🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Malam yang berganti peran
Suara deru motor Keanu memecah suasana jalanan sore itu. Angin berhembus pelan menerpa wajah Anindia, tapi tidak cukup untuk mengalihkan pikirannya.
Tangan Anindia melingkar di pinggang Keanu, tapi genggamannya tidak erat seperti biasanya. Kepalanya bersandar di punggung suaminya, matanya terpejam untuk sesaat, mencoba menenangkan diri yang terasa tidak stabil sejak tadi.
Keanu menyadari itu. Tanpa menoleh, ia langsung mengusap tangan Anindia. Isyarat sederhana, tapi cukup untuk mengatakan 'aku di sini'.
Motor berhenti di halaman rumah. Pintu terbuka, suasana hangat langsung menyambut mereka.
"Bu-na... Bu-na!" ocehan Shaka terdengar dari ruang tengah.
Langkah keduanya langsung terhenti. Anindia dan Keanu bertukar pandang untuk sejenak, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Mas, kamu denger?" Tanya Anindia memastikan.
Keanu yang berdiri di sampingnya terdiam sejenak. Alisnya sedikit terangkat, jelas sama terkejutnya.
"Iya, dia manggil kamu?" Ujar Keanu, masih setengah tidak percaya.
Tak butuh waktu lama, terlihat Shaka yang merangkak cepat menghampiri mereka, diikuti dengan ibu Keanu yang mengawasi dari belakang.
Anindia refleks berjongkok, tangannya terbuka untuk menyambut putranya itu. "Iya, bunda di sini," ujar Anindia lirih.
Tubuh kecil itu hampir kehilangan keseimbangan karena terlalu cepat merangkak. Anindia dengan cepat menangkapnya, memeluk Shaka erat dalam dekapannya.
"Shaka manggil bunda, ya," ujar Anindia pelan, sembari mengecup kening Shaka cukup lama.
Keanu berdiri di sana, memperhatikan dalam diam. Senyum tipis terukir di wajahnya, tatapannya terlihat lembut, melihat bagaimana Shaka seolah jadi tempat pulang paling sederhana bagi Anindia.
"Dari tadi Shaka begitu." Ujar ibu Keanu sembari tersenyum. "Kayaknya memang nungguin kamu."
"Shaka nyariin bunda, ya?" Ujar Anindia lembut.
Untuk sesaat, rasa lelah itu mereda lagi. Kehangatan kecil itu selalu berhasil menarik Anindia kembali, walaupun hanya sebentar.
"Gimana kondisi Mama kamu, Anindia?" Ujar ibu Keanu kemudian.
"Masih sama, Ma." Jawab Anindia pelan. "Nindi sama Mas Keanu mau balik lagi ke rumah sakit."
"Shaka biar sama Mama aja," ujar ibu Keanu lembut. "Kalian ke sana aja."
Anindia terdiam sejenak. Tangannya masih mengusap punggung Shaka perlahan. Ada rasa berat yang sulit dijelaskan, tapi ia tahu bahwa ia harus kembali ke rumah sakit untuk ibunya.
"Iya, Ma," ujar Keanu pada akhirnya. "Kami siap-siap dulu."
"Iya, hati-hati kalau pergi." Jawab ibu Keanu lembut. "Nanti malam Mama nyusul, tunggu Papa kamu pulang kerja dulu."
Anindia mengangguk pelan. Tatapannya masih tertuju pada wajah kecil Shaka. "Iya Ma, makasih," ujarnya lirih.
Keanu juga mengangguk. "Iya, Ma. Habis siap-siap kami langsung berangkat lagi."
Ibu Keanu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur perlahan ke arah Shaka. "Sini, sama Oma dulu, ya."
"Bentar ya, sayang," ujar Anindia lembut.
Dengan hati-hati, Anindia menyerahkan Shaka ke dalam gendongan ibu mertuanya. Shaka sempat merengek kecil, tangannya kembali terulur ke arah Anindia, seolah enggan untuk berpisah. Namun kali ini, Anindia hanya mengelus kepala Shaka penuh kasih sayang.
"Bunda balik lagi nanti," ujarnya lembut.
Keanu juga melakukan hal yang sama, lalu mencium pipi Shaka sejenak. "Shaka jangan nakal, ya? Ayah sama bunda pergi dulu."
Setelahnya, keduanya melangkah menuju kamar, bersiap untuk kembali ke rumah sakit. Mereka harus meninggalkan sejenak kehangatan rumah, demi seseorang yang juga menunggu mereka di tempat lain.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Motor berhenti di parkiran rumah sakit. Mesin yang tadi berderu kini perlahan meredup, menyisakan keheningan yang kembali terasa dingin.
Setelah mematikan mesin, Keanu melepas helmnya. Seperti biasa, ia juga melepaskan helm milik Anindia. Hanya sebuah perhatian kecil, namun entah mengapa selalu membuat hati Anindia terasa hangat.
"Ayo," ajak Keanu kemudian.
Anindia hanya mengangguk singkat, lalu melangkahkan kakinya di samping Keanu. Aroma khas rumah sakit langsung menyambut begitu mereka memasuki gedung.
