NovelToon NovelToon
Pernikahan Gadis Tomboy Dan Ketua Mafia

Pernikahan Gadis Tomboy Dan Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Kisah perjalanan cinta gadis tomboy yang di jodohkan dengan seorang pria yang ternyata seorang ketua mafia bernama Leonathan Nugroho. Dia adalah putra pertama dari pasangan Shandy Nugroho dan Merlin Syafira. Nathan itu terkenal dengan kekejamannya di dunia hitam. Bahkan dia juga sering di juluki dengan sebutan king dragon.
Gadis tomboy itu bernama Seinara horison dia adalah anak kedua dari Ardi horison dan Adelia Rasya. Seinara mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Abraham horison. Abraham lebih memilih untuk membangun bisnisnya sendiri di luar negeri. Sehingga dia jarang punya waktu untuk keluarganya, namun dia sangat menyayangi adik semata wayangnya yaitu Seinara. Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan sang adik, sepeti saat mendengar Seinara akan di jodohkan. Abraham adalah orang pertama yang menentang keras rencana tersebut. Namun apalah dayanya, dia tidak bisa mengubah keputusan kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koper

"Sein...! Tunggu...!" Seru salah satu sahabat Seinara memanggil, saat melihat Seinara yang sedang memarkirkan motornya.

"Loe, dua hari kemarin kemana sih kok nggak masuk kuliah?" Tanya Jesi penasaran saat berada di dekat Seinara.

"Iya Sein, kamu pergi kemana? Tumben nggak ngabarin kita" tanya Valen juga.

"Gue... Gue ikut orang tua gue keluar kota mendadak girl, jadi nggak sempat buat ngabarin kalian" jawab Seinara gugup, dia takut ketahuan oleh para sahabatnya.

"Oh... Gitu, gue pikir loe sakit, jadi rencananya nanti siang kita ingin jengukin" ucap Jesi.

"Eh tunggu, kalian kok cuma berdua kemana Firly?" Tanya Seinara sambil celingukan mencari salah satu sahabatnya yang nggak kelihatan.

"Dia ada keperluan keluarga katanya, jadi hari ini dia nggak masuk kuliah" jawab Jesy.

"Bukannya hari ini ada dosen vaforitnya ya? Kenapa dia nggak masuk? Memang dia rela sehari saja nggak kete6sama pak Juna?" Tanya Seinara bingung, karena dia sangat tau kalau sahabatnya itu paling ngefans sama dosen yang bernama Arjuna.

"Gue juga dari tadi berpikir begitu Sein, benarkan Jes?" Ucap Valen sambil bertanya pada Jesy.

"Iya kita berdua sedang bingung, kenapa tumben dia rela nggak masuk di saat ads jam kuliah pak Juna" jawab Jesy.

"Udahlah, mungkin dia memang sedang ada urusan yang sangat penting. Jadi dia terpaksa nggak masuk kuliah" ucap Seinara menenangkan sahabatnya.

"Bebar juga, mending kita langsung ke kelas aja yuk. Soalnya bentar lagi jam kuliah gue mulai" ajak Jesi pada dua sahabatnya.

"Iya ayo kita masuk kelas" jawab Valen dengan penuh semangat.

Ketiga gadis itu pun berjalan bersama menuju ke kelas masing-masing. Tapi saat menuju ke kelasnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Seinara.

"Seinara...!" Teriak seorang pria sambil berjalan cepat menghampiri Seinara.

"Iya" jawab Seinara sambil menghentikan langkahnya.

Seinara bingung saat membalikkan badannya. Lebih tepatnya dia bingung saat melihat seorang dosen yang sedang berjalan menghampirinya.

"Pak Juna, ngapain pak Juna manggil gue ya? Duh, jangan sampai ada yang lihat nih. Bisa-bisa gue jadi bahan bulan-bulanan fans fanatiknya" lirih Seinara bingung sambil melihat ke sekelilingnya untuk memastikan.

"Ada apa pak Juna, kok manggil saya?" Tanya Seinara sopan saat pria bernama Juna sudah berdiri di depannya.

"Nggak ada apa-apa kok, saya cuma mau ngasih ini sama kamu" jawab Arjuna sambil memberikan selembar kertas pada Seinara.

