NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: MENUJU JANTUNG LONDON: LANGKAH PION TERAKHIR

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Pukul 02.00 dini hari. Di luar, Jakarta sedang terlelap dalam selimut polusi dan lampu neon, namun di dalam pusat kendali bawah tanah Vipera, atmosfernya sedingin nitrogen cair. Cahaya dari enam belas monitor raksasa memantul di wajahku, memetakan setiap jalur penerbangan, transaksi perbankan di Zurich, hingga rekaman CCTV di sekitar kediaman klan Xavier pusat di Belgravia, London.

​"Efisiensi adalah perbedaan antara penakluk dan pecundang, Papa," ucapku datar tanpa mengalihkan pandangan dari barisan kode yang sedang kurakit. "London sedang dalam kondisi buta sementara akibat blackout digital yang kulakukan kemarin. Tapi Alexander bukan orang bodoh. Dia akan segera menggunakan jalur komunikasi satelit militer kuno untuk memanggil bala bantuan dari klan sekutu di Eropa Timur."

​Aku memutar kursi kebesaran yang ukurannya masih terlalu besar untuk tubuh anak delapan tahun ini. Di depanku, Damian Xavier berdiri tegak. Dia mengenakan kaus hitam ketat yang menonjolkan otot-pikirannya, matanya menatap tajam ke arah peta hologram Eropa yang mengambang di tengah ruangan.

​"Jadi, kau ingin kita pergi ke London?" suara Damian berat, ada nada antisipasi yang tertahan di sana. "Masuk ke sarang serigala saat mereka sedang terluka?"

​"Bukan sekadar masuk, Papa. Kita akan melakukan hostile takeover terhadap seluruh eksistensi mereka," aku menekan tombol 'Enter'. "Aku sudah mendaftarkan Vipera Corp sebagai entitas pengakuisisi untuk aset-aset klan pusat yang sedang beku. Di mata hukum, kita sedang melakukan ekspansi bisnis. Di mata dunia bawah tanah, kita sedang melakukan eksekusi mati terhadap otoritas Alexander."

​Aku bangkit, berjalan menuju meja yang dipenuhi gadget taktis hasil modifikasiku. "Tapi ada satu variabel yang harus kita amankan: Mama. Dia bukan lagi sekadar orang yang kita lindungi. Dia adalah jangkar moral kita di sana."

​“Kak, Mama baru saja menyelesaikan sesi latihan 'Micro-Expression Counter' denganku. Dia sedang mengepak gaun-gaunnya, tapi detak jantungnya stabil di 68 bpm. Dia siap untuk menjadi 'Ratu' yang sebenarnya,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.

​“Bagus, Lea. Pastikan dia membawa anting-anting transmisi yang baru. London adalah hutan beton yang penuh dengan penyadap manual. Aku tidak ingin satu pun desah napas Mama luput dari pengawasanku,” balasku lewat pikiran.

​Aku menatap Damian kembali. "Siapkan jet pribadi kita, Papa. Kita berangkat dalam empat jam. Dan ingat... jangan bawa senjata api yang terdeteksi sensor bandara. Aku sudah menyiapkan 'perhiasan' khusus untukmu yang jauh lebih mematikan daripada Glock standar."

​POV: QINANTI (Mama)

​Aku menatap koper yang terbuka di atas tempat tidur. Gaun-gaun sutra, pakaian formal, dan beberapa peralatan sketsa. Sembilan tahun yang lalu, aku lari dari kota ini dengan ketakutan sebagai satu-satunya barang bawaan. Hari ini, aku bersiap menuju London—tempat asal-usul semua kegelapan ini—dengan tekad yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

​Lea masuk ke kamar, memeluk boneka kelincinya, Mochi. Wajah imutnya tampak sangat tenang, namun aku tahu di balik matanya yang jernih, ada seorang ahli strategi psikologis yang sedang bekerja.

​"Mama, anting-anting ini," Lea menyerahkan sebuah kotak beludru hitam berisi sepasang anting mutiara yang elegan. "Pakailah selama kita di London. Leo yang merancangnya. Di dalamnya ada sensor pendeteksi kebohongan yang akan bergetar halus di telinga Mama jika orang yang Mama ajak bicara sedang menyembunyikan niat buruk."

​Aku mengambil anting itu, menatap pantulanku di cermin. "Lea... apakah kita benar-benar akan baik-baik saja di sana? London adalah wilayah kekuasaan kakekmu."