Mereka berjalan berdampingan di koridor yang cukup lengang. Tanpa sadar, langkah Anindia sedikit melambat. Keanu langsung menyadarinya, tangannya menggenggam tangan Anindia dengan lembut.
"Jangan terlalu banyak pikiran, sayang," ujar Keanu mencoba menenangkan. "Insya Allah, Mama akan baik-baik aja."
"Terima kasih, Mas," ujar Anindia dengan helaan nafas ringan.
Keduanya kembali melangkah, hingga akhirnya berhenti di depan pintu ruang rawat ibunya. Untuk sesaat, Anindia terdiam. Rasa cemas dan rasa takut itu kembali muncul.
Keanu menatap Anindia sekilas, lalu mengusap punggung tangannya. "Sayang, hei," panggil Keanu lembut.
Anindia menoleh, terlihat jelas rasa khawatir dari sorot matanya.
"Kamu gak boleh kayak gini," ujar Keanu lembut. "Kalau kamu sedih, nanti kondisi Mama bisa drop lagi."
Anindia terdiam, perkataan Keanu langsung menembus pertahannya. Ia menatap Keanu dengan mata yang berkaca-kaca, nafasnya tertahan sesaat. Dan ia tahu bahwa Keanu benar.
"Iya, Mas..." Ujar Anindia setelah hening beberapa saat. "Kamu benar."
Keanu tersenyum, tangannya bergerak untuk mengusap kepala Anindia sejenak, memberikan ketenangan tanpa kata. Perlahan, Anindia membuka pintu.
Saat itu, mata keduanya langsung menangkap satu momen paling berharga. Di sana, ayah Anindia duduk di samping ranjang. Tangannya memegang sendok, dengan sabar menyuapi ibu Anindia yang masih terbaring lemah.
"Satu lagi, ya," ujar ayah Anindia lembut pada istrinya.
Ibu Anindia menurut, membuka mulutnya perlahan. Setelahnya, ayah Anindia mengambil tisu, menyeka sudut bibir istrinya dengan begitu telaten.
Tidak ada kata-kata manis berlebihan. Tapi, setiap gerakan kecil yang dilakukan ayah Anindia, semuanya terasa begitu penuh kasih.
Tanpa sadar, seutas senyum tipis terukir di wajah Anindia. Pemandangan sederhana itu terasa begitu dalam, ada cinta yang tidak diucapkan tapi jelas terlihat dari raut wajahnya.
Anindia menoleh ke arah Keanu sejenak. Ia merasa beruntung memiliki suami yang sama seperti ayahnya, perhatian dan penuh cinta.
Keanu sendiri tidak menyadari tatapan Anindia, ia begitu fokus menatap kedua mertuanya. Hatinya terasa hangat, dari situ ia belajar bahwa cinta tidak selalu datang dalam kata-kata besar. Kadang, cukup lewat satu sendok makanan yang disiapkan dengan penuh perhatian.
"Assalamualaikum," ucap salam keduanya secara bersamaan.
"Waalaikumsalam," sahut ayah dan ibu Anindia hampir bersamaan.
Ayah Anindia menoleh ke arah pintu, senyum hangat langsung terukir di wajahnya saat melihat putri bungsu dan menantunya. Tangannya masih memegang sendok, namun gerakannya terhenti sejenak.
"Eh, kalian sudah datang?" Ujar ayah Anindia lembut.
Ibu Anindia juga menoleh perlahan. Wajahnya masih terlihat pucat, namun senyumnya tetap hadir. Sorot matanya langsung tertuju pada Anindia, terlebih hanya Anindia satu-satunya anak yang dekat di sisinya saat ini.
"Anindia..." Panggil ibunya lirih.
Suasana ruangan itu seketika berubah. Tidak lagi dingin seperti sebelumnya, melainkan hangat karena dipenuhi kehadiran orang-orang yang saling menguatkan dalam diam.
Waktu berlalu begitu cepatnya. Percakapan ringan sesekali terdengar, diselingi keheningan yang terasa menenangkan. Hingga satu jam berlalu, pintu ruangan kembali terbuka.
Suara langkah kaki terdengar pelan, diikuti dengan suara yang begitu familiar, suara Shaka.
Anindia dan Keanu refleks menoleh bersamaan. Di ambang pintu, kedua orang tua Keanu berdiri, dengan Shaka di gendong oleh ibu Keanu.
Wajah kecil itu berubah menjadi ceria ketika melihat kedua orang tuanya. Tangannya bergerak aktif, tubuhnya condong sedikit ke depan.
Anindia langsung berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri mereka. Shaka langsung berpindah posisi, kali ini dalam pelukan Anindia.
"Anak bunda, mau jenguk nenek ya sayang?" Ujar Anindia lembut.
"Mama bawa Shaka cuma sebentar," ujar ibu Keanu kemudian. "Enggak enak juga terlalu lama di sini."
Anindia langsung mengangguk cepat. "Iya Ma," ujarnya. "Masuk dulu, Ma, Pa."
Kedua orang tua Keanu langsung berjalan masuk. Ibu Keanu meletakkan keranjang buah di atas meja.
