NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Pagi itu, Lulu berangkat sekolah dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Bunga-bunga matahari pemberian Arlan kemarin masih segar di ingatannya, memberikan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, begitu ia sampai di depan kelas, Arlan sudah menunggu di sana, bersandar di pintu kelas dengan gaya yang membuat siswi-siswi lain menoleh iri.

"Pagi, Sayang," sapa Arlan. Ia mengambil tas Lulu tanpa permintaan, sebuah tindakan yang terlihat gentle bagi orang lain, tapi bagi Lulu terasa seperti otoritas.

"Pagi, Arlan. Kamu kok udah di sini?" tanya Lulu sambil tersenyum malu.

Arlan tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah buku tebal yang menonjol dari kantong tas Lulu. Tanpa permisi, Arlan menarik buku itu. "Ensiklopedia Botani?" Arlan membaca judulnya dengan nada yang sangat meremehkan. "Lu, kita kan mau jalan-jalan nanti sore. Kamu masih sempet-sempetnya mikirin tanaman?"

"Ini buku perpus yang harus aku balikin hari ini, Arlan. Seru banget lho isinya—"

"Seru buat kamu, tapi ngebosenin buat aku," potong Arlan santai. Ia meletakkan buku itu di atas loker tinggi yang sulit dijangkau Lulu. "Mulai sekarang, aku mau kamu fokus ke hal-hal yang lebih 'berguna'. Kayak dandan, atau belajar gimana cara ngobrol yang asyik sama temen-temen aku. Kamu nggak mau kan mereka anggep kamu aneh karena cuma tahu soal daun dan akar?"

Lulu terdiam. Kalimat itu terdengar seperti saran yang peduli, tapi di dalamnya ada racun yang menyengat harga dirinya. "Tapi aku suka baca, Arlan..."

"Aku tahu, Lu. Tapi kamu pacar aku sekarang. Apa kata orang kalau liat pacar Arlan Wiraguna lebih sering ngobrol sama buku daripada sama orangnya sendiri?" Arlan mengusap pipi Lulu, sebuah sentuhan yang terasa posesif. "Nanti jam istirahat, jangan ke perpustakaan. Kamu harus bareng aku di kantin. Aku udah pesenin meja khusus."

Jam istirahat tiba. Biasanya, inilah waktu favorit Lulu untuk menyepi di antara rak-rak buku yang tenang. Namun sekarang, ia duduk di tengah riuhnya kantin, tepat di meja tengah yang menjadi markas geng Arlan. Ia merasa seperti ikan yang dipaksa hidup di darat.

"Eh, liat deh si pinter," celetuk Reno sambil tertawa kecil. "Kok ditekuk gitu mukanya? Arlan kurang dandanin lu ya?"

Arlan merangkul bahu Lulu erat, seolah menunjukkan kepemilikan. "Lulu lagi belajar jadi sosialita, Ren. Kasih dia waktu. Dia biasanya cuma temenan sama kaktus di rumah, jadi agak kaget liat manusia banyak begini."

Semua orang di meja itu tertawa. Lulu hanya bisa menunduk, mengaduk-aduk minumannya dengan perasaan tidak nyaman. Ia ingin membela diri, ingin bilang kalau hobinya bukan hal yang memalukan, tapi setiap kali ia ingin bicara, Arlan akan menekan bahunya sedikit lebih kuat.

"Lu, kok diem aja? Cobain ini," Arlan menyodorkan ponselnya ke depan wajah Lulu. "Aku udah pilihin beberapa akun gaya hidup yang harus kamu follow. Biar kamu nggak ketinggalan jaman. Mulai sekarang, kurang-kurangin posting foto bunga di media sosial kamu, ya? Malu-maluin kalau temen aku liat."

"Tapi Arlan, aku suka bunga matahari..."

"Iya, tapi nggak perlu dipamerin terus, Lu. Orang bakal mikir kamu itu kuper," ucap Arlan dengan nada 'sabar' yang manipulatif. "Aku ngelakuin ini biar kamu punya temen banyak. Biar kamu nggak cuma sendirian terus. Kamu nggak mau kan jadi anak ansos selamanya?"

Lulu merasa hatinya menciut. Ia mulai bertanya-tanya, apakah selama ini dia memang aneh? Apakah kesukaannya pada buku dan alam adalah sebuah kesalahan? Arlan membuatnya merasa bahwa identitasnya selama ini adalah sesuatu yang perlu "diperbaiki".

Setelah jam sekolah berakhir, Arlan mengajak Lulu ke toko aksesoris mahal di dekat sekolah. Arlan memilihkan beberapa anting dan kalung yang sangat mencolok, jauh dari gaya sederhana Lulu.

"Pake ini," perintah Arlan lembut tapi tidak menerima penolakan.

"Ini... ini harganya mahal banget, Arlan. Dan terlalu gede buat aku," tolak Lulu halus.

Arlan menghela napas, raut wajahnya berubah menjadi sedih yang dibuat-buat. "Lu, aku udah beliin kamu bunga matahari sebanyak itu kemarin. Aku udah berusaha jadi cowok yang baik buat kamu. Masa kamu buat pake anting pemberian aku aja nggak mau? Kamu sebegitu nggak menghargai usaha aku?"

Lulu langsung merasa tertusuk rasa bersalah. Teknik guilt-tripping Arlan bekerja sempurna. "Maaf, Arlan. Aku... aku bakal pake."

"Gitu dong. Itu baru pacar yang aku banggain," Arlan tersenyum puas. Ia membantu memakaikan anting itu. Saat ia mendekat, ia berbisik, "Nanti malam aku mau kita video call. Tapi aku mau kamu lepas kacamata kamu. Aku pengen liat muka kamu yang cantik tanpa penghalang itu sebelum aku tidur. Bisa?"

Lulu menelan ludah. "Tapi nanti aku nggak bisa liat muka kamu di layar, Arlan. Semuanya bakal buram."

"Nggak apa-apa. Kan ada suara aku. Yang penting aku bisa liat kamu," Arlan mengedipkan mata. "Janji ya?"

Malam itu, Lulu duduk di kamarnya dengan anting-anting berat yang membuat telinganya sakit. Ia menatap kacamatanya yang tergeletak di meja. Ia merasa terjepit. Di satu sisi, ia merasa dicintai karena Arlan begitu memperhatikan penampilannya. Di sisi lain, ia merasa perlahan-lahan ia kehilangan dirinya sendiri.

Ia mulai menghapus foto-foto bunga di media sosialnya, sesuai permintaan Arlan. Ia mulai menjauhi buku-bukunya karena takut Arlan akan mengejeknya lagi. Lulu tidak sadar, bahwa Arlan sedang membangun tembok tinggi di sekelilingnya, memisahkannya dari apa pun yang ia cintai, agar satu-satunya dunia yang Lulu miliki hanyalah Arlan.

Dan bagi seorang narsistik seperti Arlan, itu adalah kemenangan mutlak. Dia ingin Lulu merasa bahwa tanpa Arlan, Lulu bukan siapa-siapa. Dia ingin Lulu merasa bahwa hanya Arlan-lah yang mau menerima gadis "aneh" sepertinya.

Lulu menangis pelan sambil menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan video dari Arlan. Ia melepas kacamatanya, membiarkan dunianya buram, demi menyenangkan pria yang sebenarnya sedang menghancurkannya perlahan-lahan.

1
Valent Theashef
mreka bakal ketemu lagi tp entah brp th..
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!