NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar Malam

Seperti biasa, Aurora akan datang ke kampus dengan mobil merah kesayangannya. Terparkir rapih di tempat biasa, Aurora keluar dengan semangat belajar mencari ilmu.

Namun sayangnya, mood itu harus terganggu karena kedatangan Kenzo tiba-tiba saat Aurora baru saja melangkah. Menarik Aurora begitu saja tanpa peduli semua mata tertuju padanya. Padahal, memar di tangan belum juga sembuh, tapi kembali membiru karena ulah Kenzo yang selalu seenaknya.

"Woi!!" Teriakan dari seseorang menghentikan langkah Kenzo yang hendak membuka pintu mobilnya. Hal itu pun berhasil membuat Aurora berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman.

Mendengus kesal, Kenzo membalikkan tubuhnya dan melihat seseorang yang berani meneriaki nya dengan tatapan penuh amarah. Untuk kedua kalinya orang yang sama menggagalkan rencananya.

"Lo itu gak tau tata krama atau gimana? Ini masih pagi, gak bisa apa kalo gak bikin perhatian banyak orang?" Tanya Luca dengan senyum menjengkelkan dan melangkah mendekati mereka.

"Lo lagi lo lagi! Lo gak bisa apa kalo gak ikut campur urusan orang?" Sahut Kenzo keaal.

"Gua sama sekali gak punya niat buat ikut campur urusan lo. Tapi, gue punya mata dan gue lihat. Ya.... Sebagai cowok yang normal, gue berhak dong klakuin apa yang seharusnya?" Masih dengan gaya santainya dan cengengesan. Luca menarik tangan Aurora pelan agar berdiri di sebelahnya.

"Urusan gue bukan sama lo, jadi minggir." Mendorong tubuh Luca begitu saja, Kenzo berniat meraih tangan Aurora kembali.

"Aits. Gak bisa gitu." Cegah Luca menepis tangan Kenzo sebelum berhasil memegang tangan Aurora.

"Ara ini temen gue, jadi, apa yang jadi urusan Ara juga jadi urusan gue. Lagian, Ara kan udah bilang kalo lo itu cuma mantan, terus kenapa masih gangguin dia?" Ucap Luca memberi penjelasan.

"Sekarang gue masih bisa sabar daripada kemarin. Tapi nanti, gue bakalan buat perhitungan sama lo!" Ancam Kenzo tegas dengan tatapan mematikan.

"Oke. Gue tunggu." Sahut Luca santai mengiringi kepergian Kenzo dari sana.

"Tangan lo memar lagi tuh." Ucap Luca melihat bekas cengkraman Kenzo di tangan Aurora. Tempat yang sama dengan cengkraman kemarin.

"Gue bisa obatin nanti di ruang kesehatan." Sahut Aurora ikut menatap bekas memar itu.

"Thanks ya udah bantuin gue lagi." Lanjutnya.

"Sama-sama. Lagian gue juga gak sengaja liat kok. Tadinya gue mau sapa lo pas lo baru aja keluar mobil. Eh, tiba-tiba tuh cowok samperin lo dan narik lo gitu aja."

"Lo kelas pagi?" Luca mengangguk.

"Udah sarapan belum?"

"Belum sih, kenapa?"

"Gue juga belum. Gimana kalo makan bareng? Tadi Mama bawain gue bekel lumayan banyak. Katanya buat lo juga kalo misalkan lo masuk pagi dan belum sempet sarapan."

"Kok kebetulan banget?"

"Gak tau. Gue aja bingung."

"Makan di sana aja gimana?" Tunjuk Luca pada sebuah pohon besar yang ada di taman kampus. Aurora pun mengangguk setuju.

***

Siang ini, Aurora harus rela duduk seorang diri di cafetaria kampus guna menikmati makan siangnya. Tak ditemani keempat sahabatnya seperti biasa karena kesibukan kuliah masing-masing. Meskipun sebenarnya sedikit malas.

"Gue boleh gabung gak?" Tanya seseorang mengambil atensi Aurora yang tengah memainkan ponselnya.

"Duduk aja." Jawab Aurora mempersilahkan orang itu seraya melepas ponselnya dari genggaman.