​Lea memanjat ke kursi di sampingku, menggenggam tanganku dengan jemari kecilnya yang hangat. "Mama, kakek Alexander memang memiliki wilayah. Tapi Leo memiliki masa depan. Dan Papa memiliki kekuatan untuk menghancurkan apa pun yang mencoba menyentuh kita. Mama hanya perlu menjadi diri sendiri—wanita yang membuat Damian Xavier bertekuk lutut."

​Aku tersenyum, meski ada sedikit rasa gentar di dadaku. "Aku tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari rencana gila kalian."

​"Karena Mama adalah variabel paling berharga, Ma. Tanpa cahaya Mama, strategi Kak Leo hanya akan menjadi perang yang dingin dan hampa," Lea mencium pipiku. "Ayo, Papa sudah menunggu di lobi. Kita akan menaklukkan London, satu perjamuan dalam satu waktu."

​POV: DAMIAN XAVIER

​Melihat Qinanti berjalan menuruni tangga mansion dengan koper kecil di tangannya, aku merasa seperti melihat pemandangan dari film epik. Dia bukan lagi wanita yang gemetar ketakutan di apartemen kecil sembilan tahun lalu. Dia berdiri tegak, auranya tenang namun tajam, persis di samping dua anak kembar kami yang tampak seperti pangeran dan putri dari dinasti yang paling ditakuti.

​"Pesawat sudah siap di landasan pribadi, Jenderal kecil," ucapku pada Leo yang sedang memeriksa tabletnya dengan wajah serius.

​"Bagus. Marco dan unit 'Ghost' sudah berada di London lebih dulu. Mereka sedang menyamar sebagai tim renovasi di hotel tempat kita akan menginap," Leo merapikan kerah jas mininya. "Papa, ingat protokol 'Silent King'. Selama kita di London, Papa adalah CEO sukses yang sedang ingin berdamai dengan ayahnya. Jangan biarkan siapa pun melihat sisi 'Vipera'-mu sampai aku memberikan kode 'Checkmate'."

​"Aku mengerti," jawabku pendek. Aku menoleh pada Qinanti, menggenggam tangannya erat. "Kau siap, Qin?"

​"Selama aku bersamamu dan anak-anak... aku siap menghadapi apa pun, Damian," balasnya dengan tatapan yang membuatku merasa bisa meruntuhkan seluruh gedung parlemen Inggris jika dia memintanya.

​Kami masuk ke dalam SUV antipeluru. Perjalanan menuju bandara dilakukan dengan pengawalan yang sangat senyap namun ketat. Di duniaku dulu, aku akan membawa konvoi sepuluh mobil dengan sirene. Tapi sekarang, sesuai ajaran Leo, efisiensi dan kerahasiaan adalah senjata utama.

​Di dalam jet pribadi, Leo langsung membuka laptop besarnya. Ruangan kabin pesawat ini telah diubah menjadi pusat komando bergerak. Lea duduk di samping Qinanti, mereka berdua sedang membedah profil psikologis anggota Dewan Tetua klan pusat.

​"Lihat pria ini, Mama," suara Lea terdengar lembut namun penuh analisis. "Tuan Reginald. Dia adalah pemegang saham terbesar kedua setelah Alexander. Dia memiliki kelemahan pada egonya. Jika Mama memuji koleksi seninya dengan sedikit sindiran tentang 'keaslian', dia akan merasa terpojok dan mulai membocorkan rahasia Alexander untuk membuktikan otoritasnya."

​Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Kadang aku merasa ngeri melihat betapa mudahnya Lea membedah jiwa manusia.

​"Leo," panggilku, duduk di seberangnya. "Bagaimana dengan Alexander? Dia pasti tahu kita sedang dalam perjalanan."

​"Tentu saja dia tahu, Papa. Aku sengaja membiarkan satu celah di server bandara agar dia bisa melihat manifest penumpang kita," Leo menyeringai tipis, sebuah seringai yang sangat identik denganku. "Aku ingin dia merasa terancam. Aku ingin dia menghabiskan seluruh sisa kekuatannya untuk menyiapkan jebakan bagi kita di London. Karena saat dia fokus pada jebakan fisik, aku sedang menghancurkan fondasi finansialnya dari bawah."

​Leo menunjuk ke layar yang menampilkan grafik penurunan nilai aset properti klan pusat di kawasan Knightsbridge. "Setiap detik jet ini terbang mendekati London, Alexander kehilangan satu juta poundsterling. Saat kita mendarat nanti, dia akan menjadi pria tua yang sangat putus asa."

