Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Nih makanan buat lo."
Gista menatap laki-laki yang baru saja tiba di hadapannya, perlahan tapi pasti ia mengangkat kepalanya.
"Raden?"
"Ambil, lo belum makan 'kan?"
"B-buat gue?"
"Bukan, buat hantu penunggu di sini."
"Ish.." Gista menekuk wajahnya, kesal pada Raden yang berbicaranya tak serius.
"Iya buat lo Gista, jelas-jelas gue bilang makanan buat lo masih nanya lagi."
"Makasih," Gista langsung mengambil plastik yang isinya makanan dan minuman, tanpa berlama-lama ia langsung menyantapnya.
"Katanya tadi gak laper, kok lahap bener makannya." sindir Raden membuat makan Gista terhenti
"Lo ikhlas gak sih ngasinya?
"Iklas!"
"Terus kenapa bilang gitu."
"Yah kan tadi adara suruh lo makan dikanti kata lo masih kenyang tapi ini lo makannya sampe habis banget hampir aja tu wadahnya mau lo makan juga" ejek raden lagi
"Ih enak aja kalo ngomong, gue itu menghargai pemberian orang" elak mala
"Ehmm serah deh, berdebat dengan perempuan itu gak akan ada habisnya" ucap Raden membuat Gista memutar bola matanya
Kini mereka sama-sama larut dalam lamunannya masing-masing, saat ini keduanya duduk di bawah pohon dekat taman sekolah.
Gista metatap langit yang terlihat cerah siang ini, perlahan air mata yang sudah lama ia bendung kini mengalir mem-basai wajahnya. Raden di buat terkejut saat melihat Gista menangis, apakah ia salah bicara? Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benak Raden
"Kenapa nangis? Gue salah ngomong ya? Maaf, tadi gue cuma bercanda aja kok. Gue malah senang lo makannya sampai habis gitu.."
Gista menghapus air matanya. "Gue gapapa kok."
"Kalo gapapa, lo gak bakal nangis gini."
"Gue juga gak tau kenapa gue nangis.." ucap Gista membuat jidat Raden mengerut. "Gue emang suka tiba-tiba nangis tanpa sebab gitu, gue juga bingung kenapa."
"Pasti lo sering pendam sesuatu sendiri tanpa cerita sama orang dan pada akhirnya emosi lo keluar di saat waktu yang nggak tepat."
Gista terdiam, yang di katakan Raden ada benarnya. Selama ini ia sering kali memendam semuanya sendiri. "Gue gak punya tempat cerita, gk ada yang mau dengerin gue juga."
"Adara?"
"Terlalu banyak masalah yang Adara tanggung gara-gara gue, jadi gue gak mau nambahin beban buat dia lagi."
Raden manggut-manggut mendengarnya, seolah paham saja apa yang Gista rasakan. "Kalo gitu mulai sekarang lo bisa cerita semuanya sama gue, gue siap jadi pendengar setia lo."
Mendengar ucapan Raden membuat Gista yang tadinya menatap kedepan seketika menoleh padanya.
"Dan mulai sekarang kita teman, kalau lo butuh sesuatu atau perlu perlindungan, gue selalu siap kapan 'pun!" lanjutnya
"Raden, kita beneran temanan? Lo mau temanan sama gue?"
Raden menganggukkan kepalanya, Gista yang melihat itu refleks langsung memeluknya dari samping.
Gista melepaskan pelukannya pada Raden setelah tersadar. "M-maaf, gue refleks.
"Gapapa, santai aja."
"Gue seneng banget pas lo ngajak temenan, li orang pertama yang mau temanan sama gue."
Lagi-lagi kening Gista mengerut, ucapan Gista kembali membuatnya ambigu. "Kok gitu? Di sekolah lo yang lama emang gak ada yang mau temenan sama lo?"
Gista menggeleng pelan, raut wajahnya menyendu.
"Kenapa?"
"Mereka bilang gue temannya setan makannya mereka gak mau temanan sama gue." ucap Gista yang terdengar lirih
Raden benar-benar tak menyangka ternyata ada orang-orang sejahat itu.
"Sekarang gak akan ada lagi orang yang akan bully lo kayak gitu, gue janji mulai hari ini gue akan lindungi lo."
_______
"Lo dari mana sih den? Kita tungguin lo di kantin eh taunya gak balik-balik lagi, mana makanan udah kita pesen." Gibran langsung mengomel saat Raden tiba di kelas
"Iya, lo dari mana aja kok lama banget perginya?" timpal Adara
"Tadi ada urusan mendadak, soal basket biasa." ucap Raden membuat semua beroh ria, alasan Raden sangat tepat sehingga temannya langsung percaya.
Disisi lain, saat ini Gista sudah berada di dalam kelas. Gista hanya diam saja di tenga kebisingan teman-teman satu kelasnya yang mengobrol karena saat ini belum ada guru yang masuk kelas mereka. Perasaan takut menghantam dada Gista, ia takut tiba-tiba mendengar suara bisikan itu lagi.
"Gista, lo kenal sama rombongan Raden ya?"
Lamunan Gista buyar saat mendengar suara seseorang, rupanya teman kelasnya yang duduk di depannya yang berbicara.
"Apa?"
"Lo kenal sama rombongan Raden, ya?" ulang orang itu
Gista mengangguk cepat. "Iya."
"Sejak kapan?" kali ini bukan gadis yang duduk di depan Gista yang berbicara melainkan gadis yang duduk di samping kanannya.
"Eum, kalo Raden sama temen-temennya sih baru kenal tapi kalo sama Adara udah kenal lama, Adara saudari gue." dengan bangga Gista mengatakannya
Mata mereka melebar karena terkejut. "Lo beneran saudari Adara?" tanya mereka kompak
Gista ngangguk.
"Wih beruntung banget lo, gis." ucap salah satunya
Jidat Gista mengerut. "Beruntung?"
"Iya beruntung, lo pasti bakal di lindungi juga kayak Adara."
Obrolan mereka terhenti saat kelas mereka kedatangan guru matematika.
"Selamat siang anak-anak! Gimana kabarnya sehat semua 'kan?" ucap sang guru matematika yang bernama Amir
"Siang pak! Kabar baik pak!" ucap mereka bersamaan
"Buka buku matematikanya.." pak Amir memicingkan matanya saat melihat Gista yang asing di matanya. "itu siapa ya yang dibelakang yura? Kayak baru lihat hari ini."
"Namanya Gista pak, calon pacar aak Wili. Cantikkan pak?" ucap salah satu siswa yang benama Wili
"Uuuuu gak jelas lu!" Wili mendapatkan sorak'an dari teman-teman kelasnya
"Sudah-sudah jangan ribut, bapak cuman nanya aja. Tapi kamu benar Wili, Gista bener-bener cantik." ucap pak Amir dengan tawa kecil
"Pak, ada bu Dewi!" ucap salah satu siswa
"Hah? Di mana-mana bu Dewi?" pak Amir langsung mengedarkan padangan mencari keberadaan bu Dewi, guru muda dan cantik di sekolah ini.
HAHAHA!
Tawa para siswa siswi pecah saat melihat tingkah pak Amir.
"DONI! Berani kamu sama bapak hah?"
"Ampun pak,"
Pak Amir mengejar Doni yang lari terbirit-birit keluar kelas, semua yang melihat itu seketika tertawa.