"Teman-teman lo, kemana?" Tanya Luca membuka pembicaraan.

"Lagi pada sibuk." Jawab Aurora singkat lalu menikmati spaghetti nya.

Di saat bersamaan, Kenzo beserta teman-temannya juga ada di sana. Melihat bagaimana kedekatan yang terjalin antara Aurora dan Luca di depan mata, membuat emosinya kembali memuncak dan tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan erat.

"Cowok yang sama Aurora itu, dia mahasiswa baru kan?" Tanya seorang teman yang ada di sebelah kiri Kenzo. Ikut memperhatikan keduanya dengan seksama karena Kenzo yang tiba-tiba terdiam menatap mereka.

"Dan dia, udah berhasil gagalin rencana gue buat bawa Aurora." Sahut Kenzo penuh amarah.

"Lo mau kita bantuin zo?" Tanya teman di sebelah kanan memberi tawaran.

"Gak perlu. Gue bisa urus dia sendiri."

"Yakin lo?" Sahut teman dk belakangnya.

"Setidaknya lo harus kasih paham sama dia siapa lo zo." Ucap teman di sebelah kiri menambahkan.

"Gue tau."

Tak jadi makan siang, Kenzo memilih meninggalkan tempat itu di ikuti teman-temannya yang lain.

Sementara itu, Aurora dan Luca yang sudah menyelesaikan makan siang mereka, tampak belum mau beranjak dari tempat mereka masing-masing. Aurora yang sibuk dengan ponselnya karena bermain game dan Luca yang hanya diam memperhatikan.

"Ra?" Panggil Luca mengambil atensi.

"Hm?" Gumam Aurora menyahuti karena dirinya yang masih fokus dalam permainan.

"Lo suka pergi ke pasar malem gak?"

"Suka. kenapa?"

"Malem ini, pergi sama gue ke sana yuk?"

"Emang ada?"

"Ada."

"Jam berapa?"

"Jam 7. Nanti gue jemput lo."

"Oke."

Permainan selesai dengan kemenangan yang Aurora dapatkan. Menyimpan ponselnya di dalam tas, Aurora bersiap untuk pergi.

"Gue pergi, ya? Masih ada kelas." Pamit Aurora seraya berdiri.

Anggukan kepala yang Luca berikan membuat Aurora melangkahkan kakinya pergi. Setelah menghabiskan minumannya, Luca juga ikut pergi dari sana karena dirinya yang harus ke kantor.

***

Apa yang sudah di katakan adalah sebuah janji, dan janji itu harus di tepati apapun alasannya. Prinsip sederhana yang selalu Luca terapkan dalam hidupnya.

Seperti sekarang, dia datang ke rumah Aurora pukul 7 malam kurang 10 menit. Tentu, dia tak ingin terlambat dan membuat Aurora menunggu.

Tapi, ada satu hal yang membuat Luca cukup terkejut saat memarkirkan motornya di halaman parkir rumah megah itu. Bukan karena dirinya yang di sambut pelayan di sana atau bahkan orang tua Aurora. Melainkan karena ada banyak mobil yang tak dia kenal terparkir di sana.

Tak ingin ambil pusing, Luca memilih melangkah mendekati pintu dan memencet bel. Belum genap 1 menunggu, pintu sudah di buka. Seorang pelayan rumah Aurora yang membukanya dan tersenyum pada Luca.

"Selamat malem den Luca." Sapa pelayan wanita itu dengan ramah seraya mempersilahkan Luca untuk masuk.

"Malem Bi Asih." Balas Luca juga dengan senyum ramah.

"Den Luca ada perlu sama Nyonya?"

"Gak Bi, mau jemput Aurora."

"Ohh... Non Ara. Mau pergi ya den?"

"Iya Bi, kok tau?"

"Soalnya temen-temen non Aurora yang lain juga udah dateng semua. Tuh, mereka lagi kumpul di sana." Tunjuk Bi Asih pada ruang keluarga yang ada di dekat tangga.

"Den Luca gak ngajakin temen-temen aden yang lain?" Lanjut Bi Asih bertanya.

"Ngajak kok, tapi langsung ketemu di sana."

"Ohh... Bibi kira aden cowok sendiri."

