Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran Melawan Binatang Spiritual
"Sebaiknya kalian segera melarikan diri dari tempat ini atau setidaknya berlari ke area bekas tempat tinggal penduduk," ucap Vincent memperingati tim pengangkut barang.
"Hei Bung... Apa kau menyuruh mereka melarikan diri?!" Tegur kesatria yang ditugaskan melindungi tim pengangkut barang.
"Tuan kesatria. Lihatlah situasinya sekarang, bukankah lebih baik menjauhkan tim logistik agar tidak menjadi beban saat pertarungan? Baru setelah situasinya kondusif kita bisa kembali kemari."
Mendengar alasan yang masuk akal, ia pun melakukan transmisi suara dengan kesatria Sergei selaku seniornya dan menjelaskan alasan yang disampaikan oleh Vincent padanya.
"Dia benar. Suruh semua tim logistik untuk mundur ke area penduduk terdekat, tapi harus ada satu prajurit yang bertugas menemani mereka. Dan untukmu Fred, segera bergabung denganku kemari. Kita akan melakukan formasi tombak pemecah gelombang," perintah kesatria Sergei.
"Aye aye kapten!" jawab kesatria Frederick dengan tegas. Ia adalah kesatria tingkat tiga lain yang tingkat kultivasinya berada di spirit tahap satu puncak dan merupakan tandem Sergei dari dulu.
"Prajurit Dong! Kau bertugas menemani tim logistik, pergilah berlindung dan setelah situasi kondusif segeralah merapat," perintah kesatria Fred.
"Siap laksanakan!"
"Woi... Sampah! Mau kemana kalian?!" Teriak Ah Jun ketika melihat tim logistik mundur ke reruntuhan dinding.
"Tuan Jun biarkan saja. Mereka cuma tim logistik yang hanya akan menghambat kita dan akan sangat merepotkan jika mereka semua mati," ucap kesatria Sergei.
"Dan untuk kalian para pemburu bayaran, aku akan berbaik hati memberikan benda ini." Ia melemparkan botol kecil ke sisa pemburu bayaran.
"Apa ini tuan kesatria?" tanya salah satu pemburu saat menggenggam benda yang baru diterimanya.
"Itu adalah pil darah-"
"Pil darah?"
"Tsk... Dasar kampung. Pil darah adalah ramuan yang mampu meningkatkan kekuatan bertarung kalian selama tiga jam," ucap Ah Jun. Mendengar penjelasannya kelompok pemburu bayaran tanpa ragu langsung meminum pil tersebut. Mereka pun langsung mengalami perubahan yang signifikan.
"Haha... Ini benar-benar ajaib, kekuatanku meningkat drastis dan semangatku begitu menggelora."
"Anda berhutang satu pada saya tuan Sergei," bisik Ah Jun tersenyum licik.
"Hmm... Akan saya bayar lunas setelah kita berhasil menaklukkan goa lumut," timpal kesatria Sergei. Para pemburu bayaran tidak mengetahui ada efek samping dalam mengkonsumsi pil darah salah satu efek berbahayanya adalah tubuh mereka akan mengalami kaku dan lebih parahnya jika mengkonsumsinya dalam jumlah banyak bisa membuat tubuh membatu secara permanen.
Maka dari itu pemakaiannya sangat terlarang dan hanya diperuntukan kepada seorang budak yang menjadi bahan eksperimen, kecuali dalam keadaan darurat setiap prajurit atau murid akan dipaksa mengkonsumsi demi kepentingan yang lebih besar. Maka dari itu ramuan pil darah hanya diketahui dan dimiliki oleh pihak kerajaan serta sekte besar saja.
Kemudian kesatria Sergei berteriak lantang membakar semangat orang-orang yang tengah dikuasa oleh nafsu membunuh yang bergejolak. "Tim pemburu pergilah ke sisi kanan dan mengamuk lah sesuka kalian. Siapa saja yang berhasil membunuh binatang spiritual, bagian-bagian yang menguntungkan milikilah sesuka hati."
Lalu ia melirik ke arah lima murid sekte kabut. "Tuan Jun. Sebelah mana yang akan anda pilih?"
"Haha... Saya jadi benar-benar malu karena kemarin begitu lancang mengambil posisi pemimpin. Ternyata saya baru sadar pengalaman anda memang lebih jauh dibandingkan saya," ujar Ah Jun memuji kinerja kepemimpinan kesatria kerajaan tersebut.
"Meski kelompok kami lebih sedikit dari prajurit karesidenan, tapi dalam hal kultivasi kelompokku lebih unggul dari kelompok lain yang ada saat ini. Maka dari itu kami akan menumpas hewan liar sebelah kiri yang terlihat lebih kuat dari hewan liar lainnya. Jadi dua sisi lain yang terlihat lebih sedikit dan lemah akan kami serahkan pada pasukan anda yang cukup berpengalaman," lanjutnya dengan senyum menyebalkan. Ternyata sifat merendahkannya tidaklah berubah sama sekali.
