NovelToon NovelToon
Janji Suci Yang Ternoda

Janji Suci Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Acaciadri

Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.

Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.

cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.

happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

“Beberapa hari yang lalu, aku di pukul Arka.“Ucapnya yang membuat kedua mataku membeliak karena kaget, di pukul Arka? Tunggu.. Arka pernah berkata kalau ia memergoki Mas Afif tengah berjalan bersama Laras, apakah waktu itu?

“Kenapa kamu bisa di pukul?.“Tanyaku memilih pura-pura tidak paham, Mas Afif terdengar menghela nafasnya panjang.

“Arka melihatku yang tengah berjalan bersama Laras.“

Mampus, harusnya bukan hanya satu atau dua pukulan sih, harusnya lebih dari itu. Tapi yasudahlah, sudah terjadi juga. Sepertinya lain kali kalau Arka memergoki mereka, maka aku akan nenyarankan supaya Arka membuat mas Afif babak belur saja.

“Terus?.“Tanyaku pura-pura peduli dan ku lihat Mas Afif tengah menahan rasa kecewanya. Apakah dia ingin aku bertanya soal kabarnya? Atau soal kabar sang istri kedua? Tentu saja, di mataku mereka sudah tidak penting lagi.

Mas Afif menghela nafasnya panjang”Aku sampai rumah sakit, lho.“

“Oh.“

Dia berdecak dan aku sama sekali tak peduli.

“Istriku hamil.“Ucapnya, ok. Aku mencoba menghela nafasku dan mengeluarkannya secara perlahan-lahan, aku juga mencoba untuk bersikap biasa saja. Walau nyatanya kedua tanganku di bawah sana saling meremas penuh emosional. Luka sekar di hatiku kini kembali di tambah, belum juga sembuh, tapi sudah kembali di timpa__hidup macam apa ini? Sering kali ku bertanya pada sang rembulan yang menemani malam-malamku yang sepi dan kelam.

Jika aku di takdirkan seperti ini, kenapa aku harus di ciptakan? Tentu saja mungkin aku kufur nikmat, tapi sebagai manusia biasa. Aku juga sering merasa kecewa dan ekspektasi yang sering kali di hancurkan__c'mon, kenapa harus barengan? Dan kenapa harus sekarang? Kenapa???

Air mata di pelupuk mataku terkumpul dan siap tertumpah, juga rasa sesak di dada yang kian menyeruak, berusaha semaksimal dan sekuat mungkin untuk terlihat tegar di depan Mas Afif, tapi percuma saja. Rasa sesaj dan rasa ingin menangis itu begitu besar, hingga aku pun terisak tanpa tahu malu di depannya.

Memiliki Bintang saja, Mas Afif seolah enggan muncul di depan umum dan mengakui Bintang dengan gentle sebagai anaknya, apalagi kini aku telah mengandung anak kedua dan lebih sialnya lagi istri Mas Afif pun sedang mengandung anaknya, kali ini benar anaknya dan sudah di pastikan, baik Bintang maupun calon anakku, mereka akan kalah dari anak Laras.

“Selamat..“Ucapku dengan suara serak serta mengusap air mataku cepat.

“Makasih, aku harap kamu ngerti dan jangan minta aku pulang dulu, sebab Laras sedang butuh aku.“

Aku ingin cekikikan bagai orang gila. Dia bilang jangan minta dia pulang, sebab Laras butuh dia. Hello. Di sini bukan hanya Laras istrinya, ada aku ada Bintang dan calon anak kami, dengan entengnya dia berkata itu padaku. Heii bukankah ini tidak adil? Katanya dia bisa berlaku adil setelah memiliki dua istri, tapi baru segini saja dia sudah kelihatan lebih menyayangi Laras ketimbang aku dan Bintang.

“Berapa bulan?.“Tanyaku masih pura-pura kuat dan masih menahan diri untuk tidak melayangkan tatapan di pipinya.

“Satu bulan.“

Berarti beda sebulan denganku.

“Aku mendo'akan supaya kalian bisa bahagia selalu dan untuk kehamilan serta lahiran, semoga lancar.“

“Makasih.“

“Nadia..“Panggilnya, aku menoleh dan menatapnya tanpa minat.

