NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 KHSC

Sesuai dengan izin yang diberikan Juna—dengan peringatan keras—Nares menghadiri pertemuan tugas kelompok di sebuah restoran fine dining di kawasan bisnis Sudirman. Nares mengenakan tunik dan rok panjang sederhana, kontras dengan Lia dan mahasiswi lain yang mengenakan gaun koktail semi-formal.

Danu, ketua kelompok, tampak cerah. “Nares, akhirnya kau datang juga! Kontak kita sebentar lagi sampai. Dia adalah Manajer Hubungan Investor Bhaskara Corp. Ini kesempatan kita!”

Nares mengangguk kaku, merasa tidak nyaman dengan suasana yang terlalu mewah. Ia terus-menerus menatap jam, bertekad untuk pulang tepat waktu, tidak lebih dari pukul sembilan malam. Ia juga sudah mengirim pesan kepada Juna: “Aku ada pertemuan tugas kelompok di luar, dekat kantor.” Juna hanya membalas singkat: “Jaga batas.”

Tepat pukul tujuh malam, seorang wanita cantik, tinggi, dengan rambut cokelat keemasan tergerai sempurna, menghampiri meja mereka. Ia mengenakan gaun desainer yang memeluk tubuhnya dengan elegan.

“Halo, aku sudah di sini. Kalian yang dari UWIKA, kan? Maaf, aku terlambat sedikit,” sapa wanita itu, suaranya halus dan penuh percaya diri.

“Ya, Mbak. Saya Danu, ini Lia, dan ini Nares,” Danu memperkenalkan.

Saat wanita itu menoleh dan menatap Nares, senyumnya langsung memudar. Wanita itu menatap Nares dari ujung kaki hingga ujung kepala—mulai dari jilbab sederhana Nares hingga penampilannya yang bersahaja.

“Aku… Laras,” kata wanita itu, menjabat tangan Nares dengan dingin, pandangan matanya penuh perhitungan.

Nares segera mengenali nama itu: Larasati. Wanita yang seharusnya berdiri di sisi Juna, wanita yang menjadi alasan Juna membenci pernikahan dan membangun benteng pertahanannya.

Larasati adalah mantan tunangan Juna.

Pertemuan itu terasa tegang bagi Nares. Laras, dengan sengaja atau tidak, terus-menerus menanyakan detail rencana masa depan Nares, seolah berusaha menggali informasi pribadi.

“Nares, kamu dari desa, kan? Hebat sekali bisa sampai sini. Tapi, setelah lulus nanti, apakah kamu akan kembali ke desa? Atau kamu akan mencari pekerjaan di Jakarta?” tanya Laras, nadanya terdengar seperti pujian, tetapi matanya menguji.

“Saya ingin mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu saya, Mbak. Saya akan tinggal di mana takdir membawa saya,” jawab Nares tenang, tidak terpancing.

Laras tersenyum tipis. “Takdir, ya? Jakarta ini kejam, Nares. Tidak semua orang bisa bertahan di level tertinggi. Apalagi di lingkaran Bhaskara Corp. Itu levelnya berbeda.”

“Saya tahu, Mbak. Tapi saya akan berusaha sekuat yang saya bisa,” Nares menanggapi, mempertahankan kesopanannya.

Saat Danu dan Lia sedang fokus membahas laporan, Laras membungkuk sedikit ke arah Nares.

“Dengar, Nares. Aku masih memiliki koneksi yang sangat kuat di Bhaskara Corp, hingga ke CEO. Jadi, aku sarankan, jangan main-main dengan kesempatan ini. Dan jangan pernah bermimpi untuk memasuki lingkaran yang bukan milikmu,” bisik Laras, matanya memancarkan peringatan.

Nares hanya menatap balik, tanpa rasa takut. “Saya hanya mahasiswa yang mengerjakan tugas, Mbak Laras. Saya tidak berniat memasuki lingkaran siapapun.”

Nares beruntung, ia bisa menyelesaikan urusannya dan meninggalkan restoran tepat pukul delapan tiga puluh malam. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri mengirim pesan kepada Juna.

“Aku sudah selesai. Aku akan mencari taksi sekarang. Terima kasih atas izinnya.”

