NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Tanpa Mimpi

Dua hari berlalu dalam kabut rasa sakit yang tumpul dan kehangatan yang melenakan.

Dunia Elara menyusut menjadi empat dinding Kamar Biru. Di luar, badai salju telah berhenti, digantikan oleh langit biru pucat yang dingin dan menyilaukan, namun Elara hanya melihatnya melalui bingkai jendela kaca. Sesuai ancaman—atau janji—Kaelen, ia menjadi tahanan di kamarnya sendiri.

Tidak ada kuda, tidak ada jalan-jalan ke gudang senjata, dan tentu saja, tidak ada kunjungan ke Sayap Selatan yang terlarang.

Namun, penjara kali ini terasa berbeda. Tidak ada rasa dingin yang menggigit tulang. Perapian di sudut ruangan menyala terus-menerus, dijaga oleh pelayan yang masuk setiap dua jam sekali seperti penjaga jam yang patuh.

Elara duduk bersandar di tumpukan bantal bulu angsa. Bahu kirinya yang cedera dibebat rapi dengan perban linen bersih, membatasi gerakannya.

Rasa sakitnya sudah berkurang menjadi denyutan samar, namun setiap kali ia mencoba mengangkat lengan, tubuhnya mengingatkan bahwa ia belum sepenuhnya pulih dari hantaman tanah beku Hutan Besi.

Di pangkuannya, tergeletak buku tebal bersampul kulit hijau yang ia minta dari Silas: Flora Pegunungan Vhaloria: Panduan Botani Dataran Tinggi.

Buku itu tua, halaman-halamannya rapuh dan berbau vanila apek. Elara membalik halamannya dengan satu tangan—tangan kanannya—sementara tangan kirinya beristirahat di atas selimut.

Ia berhenti di halaman 142. Sebuah ilustrasi tinta hitam yang mendetail menampilkan bunga mawar dengan kelopak yang tajam dan berduri panjang.

Rosa Glacialis (Mawar Es). Habitat: Lereng utara yang terlindung dari angin langsung. Sangat langka. Membutuhkan tanah dengan keasaman tinggi dan... perhatian konstan. Mitos mengatakan mawar ini hanya mekar jika disiram dengan air mata atau darah pemiliknya.

Elara menyentuh gambar itu. "Darah," bisiknya, teringat tetesan darah dari jarinya yang tertusuk di rumah kaca. "Kau memang tanaman yang dramatis."

Pintu kamar diketuk. Bukan ketukan sopan Silas, melainkan ketukan tegas dan berat. Dua kali. Tok. Tok.

Elara menegakkan punggungnya, merapikan selimut dengan gugup. Ia tahu siapa itu.

"Masuk," katanya.

Pintu terbuka. Duke Kaelen Draxos melangkah masuk.

Sore ini, ia tidak mengenakan baju zirah. Ia mengenakan pakaian "rumah"—sebuah konsep yang aneh bagi Elara untuk diasosiasikan dengan Kaelen. Kemeja putih longgar dengan lengan digulung hingga siku, rompi kulit hitam tanpa kancing, dan celana panjang gelap. Rambutnya basah, seolah ia baru saja mandi setelah latihan sore.

Ia membawa nampan. Sendiri. Tidak ada pelayan yang mengikutinya.

Pemandangan Iblis Utara membawa nampan makan malam seperti seorang pelayan adalah sesuatu yang masih sulit diproses oleh otak Elara.

"Kau masih hidup," kata Kaelen datar, menutup pintu dengan kakinya. Ia berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur Elara dan meletakkan nampan itu.

"Berkat tabibmu yang kompeten," jawab Elara, menutup bukunya. "Dan berkat sipir penjaraku yang rajin."

Kaelen mendengus pelan. Ia menarik kursi kayu—kursi yang sama tempat ia tidur dua malam lalu—dan duduk. Ia tidak langsung bicara. Matanya yang tajam menyapu wajah Elara, memeriksa warna kulitnya, mencari tanda demam yang mungkin kembali. Itu adalah pemeriksaan medis visual yang intens, dilakukan tanpa menyentuh.