"Den Luca mau Bibi buatin minuman? Sambil nunggu Non Aurora."

"Gak usah Bi, makasih."

"Kalo gitu, Bibi mau balik ke belakang dulu ya den?" Pamit Bi Asih.

"Iya Bi."

Meski sebenarnya terasa sedikit canggung dan malu, Luca membawa kakinya untuk melangkah menghampiri mereka semua.

"Eh? Masnya yang kemaren kan?" Tanya Alice saat pandangannya tak sengaja mengarah pada Luca.

Tersenyum canggung, Luca hanya mengangguk menanggapi. Bersamaan dengan itu, Aurora terlihat menuruni tangga dan menghampiri mereka.

"Gue pikir lo belum dateng?" Ucap Aurora menatap Luca.

"Baru aja kok."

"Gue ajak temen-temen yang lain, gak papa kan?"

"Nyantai aja. Gue juga ngajakin temen-temen gue yang lain. Tapi mereka langsung ke sana."

"Jadi, siapa yang sebenernya ngajakin kita ke pasar malem?" Tanya Audrey menatap Aurora dan Luca bergantian.

"Dia." Jawab Aurora santai menunjuk Luca dengan lirikan mata.

"Ya udah yuk, jalan." Ajak Luca.

"Eh, tapi kita gak ganggu kalian kan?" Tanya Alexa di tengah langkah mereka.

Mereka semua sudah ada di halaman parkir rumah Aurora dan bersiap untuk berangkat sekarang.

"Ganggu gimana maksudnya?" Tanya Luca tak mengerti. Dia juga langsung berdiri di sebelah motornya yang dia parkir di sebelah mobil Alice.

"Maksudnya, lo mau ngajakin Ara nge-date, mungkin?" Sahut Audrey memperjelas.

"Ohhh..." Respon tak sesuai harapan yang Luca berikan membuat teman-teman Aurora yang berniat untuk menggoda keduanya jadi tak bersemangat dan tak melanjutkan candaan.

"Yang tau tempat masnya' kan?"  Tanya Alice sebelum memasuki mobilnya.

"Luca. Panggil gue Luca. Lama-lama gue udah kayak mas-mas penjual gorengan di pinggir jalan lo panggil mas mulu." Ucap Luca menegaskan.

Di panggil mas setiap kali mereka bertemu membuat Luca sebenarnya cukup risih. Karena itu artinya, mereka tak cukup akrab satu sama lain. Dan Luca, ingin mereka bisa saling berteman satu sama lain.

"Kalo gitu, Aurora biar sama lo aja. Gimana ra?" Ucap Aline memberi saran seraya melirik sang sahabat yang berdiri di sebelahnya.

"Bener tuh, gak papa kan ra?" Sahut Audrey setuju.

"Lo gak masalah kan kalo pake motor?" Tanya Luca terdengar ragu. Secara tidak langsung dia setuju dengan usulan yang diberikan teman-teman Aurora.

"Gak papa kok."

"Gak usah ngebut-ngebut. Kita ikutin kalian dari belakang." Ucap Alice berpesan.

Memberikan helmnya pada Aurora, Luca lebih dulu naik ke atas motor lalu menyalakan nya. Setelah Aurora siap dan berpegangan, barulah Luca menjalankan motornya dan diikuti mobil Alice dari belakang.

***

Jaraknya yang cukup jauh ditambah macet saat perjalanan membuat mereka sampai di pasar malam sekitar pukul 7 malam. Suasana ramai pengunjung langsung menyambut mereka saat memasuki area. Tak hanya menawarkan berbagai wahana permainan, di sana juga ada banyak stan makanan dan jajanan untuk mengisi perut atau sekedar menjadi cemilan.

Tak langsung memanfaatkan waktu, mereka terdiam sejenak karena menunggu teman-teman Luca yang masih belum terlihat. Berniat menelfon salah satu temannya karena tak ingin menunggu terlalu lama, tapi Luca urungkan kala seseorang yang dia kenal tak jauh dari mereka tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.

"Loh yang? Kok kamu ada di sini?" Tanya Alice pada sang kekasih, Rion, saat mereka mendekat.

