Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Preman
‘Masalah apa lagi ini? Kalung apa lagi yang dimaksud?’ batin Yvone.
Urusan orang-orang kaya ini, benar-benar membuat pusing. Yvone bahkan terbiasa bergelut dengan barang yang berkilauan. Transaksi dunia bawah juga melibatkan barang-barang semacam itu.
Berlian, permata, dan juga emas. Yvone bahkan memiliki koleksi berjuta-juta berlian dengan berbagai model dan warna, emas batangan senilai miliar dollar hasil dari rampasan perang.
Sialnya ia tidak bisa lagi menikmatinya. Sama halnya dengan Rose, ia memiliki segalanya, tetapi juga tidak bisa menikmati.
Yvone menatap Sui bingung. Entah kalung apa yang dimaksud oleh ibunya Rose ini?
Sui mengerti kebingungan Yvone. Kalung yang dimaksud oleh Merlin adalah kalung milik Rose yang diberikan oleh Merlin sebagai hadiah ulang tahun.
Setelah lama bungkam, akhirnya Yvone membuka suara.
“Kalung?” Yvone menatap Merlin. Keningnya mengkerut.
“Iya, Sayang. Kalung yang kami berikan sebagai hadiah ulang tahunmu, kalung itu peninggalan nenekmu,” ujar Merlin.
Yvone tertegun untuk beberapa saat. Detik selanjutnya ia hendak kembali bersuara, tetapi Sui lebih dulu menyela.
“Ah, Nyonya. Anda pasti lupa, Anda melepasnya saat mandi tadi.” Sui mengedip cepat, memberikan kode pada majikannya itu.
Yvone segera menangkap maksud dari pelayannya itu. “Ah, ya. Aku lupa,” ucap Yvone sambil terkekeh pelan.
Meski bibirnya tersenyum, dalam hati merutuki diri.
‘Rose sialan! Bukankah dia bilang semua ingatannya milikku, tapi hal semacam ini saja aku tidak tahu.’
Merlin menghela napas lega. “Syukurlah. Untuk yang itu, kau tidak boleh menjualnya. Karena itu adalah peninggalan nenekmu,” Merlin kembali mengingatkan.
“Tentu, Ma. Emm…jika tidak ada lagi yang dibicarakan, aku pamit dulu.”
“Jaga diri baik-baik, Nak.” Mattheo berpesan.
“Iya, Pa.”
Mattheo dan Merlin mengantar putrinya sampai di teras. Mereka heran saat mengetahui Rose dan Sui datang dengan menaiki taksi. Padahal selama ini Rose selalu diantar oleh sopir dengan menggunakan mobil pribadi.
Merlin menawarkan pada Yvone yang berada di tubuh putrinya untuk pulang diantar dengan sopir, tetapi wanita itu menolaknya. Pada akhirnya Yvone dan Sui kembali memesan taksi.
Mereka berjalan hingga ke jalan besar. Yvone masih tampak terlihat kesal kepada Rose. Tetapi, ia harus berterima kasih kepada pelayannya ini.
“Soal kalung itu, kau tahu?” tanya Yvone membuka percakapan.
“Tentu saja, Nyonya. Saya adalah orang pertama yang tahu soal hadiah itu, bahkan Tuan Arsen baru tahu setelah saya,” jawab Sui tampak bangga.
“Lalu di mana sekarang kalung itu sekarang?”
“Nyonya sepertinya Anda memang harus melakukan pemeriksaan pada kepala Anda. Jika Anda mengalami amnesia, saya bisa memakluminya,” ujar Sui sedih, sebab ia merasa Yvone tidak mengingat satu pun tentang dirinya sendiri.
“Aku memang lupa segalanya.” Yvone terpaksa beralasan. Meski ia memiliki ingatan Rose, tetapi untuk hal sedetail itu, ia tidak memilikinya.
“Kedua orang tua Anda mengirim kalung itu sebagai kado ulang tahun, kalungnya sangat indah dengan berlian berwarna merah muda sehingga menarik perhatian Nyonya Besar dan Alexa. Awalnya mereka hanya membicarakannya, tetapi lama kelamaan, Alexa menginginkannya.” Sui menceritakan tanpa ada satu yang terlewat.
“Lalu?” tanya Yvone mulai tertarik.
“Nyonya Besar dan Alexa meminta kalung itu.”
“Lalu aku memberikannya?”
“Itu karena mereka bilang meminjam, makanya Nyonya memberikannya, tetapi sampai sekarang tidak dikembalikan.”
Yvone jadi kesal sendiri mendengarnya. Kenapa semua masalah yang terjadi pada Rose, selalu berkaitan dengan Brighita dan juga Alexa? Seperti yang dikatakan oleh Sui, semua perhiasan ada pada Brighita.
Yang dikatakan oleh Sui benar, operasi plastik membutuhkan biaya tidak sedikit. Bahkan orang tuanya pun memiliki ide yang sama dengan Sui, yaitu menjual perhiasan. Sementara ia tidak bisa menggunakan harta Yvone yang banyak itu.
