NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kambing Hitam DIPLOMATIK

Mobil BMW i8 hitam meluncur seperti bayangan, membelah jalanan yang sepi menuju vila mewah di pinggir kota. Di dalamnya, Shadiq merasakan kulit jok kulit yang dingin dan aroma kemewahan yang asing. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia duduk di dalam mobil senyaman ini—sebuah kubus mewah yang justru membawanya ke jurang bahaya.

Pintu gerbang besi hitam terbuka setelah seorang satpam mengenakan seragam coklat mengangguk pada sopir. Mobil itu meluncur masuk ke pekarangan yang luas.

Lima mobil, hitung Shadiq dalam hati matanya menyapu area parkir. Tidak ada yang bermuatan diplomatik. Jantungnya berdetak lebih kencang.

Baron, duduk di sampingnya dengan sikap yang terlalu santai untuk seseorang yang membawa pistol tersembunyi, menoleh. Matanya tajam dan penuh kecurigaan. "Mana mobil diplomatik yang kau ceritakan?"

"Kabur, mungkin," jawab Shadiq, suaranya datar. Kebohongan itu keluar dengan mudah—sebuah keterampilan yang terasah oleh keputusasaan. Pikirannya melesat pada Farhank dan Baron, yang tanpa mereka sadari sudah terjebak dalam jaring manipulasi tipis yang ia tenun.

Dari kursi penumpang depan, Farhank menyeringai. Suaranya rendah dan penuh ancaman yang tak tersamar. "Ini kesempatan terakhirmu. Jika CCTV tidak membuktikan omonganmu, kau bisa ucapkan selamat tinggal pada gadis TK cilikmu."

Shadiq menahan amarah yang mendidih. "Sebaiknya kau jaga omonganmu," gumamnya, suaranya berisi getaran bahaya yang membuat Baron sedikit mengerutkan kening.

Mereka parkir di antara lima mobil mewah lainnya, disusul oleh dua i8 lainnya yang membawa tim Farhank. Saat keluar, Shadiq mengangkat tangan—laras pistol diarahkan ke punggungnya.

Di teras vila, sepuluh pria berdasi duduk di kursi rotan. Mereka memandang pendatang dengan sikap tak acuh yang terlatih. Farhank melangkah maju, mengabaikan protokol.

"Siapa orang-orang diplomatik yang ada di sini empat hari lalu?" tuntutnya, suaranya memotong ketenangan.

Seorang pria tinggi berdiri. Nametag di sakunya bertuliskan Agung D. "Urusanmu apa?" tanyanya, sikapnya dingin. "Kau masih punya utang padaku. Lima puluh paket, kau janji kirim dua puluh peti dulu. Mana? Cuma sembilan belas. Kau minta dibayar untuk dua puluh."

Farhank menghela napas, berpura-pura kesabaran. "Mari kita bicara baik-baik. Beri tahu aku tentang pria itu, dan peti kedua puluh akan kau terima sebelum pengiriman berikutnya tiba."

Pria lain berdiri—lebih pendek, dengan potongan rambut cepak dan garis cukur dua di sisi kepala. Danu B.T. Dia menghadap Agung. "Rasanya tamu kita ini menuduh kita menyembunyikan barangnya." Kemudian ia memandang Farhank, matanya seperti pisau. "Kau lewati kami, Farhank. Kau menghina. Jelas-jelas hanya ada sembilan belas peti."

Farhank menoleh, matanya menyapu Shadiq. "Giliranmu. Ceritakan."

Shadiq maju, merasakan tatapan semua orang menancap di kulitnya. "Seorang pria, bersama dua pengawalnya. Mereka mendekati saya saat saya bekerja. Bertanya tentang barang. Mereka langsung pergi ketika beberapa dari kalian mendekat. Naik mobil dengan plat diplomatik."

Agung tertawa pendek, sinis. "Itu tidak cukup. Dia tidak akan berani menyentuh barang saya."

Danu menambahkan, "Vila ini punya empat puluh empat kamera, di setiap sudut. Mustahil."

Shadiq memperdalam kebohongannya, memainkan nada konspirasi. "Bagaimana jika dia tidak takut pada kalian, tapi patuh pada negaranya sendiri? Apa kalian benar-benar percaya pada para pejabat itu?"