"Diajakin sama Luca. Aku juga gak tau kalo kamu ikut. Tau gitu tadi aku berangkat sama kamu aja." Ucap Rion.

"Kenalin, mereka temen-temen gue. Vino, Leo sama Leon." Ucap Luca memperkenalkan ketiga sahabatnya pada teman-teman Aurora.

Ibarat sudah menjadi kebiasaan, mereka saling bersalaman dan memperkenalkan diri satu sama lain.

"Kalian berdua, kembar?" Tanya Vino menunjuk Alice dan Aline bergantian.

"Iya." Jawab Alice singkat.

"Lo gak pernah ketuker kan bro?" Sahutnya menepuk bahu Rion menggoda.

"Lo gak liat bedanya mereka?" Balas Rion dengan nada sinisnya.

"Liat kok. Kalo Alice tuh feminim, kalo Aline..... Lebih ke cool gitu."

"Emang gitu gayanya. Tapi sebenernya dia perhatian dan baik banget kok kalo udah kenal." PSahut Audrey menjelaskan. Ketiganya pun hanya mengangguk setuju.

"Kita mau langsung main apa makan dulu?" Tanya Leon entah pada siapa.

"Menurut kalian yang cewek gimana?" Tanya Leo meminta saran. Pasalnya, mereka tiba di saat jam makan malam.

"Gue belum terlalu laper. Tadi sebelum berangkat gue udah sempet makan soalnya." Jawab Alexa.

"Gue juga." Sahut Aline.

"Ya udah, kita main dulu aja." Putus Aurora menyimpulkan.

"Kalian berdua jangan keasyikan pacaran." Peringat Luca sebelum mereka melangkah.

"Iya.... Kita tau situasi juga kali." Jawab Rion walau sebenarnya itu mustahil.

Memulai permainan, mereka kompak memilih wahana ombak banyu sebagai yang pertama. Selain karena wahana itu yang paling dekat dengan mereka, ombak banyu juga termasuk wahana yang ekstrim sekaligus menantang namun menyenangkan.

Awalnya semua terlihat baik-baik saja dan tak menimbulkan efek apa-apa. Tapi 1 menit berlalu, wajah-wajah pasrah berbau ingin muntah terlihat diantara mereka. Terutama Rion dan Leon. Sementara para wanita justru terlihat begitu asyik menikmatinya.

Tak kuat bertahan lebih lama, Rion dan Leon akhirnya memutuskan untuk selesai lebih dulu, lalu di susul Aline dan Alexa karena merasa bosan.

"Ye.... Belum apa-apa udah lemes gitu mukanya. Payah kalian." Ledek Aline pada 2 pria di depannya yang terlihat menahan rasa muntah.

"Kalo gak kuat tuh harusnya bilang aja, gak usah sok-sok'an." Timpal Alexa menambahkan.

"Gue kayak gini itu karena gue belum makan malam." Sahut Leon beralasan.

"Gue juga." Sahut Rion ikutan.

"Alesan aja lo berdua." Ejek Aline tak menerima.

Gelak tawa terdengar mengiringi keseruan mereka menyelesaikan permainan. Terlebih, saat mereka melihat wajah Rion dan Leon yang begitu cocok untuk dijadikan bahan ledekan dan bullyan. Apalagi, Alice yang notabennya kekasih Rion justru ikut-ikutan meledek, bukannya membela ataupun merasa kasihan.

"Masih berani lanjut gak kalian?" Tanya Leo menggoda.

"Cemen sih kalo cuman kayak gitu doang gak berani lanjut." Sahut Vino membumbui.

"Apa mau makan dulu?" Tanya Aurora memberi tawaran.

"Tapi percuma kalo habis itu ujung-ujungnya di keluarin doang." Sahut Aline terkekeh menambahkan.

"Makan dulu aja. Daripada nanti gue beneran muntah karena masuk angin." Ucap Leon menjawab pertanyaan Aurora.

"Setuju. Gue juga." Sahut Rion.

"Kalo gitu kalian tunggu di sana aja. Biar gue yang beli makanan." Ucap Luca menunjuk salah satu tempat kosong yang ada di tengah lapangan.

"Gue ikut." Sahut Aline sebelum Luca pergi.

