan gravitasinya ke dalam area sekecil dua meter persegi, tepat di atas tubuh Tetua Lei dan kedua pengawalnya.

​BUMMMMM!

​Sebuah tekanan setara dengan seratus kali lipat gravitasi bumi menghantam kelompok utusan itu. Udara di atas mereka berderak dan melengkung secara harfiah.

​Serangan pedang Lei terhenti seketika di udara. "AARGHHH!" Pedang pusakanya terlepas dan hancur membentur lantai akibat beratnya sendiri.

​Lei dan kedua pengawalnya jatuh berlutut hingga lutut mereka menghancurkan lantai marmer yang keras. Tulang punggung mereka berbunyi retak mengerikan. Darah segar menyembur dari mulut dan hidung mereka. Mereka dipaksa bersujud di bawah telapak kaki Arya layaknya cacing yang dihimpit batu raksasa.

​"I-Inti Emasku... tidak bisa berputar! Tekanan apa ini?!" Lei merintih dalam keputusasaan yang absolut, wajahnya rata dengan lantai. Ia adalah Inti Emas Tahap Menengah, tetapi ia tidak bisa menggerakkan satu jari pun!

​Arya perlahan bangkit dari kursinya. Sepatunya melangkah mendekat, berhenti tepat di depan wajah Lei yang berlumuran darah.

​"Kesepakatan bisnis yang sesungguhnya tidak melibatkan pengkhianatan di balik meja, Lei," ucap Arya dengan nada datar.

​Arya membungkuk, menggunakan Qi murninya untuk mengumpulkan racun Serbuk Penebas Nadi yang tadinya disebar oleh Lei, memadatkannya menjadi sebuah pil racun hijau kecil yang mematikan.

​Tanpa basa-basi, Arya mencengkeram rahang Lei, memaksanya membuka mulut, dan melemparkan pil racun padat itu langsung ke tenggorokannya.

​"T-Tidaaak! Uhukk! Arghhh!" Lei mengejang hebat saat racunnya sendiri menghantam Inti Emasnya, membekukan dan melumpuhkan kultivasinya secara permanen. Pakar sekte yang menakutkan itu kini berubah menjadi pria paruh baya cacat yang tak memiliki tenaga.

​Arya melepaskan medan gravitasinya. Kedua pengawal Lei yang tulang rusuknya sudah patah terengah-engah, menatap Arya seolah menatap inkarnasi dewa kematian purba.

​"Kalian berdua," suara Arya memecah keheningan yang dipenuhi rintihan. "Bawa sampah ini kembali ke Sekte Pedang Petir. Sampaikan pesan dari CEO Dragon Corp."

​Kedua pengawal itu mengangguk gemetar, tak berani menatap mata Arya.

​"Beri tahu Pemimpin Sekte kalian. Mulai hari ini, Domain Luar adalah zona eksklusif perusahaanku. Jika ada satu ekor anjing pun dari Domain Dalam yang berani melewati garis batas tanpa undangan bisnis dariku..." Arya menyatukan kedua tangannya di belakang punggung, matanya menatap tajam ke arah cakrawala luar jendela. "...aku akan melikuidasi seluruh sekte kalian dan menjual pusaka leluhur kalian sebagai barang rongsokan."

​Kedua pengawal itu segera memapah tubuh Tetua Lei yang telah lumpuh dan melarikan diri dari ruangan itu seperti tikus yang ketakutan.

​Setelah ruangan kembali sunyi, Nona Feng merosot ke kursi terdekat, masih terguncang oleh demonstrasi kekuatan absolut dan logika kejam tanpa ampun dari tuannya.

​Arya menoleh ke arah Elena. Matanya menyala dengan perhitungan baru.

​"Sekte Pedang Petir pasti akan mempersiapkan aliansi perang setelah pesan ini sampai," analisis Arya dengan tenang. "Itu berarti fokus faksi-faksi Domain Dalam akan tertuju pada pertahanan militer mereka. Ini adalah titik buta operasional yang sempurna."

​"Apa instruksi Anda selanjutnya, Tuan?" tanya Elena, pedangnya kembali disarungkan.

​"Kita sudah mengumpulkan cukup modal, dan kekuatan fisikko telah mencapai batas puncak fondasi," ucap Arya, merogoh saku trench coat-nya dan menyentuh plakat giok hitam dari Sang Bayangan.

​"Persiapkan kendaraan udara tercepat, Elena. Besok subuh, kita membelah garis depan Domain Dalam. Waktunya mengunjungi Puncak Darah dan membakar Kuil Kegelapan hingga ke akar-akarnya."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!