Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Xiao Jian dan Song Aran, berjalan beriringan kerumah keluarga Song, sembari berbincang dengan sesekali terkekeh riang.
Setiap penduduk yang berpapasan, mereka sapa dengan ramah.
Ketika Zhao Jie melihat daging yang dibawa Xiao Jian, rona wanitanya itu langsung kecut terlipat.
Song Aran yang melihat itu mendengus dingin. Ia tahu ibu tirinya sudah bersiap mencibirnya guna meluapkan kekesalan, sebab Zhao Jiao pulang kerumah keluarga Song tidak membawa apa pun, selain tangisan pilu dan aduan soal mertuanya.
"Salam ayah, ibu tiri..! kakak, aku datang..!" sapa riang Song Arang kala menyebut ayah dan kakak.
"Ayo, cepat masuk..!" ajak bersemangat Song Dahuan.
Saat Dahuan melihat potongan daging yang tebal, ia merasa amat senang. Menantu lelaki keduanya ini cukup bijaksana dan royal, tidak seperti ketika Yance berkunjung. Hadiah kepulangannya cuma empat bulatan kubis setengah busuk.
Sarjana macam apa yang seperti itu.
"Ran'er, apa Xiao Jian memperlakukanmu dengan baik..? bagaimana keluarganya..? mereka menindasmu tidak..?" cecar Song Qing Bao sedikit cemas, sembari mengusap kepala sang adik.
"Kakak, tidak perlu cemas. Jian sangat baik, bahkan dia selalu membelaku didepan ibunya." balas riang Aran dengan senyum lebar sampai memperlihatkan giginya.
"Sungguh..?"
Aran mengangguk mantap, mencondongkan kepalanya guna berbisik.
"Bahkan kemarin Jian bertengkar dengan ibunya demi diriku."
Qing Bao mengulas senyum penuh kepuasan, mengambil daging dari tangan Xiao Jian, lalu berkata lantang.
"Hadiah kepulangan ini jauh lebih murah hati dari pada seseorang yang katanya cendikiawan terhormat. Sepertinya kau sangat menyukai adikku..?"
"Tentu saja..! istriku wanita istimewa, jadi sudah selayaknya untuk selalu dihargai dan dijaga." balas Xiao Jian dengan suara naik dua oktaf.
"Ah, suamiku manis sekali..!"
Melihat Song Aran yang bahagia berbunga-bunga, wajah Zhao Jie makin menghitam keunguan.
Kenapa putrinya yang cantik malah tidak bahagia, sementara si babi gemuk ini justru kebalikannya.
"Jika kau merasa kurang sehat, pergilah beristirahat. Jangan merusak kebahagian putri dan menantuku." hardik Song Dahuan, melihat istrinya memandang benci pada Song Aran.
Aran, Qing Bao dan Xiao Jian, kompak melipat bibir seraya menundukkan kepala menyembunyikan tawa.
"Kalau begitu aku akan kembali ke kamar dulu." sahut ketus Zhao Jie.
"Jian, kemarilah, ada yang ingin ayah bicarakan denganmu." panggil Dahuan begitu punggung Zhao Jie tertelan tembok kamar.
"Baik ayah mertua..!"
Song Dahuan membawa menantunya keaula tamu, sedangkan Qing Bao dan Aran pergi kedapur.
"Makan siang bersama ya..? aku akan membuat babi panggang untuk kita." ujar Qing Bao senang.
"Baik..!"
"Masak saja semua dagingnya, kalau tidak, nanti Zhao Jie akan membawanya menemui Zhao Chan Dong dan menghadiahkannya untuk menjilat Tukang Kayu Sun."
"Oya, putri tunggal tukang kayu Sun sepertinya menyukai Zhao Chang Dong. Tapi bajingan itu menghindari gadis itu, karena menurutnya Sun Ying tidak telalu cantik." beritahu Qing Bao.
"Cih, sombong sekali, memang dia pikir setampan apa dirinya..?" sengit Aran muak.
"Entahlah, mungkin dia sudah merasa hebat, makanya sampai bersikap tidak tahu diri begitu."
"Kakak tahu soal ini darimana..? Bahkan sampai ke namanya pun kakak ingat." Song Aran tentu merasa aneh.
Setiap hari Qing Bao berada diladang, bagaimana bisa mengenal gadis kota seperti Sun Ying.
"Kemarin lalu Chang Dong pulang, aku sengaja menguping pembicaraan mereka. Setelah mengatakan soal Sun Ying, dua bajingan itu berbisik-bisik, sepertinya sedang merencanakan sesuatu."