"Jangan lama-lama." Ucap Alice berpesan.

Mereka pun berpisah di sana. Alice terlihat langsung menempel pada sang kekasih dan memusatkan seluruh perhatiannya untuk Rion. Sedangkan teman-teman yang lain hanya ikut berjalan di samping dan belakang mereka seakan tak peduli.

Sementara itu, 2 orang yang tengah bertugas mencari makanan, terlihat hanya diam dan memperhatikan sekitar mereka. Mencari sesuatu yang menarik untuk di makan bersama-sama.

"Lo, suka makan apa?" Tanya Luca basa-basi.

"Apa aja." Jawab Aline singkat.

"Lo itu emang gini ya, gayanya? Jutek cuek cool gitu?"

"Huh?" Kaget Aline menatap Luca.

"Waktu pertama kali kita ketemu, gue pikir lo itu tipekal cewek yang ramah. Kayak cewek-cewek pada umumnya."

"Ohh.... Karena gue yang nyapa lo duluan?"

"Iya."

"Kalo sekarang?"

"Dibandingin sama temen-temen Aurora yang lain, lo itu lebih banyak diemnya. Ngomong seadanya, kalo cuma ada butuhnya."

"Ya kan emang gitu seharusnya. Kalo gak butuh ngapain harus ngomong? Percuma dong."

"Iya juga sih." Kekeh Luca mengangguk seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena jawaban telak yang Aline berikan.

"Kita mau beli apa nih?" Tanya Aline bingung.

Dari banyaknya penjual gerobakan atau food court yang ada di sekelilingnya, tak ada satupun dari mereka yang berhasil menarik perhatian Aline untuk membelinya. Entah makanan seperti apa yang dicarinya.

"Telur gulung mau gak?" Tanya Luca memberi saran. Kebetulan penjual itu yang ada di depan mereka sekarang.

"Boleh. Kebetulan kita semua juga suka makan itu." Setuju dengan tawaran yang diberikan, keduanya pun melangkah mendekati gerobak itu.

"Gue pikir kalian gak pernah ketempat beginian. Maklum.... Anak-anak Sultan. Pasti kalo jalan ke mall atau gak restoran mewah." Ucap Luca setelah mengatakan pesanannya pada sang penjual.

"Lo nyindir apa kledek?" Tanya Aline meliput kedua tangannya di depan dafa seakan tak terima dengan apa yang baru saja Luca katakan padanya.

"Dua-duanya." Canda Luca.

"Ara itu lebih seneng main ketempat beginian daripada tempat-tempat yang mewah. Kita tau tempat kayak gini juga karena temenan sama Ara. Kita juga kaget kalo dia low profile banget orangnya."

"Kalian udah lama temenan?"

"Dari SMA kelas satu. Lumayanlah."

Mengangguk sekali, Luca mengeluarkan lembaran uang berwarna biru dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada sang penjual seraya menerima pesanannya.

"Ambil aja kembaliannya mas." Ucap Luca saat sang penjual hendak memberinya uang kembalian.

"Makasih mas." Jawab sang penjual bahagia.

"Sama-sama."

"Apa lagi nih?" Tanya Luca sebelum keduanya kembali melangkah. Tak mungkin kan mereka kembali hanya dengan membawa telur gulung? Yang ada teman-teman yang sudah menunggu akan memarahi mereka.

"Lanjut jalan dulu aja. Gue belum nemu yang srek."

"Oke."

Keduanya pun kembali melanjutkan langkah untuk mencari makanan apa yang bisa mereka nikmati.

***

15 menit menunggu membuat mereka mulai merasakan bosan. Di tambah lagi, rasa lapar yang hingga sejak tadi membuat mereka makin tak sabaran. Membunuh waktu dengan bermain ponsel, menangkap gambar, ataupun bermain game nyatanya tak lagi ampuh untuk membuang kebosanan.

"Mereka kemana sih? Lama banget?" Gerutu Alexa tak sabar.

"Tungguin bentar lagi aja. Mungkin lagi ngantri." Sahut Leon santai. Laki-laki yang satu ini memang akan lupa segalanya kalau sudah berhubungan dengan gamenya.

