Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sudah empat bulan berlalu, namun polisi masih belum menemukan siapa pembunuh Kimberly yang sebenarnya. Sebagian dari mereka justru memilih menyerah dengan kasus ini.
Edward baru selesai dari ritual mandi paginya. Dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil pakaiannya.
Saat dia mengambil pakaiannya, tiba-tiba ada sebuah benda berukuran kecil jatuh dari dalam lemari.
"Anting?"
"Ini bukannya anting yang ada di kuburannya bunda Venny waktu itu?"
Edward merasa heran bagaimana anting itu bisa berada di dalam lemari pakaiannya. Apakah waktu itu Kimberly membawanya pulang?
Pada pagi hari ini, sebelum pergi ke kantor, dia berniat untuk mengunjungi makam istrinya.
Singkat cerita, dia sudah berada di area pemakaman. Dia meletakkan buket bunga di sisi kuburan istrinya tersebut.
Seketika hari berubah menjadi sangat gelap dengan disertai terdapat banyak petir dan kilat yang menyambar.
Tiba-tiba saja hari yang cerah tadi kini berubah menjadi hujan deras. Sangat deras. Bahkan kilat juga menyambar dimana-mana.
Edward tidak bisa berlama-lama berada di sana. Dia justru berdiri dan ingin langsung pulang ke rumah karena pakaiannya tentu sudah basah semua.
Kilat menyambar ke dekatnya. Dia merasa sedikit takut dengan sambaran kilat tadi. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kuburan Kim terbuka kembali dan kosong.
Kuburan itu tidak berisi apapun. "Ini kuburannya Kim, kan? Dimana jenazahnya dia? Kenapa bisa kosong seperti ini?" gumamnya di tengah-tengah hujan deras.
Entah kenapa tiba-tiba tubuhnya seperti ada seseorang yang mendorongnya. Dia terjatuh dan tersungkur. Lalu diseret hingga ia masuk ke dalam kuburan yang kosong itu.
"Argghh!! Apa-apaan ini? Tolong!!!" teriaknya.
Tidak ada yang bisa mendengar teriakannya dikarenakan bunyi hujan sangatlah deras. Edward tidak bisa bergerak saat berada di dalam kuburan itu.
Tanah-tanah di atas mulai menutupi sebagian tubuhnya. Itu membuatnya menjadi semakin panik dan takut.
"Tolong!!"
"Kim, tolong jangan lakukan ini! Ini bukan salahku! Aku tidak berniat ingin membunuhmu, Kim! Aku tidak salah. Tolong jangan kubur aku hidup-hidup seperti ini."
Tiba-tiba tanah itu berguncang dengan hebatnya dan mengeluarkan Edward dari sana secara kasar. Dia terpental ke atas.
Seragamnya kini sudah berlumuran dengan tanah kuburan. Wajahnya juga sudah penuh dengan tanah.
Saat itu juga ada sosok yang mencekik lehernya dengan sangat kuat. Bahkan lelaki itu menjadi kesulitan untuk bernapas.
Namun, dia tidak bisa melihat siapa yang mencekik lehernya. Dilihatnya tidak ada siapapun di sana.
Itulah yang tidak ia ketahui. Bahwa yang mencekiknya saat ini adalah hantunya Kim yang tak kasat mata.
"Kamu hanya menginginkan hartaku saja! Kamu benar-benar laki-laki tidak tau diri! Dikasih hati malah minta jantung! Kau membunuhku dan sekarang menikmati harta yang seharusnya menjadi milikku jika masih hidup!"
"Maaf, Kim. Aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya ingin hartamu. Tapi, sungguh rencana awal aku ingin membunuhmu bukan seperti itu. Aku seperti dirasuki oleh seseorang, Kim." ucapnya dengan terbata-bata.
Seketika hujan berhenti dan Edward kini terbangun dari tidurnya di tepi kuburan. Napasnya tak beraturan.
"Ternyata ini hanya mimpi. Kenapa juga aku bisa sampai tertidur disini? Bahkan hari ini tidaklah hujan deras seperti di mimpiku barusan."
...****************...
Edward telah pergi ke kantornya. Dia akan melihat proses pemotretan Michelle pada pagi hari ini.
Gadis itu menyambut kehadirannya dengan sangat baik. "Selamat pagi, Pak Edward." sapanya.
"Pagi. Panggil saja aku Edward. Aku tidak ingin dipanggil pak olehmu."
"Baiklah"
"Kapan pemotretannya dimulai?"
"Oh, sebentar lagi. Mari silakan duduk."
Edward mengamati Michelle saat sedang dipotret. Gadis itu terlihat sangatlah cantik. Dia rasanya ingin mencium gadis itu saat ini juga.
Namun, tiba-tiba dia melihat ada sosok dengan wajah datar atau blank face berada di belakang gadis yang sedang berpose untuk difoto tersebut.
Edward mengernyitkan keningnya. Makhluk itu sangatlah menyeramkan. Ukuran tubuhnya juga jauh lebih besar dari manusia normal pada umumnya.