***

Di dalam taksi, Nares merasakan hatinya berdebar. Pertemuan dengan Larasati telah mengkonfirmasi semua yang ia dengar: Laras adalah bayangan kuat yang terus menghantui pernikahan kontraknya. Nares tahu, ia harus berhati-hati.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Juna baru saja menyelesaikan panggilan konferensi video yang menegangkan. Ia mengambil ponselnya dan melihat pesan Nares.

Ia hampir tidak membalas, tetapi ia teringat perintahnya sendiri: Dan jangan pernah berduaan dengan pria lain.

Juna mengambil kunci mobilnya. Ia tidak tahu kenapa, tetapi ia merasa gelisah. Pikiran tentang Nares berada di lingkungan itu, dekat dengan kantornya, membuatnya cemas. Ia tidak peduli pada Nares, ia hanya tidak ingin kontraknya terancam skandal.

Juna menelepon Rio. “Cari tahu di mana Nareswari sekarang. Dia baru saja keluar dari pertemuan kelompok.”

Rio, yang sudah ahli membaca suasana hati bosnya, segera bertindak. Lima menit kemudian, Rio menelepon balik. “Pak, Nyonya Nareswari baru saja meninggalkan Restoran The Pinnacle. Saya bisa meminta pengemudi menjemput beliau…”

“Tidak perlu. Aku yang akan menjemputnya. Dan Rio, cek daftar tamu yang tadi hadir di pertemuan itu.”

Juna segera menuju lift pribadi, bergegas ke bawah.

Di restoran yang sama, Larasati baru saja kembali ke meja. Ia membuka ponsel dan melihat pesan dari Rio, sekretaris Juna, yang ia masih kenal baik. Pesan itu berisi: “Nyonya Nareswari Kirana sudah dijemput oleh Pak Arjuna sendiri.”

Wajah Larasati langsung pucat. Juna menjemput gadis itu? Juna tidak pernah menjemputku, bahkan setelah kita resmi bertunangan! Kebencian membara di matanya. Nareswari yang sederhana itu ternyata lebih dari sekadar gadis beasiswa. Ia adalah pemilik Juna, setidaknya di atas kertas.

***

Juna menemukan Nares sedang menunggu taksi di pinggir jalan yang ramai. Nares kaget melihat mobil sport mewah Juna berhenti di depannya.

Juna membuka jendela. “Masuk.”

Nares ragu, tetapi segera membuka pintu dan masuk ke kursi penumpang. Aroma kulit mahal mobil itu kembali menyelimutinya.

“Kenapa kau di sini, Juna? Kau harusnya istirahat,” kata Nares, merasa tidak enak.

“Aku sudah bilang, aku tidak suka dramamu mengganggu kontrak. Kau beruntung aku sedang tidak sibuk,” jawab Juna dingin. “Bagaimana pertemuanmu? Siapa yang hadir?”

Nares menarik napas, memutuskan untuk jujur. “Danu, Lia, dan satu orang kontak dari Bhaskara Corp. Namanya Larasati. Dia Manajer Hubungan Investor.”

Juna membeku. Tangannya yang memegang setir mencengkeram erat. Wajahnya yang tegang semakin mengeras. Nama itu, Larasati, adalah pemicu instan untuk emosi yang ia kubur dalam-dalam.

“Larasati… mantan tunanganku,” Juna berbisik, nadanya terdengar seperti desisan.

“Aku tahu,” kata Nares. “Dia memperingatkanku untuk tidak memasuki lingkaranmu.”

“Dan kau menjawab apa?” Juna menoleh, matanya seperti api yang siap membakar.

“Aku bilang, aku hanya mahasiswa yang mengerjakan tugas, dan aku tidak berniat memasuki lingkaran siapapun,” jawab Nares tenang. “Aku bersikap sopan dan tidak melanggar batasan yang kau tetapkan.”

Juna kembali menatap jalan, hatinya berkecamuk. Ia terkejut dengan ketenangan Nares. Nares tidak menuntut penjelasan tentang masa lalunya, tidak cemburu, dan tidak menggunakan pertemuan itu untuk mencari perhatian. Dia hanya melaksanakan perjanjian.

“Bagus,” kata Juna. “Jangan pernah berinteraksi dengannya lagi. Dia berbahaya. Dia adalah alasan kenapa aku membuat kontrak bodoh ini.”

“Aku mengerti. Tapi, Juna,” Nares berani bertanya, “Apakah kau masih mencintainya?”