"Tapi gue udah kelaperan. Mereka beneran beli makanan atau malah ngedate?"

"Sekalian mungkin?" Sahut Vino enteng menanggapi.

"Eh, si Ara kemana?" Tanya Audrey saat menyadari jika Aurora sudah tak lagi ada di sebelahnya.

"Lah, lo gak di pamitin dia pergi kemana?" Tanya Leo melepas atensinya dari handphone.

"Gak."

"Ara gak mungkin pergi gitu aja tanpa pamit ke kita. Dia pasti udah bilang, tapi kitanya aja yang gak denger." Ucap Alice yang memang sudah hafal dengan kebiasaan sang sahabat.

"Coba lo telfon." Ucap Rion memberi saran.

Peka jika perintah itu diberikan padanya, Alexa langsung men scroll kontak panggilan di handphonenya dan menghubungi Aurora. Namun, suara dering yang terdengar kencang di sebelahnya membuat Aurora mematikan panggilan itu dan membuka tas Aurora yang ada di sebelahnya. Benar saja, Aurora pergi tanpa membawa ponselnya.

"Kebiasaan. Dia gak pernah bawa handphonenya kalo dia pergi sama kita." Ucap Audrey kesal namun khawatir.

Bersamaan dengan itu, Luca dan Aline datang dengan banyak kresek di kedua tangan mereka. Entah apa saja yang mereka beli sebanyak itu.

"Kalian kenapa? Kok mukanya panik gitu?" Tanya Aline menyadari perubahan ekspresi teman-temannya seraya meletakkan bawaannya di tengah-tengah mereka. Meski hanya beralaskan rumput lapangan, mereka sama sekali tak masalah.

"Ara tiba-tiba pergi dan kita gak tau dia kemana." Ucap Alice menjelaskan.

"Udah coba telfon?" Tanya Luca terlihat khawatir.

"Udah. Tapi hpnya di tinggal, jadi percuma." Jawab Alexa seraya mengangkat handphone Aurora yang ada di tangannya.

"Ya udah, kalian makan aja, biar gue yang cari."

"Tapi Luc~" Ucap Vino tertahan.

"Gak papa. Gue yang ngajakin dia pergi, jadi gue yang tanggungjawab." Ucap Luca memotong lalu berlari pergi meninggalkan mereka.

Karena tak tahu harus mencari kemana, Luca hanya mengikuti kemana arah naluri nya membawa pergi. Banyaknya orang serta pencahayaan yang kurang membuat Luca cukup kesulitan untuk menemukan Aurora dimana.

Tapi, tak menyerah begitu saja, Luca terus menyusuri setiap area pasar malam demi untuk menemukan Aurora. Hingga hampir setengah jam berlalu, sosok yang dicarinya pun akhirnya tertangkap oleh mata.

Aurora tengah di tarik paksa oleh seorang laki-laki yang Luca tak bisa kenali karena penglihatannya yang samar-samar. Tak ingin kecolongan, Luca langsung berlari menghampiri mereka dan melepas tangan laki-laki itu dengan kasar dari tangan Aurora.

"Lo lagi lo lagi." Ucap laki-laki itu penuh amarah saat melihat orang yang tiba-tiba melepas genggaman tangannya. Dia yang tak lain adalah Kenzo.

"Oh, lo ternyata." Sahut Luca tersenyum remeh.

"Lo itu emang gak bisa apa kalo gak jadi pahlawan kesiangan? Iya?!" Tanya Kenzo penuh amarah. Bahkan, dia dengan tidak sopannya mendorong bahu Luca dengan telunjuknya seakan ingin menantang.

"Harusnya gue yang nanya sama lo. Lo, gak bisa apa kalo gak gangguin Aurora sedetik aja?" Balas Luca santai namun penuh penekanan.

"Gue udah ingetin lo buat gak gangguin urusan gue."

"Gue juga udah bilang sama lo kalo apapun yang jadi urusan Ara itu juga bakalan jadi urusan gue. Lo gak paham?"

Alih-alih menanggapinya dengan cara emosi sama seperti yang Kenzo lakukan padanya, Luca justru terlihat enteng dan santai. Bahkan, dia dengan gaya cengengesannya berani tersenyum remeh dihadapan Kenzo yang membuat laki-laki itu justru kian tersulut emosi dan habis kesabaran.

