Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Lian Zhu Yue
"Maaf," katanya, suaranya ternyata lebih pelan dari yang Wei Mou Sha duga. "Aku tidak melihat ke depan."
Wei Mou Sha menatap gulungan-gulungan itu di tanah.
Membungkuk dan mengambil dua yang paling dekat dengan kakinya.
Perempuan itu mendongak dan kaget sebentar, lalu menerima gulungan-gulungan itu dengan kedua tangannya dan memberikan rasa hormat kecil.
"Terima kasih."
Wei Mou Sha tidak menjawab. Ia sudah berdiri tegak lagi dan siap melanjutkan perjalanannya.
"Matamu."
Suara itu bikin langkah Wei Mou Sha berhenti, dan kemudian ia berbalik.
Perempuan itu masih berdiri di tempatnya, dengan memeluk gulungan-gulungan itu ke dadanya, ia menatapnya dengan ekspresi yang tidak berubah.
"Matamu," ulangnya dengan nada yang sama. "Itu seperti kosong."
Wei Mou Sha menatapnya.
Tidak ada yang pernah bilang itu sebelumnya, setidaknya tidak secara langsung, tidak dengan nada seperti ini. Orang-orang yang pernah melihat matanya biasanya bereaksi dengan salah satu dari dua cara: takut, atau berusaha terlihat tidak takut. Perempuan ini tidak melakukan keduanya.
Ia hanya mengatakan dengan fakta. Seperti cara Wei Mou Sha sendiri berbicara.
"Aku tahu," kata Wei Mou Sha akhirnya.
Perempuan itu mengangguk pelan, bukan canggung, hanya menerima jawaban itu apa adanya. Lalu ia sedikit mengerutkan dahinya, seperti sesuatu yang baru saja muncul di pikirannya.
"Kamu kultivator bebas yang bikin lengan Feng Bai kesemutan?"
"Informasi yang sudah terlanjur tersebar."
Sudut bibir perempuan itu bergerak sedikit, hampir tersenyum. "Wanhua adalah kota gosip. Tapi gosip biasanya dilebih-lebihkan." Ia menatapnya dengan cara yang terasa seperti menilai. "Kamu terlihat lebih muda dari yang kudengar."
"Berapa usiaku yang kamu dengar?"
"Tiga puluhan."
"Tidak akurat."
"Jelas." Perempuan itu menggeser gulungan-gulungannya ke tangan yang satu lagi untuk mengosongkan tangan yang lainnya, lalu memberikan rasa hormat dengan tangan kanan di atas tangan kiri. "Lian Zhu Yue. Sekte Bunga Abadi."
Wei Mou Sha tidak langsung menjawab.
Ia mengamati perempuan itu dengan cara yang sama seperti ia mengamati segala sesuatu.
"Wei Mou Sha."
"Tidak ada afiliasi sekte" kata Lian Zhu Yue. "Aku tahu." Ia kemudian melirik ke arah gang tempat ia tadi berlari. "Kamu mau ke mana?"
Pertanyaan yang aneh untuk ditanyakan ke orang asing.
"Penginapan."
"Distrik bawah?"
"Ya."
"Arahnya sama." Lian Zhu Yue sudah mulai berjalan ke arah yang dimaksud. "Aku mampir ke toko obat terlebih dahulu. Tidak akan lama."
Wei Mou Sha menatap punggungnya yang sudah berjalan.
Ini bukan undangan. Ini orang yang memutuskan bahwa mereka jalan ke arah yang sama dan tidak ada alasan untuk tidak jalan bareng.
Wei Mou Sha akhirnya berjalan dan mengikuti nya.
Ia tidak tahu kenapa. Mereka jalan dalam diam selama setengah blok pertama.
Lian Zhu Yue akhirnya berbicara, tetapi tanpa menoleh.
"Kamu ikut turnamen?"
"Mungkin."
"Semua orang yang menarik di Wanhua bulan ini ikut turnamen." Nada bicaranya ringan tapi tidak kosong, ada sesuatu di baliknya yang terasa seperti orang yang sudah terbiasa memikirkan lebih dari yang diucapkan. "Kata mungkin mu terdengar seperti ya."
"Kata mungkin-ku artinya mungkin."
"Hmm." Lian Zhu Yue berhenti di depan sebuah toko obat, kemudian mendorong pintunya untuk masuk. "Tunggu sebentar."
Wei Mou Sha berdiri di luar pintu toko obat, di antara arus pejalan kaki yang terus bergerak, menatap ke depan tanpa tujuan tertentu.
