NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Menjadi Ayu

Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Zivanna sedang berdiri di depan cermin bulat kecil yang ditempelkan di tembok, tepat di samping lemari plastik.

Saat ini Zivanna berada di sebuah kamar yang sangat sederhana. Hanya ada sebuah kasur busa tipis dibungkus sprei bermotif bunga-bunga yang warnanya sudah mulai pudar, dan sebuah lemari plastik kecil di sudut kamar yang pintunya sudah tidak bisa tertutup rapat. Gadis itu sedang mengoleskan pelembab di wajahnya sepertinya dia sedang bersiap-siap untuk berjualan.

Semua pekerjaan rumah sudah dia selesaikan. Dia sudah memasak sarapan, mencuci semua pakaian kotor bahkan memenuhi bak mandi dengan air jika sewaktu-waktu Suci ingin mandi.

Ini hari Minggu. Puskesmas tutup (hanya rawat inap yang tetap buka) tetapi Zivanna tidak libur. Gadis itu tetap jualan hanya saja tidak membawa banyak dagangan seperti biasanya karena hanya akan keliling di desa Suka Makmur dan sekitarnya, tidak sampai kecamatan.

Ida sudah berangkat ke sawah Bu Minah pagi-pagi sekali untuk menyiangi rumput yang tingginya sudah hampir menyamai tanaman padi yang ditanam beberapa minggu yang lalu.

Suci masuk tanpa mengetuk pintu. Gadis dengan tahi lalat di dekat hidung itu libur setiap hari Minggu. Zivanna hanya menoleh sebentar karena sudah terbiasa melihatnya keluar masuk ke kamar tanpa permisi. Zivanna jarang sekali mengunci pintu kamarnya karena malas menghadapi interogasi Ida dan Suci setiap kali dia mengunci kamarnya.

Serentetan pertanyaan tidak masuk akal akan mereka ajukan seperti, kenapa mengunci kamar, apa yang kamu sembunyikan, apa yang kamu lakukan di dalam kamar sampai harus dikunci, atau yang paling ekstrem apakah kamu sedang menyembunyikan uangmu agar tidak ketahuan. Zivanna disidang seolah-olah mengunci kamarnya sendiri adalah sebuah kesalahan besar yang telah dia lakukan.

Suci tidak melakukan apa-apa di dalam kamar itu. Dia hanya memindai kakaknya dan mengajaknya bicara sesuatu yang tidak penting yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, entah apa maksudnya.

Lama Suci berada di kamar Zivanna. Gadis itu terus mengajaknya berbicara seperti menahannya berlama-lama.

Merasa Suci hanya membuang-buang waktunya, Zivanna hendak pergi. Tetapi Suci menahannya hingga kemudian seorang laki-laki dengan langkah sempoyongan masuk ke dalam kamar.

Baru setelah laki-laki itu berada di dalam kamar, Suci berlari keluar lalu mengunci kamar itu dari luar.

Zivanna menegang. Seketika dia teringat kejadian di perkebunan tebu beberapa hari sebelumnya.

Mata laki-laki itu terlihat merah dan pandangannya tidak fokus. Dengan langkahnya yang goyah dia terus berjalan mendekati Zivanna.

"Apa yang kamu lakukan?!! Keluar!!!" usir Zivanna tetapi laki-laki itu malah diam mematung di depannya. Dari penampilannya Zivanna tahu laki-laki di hadapannya itu sedang tidak sadar entah dibawa pengaruh obat apa.

"Keluar!!!" usirnya lagi.

"Jangan usir aku. Aku tidak tahu kenapa aku jadi begini. Maafkan aku," kata pemuda itu lirih seperti tidak memiliki tenaga.

"Jangan mendekat!" teriak Zivanna lagi tapi kalimat itu justru memancing pemuda itu maju untuk menangkap Zivanna.

Zivanna menghindar lalu berlari menuju pintu. Dia menggedor pintu itu, berteriak sekuat tenaga agar Suci membukanya. "Suci... Suci... Tolong buka pintunya! Keluarkan aku dari sini!" teriaknya. Tidak ada sahutan padahal Zivanna yakin Suci masih berada di sana.

"Tolong!!! Tolong!!!" Zivanna terus berteriak, tetapi teriakan sekencang apapun tidak akan ada orang yang mendengar karena jarak rumah satu dan lainnya berjauhan dan seringkali terhalang pepohonan yang rindang. Hanya Suci yang bisa menyelamatkannya tetapi tidak mungkin karena gadis itu juga yang menjebaknya. Zivanna tidak bisa berbuat apa-apa.