Seinara pun segera menerima kertas tersebut, lalu membacanya. Kemudian dia tersenyum setelah membaca kertas itu.

"Ini formulir pendaftaran lomba menulis pak?" Tanya Seinara pada Arjuna.

"Iya, itu formulirnya. Saya dengar kemarin kamu ingin sekali ikut lomba itu, jadi saya coba minta pada panitia" jawab Arjuna sambil mengulas senyum tipis.

"OMG... Beruntung banget gue bisa lihat senyum langka pak Juna..." Lirih Seinara dalam hati saat melihat senyuman Arjuna.

"Terimakasih pak, saya akan mencoba untuk ikut lomba ini. Semoga saja saya punya bakat dalam lomba ini" ucap Seinara.

"Sama-sama, kalau gitu cepat kamu masuk kelas. Karena sebentar lagi pak Danu pasti masuk" jawab Arjuna kembali ke mode awal.

"Iya pak, sekali lagi saya ucapkan terimakasih" jawab Seinara yang kemudian segera berlari menuju ke ruang kelasnya.

Arjuna masih berdiri terdiam sambil menatap bayangan Seinara yang semakin menjauh dan menghilang. Entah tatapan apa itu, karena Arjuna sendiri pun belum menyadarinya. Yang dia tahu hanya senang melihat Seinara, meski dari jarak jauh.

"Kenapa aku bisa senang melihat gadis itu ya? Padahal aku bukan siapa-siapa dia" lirih Arjuna sambil menggelengkan kepalanya.

Arjuna pun berjalan menuju ke kelas yang akan diajarnya.

###############

Selesai kuliah Seinara pun segera pulang ke rumah Nathan. Karena dia sudah ada janji dengan sang kakak sore harinya. Jadi dia ingin bersantai sejenak sebelum bertemu dengan kakaknya. Seminar segera memasuki rumah dan berjalan menuju ke kamarnya. Namun dia bingung karena tak ada barang yang dia cari.

"Loh, kemana koper gue? Harusnya koper gue udah ada di kamar. Tapi kenapa sekarang nggak ada ya? Apa mungkin ada yang menyimpannya? Karena mereka nggak berani memasuki kamar gue" gumam Seinara bingung.

Seminar pun keluar dari kamar untuk mencari kopernya. Dia bertemu dengan salah satu pembantu di rumah itu yang kebetulan sedang lewat.

"Eh, bi tunggu sebentar!" Seru Seinara memanggil asisten rumah tangga itu.

"Iya nyonya, ada apa ya panggil bibi?" Jawab dan tanya asisten rumah tangga itu.

"Bi, nama bibi siapa?" Tanya Seinara lagi.

"Nama saya Surti nyah" jawab Surti sopan.

"Oh, bi Surti. Bi jangan panggil saya nyonyah dong. Saya kan masih muda, jadi panggil saya Sein aja ya" ucap Seinara sambil tersenyum.

"Nggak bisa nyah, nanti saya di marahin sama tuan Nathan" jawab bibi menolak.

"Udah nggak usah perduliin dia, jika dia marah bilang saja saya yang suruh. Oh iya bi, saya mau tanya bi Surti lihat koper saya nggak? Tadi pagi saya suruh supir taxi untuk mengantarkannya kesini" tanya Seinara.

"Duh... Maaf banget nyah, Surti kok nggak lihat ya. Mungkin nyonya bisa tanya sama satpam, pasti pak satpam tau" jawab Surti jujur.

"Baiklah... Saya akan coba tanya sama pak satpam, bibi silahkan lanjut kerjaannya" ucap Seinara yang kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Seinara berjalan menuju ke pos satpam, dia ingin mencari tau keberadaan koper miliknya. Sampai di pos satpam, Seinsra segera bertanya pada Pak Udin yang sedang berjaga.

"Assalamu'alaikum... Permisi Pak Satpam! Apa bapak lihat supir taxi yang nganterin koper tadi pagi?" Tanya Seinara segera pada satpam.

"Wa'alaikum salam, iya nyah tadi pagi saya lihat supir taxi yang nganterin koper" jawab pak satpam yang bernama Udin.

"Terus kopernya dimana pak sekarang? Kok di kamar nggak ada ya?" Tanya Seinara lagi.

