NovelToon NovelToon
My Boyfriend Is Daddy'S Friend

My Boyfriend Is Daddy'S Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Cintapertama
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Sintia menunggu Arga dengan harap-harap cemas. Tak butuh waktu lama Arga sampai dan langsung menghampiri Sintia yang terduduk lemas dipinggir parkiran kampus.

"Ara mana?" tanyanya.

"Aku juga nggak tahu, Ga. Dia tadi langsung pergi."

Arga melihat sesuatu yang tidak biasa. Pipi Sintia memerah. "Kamu kenapa?" Arga memegang pipi Sintia. Gadis itu meringis pelan. "Tadi Ara nampar aku karena ada seseorang yang chat dia dan ngirim foto kita waktu lagi...."

"Lagi apa, Sin?"

"Ciuman," bisiknya.

"Siapa yang ngirim?"

"Aku nggak tahu, Ga. Mending sekarang kita cari Ara." Sintia berkata itu sembari menangis, ia takut Ara marah padanya.

Arga menjalankan mobil menuju rumah. Ia yakin anaknya itu pasti pulang ke rumah mereka. Sesampainya di rumah ia melihat ada Art sedang bersih-bersih.

"Mbak, Ada Ara nggak?"

Art itu menghentikan sejenak aktifitas, kemudian menunjuk ke arah kamar Ara. "Ada pak tadi non langsung ke kamar."

Arga mengucapkan 'terima kasih' kemudian mengajak Sintia untuk ikut naik ke kamar Ara. Arga beberapa kali memanggil Ara namun tak ada jawaban. Kemudian ia memutuskan untuk membuka pintu dan untung tidak dikunci.

Ara meringkuk di samping tempat tidur, badan gadis itu bergetar. Ia menyentuhnya pelan. Ara mendongakkan kepala dengan mata memerah.

"Kenapa Papa bohong sama aku?" Sembari menangis Ara berbicara. "Sejak kapan Papa ada hubungan sama Sintia?"

"Papa minta maaf kalo udah bohongin kamu."

"Sejak kapan Papa ada hubungan sama Sintia?" Pertanyaan itu kembali diulang.

Arga mengusap wajah, ia kemudian ikut duduk disamping anak semata wayangnya itu. Sintia ada di luar kamar. Gadis itu enggan untuk masuk. Membiarkan anak dan ayah berbicara empat mata.

"Oke. Papa jawab. Papa kenal Sintia 3 tahun yang lalu saat kecelakaan."

"Kecelakaan?"

"Iya, yang nolong Papa pas kecelakaan itu Sintia. Dia juga yang telaten ngurusin Papa disaat kamu lagi hectic sama masuk kampus."

"Papa mulai jatuh cinta sama Sintia karena selalu nyempetin untuk dateng ke rumah sakit. Padahal dia bukan siapa-siapa kita," jelasnya.

Ara hanya terdiam. Ia masih begitu syok. Semuanya terlalu tiba-tiba.

"Yang harus kamu salahin itu Papa bukan Sintia. Karena selama ini yang ngejar-ngejar itu Papa bukan dia."

Ara menatap sang Papa, laki-laki itu 2 tahun belakangan ini memang lebih rapi, wangi. Tidak kucel seperti sebelumnya setelah ditinggal pergi oleh Mama.

Arga melirik ke arah Sintia, ia mengkode agar gadis itu masuk. Sintia mengangguk, ia langsung duduk disamping Ara, dengan menangis tersedu-sedu ia meminta maaf kepada Ara.

"Aku minta maaf kalo dari awal nggak jujur sama kamu, Ra," ucapnya.

"Ini bukan salah lo, Sin. Ini salah gue yang terlalu bodoh untuk mengetahui sekitar gue."

Ucapan Ara membuat Sintia menggeleng

"Nggak ini salah aku. Seharusnya aku nggak terima perasaan Arga saat itu."

"Gue nggak nyalahin lo, Sin Perasaan mana bisa gue salahin. Gue liat kalian berdua Papa ataupun lo. Wajah kalian bahagia banget. Gue bisa liat itu."

Sintia menyeka air matanya, ia menatap sahabatnya lama. "Maksudnya."

"Terusin hubungan kalian. Gue nggak akan marah. Papa semenjak sama lo dia jadi lebih tertata lagi hidupnya."

"Dan untuk Papa jaga sahabat aku. Jangan Papa rusak dia. Aku nggak mau sahabatku menderita, Pa."

Arga dan Sintia saling pandang, mereka sama-sama tidak menyangka bahwa Ara bisa sedewasa itu.

****

"Dicium dong dahinya!" Ara berseru ketika melihat Arga dan Sintia saling pandang, Sintia nampak salting dan langsung menyentil hidung Ara membuat gadis itu mengaduh kesakitan.

"Udah, ah. Aku mau pulang," kata Sintia.

"Anterin dong, Pa." Ara mendorong pelan Papa agar mau mengantarkan sahabatnya itu. Arga mengangguk, ia menggenggam tangan Sintia dan menyuruh gadis itu masuk ke mobil.

Sebelum masuk mobil Sintia dan Ara melakukan tos ala mereka. TOS gen z namanya.

Sintia melambaikan tangan, dan masuk ke mobil Arga.

"Hati-hati, Pa. Jangan ngebut-ngebut. Jangan macem-macem sama sahabat aku!"

"Iya, iya," jawab Arga agar putrinya itu tenang.

Sintia tersenyum geli melihat Ara dan Arga. Ara dengan kehebohannya dan Arga dengan muka tenangnya. Benar-benar berbanding terbalik.

Hidupnya benar-benar berwarna karena ada mereka. Tanpa sadar selama ini Sintia tidak punya alasan untuk terus hidup. Namun berkat kehadiran mereka dihidup Sintia segalanya berubah. Yang tadinya suram berubah menjadi lebih terang. Karena sejak meninggalnya Ayah, separuh jiwa Sintia hilang hanya tinggal serpihan. Ia hidup tapi serasa mati.

Itulah hidup, semua sudah digaris tadirkan oleh yang maha kuasa tinggal bagaimana hambanya.

Mulai sekarang, Sintia akan terus berjuang untuk hidup karena mereka. Ara dan Arga.

****

Tinggalkan jejak. Jangan lupa vote+komen biar aku semangat lanjutin<3

1
Ekasari0702
kenapa lama sekali up nya
Nadhira Ramadhani: nanti malam insyaallah up kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!