Di balik pintu, Suci tersenyum. Apapun yang terjadi dia tidak akan membuka pintu itu, paling tidak sampai rencananya benar-benar berhasil.

Dua jam kemudian....

Suasana begitu sunyi. Suara teriakan dan juga suara erangan yang tadi sempat beberapa kali terdengar sudah hilang.

Suci tersenyum puas. Dia memasukkan kunci yang sedari tadi aman dia simpan di dalam saku dasternya ke dalam lubang pintu.

Setelah dua kali putaran, pintu terbuka. Dengan ekspresi pura-pura terkejut Suci berteriak, "Apa yang kalian lakukan?!! Sungguh memalukan!!!"

Di hadapannya, Suci melihat laki-laki yang tadi masuk kamar dengan paksa baru selesai memakai celana panjangnya sedangkan Zivanna terbaring di atas kasur sambil terisak tak berdaya. Tubuhnya ditutupi selimut usang berwarna putih bermotif garis-garis abu-abu. Sementara pakaiannya teronggok di dekat kasur.

"Bisa-bisanya kalian berbuat mesum di rumah ini? Apa yang akan terjadi kalau sampai ada yang tahu??? Apa yang akan aku katakan pada ibu nanti?!!" Suci mendekati Zivanna yang masih meringkuk dibalik selimut. Gadis itu tidak berani menoleh.

Pemuda itu segera memakai pakaiannya lalu berlari keluar meninggalkan Suci dan Zivanna yang masih belum berpakaian tanpa suara.

"Semua orang tahunya kamu perempuan baik-baik. Gadis polos pekerja keras yang tidak pernah melakukan keburukan. Tetapi kalau mereka tahu yang kamu lakukan ini, apa mereka masih akan berpikir begitu?" Suci bergidik jijik. "Bagaimana kalau aku katakan pada mereka, orang-orang yang selalu memuji-mujimu itu soal ini?"

Barulah Zivanna menoleh. "Tolong jangan lakukan itu... Aku mohon... " kata Zivanna dengan suara serak hampir tak terdengar. Air matanya terus berlinang sambil menatap Suci dengan tatapan yang penuh luka. "Aku mohon padamu, Suci. Tolong jangan bicara pada siapapun soal ini."

Zivanna terus mengiba sementara Suci tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Gadis licik itu tertawa sambil berkata, "Aku nggak bisa janji. Aku terlalu capek disebut adik tiri yang tidak tahu diri. Mungkin aku akan menceritakan ini pada beberapa orang agar pandangan buruk mereka terhadapku berubah. Bagaimana menurutmu?"

"Jangan Suci... Aku mohon jangan lakukan itu." Zivanna berusaha bangkit. Tangannya menahan selimut yang menutup tubuhnya agar tidak melorot. Dia merangkul kaki Suci lalu kembali memohon. "Tolong jangan katakan pada siapapun!"

"Kita lihat saja nanti!" Suci menarik kakinya lalu pergi.

Setelah kepergian Suci, Zivanna segera meraih pakaiannya lalu cepat-cepat mengenakannya. Gadis itu berlari ke sumur di belakang rumah. Dia menimba air lalu mengguyurkan semuanya ke atas kepalanya barulah dia menangisi sejadi jadinya.

Air mata terus mengalir di sudut mata Zivanna yang tertutup rapat. Tangisnya terdengar begitu pilu, sanggup menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sesekali gadis itu terdengar mengigau, meminta tolong dengan suara yang sangat lirih.

Alvaro yang tengah kembali untuk memeriksa keadaan Zivanna menyaksikan itu.

Zivanna terus menangis, semakin lama semakin menyayat hati.

"Ssshhhh... Tidak apa-apa. Itu hanya mimpi," ucap Alvaro lembut sambil mengusap lengannya.

Gerakan tangan Alvaro membuat Zivanna membuka mata. Gadis itu segera bangun, tersadar kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu kembali menangis. Alvaro mengelus-elus punggung Zivanna berusaha menenangkannya. "Itu hanya mimpi," ucapnya lembut seperti sebelumnya.

Zivanna bukan lagi memimpikan Ayu. Di dalam mimpinya tadi, dirinya menjadi Ayu dan merasakan sakitnya menjadi gadis itu. "Tetapi mimpinya sangat mengerikan. Aku tidak sanggup," kata Zivanna, belum berhenti menangis.

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!