"Bagaimana keadaannya, jeng?" Tanya ibu Keanu pada ibu Anindia.
"Sudah sedikit lebih baik, jeng," ujar ibu Anindia lirih.
Sementara ayah Keanu langsung menyalami tangan ayah Anindia. "Bagaimana kondisi istrimu, Mario?" Ujarnya.
Ayah Anindia menyambutnya tanpa ragu. Mereka melakukan salam persahabatan seperti biasanya.
"Bram, kau datang juga." Ujar ayah Anindia, terdengar hangat sekaligus lega. "Istriku, masih lemah. Tapi kondisinya sedikit membaik."
Ayah Keanu mengangguk pelan. Wajahnya yang semula tenang berubah sedikit serius, sorot matanya menunjukkan perhatian yang tulus.
"Syukurlah kalau sudah ada perkembangan," ujar ayah Keanu kemudian. "Kau juga harus kuat, Mario. Istrimu membutuhkan kau di sampingnya." Lanjut ayah Keanu sembari menepuk pundak ayah Anindia.
Ayah Anindia melirik sekilas ke arah ranjang, melihat kondisi istrinya yang masih lemah.
"Kita doakan sama-sama, semoga cepat pulih," lanjut ayah Keanu.
"Terima kasih, Bram," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut ayah Anindia.
Anindia dan Keanu memperhatikan percakapan dua orang tua itu dalam diam. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Keduanya menyadari bahwa cinta dalam keluarga mereka selalu hadir dengan cara yang sederhana, tapi begitu dalam.
Beberapa menit berlalu, suasana kembali tenang. Percakapan mulai mereda, hanya tersisa suara pelan dan ocehan Shaka yang sesekali terdengar.
Keanu melirik Anindia. Wajah Anindia terlihat lelah, meskipun ia sudah berusaha menyembunyikannya.
"Sayang," panggil Keanu pelan, membuat Anindia langsung menoleh. "Kamu pulang dulu, ya. Istirahat," lanjut Keanu sebelum Anindia sempat berkata-kata.
Anindia langsung menggeleng pelan. "Enggak apa-apa, Mas. Aku di sini aja."
Keanu menatap Anindia beberapa saat, lalu ia menghela nafas pelan. "Kamu capek," ujarnya pelan. "Dari pagi kamu terlalu banyak pikiran."
"Gapapa, Mas. Aku di sini aja," ujar Anindia pelan.
Keanu menggeleng kecil. "Kamu harus pulang," tegas Keanu tapi tetap lembut. "Shaka masih butuh kamu."
Anindia langsung terdiam, ia tahu bahwa yang dikatakan oleh Keanu benar adanya. Ia melirik sekilas ke arah Shaka yang duduk dalam pangkuannya.
"Aku yang jaga di sini. Gantian sama Papa," lanjut Keanu mencoba menenangkan.
Anindia terlihat ragu. Di sela-sela keraguannya, ia menoleh ke arah keluarganya, seolah mencari jawaban.
"Keanu benar, Anindia," ujar ibu Keanu yang pertama menyetujui. "Kamu juga harus istirahat, Shaka masih butuh kamu."
"Iya, nak," tambah ayah Anindia. "Kamu pulang aja, istirahat. Biar Papa yang jaga Mama."
Ibu Anindia yang terbaring lemah juga menatap putrinya. "Iya sayang, dengerin perkataan suami kamu." Ujarnya lirih, nyaris tak terdengar.
Hati Anindia jelas menolak, tapi melihat semuanya menyetujui, akhirnya ia pun mengangguk perlahan.
"Keanu," panggil ayah Keanu yang sedari tadi diam, Keanu langsung menoleh.
"Pakai mobil Papa aja," tegas ayah Keanu, tapi tetap terdengar hangat. "Jangan pakai motor, kasihan anak dan istri kamu."
Keanu mengangguk tanpa ragu. "Iya, Pa."
Keanu kemudian menoleh ke arah Anindia, tangannya terulur untuk membantu Anindia berdiri. "Ayo, sayang."
Anindia mengangguk, lalu beranjak dari duduknya. Setelahnya, ia menciumi satu persatu tangan kedua orang tua dan mertuanya, diikuti Keanu yang juga melakukan hal yang sama.
"Keanu antar Nindi pulang dulu ya, Ma, Pa," pamit Keanu pada mereka.
"Iya nak, hati-hati di jalan," jawab ayah Anindia.
"Besok Nindi ke sini lagi ya, Ma," ujar Anindia saat berpamitan dengan ibunya. Sementara ibunya hanya mengangguk singkat.
Setelah berpamitan, keduanya beranjak meninggalkan ruangan itu di belakang. Keanu merangkul pundak Anindia, seolah menuntut Anindia agar berhati-hati ketika berjalan melewati lantai keramik rumah sakit. Sementara Shaka terlihat anteng dalam pelukan Anindia, sesekali mengeluarkan suara kecil seperti ingin tertidur.
Semuanya terasa berbeda malam itu. Bukan hanya tentang siapa yang tinggal dan siapa yang pergi. Tapi tentang bagaimana peran mereka mulai berganti, saling menjaga dengan cara masing-masing.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