"Warnamu sudah kembali," komentar Kaelen. "Kau tidak lagi terlihat seperti mayat yang baru digali."

"Pujian yang sangat puitis, Suamiku," sindir Elara, mengambil gelas air dari nampan. "Apakah itu caramu mengatakan aku terlihat sehat?"

"Itu caraku mengatakan kau tidak akan mati hari ini, jadi aku tidak perlu repot mencari istri baru besok," balas Kaelen, meski nada suaranya tidak memiliki ketajaman seperti biasanya. Itu lebih terdengar seperti banter lelah di antara kawan lama.

Kaelen menunjuk nampan itu dengan dagunya. "Makan. Martha membuatkan bubur ayam dengan jahe. Dia bilang itu bagus untuk memar."

Elara melihat mangkuk itu. Uap panas mengepul darinya. "Kau tidak makan?"

"Aku sudah makan di ruang kerja," bohong Kaelen. Elara tahu itu bohong karena perut Kaelen berbunyi pelan saat ia duduk. Suara gemuruh kecil yang dikhianati oleh tubuh di ruangan yang sunyi.

Elara menatapnya, mengangkat alis.

Kaelen membuang muka, tampak sedikit malu. "Aku sibuk. Laporan perbatasan menumpuk."

"Ambil sendok lain," kata Elara.

"Apa?" Kaelen menoleh kembali.

"Ambil sendok lain, Kaelen," ulang Elara tenang. "Mangkuk ini besar. Aku tidak akan bisa menghabiskannya sendiri. Dan aku tidak suka makan sendirian sementara orang yang menjagaku kelaparan."

"Aku tidak lapar," bantah Kaelen keras kepala.

"Perutmu berpendapat lain," Elara tersenyum tipis. "Ayolah. Anggap saja ini... pengecekan racun. Siapa tahu Martha menaruh terlalu banyak jahe."

Kaelen menatap Elara, lalu menatap bubur itu. Pertahanan dirinya runtuh perlahan, dikikis oleh kelelahan dan tawaran sederhana yang tidak menuntut apa-apa. Ia berdiri, berjalan ke meja rias di mana terdapat set peralatan makan cadangan, mengambil sendok perak, dan kembali duduk.

Mereka makan dari mangkuk yang sama.

Itu adalah tindakan yang sangat intim. Di budaya bangsawan, berbagi piring adalah simbol kepercayaan mutlak. Kaelen menyendok dari sisi kiri, Elara dari sisi kanan.

Keheningan di kamar itu terasa nyaman . Hanya ada suara denting sendok dan desis api di perapian. Cahaya matahari sore yang mulai memerah masuk melalui jendela, mewarnai ruangan dengan rona emas tua.

Elara memperhatikan tangan Kaelen saat menyendok bubur. Tangan itu besar, kasar, dipenuhi bekas luka kecil berwarna putih—bekas goresan pedang, panah, dan kehidupan keras di utara. Tangan yang membunuh beruang. Tangan yang sama yang mengompres dahinya saat demam.

"Apa yang kau baca?" tanya Kaelen tiba-tiba, memecah lamunan Elara. Ia menunjuk buku hijau di pangkuan Elara dengan sendoknya.

"Buku botani," jawab Elara. "Aku sedang membaca tentang tumbuhan lokal."

"Membosankan," komentar Kaelen, menyuap lagi. "Bunga tidak berguna di sini. Mereka mati dalam semalam."

"Tidak semua," sanggah Elara. "Ada yang bertahan. Seperti Rosa Glacialis."

Gerakan tangan Kaelen terhenti sejenak. Sangat singkat  , hampir tak terlihat, tapi Elara menangkapnya.

"Mawar itu hanya mitos," kata Kaelen, suaranya mendingin sedikit. "Dan kalaupun ada, itu tanaman parasit. Dia butuh kondisi yang mustahil untuk hidup."