Ia seharusnya sudah melanjutkan perjalanannya sendiri.
Menuju penginapan bukan sesuatu yang memerlukan pendamping untuk sampai ke sana. Dan perempuan ini, meski tidak menunjukkan niat yang mengancam, di masih orang asing yang baru ia temui kurang dari lima menit yang lalu.
Tapi anehnya kakinya tidak bergerak ke mana-mana.
Wei Mou Sha menatap kakinya sebentar.
Variabel yang tidak terduga, catatnya, tapi bahkan ia tidak yakin itu penjelasan yang cukup untuk kondisi yang sedang terjadi.
Lian Zhu Yue akhirnya keluar dua menit kemudian dengan sebuah bungkusan kain, dan ekspresinya seperti orang yang sudah melakukan sesuatu dan sekarang siap untuk melanjutkan.
Ia menatap ke arah Wei Mou Sha yang masih berdiri di depan toko obat.
Sesuatu di matanya berubah sedikit, tidak dramatis, hanya semacam pengakuan kecil yang tidak ia ucapkan.
"Kamu benar benar menunggu."
"Kamu bilang tidak lama."
"Iya." Lian Zhu Yue mulai jalan lagi. "Terima kasih."
Wei Mou Sha jalan di sebelahnya.
Di persimpangan yang memisahkan arah ke Sekte Bunga Abadi dan arah ke distrik bawah, mereka berhenti.
Lian Zhu Yue menoleh ke arahnya untuk pertama kali sejak mereka jalan bareng, menatapnya dengan intensitas yang beda dari tatapan-tatapan sebelumnya. Bukan menilai. Lebih seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak ditulis di permukaan.
"Matamu masih kosong," katanya. "Tapi tidak dengan cara yang sama seperti orang yang tidak peduli."
Wei Mou Sha menatap balik.
"Lalu dengan cara apa?"
Lian Zhu Yue mikir sebentar, bukan pura-pura mikir, tapi benar-benar mencari kata yang tepat.
"Dengan cara orang yang pernah punya sesuatu tetapi tidak punya lagi." Ia menatapnya satu detik lebih lama. "Atau mungkin masih ada, tapi sangat jauh ke dalam sampai tidak kelihatan dari luar."
Wei Mou Sha tidak menjawab karena memang tidak punya jawaban.
Tapi karena ini pertama kalinya orang mendeskripsikan sesuatu tentang dirinya dengan cara yang bikin ia berhenti, bukan karena akurat atau tidak akurat, tapi karena ia tidak tahu kategori mana yang benar.
Dan ketidaktahuan itu, yang biasanya bisa ia kalkulasi dan simpan untuk diproses nanti, kali ini tidak langsung bisa ia letakkan di tempat yang semestinya.
"Sampai jumpa di turnamen ya," kata Lian Zhu Yue, memberikan hormat kecil yang sama seperti tadi. "Kalau kamu jadi ikut."
Ia akhirnya berjalan ke kanan.
Wei Mou Sha berdiri di persimpangan itu, menatap punggungnya yang menjauh sampai masuk ke dalam arus orang-orang yang lebih ramai di jalan menuju distrik sekte.
Lalu ia berbalik dan berjalan ke kiri.
Di kamar penginapannya, Wei Mou Sha duduk di tepi ranjang dan memeriksa kondisi qi-nya seperti yang selalu ia lakukan.
Semuanya sama seperti biasanya.
Tapi ada sesuatu yang beda, bukan di dalam qi-nya, bukan di dalam segel, bukan di dalam tubuhnya.
Di suatu tempat yang lebih sulit dilokalisasi.
Perempuan itu bilang matanya kosong tapi tidak dengan cara orang yang tidak peduli.
Wei Mou Sha memikirkan kalimat itu selama beberapa waktu, coba kategorikan, coba letakkan di dalam kerangka referensi yang sudah ia punya.
Tidak berhasil.
Ini bukan kali pertama orang berkata sesuatu tentang matanya. Tapi ini pertama kalinya orang berkata sesuatu tentang matanya dan ia tidak bisa langsung mutusin apakah itu akurat atau tidak.
Wei Mou Sha berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kayu.
Di dalam dadanya, segel berdenyut dengan ritme yang biasa.
Dan di suatu tempat yang tidak bisa ia tunjuk dengan tepat, ada sesuatu yang sangat kecil yang tidak langsung diam.