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Penerbangan sepuluh jam ini bukan waktu untuk beristirahat. Ini adalah fase mobilisasi pasukan bayangan. Melalui jaringan satelit yang kurantas, aku memantau setiap pergerakan di bandara Heathrow. Alexander telah menempatkan tiga unit penembak runduk di gedung-gedung sekitar landasan pribadi.

​“Lea, variabel serangan fisik terdeteksi. Sektor jam 12, jam 3, dan jam 9 di bandara tujuan,” lapor kuku lewat Shadow Talk.

​“Diterima, Kak. Aku sudah meretas sistem pendingin ruangan di gedung-gedung itu. Aku akan membuat mereka pingsan karena suhu ekstrem sebelum mereka sempat melihat hidung pesawat kita,” balas Lea dengan santai sambil asyik menyesap susu cokelatnya.

​Aku melihat ke arah Mama dan Papa. Mereka sedang berbicara pelan di kursi depan, tangan mereka bertautan. Ada kehangatan di sana yang tidak bisa kuhitung dengan angka, sebuah variabel yang dulu kuanggap tidak berguna namun kini menjadi pusat dari seluruh strategiku.

​"Papa," ucapku melalui interkom internal jet. "Kita akan mendarat dalam tiga puluh menit. Jangan keluar dari pesawat sampai aku memberikan instruksi. Aku akan mengganti sistem pencahayaan landasan untuk membutakan para pengintai."

​"Lakukan, Jenderal," suara Damian terdengar mantap.

​Aku mulai menekan tombol-tombol di layar. Program 'Solar Flare' aktif. Begitu jet kami menyentuh landasan, seluruh lampu sorot bandara akan meledak dalam kilatan cahaya putih yang sangat menyilaukan, memberi kami waktu sepuluh detik untuk pindah ke kendaraan lapis baja yang sudah disiapkan Marco.

​Sepuluh detik. Itu adalah waktu yang cukup bagi seorang Marsekal untuk memenangkan sebuah pertempuran.

​Pesawat mulai berguncang pelan, tanda kami sedang menurunkan ketinggian. Awan tebal London menyambut kami dengan rintik hujan yang dingin. Aku menarik napas panjang, merasakan tubuh kecilku bergetar karena adrenalin. Di kehidupan sebelumnya, aku mati karena dikhianati di tengah medan perang. Di kehidupan ini, aku akan memastikan tidak ada satu pun pengkhianat yang bisa bernapas di dekat keluargaku.

​Ting.

​Roda pesawat menyentuh landasan.

​"Mama, Papa, Lea... saatnya menunjukkan pada London siapa pemilik asli nama Xavier," ucapku tegas.

​Kilatan cahaya putih meledak di luar jendela pesawat. Suara ledakan lampu sorot terdengar seperti musik pembuka peperangan. Dalam kegelapan dan kekacauan itu, kami turun dengan presisi militer. Marco sudah menunggu dengan dua pintu SUV yang terbuka lebar.

​Dalam hitungan detik, kami sudah berada di dalam mobil yang meluncur kencang meninggalkan bandara, meninggalkan para penembak runduk Alexander yang sedang memegangi mata mereka yang buta sementara.

​"Checkmate awal, kakek," gumamku sambil menatap layar yang menunjukkan kepanikan di pusat keamanan Alexander.

​"Kita sudah di London, Leo," suara Qinanti terdengar tenang, tangannya menggenggam tanganku. "Langkah selanjutnya?"

​Aku menatap Mama, lalu menatap London yang basah di balik kaca jendela. "Langkah selanjutnya adalah perjamuan makan malam di mansion Alexander besok malam. Di sana, kita tidak akan membawa peluru. Kita akan membawa kebenaran yang akan menghancurkan takhtanya berkeping-keping."

​Damian menyeringai, ia mengeluarkan sebatang cerutu—yang tidak dinyalakannya demi kesehatan kami—dan menatap keluar jendela. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah tua itu saat menyadari bahwa dia bukan lagi orang paling berbahaya di ruangan itu."

​Malam itu, kabut London terasa lebih pekat dari biasanya. Namun bagi keluarga Xavier, kegelapan ini adalah rumah kami. Kami baru saja mendarat, dan sebelum fajar menyingsing, seluruh dunia bawah tanah Eropa akan tahu... bahwa sang Raja Mafia telah kembali, membawa dua monster kecil yang akan mengubah peta kekuasaan selamanya.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!