"Dia butuh perlindungan, bukan kondisi mustahil," Elara memberanikan diri. "Dia butuh dinding kaca untuk menahan angin. Dan dia butuh seseorang yang cukup sabar untuk memangkas bagian yang mati agar tunas baru bisa tumbuh."

Kaelen meletakkan sendoknya. Ia menatap Elara lekat-lekat. Mata abu-abunya menggelap, seperti langit sebelum badai. Dia tahu Elara tidak sedang membicarakan tanaman. Dia tahu Elara sedang membicarakan Sayap Selatan. Membicarakan dia.

"Kau menyentuhnya," bisik Kaelen. Itu bukan pertanyaan. "Kau menyentuh mawar di rumah kaca itu."

Elara tidak mengelak. "Ya."

"Aku melarangmu."

"Kau melarangku karena kau pikir itu menyakitimu," kata Elara lembut. "Tapi Kaelen... mawar itu masih hidup. Ada tunas hijau di sana. Sangat kecil, tapi ada."

Rahang Kaelen mengeras. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Biarkan mati, Elara. Jangan beri harapan palsu pada sesuatu yang sudah hancur."

"Kenapa kau takut pada harapan?" tanya Elara.

Kaelen tidak menjawab. Ia diam lama sekali. Bayangan panjang dari jendela merayap naik ke wajahnya, menyembunyikan ekspresinya dalam kegelapan separuh.

"Karena harapan itu menyakitkan," jawabnya akhirnya, suaranya parau. "Keputusasaan itu mudah. Kau menyerah, kau mati rasa, selesai. Tapi harapan... harapan memaksamu untuk terus berjuang, terus merasa, terus takut kehilangan lagi. Aku lelah takut, Elara."

Itu adalah pengakuan paling jujur yang pernah keluar dari mulutnya.

Elara meletakkan tangannya yang sehat di atas tangan Kaelen yang terkepal di meja. Kulitnya yang halus kontras dengan kulit Kaelen yang kasar.

"Kalau begitu, biar aku yang takut untukmu," kata Elara. "Biar aku yang merawat harapan itu. Kau cukup... jangan menghancurkannya. Bisa?"

Kaelen menatap tangan Elara di atas tangannya. Dia tidak menarik diri. Otot-otot tangannya yang tegang perlahan rileks di bawah sentuhan hangat istrinya.

"Kau wanita yang merepotkan," gumam Kaelen, tapi tidak ada bisa dalam suaranya. Hanya kelelahan yang dalam.

Malam turun sepenuhnya. Pelayan masuk untuk menyalakan lilin, tapi Kaelen mengusirnya dengan lambaian tangan. Ia membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya api perapian yang menari-nari.

Kaelen tidak pergi.

Ia tetap duduk di kursi itu, melihat api. Ia tampak enggan kembali ke kamarnya yang dingin dan sepi, tempat mimpi buruk biasanya menunggunya.

Elara melihat lingkaran hitam di bawah mata suaminya. "Kau tidak tidur lagi semalam, kan?"

Kaelen mengangkat bahu. "Tidur sopravlued (dinilai terlalu tinggi)."

"Berbaringlah," kata Elara, menggeser tubuhnya ke sisi tempat tidur, menyisakan ruang kosong yang cukup luas di sebelahnya.

Mata Kaelen membelalak kaget. Ia menatap ruang kosong itu seolah itu adalah jebakan berisi paku. "Apa?"

"Berbaringlah," ulang Elara santai. "Di sini. Di atas selimut. Kau butuh istirahat, dan kau tidak akan bisa tidur di kursi kayu itu selamanya tanpa merusak punggungmu."

"Elara, ini tidak pantas," kata Kaelen kaku. "Kita... aku tidak bisa."

"Kita suami istri, Kaelen. Secara hukum dan agama," Elara mengingatkan. "Dan aku tidak memintamu melakukan kewajiban suami istri. Aku memintamu tidur. Hanya tidur. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu jika kau tidak mau."

Kaelen ragu. Tubuhnya berteriak minta istirahat. Matanya terasa perih. Kehadiran Elara yang tenang, aroma lavender dari bantalnya, kehangatan ruangan ini... semuanya begitu menggoda.