"Kalo aja gak di depan umum, gue bisa aja habisin lo sekarang." Ucap Kenzo menggerakkan giginya menahan amarah. Tangan yang sudah mengepal sempurna pun tak bisa dia layangkan begitu saja.

"Lakuin aja kalo lo mau. Tapi, buktinya lo santai aja bawa paksa Aurora padahal ini masih di depan umum. Orang-orang disini yang emang gak pada liat atau sengaja nutup mata mereka atau emang lo nya aja yang gak punya malu? Tapi kayaknya, dua-duanya benar semua."

"Liat aja lo! Gue bakal buat perhitungan sama lo!"

"Gue tunggu."

Lagi-lagi, Kenzo pergi dengan kemarahannya dan tanpa membawa Aurora bersamanya. Semua itu, karena selalu ada Luca yang berhasil menggagalkannya.

"Lo, gak papa Ra?" Tanya Luca khawatir menatap Aurora yang masih diam di sebelahnya.

"Gue gak papa." Jawab Aurora singkat dan langsung pergi begitu saja.

Sadar jika ada sesuatu yang tak baik-baik saja. Luca pun tak lanjut bertanya dan mengikuti Aurora dari belakang.

Benar dugaan Luca. Sampainya mereka di tempat berkumpul, Aurora langsung memeluk Audrey dan menangis di sana. Tatapan meminta penjelasan pun langsung diberikan semua orang pada Luca.

"Kenzo ada di sini." Ucap Luca memberitahu seraya duduk di sebelah Aline.

"Kenzo? Mau apa lagi dia?!" Tanya Rion marah.

"Gue juga gak tau. Pas gue liat, dia mau bawa pergi Aurora paksa."

"Kenapa bisa dia tau kalo Ara ada di sini?" Tanya Vino bingung.

"Kayaknya dia ikutin Ara."

"Maksud lo, dia jadi penguntit gitu?" Tanya Leon menebak

"Mungkin. Tapi kita belum bisa simpulin itu karena kita gak punya bukti."

"Kalo dia bener lakuin itu, artinya si Kenzo udah keterlaluan. Dan keselamatan Aurora dalam bahaya." Ucap Leo.

"Itu cowok udah kayak psikopat beneran sejak diputusin Ara." Ucap Rion.

"Jadi, ini gak cuma sekali?" Tanya Leon terkejut. Dan semuanya kompak mengangguk.

"Terus, kenapa gak dilaporin ke polisi aja? Atau minimal, laporin ke orang tua Ara kalo tuh cowok gangguin anaknya." Lanjutnya.

"Gak segampang itu Leon singa..... Hubungan Ara sama Kenzo itu backstreet. Dan orang tua Ara taunya, anaknya itu belum pernah pacaran sama sekali." Sahut Aline menjelaskan.

"Lagian. Keluarganya Kenzo itu bukan orang sembarangan. Kalaupun kita laporin dia ke polisi, yang ada kasusnya akan ditutup gitu aja. Bokapnya Kenzo itu channelnya dimana-mana.* lanjut Alice menjelaskan.

"Tapi, kalo kalian terus diem gini aja, si Kenzo itu justru akan semakin gencer gangguin Ara dan ujung-ujungnya bakalan ngebahayain keselamatan Ara sendiri." Ucap Vino.

"Gue mau pulang." Ucap Aurora tiba-tiba melepas pelukannya. Menghentikan perdebatan diantara mereka seketika.

Ya udah yuk." Sahut Luca setuju dan langsung berdiri.

"Lo yang bawa ya? Gue biar sama Rion." Ucap Alice menyerahkan kunci mobilnya pada Aline.

"Aurora sama kalian aja, gue sama yang lain kawal kalian. Buat jaga-jaga aja siapa tau Kenzo nunggu kita di jalan." Ucap Luca.

"Setuju gue." Sahut Leon.

Tanpa berpanjang lebar, mereka langsung pergi dari sana untuk pulang. Niat yang awalnya ingin bersenang-senang akhirnya harus dihilangkan karena kejadian yang tak diinginkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!