Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad nikah dadakan
Cantika berdiri di depan pintu ruang serbaguna rumah besar itu. Suara tamu-tamu berkumpul, derap sandal, sendawa kecil bapak-bapak yang habis minum wedang jahe, semuanya bercampur jadi satu. Suasana seperti kondangan pada umumnya,ramai, penuh gumaman, dan wangi bunga melati bercampur wangi minyak rambut bapak-bapak.
Cantika menelan ludah. “Mas… aku deg-degan.”
Yoga yang berdiri di sebelahnya juga terlihat tegang, meski tetap berusaha mempertahankan ekspresi dinginnya. “Aku juga,” jawabnya lirih.
“Mas kan harusnya sudah terbiasa sama momen kayak gini?” tanya Cantika.
Yoga geleng. “Ini pertama kali. Dan harusnya calon pengantinnya bukan… ya kamu tahu.”
Cantika menunduk. “Maaf ya…”
Yoga menatapnya, kali ini dengan nada lembut yang jarang ia keluarkan, “Bukan salah kamu.”
Ucapan itu membuat perut Cantika hangat. Lalu dingin. Lalu hangat lagi. Nggak jelas. Pokoknya kayak ada kupu-kupu tapi yang bentuknya stres.
---
Seorang panitia laki-laki mendekat sambil tersenyum lebar. “Ayo, Mbak Cantika, Mas Yoga. Sudah siap masuk?”
“Siap,” jawab Yoga tegas.
“BELUM!” Cantika hampir berteriak.
Panitia itu terkejut. “Eh? Masih ada yang kurang?”
Cantika mengangkat tangan. “Aku… aku boleh napas dulu lima detik?”
Yoga memutar badan ke arahnya. “Heh. Kamu dari tadi napas terus.”
“Tapi napas panik,” bantah Cantika.
Yoga menghela napas, menepuk pelan punggung Cantika. “Tenang. Kita cuma butuh lewat momen ini. Setelah selesai, kita bicarakan semuanya.”
Cantika mengangguk,sambil mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ia benar-benar sanggup.
---
Pintu dibuka perlahan.
Semua kepala menoleh.
Lampu gantung besar menyala.
Bunga-bunga segar tergantung di setiap sudut ruangan.
Dan di ujung ruangan, terlihat kursi akad dengan taplak serba putih, dihiasi bunga melati dan anggrek putih segar.
Di sisi lain, keluarga besar Yoga duduk dengan penuh harapan.
Sementara di barisan belakang, beberapa tetangga justru mulai bisik-bisik.
“Itu bukan calon pengantinnya yang kemarin kan?”
“Bukan lah. Yang kemarin rambutnya panjang.”
“Loh ini juga panjang.”
“Beda! Yang kemarin pakai gelang emas segede tutup botol.”
“Oh iya ya. Yang ini kelihatan lugu banget.”
Cantika bisa mendengar semua itu.
Yah, telinganya nggak bisa otomatis mati.
---
Ia berjalan pelan di samping Yoga. Jarak antara pintu dan meja akad rasanya seperti maraton 42 km. Setiap langkah kayak diperbesar efek dramanya.
Yoga tiba-tiba berbisik, “Kamu jangan jalan cepat-cepat. Santai.”
“Gimana mau santai kalau aku lagi dipaksa nikah?” balas Cantika.
Yoga: …dia punya poin.
Mereka akhirnya duduk. Yoga di depan penghulu. Cantika di sebelah mama Yoga.
Cantika bisa merasakan tangan ibu itu menggenggam tangannya erat. “Terima kasih ya, Nak… kamu sudah membantu keluarga kami.”
Cantika hanya bisa tersenyum kaku. “Sama-sama, Bu…”
Dalam hati ia menangis: Harusnya saya lagi ngirim cokelat ke Mbak Nining yang ulang tahun. Kenapa saya malah di sini?
---
Penghulu mulai bicara.
Bapak-bapak mulai membuka buku nikah.
Yoga mengambil napas pelan. Wajahnya serius. Fokus. Tenang.
Sementara Cantika…
Masih sibuk mengatur napas agar tidak pingsan sebelum ijab kabul selesai.
Tiba-tiba, penghulu bertanya, “Calon mempelai perempuan, boleh sebutkan nama lengkap?”
Cantika langsung blank.
Nama sendiri pun lupa.
Yoga menoleh cepat. “Hei, Cantika. Namamu siapa?”
Cantika menatapnya, panik. “Aku… aku… Cantika… Astuti…”
Yoga mencondongkan badan. “Lho? Bukannya Astari?”
Cantika langsung menepuk jidat. “IYA! ASTARI! Astuti itu nama tetangga saya!”
Penghulu, keluarga, tamu: menahan tawa sambil batuk palsu
Yoga menutup wajah dengan tangan. “Ya Allah…”
---
Setelah kekacauan identitas selesai, ijab kabul dimulai.
