Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Ujian Akhir I
Matahari pagi nampak mengintip dari celah celah gedung yang menjulang di kota Astra.
Di salah satu kamar apartemen Velaris nampak seorang pemuda yang sudah bersiap siap dengan seragam sekolahnya, dia adalah Alvaro.
"Sungguh, aku benar benar sulit untuk terbiasa dengan kehidupan serba mudah seperti ini." Ucap Alvaro secara tiba tiba ketika memandang kamar di depannya.
Sangat jarang ia merasakan tubuhnya yang segar saat bangun dari tidur, mungkin itu karena kehidupannya yang keras sebelum ia bertemu sistem.
Ia yang harus memanfaatkan waktunya sebaik baiknya antara belajar dengan tekun karena ia menaruh harapan mengejar ilmu melalui beasiswa, serta bekerja keras mati matian hanya untuk memenuhi kehidupan sehari harinya.
Yang ia rasakan setiap pagi bukannya rasa segar, namun tubuh yang hampir menyerah karena rasa lelah yang belum terobati.
"Anda tak perlu tergesa gesa untuk terbiasa tuan, nikmati saja prosesnya dan manfaatkan sebaik mungkin kesempatan di hadapan anda saat ini" Ucap sebuah suara di kepala Alvaro.
Alvaro yang mendengar itu nampak tersenyum ringan. "Ya, aku akan memanfaatkan nya." Ucapnya.
"Karena itulah tujuan hidupku sekarang, menjadi lebih baik dan melakukan apa yang belum sempat dilakukan oleh ibu." Tambahnya sambil menatap awan diluar jendela.
......................
"Hei Leon, kau belum siap kah?" Teriak Alvaro yang kini sedang duduk di kursi tengah.
"Iya nih bentar" Balas Leon dari dalam kamar.
Beberapa saat kemudian Leon nampak keluar dari kamar. "Bagaimana menurutmu tampilanku sekarang?" Tanya Leon dengan berpose keren.
Alvaro yang melihat Leon hanya nampak terbengong.
"Ka-Kau.."
"Hahaha aku tampan kan dengan pakaian dan jam tangan ini hehehe... Jangan terpesona karena aku masih normal" Kekeh Leon sambil tetap bergaya.
"Puih tak sudi aku, yang aku ingin tanyakan kau mau sekolah apa menghadiri rapat dengan pakaian itu?" Tanya Alvaro tak peduli.
"Yeee ngomong aja kalau kau cemburu karena tubuhku lebih tinggi dan berisi kan?" Olok Leon tidak terima.
"Terserah kamu saja, kalau kamu gak mau berangkat sekarang mah terserah." Ucap Alvaro lalu bangkit dari duduknya dan meraih tas yang sudah ia siapkan.
"Aku berangkat dulu." Tambahnya lalu berjalan keluar apartemen.
"Hei hei tungguin lah, lagian masih pagi banget udah terburu buru aja lagi ngejar apa sih?" gerutu Leon, namun Alvaro benar benar tak peduli dan langsung berjalan keluar apartemen.
----
Singkat cerita kini keduanya telah sampai depan gerbang sekolah. Setelah ia sedikit berbasa basi dengan pak Prapto, keduanya pun masuk ke halaman sekolah untuk menuju area parkir.
Namun tanpa Alvaro sadari bahwa sejak ia berbincang dengan pak Prapto, ia telah ditatap oleh beberapa siswa dengan tatapan bertanya serta kagum.
Sepertinya ia tak mengenal Alvaro karena Alvaro yang saat itu tidak membuka helm nya, serta motor sport miliknya juga nampak mencuri perhatian para siswa yang berpapasan ataupun yang secara tak sengaja melihatnya.
Keduanya pun memasuki area parkir dengan tenang, setelah itu keduanya pun lanjut menuju kelas dengan santai.
Saat ini adalah hari yang cukup dinanti nantikan, itu karena hari ini adalah Ujian Akhir bagi kelas 12 sebelum kelulusan dan melanjutkan ke tingkatan yang lebih tinggi nantinya.
"Wah Alvaro sudah datang nih.." Sambut beberapa siswa ketika Alvaro memasuki kelas.
Ia yang tak terbiasa dengan itu hanya bisa tersenyum canggung da segera menuju kursi miliknya.
"Masa dia doang yang di sambut, sedangkan aku kagak?" Ucap Leon tiba tiba nampak kesal.
"Wahh sang juara judo dan gulat tahun lalu sudah datang..."
"Udah terlanjur males, keliatan banget dibuat buatnya" Ucap Leon lagi tambah cemberut.
Mendengar itu para teman teman sekelasnya pun langsung tertawa terbahak bahak, begitu pula Alvaro yang juga nampak tertawa saat melihat wajah Leon.
Akhirnya pagi hari itupun dimulai dengan gelak tawa para murid, walaupun itu tak bertahan lama karena Ujian Akhir telah dimulai.
"Perhatian semuanya!!" Ucap seorang guru laki laki dengan tegas di depan kelas.
"Selama ujian ada tiga peraturan yang perlu kalian penuhi. Yaitu pertama tidak ada kecurangan, kedua tetap tidak ada kecurangan, dan ketiga sama tidak ada kecurangan. Dan jika sampai ada yang berani melanggar.." Guru itu nampak memperagakan jempol nya menyayat leher.
"Diskualifikasi.." Ucapnya dingin yang membuat para siswa langsung tegang.
Mata pelajaran pertama langsung membuat para murid hampir menangis darah, karena itu adalah MATEMATIKA. Mata pelajaran yang paling dibenci dimanapun sekolah.
Apalagi yang menjadi pengawas adalah pak Koji, seorang guru killer yang sangat ditakuti para siswa. Hal itu bukan hanya karena dia keras, namun ia juga tegas dan disiplin karena latar belakang nya yang berbau militer.
Lebih tepatnya ia adalah pensiunan instruktur militer karena kecelakaan yang pernah dialaminya, setidaknya itulah yang diketahui kebanyakan orang.
Setelah hampir tiga jam penuh mengalami tekanan mental yang kuat, akhirnya para murid pun dapat bernafas lega ketika bel istirahat berbunyi.
"Baiklah semua lembaran jawaban segera dikumpulkan" Ucap pak Koji lalu ia pun langsung keluar kelas.
"Fiuuuhh..."
"Hahh... Lega banget akhirnya masa kritis terlewati" Ucap beberapa murid bernafas lega.
Begitu pula Alvaro yang juga nampak cukup lega, walaupun ia tak mempermasalahkan mata pelajaran matematika karena skill yang ia punya. Beberapa mata pelajaran lain ia masih tetap harus menggunakan kemampuannya sendiri.
"Setidaknya itu berjalan dengan lancar" ucapnya lega.
aku mampir kak, ikut meramaikan.
mampir juga ya, mafia jatuh Cinta pada Gadis Desa.....
yuk, saling dukung....💪💪