Alis Song Aran berkedut, giginya perlahan mengerat gemeletuk.
"Kemarin, Jiao kembali, Chang Dong sengaja pulang untuk memastikan apakah keluarga Kang memperlakukan adiknya dengan lebih baik. Bajingan itu memberi tahu nyonya Kang jika dia mungkin akan mewarisi bengkel kayu di masa depan..!"
"Apa dia sungguh tidak punya malu..? harta orang lain dia banggakan." cibir Aran.
"Tapi bisa saja Chang Dong akan menikah dengan Sun Ying, sebab tukang kayu Sun mengatakan jika dia sedang mencari seorang menantu." balas Qing Bao.
"Siapa yang bisa menebak masa depan..? Lagi pula belum ada lamaran pernikahan datang, bisa saja smeua itu cuma bualan manis Chan Dong saja."
"pada akhirnya orangtua akan sellau menuruti apa keinginan anaknya."
"Kakak, apa kau sedang mengejekku..?" Song Aran cemberut.
"Tidak, mana berani aku melakukan itu..? adikku yang terbaik." sanggah Song Qing Bao terkekeh.
Aran mencebikkan bibirnya, seraya menghentakkan kaki kelantai.
"Aku akan pergi ke kota nanti untuk melihat apa yang terjadi. Jika Xu Chang Dong berniat merusak reputasi seorang gadis, setidaknya aku harus memberi tahu mereka."
"Ya, kakak benar. Kiita tidak boleh membiarkan orang lain dimanfaatkan oleh mereka."
Song Qing Bao mengangguk setuju.
"Ngomong-ngomong, apa terjadi sesuatu saat kepulangan Jiao kemarin..? memangnya dia membawa apa..? sampai wajah Zhao Jie jelek begitu."
"Hadiah kepulangan..?" Qing Bao berdecih.
"Yance datang pagi-pagi sekali mengantarkan dua kubis dari ladang, setelahnya berniat untuk langsung pergi. Tapi saat Chang Dong mengatakan soal mewarisi bengkel kayu, dia membatalkan niatnya." Qing Bao memutar bola matanya penuh cibiran.
Song Aran tergelak sengit. Bajingan seperti itu, mau siapa pun yang dinikahinya, tetap saja bajingan.
Saat kakaknya sedang fokus memasak daging, Song Aran memanfaatkan kesempatan itu untuk menuangkan semangkuk mata air spiritual bagi Qing Bao.
"Kakak, aku berencana membuat anggur beras. Aku ingat Ibu meninggalkan cetak biru untuk alat penyulingan. Berikan padaku, nanti Jian yang akan membuatnya."
"Kau mau membuat anggur..? apa keluarga Xiao akan mengizinkanmu melakukan ini..?"
"Aku dan Jian punya tempat lain untuk menyembunyikan biji-bijian, modal membuat anggur ini tabungan suamiku. Kebetulan, Jian memiliki koneksi untuk memasarkannya. Setelah selesai dibuat, aku akan memberimu banyak anggur."
"Kau membuatku terdengar seperti pemabuk." Song Qing Bao menjentikkan dahi adiknya.
"Nanti aku akan memberikan cetak birunya padamu, tapi ingat untuk menyimpan semua uang yang kau hasilkan untuk dirimu sendiri. Jangan bodoh dengan memberikannya semua kepada seorang pria." nasehat Qing Bao.
"Baik, aku akan selalu mengingat nasehat kakak."
Kakak beradik itu terus mengoceh, tanpa menghentikan pergerakan tangan mereka yang lues memainkan pisau dan spatula.
Meski baru dua hari Song Aran menikah, sudah banyak bahan untuk ghibahan kakak beradik itu.
"Astaga, kalian boros sekali..! daging sebesar ini kalian masak semuanya..?" Zhao Jie masuk ke dapur, begitu mencium aroma daging yang menggoda.
"Ibu tiri, tadi pagi kau bilang pengeluaran keluarga belakangan ini sangat banyak, makanya tidak bisa menyiapkan sesuatu untuk iparku. Untuk menghindari malu, jadi aku menggunakan apa iparku bawa untuk menyenangkannya." seringai terbit dibibir Qing Bao.
"Kemarin Kang Yance memberikan dua kubis, tapi Ibu menambahkan daging saat menumisnya. Hari ini Xiao Jian membawa dua pon daging, dan Ibu cuma menyiapkan lobak untuk merebusnya. Jadi adikku masih dirugikan, tapi aku ini anak yang berbakti, aku tidak akan mempermasalahkannya."
Kata-kata Qing Shan itu nyaris membuat Zhao Jie memuntahkan seember darah.