NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Rumah besar keluarga itu sunyi pagi itu. Hanya suara sendok beradu dengan cangkir dari ruang makan.

Ayah Nirmala, Pak wira, duduk di ujung meja sambil membaca laporan kebun teh yang baru saja diserahterimakan kepadanya untuk ditandatangani. Ia tampak lelah, seperti seseorang yang menua lima tahun dalam semalam.

Melisa Sundari berjalan masuk dengan langkah anggun buatannya—senyum manis yang selalu dipakai saat suaminya ada, senyum palsu yang sudah Nirmala kenali sejak dulu. Hari ini ia tidak melihat Nirmala, dan itu membuat wajahnya semakin cerah tanpa beban.

“Mas wira…” suara Melisa lembut, terlalu lembut hingga membuat siapa pun yang mengenalnya pasti curiga. “Aku mau bicara sesuatu. Penting.”

Wira menutup berkas itu. “Apa lagi, Melisa?”

Melisa duduk, merapikan ujung dasternya, dan memulai drama yang sudah ia latih di depan cermin.

“Mas… aku tahu Mas lagi sibuk soal pembagian aset itu. Aku juga tahu Nirmala sudah dewasa. Tapi aku ingin Mas mempertimbangkan kembali keputusan itu.”

Ia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca palsu. “Aku ini yang mengurus dia dari kecil, Mas… dari umur sepuluh tahun. Bukankah aku sudah seperti ibunya?”

Wira menahan helaan napas. “Melisa, kamu mengurus Nirmala memang betul. Tapi keputusan sudah aku putuskan. Semua harta yang dari keluarga ibunya… kembali pada Nirmala.”

Melisa langsung menggigit bibir, pura-pura tersinggung. “Jadi, semua usaha aku selama ini tidak berarti apa-apa? Mas cuma lihat dia? Putri kandung Mas? Lalu aku… aku siapa?”

“Jangan mulai drama pagi-pagi.”

Nada wira berubah tegas. Jarang sekali ia marah, tapi topik ini selalu membuatnya bergetar. “Kamu sudah hidup nyaman bertahun-tahun dari perkebunan ini. Kamu tidak kekurangan apa pun.”

“Tapi aku… aku ingin masa depan Aurelia terjamin!” Melisa mulai menaikkan suara, meninggalkan topeng manisnya. “Dia juga anak Mas!”

“Dia anakmu,” koreksi Wira pelan namun dingin. “Aku sudah membesarkannya, iya. Tapi warisan ibunya Nirmala tidak ada hubungan dengan kalian.”

Jawaban itu seperti minyak panas yang disiramkan ke api. Melisa terdiam beberapa detik, namun matanya memancarkan kebencian yang tidak lagi ia sembunyikan.

“Ini keputusan akhir?” tanya Melisa dengan suara datar.

“Ya.”

Melisa bangkit. “Baik. Kalau begitu… jangan salahkan aku kalau aku cari hakku dengan cara lain.”

Wira hendak menjawab, tapi Melisa sudah pergi. Bunyi hak sepatunya bergema melewati ruangan rumah.

---

Melisa memasuki kamarnya dengan langkah cepat. Aurelia, putrinya yang berusia dua puluh tiga tahun, sedang duduk di depan meja rias, merapikan make-up.

Rambutnya tergerai panjang, wajahnya cantik tapi dengan sorot congkak yang mirip ibunya.

“Gimana, Mama? Ayah mau kasih kita bagian?” tanya Aurelia tanpa menoleh.

Melisa membanting pintu hingga Aurelia terlonjak kaget.

“Anak itu! Anak sialan itu!” Melisa memukul meja. “Semua harta jatuh ke tangannya. Semuanya, Lia! Tidak ada satu sen pun untuk kita!”

Aurelia berbalik. “Terus kita gimana? Kita nggak mungkin hidup cuma dari jatah bulanan yang Ayah kasih!”

“Makanya…” Melisa duduk, memegangi rambutnya frustasi. “Kita butuh rencana.”