“Tolong bilang sama Arka, untuk tidak ikut campur tentang persoalan rumah tangga kita.“

“Hm iya, nanti aku coba tegur dia.“

“Makasih, kamu memang istri yang baik.“Pujinya dan ku tanggapi biasa saja, tidak ada getaran-getaran di hati ini atau pun kedua pipi yang merona karena malu dan haru di puji dia__begitu pun dengan hatiku, yang lama kelamaan terasa mati rasa, rasa cintaku untuknya sudah menguap dan hilang sejak dia mengenalkan istri barunya yang bernama Laras.

“Kamu pucat? Sakit?.“Tanyanya terdengar lembut, tangannya terulur dan hendak menyentuh wajahku, namun dengan gerakan cepat, aku pun menghindar, hingga tangan Mas Afif berakhir di udara, dia mendesah kecewa seraya menarik tangannya kembali.

“Hm..“

“Mau aku antar kamu berobat ke rumah sakit?.“

“Gak usah, aku baik-baik aja kok.“

Mas Afif terdengar menghela nafasnya panjang.

“Nadia, kamu berubah? Kamu menjadi lebih acuh dan cuek, bahkan kamu tidak menghubungiku, atau sekedar bertanya soal kabarku.“Decaknya yang ku balas dengusan pelan dan tatapan tak percaya.

Heiii, harusnya dia yang melakukannya dan bukan aku, aku teramat kecewa dengan Mas Afif yang benar-benar berbeda, dia bukan Mas Afif yang ku kenal lagi. Dia tak konsisten dengan ucapannya yang bilang akan adil, namun malah berat sebelah, cih.

“Mas Afif pun sama.“Ketusku, aku tersulut emosi oleh kata-katanya.

Dia berdecak”Harusnya kamu__.“

“Dan harusnya Mas Afif pulang dan menengok anak serta istri Mas Afif “Potongku yang membuatnya mengusap wajah frustasi.

“Aku kan sudah bilang, supaya kamu ngerti Nad. Laras sedang hamil anak aku, dan dia gak bisa di tinggal karena muntah-muntah hebat, bahkan aku sendiri yang nganter Salsa ke sekolah.“

Sama sekali aku tidak iba dengan ucapannya. Kenapa? Karena bukan hanya Laras saja yang muntah-muntah, aku pun sama. Bahkan beberapa hari kemarin, tak ada yang bisa ku lakukan, selain baring di ranjang saja.

Cih alasan saja, bilang saja dia sudah lupa denganku dan Bintang.

“Ok, kalau begitu baiknya mas Afif keluar.“Usirku, rasanya aku tak ingin melihat wajahnya lagi, mengesalkan tahu

“Kamu ngusir aku?.“Tanyanya yang kangsung ku jawab dengan gelengan kepala.

“Bintang udah nungguin, kalau Mas Afif masih mau di sini, yaudah. Nanti kunci mobilnya titip aja di security, ya. Mas.“Aku pun keluar karena sudah tak tahan melihat wajahnya dan mendengar ucapan yang penuh omong kosong itu, lebih baik aku menunggu di deoan kelas Bintang daripada berduaan dengan Mas Afif yang berpotensi malah adu ribut. Bukannya aku lemah karena tak mau meladeninya, tapi aku males saja. Buat apa? Toh ribut dengannya sama sekali tidak membawa manfaat apa-apa, selain seluruh tenaga dan pasti energiku terkuras habis.

“Buat apa di kasih ke security?, kita sama-sama ke sana, aja.“Cetusnya yang ku balas dengan delikan tajam sambil mendengus kasar.

“Bukannya aku di suruh untuk menutupi siapa suami aku, kan? Kalau kamu datang bareng aku? Apa ibu-ibu yang lain gak akan curiga? Maaf mas, aku masih mau hidup tenang, aku gak mau di kira pelakor. Karena aku wanita terhormat, dan aku bukan perebut suami orang!!.“Sarkasku sambil memandang tajam padanya, biar saja dia ke sindir, toh memang aku berniat menyindirnya.

1
Anonymous
afif goblok
Anonymous
anying Juz 30 doang berasa bisa si paling adil
Dewi Sri Astuti: wkwkwkwk🤭🙏
total 1 replies
Anonymous
diem bocil
Dewi Sri Astuti: hahaha🙏
total 1 replies
Dewi Sri Astuti
Yuk kasih bintang lima dan komennya, biar author semangat🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!