Suasana hening.
Yoga duduk tegap, kedua tangannya di atas meja, menggenggam tangan wali nikah pengganti (karena ayah Cantika sudah tiada). Suaranya jelas, dalam, dan tegas.
“Aku terima nikahnya Cantika Astari binti—”
Yoga berhenti.
Gawat.
Semua menoleh ke Cantika.
Penghulu berdehem. “Binti siapa, Nak?”
Cantika menunduk. “Binti almarhum Herman …”
Yoga mengangguk dan mengulang.
Kali ini sempurna.
“Aku terima nikahnya Cantika Astari binti Herman dengan mas kawin seperangkat alat salat dan mahar tunai sepuluh juta rupiah dibayar tunai.”
Hening.
Semua menunggu.
Penghulu menatap saksi-saksi.
“SAH!!”
Suara itu menggema.
Tamu-tamu langsung bertepuk tangan. Beberapa ibu-ibu menitikkan air mata. Ada yang histeris karena terharu. Ada yang cuma ikut-ikutan.
Dan Cantika?
Ia membeku.
Yoga menatapnya perlahan.
“Kita sah,” ucapnya.
Cantika membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
Ia hanya bisa berkata, “Ya Allah… aku… benar-benar nikah.”
Yoga mengangguk. “Iya.”
“Sah?”
“Iya.”
“Resmi?”
“Iya.”
“Nama aku sekarang…?”
Yoga menghela napas. “Bukan. Jangan lebay dulu. Kamu masih Cantika.”
“Oh.”
Cantika langsung pingsan kecil dan bersandar ke lengan ibu Yoga.
Seriusan.
Ia cuma blackout lima detik.
---
Setelah itu, sesi tanda tangan dimulai.
Cantika menulis namanya dengan tangan gemetar.
Yoga menandatangani dengan gaya CEO yang baru buat kontrak penting.
Beberapa tamu maju untuk berfoto. Dan karenanya….
Drama kecil terjadi.
Saat sesi foto keluarga, salah satu tante iseng berkata,
“Peluk pengantinnya dong, Yogaaa. Biar fotonya bagus!”
Yoga langsung menegang.
Cantika memandangnya penuh alarm.
Yoga mendekat pelan. “Aku pegang bahumu ya?”
“Jangan mepet-mepet,” bisik Cantika.
“Tenang. Aku juga nggak mau,” jawab Yoga.
Mereka akhirnya berdiri canggung. Yoga meletakkan tangan setengah centimeter dari bahu Cantika—literally tidak menyentuh tapi cukup untuk pose.
Tante-tante teriak.
“DEKETAN! KAYAK ORANG PACARAN!”
“Tante please… ini pernikahan darurat…” bisik Cantika putus asa.
Fotografer menyela, “Ayo, senyum… satu, dua, tiga…”
Hasil foto:
Yoga: wajah tegang tapi ganteng.
Cantika: senyum panik.
Tante-tante: puas.
---
Setelah prosesi foto selesai, mereka duduk sebentar di kursi pelaminan.
“Jadi…” Cantika membuka percakapan. “Kita sudah menikah.”
“Hmm.”
“Tapi cuma sementara.”
“Iya.”
“Apa nanti kita cerai?”
Yoga menghela napas pelan. “Kita bicarakan nanti. Sekarang kamu istirahat dulu.”
Cantika menatapnya. “Mas…”
“Hm?”
“Aku masih gemetar.”
Yoga berpikir sejenak, lalu berdiri dan menyodorkan segelas air putih. “Minum dulu.”
Cantika meneguk air itu perlahan.
Yoga duduk kembali di sampingnya, tidak terlalu dekat tapi tidak jauh.
Untuk pertama kalinya, tatapan Yoga tidak dingin. Tidak sinis. Tidak kesal.
Hanya… tenang.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Cantika berkedip bingung. “Hah? Terima kasih untuk apa?”
“Untuk tidak kabur…”
Cantika tersenyum tipis. “Saya bukan orang yang meninggalkan orang lain di saat genting.”
Yoga menunduk. “Saya tahu.”
Detik itu, angin segar seolah lewat di tengah kepadatan ruangan.
Ada sesuatu yang berubah.
Pelan.
Tapi nyata.
---
Acara masih panjang. Sesi makan, salam-salaman, bahkan ada beberapa tamu yang sengaja datang terlambat biar kondangan terlihat “wah”.
Namun di dalam hati Cantika…
Satu kalimat terus bergema:
Aku benar-benar menikah dengan orang asing.
Dan dia benar-benar Yoga Pradipta.
Dan sekarang… aku istri dadakan.
Bab ini ditutup dengan momen keduanya saling diam,tapi tidak lagi terasa canggung seperti tadi.
Seperti dua orang yang sama-sama bingung, tapi pelan-pelan mulai menerima kenyataan yang tidak pernah masuk daftar rencana hidup mereka