Juna mengerem mendadak di lampu merah. Ia menoleh, wajahnya gelap. “Aku membenci kata itu, Nareswari. Cinta hanya membawa kehancuran dan pengkhianatan. Aku tidak mencintai siapa pun. Aku hanya fokus pada kendali dan kekuasaan. Itulah kenapa aku menikahimu—sebagai kontrak, bukan karena perasaan.”

“Aku tahu,” Nares mengangguk. “Tapi aku juga tahu, malam kau sakit, kau tidak mencari kendali atau kekuasaan. Kau mencari kehangatan.”

Juna menatap Nares. Ia ingin membantah, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Nares telah melihatnya dalam kondisi paling lemah, dan kata-katanya menusuk tepat ke inti ketidakamanannya.

“Jangan menganalisisku,” Juna memperingatkan, menyalakan mobil dengan kasar saat lampu berubah hijau.

Mereka kembali ke keheningan, tetapi keheningan kali ini dipenuhi oleh pengakuan yang tak terucapkan.

***

Mereka tiba di apartemen. Juna segera berjalan ke kamarnya. Ia merasa harus menjauh dari Nares.

Nares mengikutinya hingga pintu kamar Juna. Juna hendak menutup pintu, tetapi Nares menahan.

“Juna, ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting,” kata Nares.

Juna menghela napas. “Aku lelah, Nareswari. Bicara besok.”

“Ini tentang kontrak kita,” tegas Nares.

Juna membuka pintu lagi, masuk, dan duduk di tepi tempat tidurnya, mengisyaratkan Nares untuk bicara di ambang pintu.

“Aku tahu, pernikahan ini adalah kontrak untukmu. Tapi setelah aku merawatmu, dan setelah kau menjemputku—meski kau bilang itu hanya masalah kontrol—aku merasa kita harus mendefinisikan ulang batas kita, terutama untuk menjaga kontrak ini tetap utuh,” kata Nares.

“Definisi ulang bagaimana?” tanya Juna dingin.

“Kau mengizinkanku menjalankan kewajiban sebagai istri saat kau sakit. Kau memperingatkanku untuk tidak berduaan dengan pria lain. Aku menghargai itu. Tapi, jika kau ingin aku menjaga nama baikmu dan kontrak ini, kau harus memberiku perlindungan yang sama. Aku tidak bisa terus-menerus merasa berada di dalam ‘ruang tamu’ di rumahku sendiri. Aku butuh kepastian bahwa bayangan dari masa lalumu tidak akan merusak masa depanku,” Nares berbicara dengan penuh keberanian, suaranya tidak goyah.

Juna menatap Nares dengan pandangan hormat yang aneh. Nares tidak meminta cinta. Ia meminta kepastian posisi dan batas teritorial.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Juna, akhirnya menyerah.

“Aku tidak ingin tidur di lorong terpisah. Aku tidak ingin orang luar, terutama Laras, meragukan pernikahan ini. Aku tidak akan memaksamu melanggar kontrak emosional kita. Tapi, aku ingin kau membiarkan aku menjadi istri yang sesungguhnya di mata dunia. Dan, mulai sekarang, aku akan tidur di kamarmu,” Nares mengakhiri kalimatnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Juna berdiri, berjalan mendekati Nares. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, menyadari implikasi dari permintaan Nares. Ini bukan hanya tentang kamar tidur, ini tentang pengakuan.

“Kau ingin tidur di kamarku?” Juna bertanya, suaranya sangat rendah. “Kau tahu konsekuensinya? Kau tahu apa yang bisa terjadi jika kita berbagi ruangan?”

“Aku tahu, Juna. Tapi aku percaya pada benteng yang kau bangun. Dan aku percaya pada mitsaqan ghaliza yang kita ikrarkan,” kata Nares, menantang Juna dengan imannya.

Juna tidak bisa membalas. Nares menggunakan janji suci mereka sebagai tameng sekaligus tuntutan.

“Baik,” kata Juna, menghela napas panjang, kekalahan tersirat dalam suaranya. “Kau boleh tidur di sini. Tapi di sofa atau tempat tidur tamu. Bukan di tempat tidurku. Pintu ini akan selalu terbuka di mata dunia. Tapi tertutup, Nareswari. Selalu tertutup.”

Nares mengangguk. Kemenangan kecil. Ia tahu, benteng Juna tidak runtuh, tetapi ia berhasil memindahkan pagar pertahanan mereka lebih dekat ke dalam.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!