Sebelum melesat pergi ke sisi kiri Ah Jun melapisi kedua tangannya dengan aura, kemudian berteriak penuh semangat. "Waktunya berburu anak-anak!"
"Gasken tuan muda!" jawab serempak keempat bawahannya yang juga mulai mengeluarkan aura mereka masing-masing.
"Tsk... Dari awal saya tidak suka dengan mereka," keluh kesatria Fred yang geram dengan tingkah sombong kelompok ah Jun.
"Tenangkan dirimu Fred. Untuk saat ini kita harus menahan diri dengan tingkah kurang ajar para sekte pelindung kerajaan Serena," ucap kesatria Sergei. Kesatria Fred pun mengerti dengan maksud perkataan seniornya.
"Baiklah... Jangan buang-buang waktu lagi! Ayo kita gunakan formasi tombak pemecah gelombang."
"Kesatria Fred! Kau pimpin tim B untuk menghadapi gelombang dari arah belakang dan tim A ikutlah denganku untuk meredam gelombang binatang spiritual dari depan."
Dentuman senjata disertai pukulan berlapiskan aura beradu dengan cakar dan taring para binatang spiritual, raungan dan teriakan dua kelompok makhluk berbeda rupa tersebut semakin terdengar memenuhi area depan hutan bukit lumut.
"Kau cukup tangguh untuk ukuran seekor anjing liar," ucap Ah Jun yang menghadapi serigala bertaring seperti pedang yang merupakan binatang spiritual tingkat tiga. Ia sengaja memisahkan diri untuk melawan yang terkuat diantara binatang spiritual lainnya.
"Karena kau berhasil menghancurkan armor aura milikku. Akan kupastikan kepalamu itu berada di dinding kamarku," lanjutnya dengan wajah geram. Ia mulai melakukan gerakan tangan dengan cepat, kemudian aura dalam dirinya meledak membumbungi tinggi dan membentuk banteng setinggi lima puluh meter. Ah Jun kembali melesat penuh semangat ke arah serigala bertaring pedang.
DESTROYING BULL
Bukannya takut sang serigala justru menggertakan taring dan kembali mengeluarkan cakar tajamnya yang bisa mengeluarkan listrik. Ia pun menyambut pukulan Ah Jun dengan meloncat ke arahnya.
BAMM
Dua pukulan berenergi kuat saling berbenturan menciptakan ledakan besar sampai menimbulkan angin kencang dengan debu berterbangan ke segala penjuru yang membuat beberapa pohon tumbang.
Serigala bertaring pedang terpental cukup jauh dan menabrak beberapa pohon, sementara Ah Jun terdorong sekitar dua puluh meter kebelakang darah terlihat mengalir dari bibirnya dan bersiap melakukan serangan berikutnya.
MOUNTAIN RIPPING HORNS
BAMM
Dua pukukan kembali beradu, namun kali ini Ah Jun yang unggul dan berhasil membunuh binatang spiritual tingkat tiga.
"Tsk... Keras kepala juga kau badjingan sampai membuatku harus mengeluarkan dua jurus terkuatku," ucap Ah Jun dengan nafas yang kembang kempis efek kelelahan akibat terlalu banyak mengeluarkan aura dalam pertarungannya.
"Sial... Sepertinya aku harus istirahat sejenak, energiku terkuras cukup banyak," lanjutnya.
Sementara tim logistik bersembunyi dibalik reruntuhan bangunan yang cukup jauh dari arena pertempuran. Mereka hanya melihat pertarungan dengan tatapan kagum sekaligus ngeri.
"Baru kali ini aku melihat pertempuran sebenarnya. Sungguh mengagumkan, terutama tuan muda dari sekte kabut itu. Meski angkuh tapi tidak dapat disangkal kekuatannya sangat hebat," ucap salah seorang tim logistik yang mengintip dibalik reruntuhan.
"Hei... Apa yang dia lakukan di sana?" tanya teman disampingnya yang ikut mengintip dari balik batu, namun ia terkejut saat melihat Vincent yang tengah duduk santai di sebatang kayu kayu roboh yang tidak jauh dari tempat pertarungan dan tingkahnya itu membuat heran tim logistik lainnya
"Bukankah dia orang yang menyarankan kita untuk menjauh?"
"Ya dia orangnya, tapi kenapa ia hanya diam dan malah asik menonton."
"Biarkan saja jika itu kemauannya, kalian harus tetap fokus dan waspada" ujar prajurit Dong cukup kesal dengan tingkah Vincent yang memang sedari awal melewati gerbang terlihat tidak ada rasa waspada sama sekali.
"Hmm... Setelah dua tahun tidak bertemu ternyata perkembangan si tukang bully cukup pesat juga ya," ucap Vincent ketika melihat pertarungan Ah Jun dari tempat duduknya.