Namun, ia segera menepis bahwa penglihatannya tersebut adalah salah. Dia mengucek-ngucek matanya.
Setelah ia lihat lagi ternyata yang benar saja makhluk itu sudah tidak ada lagi di sana.
Setelah selesai pemotretan, Michelle kini sedang bersama Edward di ruang kerja lelaki itu.
"Gaya fotomu sangat cantik dan menarik. Tapi, kau memang sudah lama berlatih untuk hal itu. Bahkan sejak SMA."
"Apa hanya gaya fotoku saja yang menarik di matamu? Tidakkah dengan tubuhku?"
Dia mendekati lelaki itu dan merangkul pundaknya. "Keduanya." jawabnya singkat.
Akhirnya mereka berdua hanyut dalam suasana. Mereka berhubungan intim di dalam ruang kerja tersebut.
Permainan Edward sangatlah energik dan lincah. Michelle menikmati setiap sentuhan yang lelaki itu berikan kepadanya.
Setelah melakukannya tiga ronde, Edward kini sudah terbaring di samping Michelle. Walau hanya melakukannya di atas sofa, namun mereka dapat merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Tubuh keduanya masih dalam keadaan sesama bugil. Saat Edward ingin menyusu dengan gadis itu, tiba-tiba saja yang dilihatnya bukanlah Michelle.
Melainkan orang lain namun sangat ia kenali. Dia adalah Kimberly. Mata Edward terbelalak sempurna. Dia menjauhkan mulutnya dari kedua gunung kembar milik gadis itu.
Michelle yang melihat ekspresi wajah Edward yang tidak biasa itu merasa heran mengapa lelaki itu mengurungkan niatnya.
"Kenapa tidak jadi?"
"K-Kim?" tanyanya terbata-bata.
'Kim? Apaan sih. Di saat lagi berhubungan denganku dia malah mengingat nama itu.' batin Michelle.
"Ini aku Michelle bukan Kim. Tolong jangan sebut nama dia saat kita sedang bersama. Kamu harus menghargai perasaanku." ucapnya tidak terima.
"Tapi kamu memang Kim, kan?"
"Apa kamu ingin berhubungan denganku karna yang kamu lihat aku ini adalah Kimberly? Padahal aku Michelle."
Dia segera membuat tubuh lelaki itu kembali menempel dengannya. Kemudian menautkan bibirnya dengan bibir lelaki itu yang selalu membuatnya candu.
Sementara Edward seperti orang hilang kesadaran. Dia tidak merespon apa-apa setiap sentuhan yang diberikan oleh Michelle. Dia hanya diam saja.
Dia meremas bagian bawah lelaki itu. Edward merasa tidak nyaman dan akhirnya dia menghentikan pergerakan Michelle.
Dia berdiri dan kembali memakai pakaiannya. Michelle dibuat heran dengan perubahan sikapnya.
"Edward sayang, kamu kenapa?"
Dia cepat-cepat memakai pakaiannya. Dan kini menghampiri Edward yang sudah duduk di kursi kerjanya.
"Sayang, kamu tampan sekali kalau sedang acak-acakan seperti ini. Aku jadi semakin tergila-gila denganmu." dia menciumi wajah lelaki itu.
Tiba-tiba pikiran lelaki itu telah kembali seperti semula. Dia dapat merasakan sakit di kepalanya.
"Kamu kenapa sayang?"
"Michelle?"
"Iya, ini aku Michelle."
"Kepala aku sakit sekali. Maaf tadi sepertinya aku berubah jadi aneh."
"It's okay. Seaneh apapun itu kamu aku akan tetap mencintaimu." dia mengecup kening lelaki itu.
Sementara itu, Sisca sedang menonton acara talk show di televisinya. Dia bersantai-santai pada hari ini dikarenakan sedang tidak ada pekerjaan.
Kebetulan malam nanti dia akan pergi ke rumahnya Michelle yang berada di kota J. Dia sudah menyiapkan barang-barangnya sedari pagi tadi.
Saat ia menonton televisi, tiba-tiba ada makhluk blank face keluar dari televisi. Ukuran tubuh makhluk itu lebih besar daripada manusia normal pada umumnya.
Dia sangat menyeramkan. Sisca mundur ke belakang hingga tubuhnya mentok ke dinding. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.
Makhluk itu semakin berjalan mendekatinya. "Tolong!!"
"Hush, sana pergi menjauh! Jangan mendekat!!" ucapnya ketakutan. Dia mengusir makhluk itu seperti mengusir ayam kampung.
"Siapapun itu tolong bantu aku dari makhluk menyeramkan ini!!!" dia bahkan kencing di celananya sendiri.
Makhluk itu sudah sangat dekat dengannya. Dan kemudian ia memegang kepala gadis itu. Kepalanya terasa seperti ingin dilepaskan dari tubuhnya.
"Akh!! Sakit sekali, tolong!!!"
Makhluk itu menariknya dengan sangat penuh energi. Sehingga rasanya kepalanya sedikit lagi akan terlepas. Dan, arghh! Kepalanya dia...