Saat ia terbangun pertama kali ia mendapati dirinya telah melakukan perjalanan waktu kezaman kuno. Yang lebih membuat dirinya terkejut ia tidak hanya terlempar kezaman biasa, tapi zaman Ajaib yang membuat dia sangat takjub.
"Mereka bukanlah manusia biasa, tapi manusia serigala?"
Saat ia masih belum terbiasa untuk hidup dizaman ini cobaan malah datang silih berganti. Abella tidak hanya harus membatu kakaknya yang tiba-tiba kehilangan kekuatannya, tapi dia juga harus menghadapi kegilaan pangeran dari bangsa jin. Belum lagi para siluman dan Iblis yang selalu memburunya.
Gadis yang dulu dianggap lemah entah sejak kapan menjadi keinginan semua orang.
Mampukah ia menjalani hidup barunya?
Simak terus cerita author ya, semoga membantu pembaca terhibur 🙏😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghentikan perjodohan
Saat semua orang pergi melakukan tugasnya, Abella akan diminta untuk menjaga sang kakak. Saat sepi seperti ini ia akan mengunakan beberapa pengetahuannya di kehidupan sebelumnya untuk membatu merawat luka Oscar.
Abella menumbuk beberapa daun herbal untuk dijadikan obat, lalu dengan hati-hati mengoleskannya di beberapa bagian tubuh sang kakak yang terluka.
"Dia benar-benar hebat. sudah dilukai begitu parah tapi masih bisa bertahan, aku rasa dia benar-benar pejantan tangguh." abella terkekeh kecil setelah mengucapkan kalimat terkahir. Berhubung ia tahu Oscar juga manusia serigala itulah mengapa ia mengucapkan hal itu.
"Sepertinya kau sangat bahagia?"
Suara bisikan seseorang mengagetkan Abella. Gadis itu mencoba mencari sumber suara itu berasal, tapi lagi-lagi ia tak menemukannya.
Angin dingin berhembus menerpa wajahnya, ia secara tak sadar dibuat merinding. apalagi suasana yang begitu sepi di dalam rumah gubuk itu, Abella merasa tubuhnya mulai bergetar ketakutan.
'Sial, apa itu hantu?'
Ia tahu dunia ini memang aneh, semua yang tak sesuai logikanya ia temukan di sini. Tapi tetap saja ia tak bisa terbiasa, "Mengapa ibu lama sekali,"
Ia ingin berdiri dan kabur dari sana, tapi sesaat ia menyadari tubuhnya tak lagi bisa digerakkan.
Apa yang terjadi?
Secara naluri ia merasakan seseorang pasti telah datang dan memantrainya. Abella kembali mencoba mengerjakan tubuhnya lebih keras, tapi tetap saja tak berhasil.
"Makhluk jelek, sialan! lepaskan aku!" makinya kesal.
Tapi lagi-lagi hanya keheningan yang menjawab. Hanya hembusan angin dingin berhembus membuat suasana semakin membeku.
Berlahan rasa dingin mulai menghilang setelah, Abella merasa sesuatu tengah menyelimuti dirinya, ia juga merasakan sepasang tangan kekar memeluk dirinya.
'apa aku sedang berhalusinasi?'
Tapi rasa hangat itu benar-benar nyata. Berlahan matanya mulai terasa berat, Abella tak mengerti mengapa tapi ia merasa sangat mengantuk dan langsung jatuh terlelap.
Saat ia terbangun keesokan harinya ia melupakan segalanya.
****
Matahari telah berubah hingga, bayang-bayang mulai menghilang pertanda senja akan datang.
Seorang gadis duduk termenung di tepi danau yang jernih, ia terlihat memikirkan banyak hal sampai membuat keningnya berkerut dalam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan ditepi sungai sendirian?"
sesosok laki-laki bertubuh besar dan berwajah dingin muncul di sampingnya. Abella tak terusik, meskipun tak terlalu mengenal pria disampingnya.
"Bukan urusanmu, tuan Dallen." ujarnya malas.