"Loh, saya sudah suruh Nita untuk membawa koper itu masuk ke dalam kamar nyonyah" jawab Satpam jujur.

"Tapi di kamar saya nggak ada pak!" Ucap Seinara tanh mulai agak terlihat kesal.

"Coba nyonyah tanya sama Nita, soalnya tadi saya titipkan sama Nita koper itu" ucap pas Udin.

"Baiklah... Saya coba tanya sama Nita, terimakasih pak" ucap Seinara yang kemudian berlari memasuki rumah.

Seinara langsung menuju ke dapur dimana biasa asiaten rumah tangga berada.

"Diantara kalian siapa yang bernama Nita?" Tanya Seinara segera pada orang yang ada di ruangan itu.

Semua orang pun mengalihkan pandangannya pada Seinara. Lalu seseorang berdiri dari duduknya dengan wajah malas.

"Saya Nita, ada apa?" Jawab dan tanya orang bernama Nita pada Seinara.

"Ini pembantu atau tuan rumah, kok dandannya menor banget begini? Nggak nyangka kalau Nathan punya selera seperti ini" lirih Seinara bertanya dalam hati saat melihat penampilan Nita.

"Kata pak satpam, kamu yang membawa koper saya masuk. Sekarang dimana koper itu?" Tanya Seinara tegas.

"Mana saya tau, baru sehari saja sudah belagu" jawab Nita sombong.

"Apa kamu bilang tadi, saya belagu? Heh, denger ya, sekali gue tanya dimana koper gue?!" Tanya Seinara semakin tegas, karena kesal.

"Saya bilang nggak tau, ya nggak tau! Kamu kok nyolot gitu!" Jawab Nita kesal.

"Oke, kalau kamu nggak mau kasih tau saya. Biar saya sendiri yang cari kopernya!" Tegas Seinara sambil berjalan menuju ke kamar para asisten rumah tangga di rumah itu.

Melihat itu Nita dan yang lain pun segera menyusul Seinara. Seinara membuka setiap kamar yang ada di sana. Sampai saat kamar terakhir, Seinara pun menemukan kopernya.

"Sial, kenapa aku lupa umpetin koper itu sih" gerutu Nita saat melihat Seinara menemukan kopernya.

"Kamar siapa ini?" Tanya Seinara dengan tatapan tajam pada semua pembantu di rumah itu.

Semua orang di sana hanya bisa menundukkan kepalanya. Mereka terlihat ketakutan melihat kilat amarah yang terpancar dari wajah Seinara.

"Sekali lagi saya tanya kamar siapa ini?!" Bentak Seinara.

"It-itu kamar Nita nyah!" Jawab salah satu pembantu tang ada disana.

"Oh bagus, tadi saya tanya sama kamu, katanya kamu nggak tau koper saya! Tapi kenapa sekarang koper saya malah ada di kama kamu?! Apa kamu memang sangaja ingin mengambil koper saya?!" Bentak Seinara para Nita.

"Mana saya tau, orang bukan saya kok yang membawa koper itu masuk kesana!" Jawab Nita dengan tegas mengelak.

"Memangnya koper saya punya kaki? Sehingga dia berjalan sendiri ke kamar kamu?!" Bentak Seinara lagi.

"Ya nggak tau! Kenapa tiba-tiba koper kamu ada di kamar saya!" Bentak Nita balik.

Saat suasana sedang tegang tiba-tiba Nathan datang bersama Alex asistennya. Dia pun langsung penasaran dengan apa yang terjadi disana.

"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul disini?!" Tanya Nathan dengan suara bariton nya.

Pertanyaan Nathan sontak mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.

"Tuan... Kebetulan tuan pulang, tuan tolong bantu saya. Dia menuduh saya mencuri kopernya" ucap Nita dengan manja pada Nathan.

"Dih, gaya bicaranya sudah seperti istri sah aja nih pembokat, bikin gue pingin muntah" lirih Seinara dalam hati jengah melihat tingkah Nita pada Nathan.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Nathan lagi.

"Saya nggak menuduhnya! Tapi ini kenyataan, saya menemukan koper ini di dalam kamar perempuan itu! Kalau kamu nggak percaya silahkan tanya pada mereka. Karena mereka juga melihat sendiri saya menemukan koper saya di dalam kamar dia!" Jawab Seinara tegas.