"Hanya tidur," Kaelen memastikan, suaranya terdengar seperti anak kecil yang meminta izin.

"Hanya tidur," janji Elara.

Dengan gerakan kaku dan ragu-ragu, Kaelen melepaskan sepatu botnya. Ia melepaskan rompi kulitnya, menyisakan kemeja putih tipis. Lalu, ia naik ke tempat tidur.

Ia berbaring di sisi yang kosong, di atas selimut tebal, menjaga jarak aman dari Elara. Tubuhnya tegang, siap melompat pergi jika ada ancaman.

Elara tidak mendekat. Ia tetap di posisinya, bersandar pada bantal, membuka kembali bukunya.

"Aku akan membacakan sesuatu untukmu," kata Elara pelan. "Supaya pikiranmu tidak berisik."

Kaelen tidak menjawab. Ia menatap langit-langit kamar, tangannya terlipat di dada.

Elara mulai membaca. Suaranya lembut, berirama, membacakan deskripsi tentang pohon pinus kuno, tentang siklus musim di pegunungan, tentang bagaimana alam selalu menemukan cara untuk memulihkan diri setelah kebakaran hutan.

Kata-kata itu mengalir seperti sungai yang tenang. Tidak ada intrik politik, tidak ada laporan kematian, tidak ada strategi perang. Hanya kedamaian alam.

Satu halaman berlalu. Dua halaman.

Perlahan, ketegangan di tubuh Kaelen mencair (emotional beat focus). Napasnya yang tadi pendek-pendek mulai memanjang dan dalam. Kelopak matanya berkedip lambat, semakin berat, hingga akhirnya menutup sepenuhnya.

Kepalanya miring ke samping, menghadap Elara. Wajahnya yang biasanya keras melunak dalam tidur. Iblis Utaranya pergi, digantikan oleh Kaelen yang lelah.

Elara berhenti membaca. Ia menatap suaminya yang tertidur lelap di sebelahnya.

Tidak ada mimpi buruk malam ini.

Elara tersenyum tipis. Ia menutup bukunya tanpa suara, mematikan lilin di meja samping tempat tidur, dan berbaring. Ia menarik selimutnya sedikit, menatap punggung Kaelen yang naik turun teratur.

Malam ini, di Kamar Biru yang hangat, mereka berbagi tempat tidur untuk pertama kalinya. Tanpa sentuhan, tanpa gairah, hanya dua jiwa yang lelah yang menemukan tempat perlindungan satu sama lain dari badai dunia luar.

Dan saat Elara akhirnya memejamkan mata, ia tahu bahwa besok akan menjadi hari yang baru.

Hari di mana ia akan mulai menanam kembali mawar itu, dengan atau tanpa izin, karena sekarang ia tahu rahasianya: Kaelen tidak ingin mawar itu mati; dia hanya takut berharap mawar itu bisa hidup.

1
kiu kiu
semangat elara...buat jantung kaelen berdetak tk karuan bila bersamamu. hancurkan dinding pertahanannya .mungkin kamu yg paling special elara..
kiu kiu
semakin posesif aja kaelen... apa tidak ada rasa ketertarikan pada wanita yg menemani hidupnya.mempertaruhkan nyawanya hanya ingin mengingatkan kaelen sarapan.semoga saja setelah kejadian ini ada benih benih cinta di hati kaelen yg beku...
kiu kiu
duh...gemes sama kaelen. sikap posesifdn protektifnya datang seiring berjalannya waktu.tp utk apa sikap itu.klu mengakui cinta saja masih sulit.mungkin temboknya semakin tinggi dan tebal.jd dindingnya tk tertembus.🤭
Turki Salman
seru cerita baru
Turki Salman
😍😍
jamanku
😍👍
jamanku
ceritanya sangat menarik dan baru
Sofia
😍
Sofia
😍😍😍
Sofia
😍
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
terus berjuang lady, cerita yang sangat bagua
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!