Laki-laki yang telah dipilih ayahnya malam itu, Abella tak berniat untuk lebih ramah pada pria itu.
"Ya, memang bukan urusan ku. Tapi kau sedang berada di wilayah kekuasaanku, Nona Abella!" Ujar tuan Dallen tak senang.
Abella menarik pandangannya dari luasnya danau yang terlihat begitu indah, lalu ia menoleh berganti menatap Dallen yang masih berdiri kokoh di sebelahnya.
"Semua ini adalah milik Tuhan, kau tidak bisa mengusir ku."
Tuan Dallen mendengus dingin, "aku bisa mengusir siapapun."
"Kalau begitu aku akan mengadukan mu pada ayahku."
Abella tahu, meskipun ia lemah tapi ia bisa mengandalkan ayahnya. Tuan Dario memiliki kekuatan yang besar, beberapa kali mengalahkan pemimpin dari suku lain dengan mudah, itulah mengapa dia sangat dihormati.
"Manusia lemah sepertimu memang hanya bisa mengadu," ujarnya sinis.
Tapi Abella tak ambil pusing, ia tidak peduli dengan tatapan dan ucapan merendahkan yang Dallen lontarkan. Ia kembali melamun, memikirkan beberapa hari sebelumnya ia kerap kali bermimpi yang aneh, hal itu benar-benar telah membuatnya terganggu.
"Tuan Dallen, apa kau benar-benar menerima perjodohan yang ayahku berikan?"
"Mengapa kau bertanya?"
"Hanya penasaran," ujarnya jujur.
Abella pikir Dallen adalah orang yang sulit diajak bicara, tapi ternyata tidak juga. Meskipun dia berbicara terdengar ketus dan sini, tapi tetap saja dia membalas pertanyaannya.
"Mungkin tidak." jawaban yang sudah di duga Abella, tapi tetap saja membuat gadis itu penasaran dengan alasannya.
"kenapa? maksudku mengapa kamu menolaknya begitu saja, apa tidak kau pertimbangkan dulu?" Apa ia begitu dihindari oleh laki-laki lajang di semua suku? apa menikah dengannya begitu menakutkan?
"Karena kau lemah. Maaf, tapi aku harus mengatakannya. Kau gadis lemah yang bahkan tak memiliki sedikitpun kekuatan, sedangkan aku... Aku adalah Tuan muda di sukuku yang memiliki kekuatan yang besar. Jika aku menikahi mu, itu hanya menjadi beban dan Aib."
eh...
Sialan!
Ia merasakan sakit hati saat pemuda itu terang-terangan mengatakan dirinya aib. "Sialan kau! Dasar serigala jelek, apa kau pikir aku juga mau menikahi laki-laki jelek seperti mu? tidak! lebih baik aku hidup sendiri dari pada hidung denganmu manusia jadi-jadian."
Abella memaki dengan keras. Lalu ia berdiri di atas batu tempatnya duduk, menatap tajam pemuda yang sepertinya juga emosi setelah ia maki itu. Lalu ia memilih pergi, sudah waktunya ia kembali ke desa sukunya sendiri, ayahnya pasti sudah menunggu.
...
..
.
Tuan Dario menanti putrinya kembali dari danau. melihat sang putri pulang dengan wajah merenggut ia mengerutkan keningnya panuh tanda tanya.
"Ada apa denganmu?"
"Ayah, aku tidak ingin berpasangan dengan tuan Dallen." ujarnya terang-terangan, meskipun di samping ayahnya juga ada kebapa suku Dale.
"Eh, kenapa?"
"Dia menghina ku, dia juga bilang aku tidak pantas menjadi pasangannya."
Apa dia akan diam saja? tentu saja tidak, ia ingin ayahnya mencakar wajah Dallen agar rasa sakit hatinya terbalas.
Tapi melihat ayahnya hanya diam saja membuat gadis itu semakin melipat bibirnya dalam,
"huh... ayah juga membela pemuda itu. sekarang aku harus bagaimana menghentikan perjodohan ini?"