"Iya tuan, bi Surti juga lihat kalau nyonyah menemukan kopernya ada di dalam kamar Nita" ucap bi Surti jujur.

Karena memang hanya bi Surti yang berani menjawab.

"Iya tuan, saya juga melihatnya tuan" tambah pembantu lain.

"Tapi bukan saya yang membawa koper itu masuk ke kamar!" Elak Nita, dia masih kekeuh mengelak tuduhan Seinara.

"Terserah kamu, eh... kemana barang saya? Kok nggak ada di sini?" Lirih Seinara yang sebenarnya ingin berlalu meninggalkan tempat itu.

"Kembalikan barang saya!" Tegas Seinara sambil menadahkan tangannya meminta barang miliknya pada Nita.

"Barang apa? Saya nggak tau apa Yeng kamu maksud!" Tanya Nita menutupi kebohongannya.

"Nggak usah banyak alasan, cepat kembalikan barang saya!" Bentak Seinara sambil menahan kekesalannya.

"Tuan... Lihat, dia terus menuduh saya! Tolong tuan bela saya. Saya kan sudah lama kerja di rumah ini tuan, pasti tuan sudah tau sifat saya" ucap Nita pada Nathan.

"Udah deh, nggak usah basa-basi lagi! Cepat kembalikan barang saya! Kalau nggak saya akan patahkan tangan kamu!" Tegas Seinara yang semakin kesal.

"Tuan..." Rengek Nita.

"Kembalikan barangnya! Jangan sampai saya perintah dua kali!" Tegas Nathan pada Nita.

"Baiklah... Tuan" jawab Nita pasrah sambil mengambil sebuah gantungan kunci dari dalam saku bajunya.

Melihat itu Seinara segera merebut gantungan kunci itu dari tangan Nita.

"Barang ini jauh lebih berharga dari nyawa kamu!" Tegas Seinara setelah merebut gantungan kuncinya.

Setelah itu Seinara pun meninggalkan tempat itu sambil menarik kopernya. Nathan masih terpaku melihat sikap Seinara, dia tidak habis pikir kalau istrinya bisa semarah itu cuma gara-gara gantungan kunci.

"Gil* dia bisa semarah itu cuma gara-gara gantungan kunci. Sumpah, ini gokil banget, sepertinya aku harus beliin dia beberapa gantungan kunci yang seperti itu" lirih Nathan sambil berlalu begitu saja dari tempat tersebut.

Nita pun kesal karena merasa tidak di perhatikan oleh Nathan.

"Iiiih... Nyebelin banget sih! Gara-gara perempuan itu, tuan Nathan jadi nggak perduli sama aku lagi!" Gerutu Nita kesal.

"Lain kali jangan begitu sama majikan Nit, nggak sopan" ucap bi Surti menasehati.

"Terserah saya dong, orang pak Nathan juga nggak masalah tuh" jawab Nita cuek.

Semua orang yang ada di sana pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nita. Mereka sudah biasa melihat tingkah Nita yang seperti itu. Jadi mereka tidak terkejut sama sekali.

1
Ikhsan Fatkhurozi
bener tuh si Arjuna pibdahin aja
Ikhsan Fatkhurozi
lanjut
Intan Hidayat
uiiih... Seinara dan Nathan mulai pdkt
Ikhsan Fatkhurozi
semakin manarik
Hidayatul Wahid
lanjut dong nggak pake lama
Intan Hidayat
lanjut
Ikhsan Fatkhurozi
persahabatan yang menarik
Ikhsan Fatkhurozi
cukup menarik, semoga semakin menarik kelanjutannya
Hidayatul Wahid
👍
Hidayatul Wahid
seinara mantap
Intan Wiwi
siap
Intan Hidayat
lanjut
Intan Hidayat
yuk sein jangan lemah
Intan Hidayat
oke juga Seinara
Intan Hidayat
lanjut
Intan Wiwi
terimakasih udah mampir
Intan Hidayat
sepertinya masa lalu Seinara menarik
Intan Hidayat
Nita nyebelin
Intan Hidayat
sepertinya Arjuna suka sama Seinara nih
Intan Hidayat
Nathan mulai tanggung jawab juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!