“Rencana apa?” Aurelia mendekat.

“Nyuri?” tanyanya setengah berbisik.

“Lebih dari itu.”

Melisa menatap putrinya, wajahnya berubah gelap. “Selama Nirmala hidup… Mas wira tidak akan pernah merubah keputusan pembagian aset itu.”

Aurelia menatap ibunya lekat-lekat. “Maksud Mama…?”

Melisa tak langsung menjawab. Bibirnya melengkung, membentuk senyum paling menakutkan yang pernah Aurelia lihat dari ibunya.

“Jika Nirmala hilang… semua akan kembali ke Mas wira. Dan kalau Mas wira hilang juga… siapa yang tersisa?”

Ia memegang dagu Aurelia.

“Kita.”

Aurelia memalingkan wajah, sedikit takut. “Mama… itu gila.”

“Tidak ada yang gila soal memulihkan hak yang harusnya kita dapat.”

Melisa berdiri lagi, membuka laci rahasia di lemari dan mengeluarkan sebuah kartu nama.

Nama di kartu itu tertulis jelas:

“Roy Sembara – Problem Solver”

Nomor tak dikenal, tanpa alamat.

Aurelia menelan ludah. “Mama… itu orang yang dulu… yang waktu itu mau… beli Nirmala?”

“Ya.” Melisa tersenyum puas. “Dia masih beroperasi. Lebih besar. Lebih kuat. Dan dia masih dendam karena gagal ambil Nirmala dulu.”

Aurelia menggelisah. “Tapi Mama mau kerja sama sama dia? Itu berbahaya…”

“Lia…” Melisa mendekat, menepuk bahu putrinya lembut. “Bahaya itu cuma untuk orang miskin. Kita ini calon pewaris. Yang penting, Nirmala harus disingkirkan. Sesimple itu.”

Aurelia masih ragu. “Terus Ayah? Mama bilang dia juga—”

Melisa mengibaskan tangan. “Mas wira itu lemah. Mudah dikendalikan. Tapi kalau nanti dia mulai mencurigai kita… ya kita sesuaikan keadaan.”

Ia tersenyum tipis. “Harta jauh lebih penting daripada laki-laki rapuh.”

Aurelia akhirnya mengangguk pelan, meski wajahnya tetap ketakutan.

“Kapan Mama mau hubungi orang itu?”

“Sekarang.”

---

Melisa keluar rumah menuju mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. Ia menggenggam kartu nama itu, lalu menekan nomor di ponselnya. Dering panjang terdengar, lalu terhubung.

Suara berat pria menjawab.

“Siapa?”

Melisa mengatur napas, menyamakan nada suaranya menjadi dingin.

“Seseorang dari masa lalu.”

Hening beberapa detik. “Sebutkan.”

“Melisa Sundari.”

Suara di telepon langsung berubah kalem, dengan nada geli.

“Ah… perempuan ambisius dengan anak tiri yang dulu gagal kami ambil. Tumben muncul.”

“Karena aku punya penawaran.”

“Apa?”

Melisa tersenyum ke arah kaca mobil, menatap refleksi wajahnya sendiri.

“Aku butuh seseorang hilang.”

“Anak tiri itu?” tanya pria itu cepat.

“Ya. Dan mungkin… suamiku juga.”

Suara pria itu tertawa pelan. “Harga dua nyawa tidak murah.”

“Aku tahu.”

Melisa membuka tasnya dan mengeluarkan kunci brankas.

“Aku punya sesuatu yang cukup untuk membayar.”

Suara di telepon berubah lebih serius.

“Kirimkan lokasi. Aku datang malam ini.”

Sambungan terputus.

Melisa bersandar, menutup mata dengan senyum puas.

“Selamat tinggal, Nirmala,” bisiknya. “Kamu sudah terlalu lama menghalangi masa depan aku.”

Assalamualaikum selamat pagi

Jangan lupa like komen nya ya

selamat membaca..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!