Agung mendekat, hingga Shadiq bisa mencium aroma parfum mahalnya. "Kau bermain dengan kata-kata. Jangan menyesal jika kau dihukum karena fitnah."

"Kau juga," balas Shadiq, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Jangan menyesal jika orang yang kau percaya ternyata musuh. Di dunia ini, yang bisa kau percaya hanya dirimu sendiri."

Ketegangan menggantung tebal. Akhirnya, Agung menggerakkan kepalanya. "Masuk. Kita lihat rekaman itu."

Mereka berpindah ke dalam, berkumpul di sekitar sebuah komputer di ruang tamu yang mewah. Shadiq bergegas maju. "Biarkan saya yang putar. Saya ingat persis waktunya." Tangannya mengambil alih mouse—sebuah gerakan penting. Jika orang lain yang mengontrol pemutaran, mereka mungkin akan memeriksa rekaman di gudang. Dan di sana, kebenaran akan terbuka: hanya sembilan belas peti yang ia bawa, bukan dua puluh. Peti kedua puluh, yang berisi sesuatu yang begitu berharga hingga memicu semua ini, tersembunyi di bawah kasur rumahnya yang sederhana.

Ia memutar rekaman, mempercepat hingga adegan yang ia inginkan muncul. Layar menunjukkan dirinya—empat hari lalu—berdiri di dekat truk. Tiga pria mendekat. Jabat tangan. Percakapan singkat. Kemudian, saat empat anggota geng Agung berjalan mendekat, ketiga pria itu berbalik dan masuk ke sebuah mobil gelap dengan plat diplomatik, lalu melesat pergi.

Semua orang terdiam, menatap layar.

Rekaman itu bisu—jarak kamera terlalu jauh untuk menangkap suara. Tapi visualnya sempurna: sebuah pertemuan yang terlihat rahasia, sebuah keberangkatan yang terburu-buru.

Wajah Agung dan Danu berkerut, keraguan mulai mengikis keyakinan mereka. Di seberang, mata Farhank dan Baron menyala—keyakinan mereka pada Shadiq, atau lebih tepatnya pada kebohongannya, menguat.

Shadiq menggigil dalam diam. Tubuhnya ingat arena tarung—tinju, tendangan, darah. Tapi di sini, kekuatan fisik tak ada artinya. Senjata api menguasai ruangan, dan satu kesalahan kata bisa berarti ledakan.

Debat memanas. Baron menuding, Agung membela. Suara meninggi, ancaman terselubung menjadi terang-terangan. Shadiq memainkan perannya dengan hati-hati, menambahkan detail bohong tentang percakapan di gudang, mengalihkan perhatian dari inti masalah—jumlah peti.

Ia berdebat dengan kegelisahan yang melilit perutnya. Setiap tatapan, setiap pertanyaan, terasa seperti pemeriksaan di bawah lampu interogasi. Peti yang disembunyikannya terasa seperti bom waktu di bawah kasurnya.

Akhirnya, setelah ketegangan yang nyaris meledak, sebuah kesepakatan tercapai: investigasi akan dilakukan. Mereka harus membuktikan kebenaran tentang pria diplomatik itu.

Dan dari mulut Agung-lah, nama itu akhirnya disebut: Harman. Seorang atase staf diplomatik senior Indonesia untuk luar negeri. Dua pria bersamanya: Barno, supir pribadinya, dan yang membuat Shadiq nyaris tersedak—Taplo, seorang wakil menteri luar negeri Amerika, yang diduga sedang berada di Indonesia untuk urusan yang sangat tidak resmi.

Kambing hitamnya ternyata adalah orang-orang dengan kekuatan yang hampir tak terbayangkan.

Saat mereka meninggalkan vila, ancaman Farhank masih menggantung: "Kami awasi dirimu, Shadiq. Dan kami awasi keluarganya."

Shadiq masuk kembali ke i8 yang mewah, tubuhnya lelah namun pikirannya berputar kencang. Satu-satunya kemenangan hari ini adalah waktu—waktu yang ia beli dengan kebohongan berani. Tujuannya tetap satu: melindungi putri kecilnya dan istrinya. Jauh dari sentuhan Farhank dan dunia gelap ini.

Mobil meluncur keluar gerbang, meninggalkan vila dan bahaya yang masih mengintai di dalamnya. Perangnya belum selesai. Baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!