Kalau begitu, tidak punya pilihan lain.
“Sui,” panggil Yvone.
“Ya, Nyonya.”
“Kita pulang sekarang dan temui si mertua jahat itu.”
“Baik, Nyonya.”
Kedua wanita itu pun melanjutkan langkah menuju ke jalan besar untuk mendapatkan taksi. Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, waktunya jam kerja beristirahat. Cahaya matahari begitu menyengat, seolah membakar kulit. Taksi yang ditunggu pun tak kunjung datang.
“Nyonya, ini jam istirahat, sepertinya akan lama,” ujar Sui.
Yvone menatap wanita itu. “Kalau begitu kita tunggu saja.” Yvone terdiam, ia tengah memikirkan cara untuk bicara dengan Brighita. Mengingat tabiatnya, sudah pasti wanita itu akan menolak memberikan perhiasan itu.
“Harusnya Nyonya terima saja tawaran kedua orang tua Anda mengantar pulang tadi,” gerutu Sui.
Yvone mendelik, “Diam, Sui. Jangan mengeluh, aku sedang berpikir!”
“Maaf, Nyonya.”
Tengah berpikir, tiba-tiba tiga orang pria dengan pakaian acak-acakan muncul. Mereka mendekati Yvone dan juga Sui.
“Ada mangsa,” ucap salah satu dari mereka. Pria berbadan gemuk dengan kaos singlet dan gambar seni di lengan, tampak sangar. Ia berdiri di barisan paling depan. “Hai, cantik. Serahkan tas kalian!”
Yvone membelalakkan matanya. Dilihat dari penampilannya, mereka adalah preman.
Sementara Sui tampak ketakutan, seketika melangkah mundur.
“Hei, lihat dia cantik juga.” Salah satu dari mereka berusaha menggapai Sui. Dilihat dari segi manapun, Sui memang cantik.
“Apa-apaan kalian!” Yvone melangkah maju, berdiri di depan Sui, mencoba melindungi gadis itu.
Melihat itu, Sui terbelalak. “Nyonya, apa yang Anda lakukan?”
“Hei, lihat wanita gendut ini. Dia cantik juga.” Pria dengan rambut jabrik, terlihat dekil. Dia berdiri di dekat pria gemuk.
“Kalau dia di atas pasti berat.”
“Tapi wanita gemuk biasanya sempit,” sahut pria botak.
Mendengar itu, Yvone mengepalkan tangan. “Sebenarnya apa mau kalian?” Yvone melirik ke arah sekitar, sialnya situasi dalam keadaan sepi. Bahkan kendaraan satu pun tidak ada yang berhenti.
“Serahkan tas kalian, lalu bersenang-senang bersama kami.”
“Jangan mimpi!”
“Kalau begitu jangan salahkan kami kalau kami memaksa!” Pria paling depan maju.
Yvone melirik ke arah Sui. “Mundur Sui!”
“Nyonya, Jangan!” teriak Sui ketika melihat Yvone melangkah maju.
Bogem mentah diberikan Yvone dan membuat pria botak termundur.
“Sialan!” umpatnya. Ia merasakan cairan merah mengalir dari lubang hidungnya. “Aaarghhh…hidungku berdarah!”
Melihat pemimpin mereka terluka, kedua anak buah segera maju, berniat membalas dendam.
“Nyonya, awas!”
Bugh!
Dua pukulan ditahan sekaligus oleh Yvone. Ia menyeringai, hal semacam ini bukanlah sesuatu yang sulit bagi Yvone. Ia bahkan terbiasa menghadapi 10 orang sekaligus.
Melihat dua anak buahnya tak berhasil melukai Yvone, si pria gemuk kembali maju, dan itu tidak disadari Yvone.
“Nyonya sebelah kanan!”
Yvone terkesiap. Ia segera melepaskan tendangan. Di saat yang bersamaan, salah satu pria yang tangannya ia tahan juga melakukan hal yang sama.
Beruntung Yvone segera melangkah mundur.
“Sial, tubuh gendut ini membuatku tidak leluasa bergerak,” gerutu Yvone.
Tidak berhasil melukai Yvone, si pria gemuk tertawa licik. Ia lantas mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sebuah pisau lipat.
Melihat itu, Yvone menyunggingkan senyumnya. “Cuma segitu saja?”
Sui yang sejak tadi memperhatikan, terlihat khawatir. Perasaannya campur aduk antara terkejut dan takut. Terkejut karena melihat Yvone yang pandai beladiri. Takut bila terjadi sesuatu pada majikannya.
Yvone kembali memasang kuda-kuda, dan menggerakkan lima jarinya. “Ayo maju.”
“Dasar wanita gendut sialan!”
Pria gemuk mengayunkan pisau!
“Nyonya, Awas!”
Jleb!
Sesaat situasi hening. Detik berikutnya, suara teriakan terdengar.
Sui yang melihat itu hanya bisa membeku di tempat.
Transmigrasi, Gendut, CEO/Mafia 😁🤩👍👍