Namanya Nadinda Aulya Putri. Seorang gadis cerewet yang mencoba mencari cintanya. Kehidupan kakaknya menjadikannya cermin untuk dirinya mencari pasangan hidup.
Nadin di pertemukan oleh seorang pria dingin yang berhasil membuat hatinya ingin memiliknya.
Begitu banyak perjuangan dan tantangan yang harus dia lalui untuk mendapatkan tambatan hatinya.
"Aku menyukaimu ...." teriak gadis itu. membuat pria yang hendak meninggalkannya itu berhenti. Pria beda usia sepuluh tahun itu telah membuatnya mengalah dari egonya.
"Ya ...., apa kau dengar ...., aku sungguh menyukaimu ..." teriak lagi gadis itu setelah pria itu berbalik menatapnya. Pria dewasa yang usianya kini sudah tiga puluh dua tahun, cukup matang untuk membina rumah tangga.
"Ciihhh ....., menyukaiku ...." ucap pria itu dingin.
"Aku akan membuktikannya padamu, bahwa aku pantas mendapatkan cintamu." ucap gadis itu yakin.
"Apa yang kau punya, hingga membuatmu seyakin itu?" tanya pria itu.
"Aku punya hatiku, aku punya keyakinan ...., apakah itu belum cukup ...?"
"Kalau begitu, buktikan ...., buat aku tertarik padamu ...." ucap pria itu lalu berbalik meninggalkan gadis itu seorang diri. gadis itu adalah Nadin.
Setelah pria itu pergi. Nadin hanya bisa menjatuhkan tubuhnya di tanah. ia terduduk dengan lemas. seakan tulang-tulang nya tak mampu ia gunakan untuk menopang tubuhnya.
"semenyedihkan inikah aku ......, aku benci ...., kenapa harus menyukainya ...., aku benci .....!" teriak Nadin meluapkan kekesalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cintai Aku
Nadin begitu
terkejut saat di beri kabar oleh kakaknya, jika kakaknya kini tinggal di rumah
kontrakan. Tapi atas permintaan kakaknya, ia tidak boleh memberi tahu ayahnya.
Pagi ini ia
tidak ada jam kuliah. Walaupun begitu ia sudah bersiap-siap. Roy yang melihat
putrinya sudah rapi, menghampiri putrinya. Roy bukan orang tua yang hanya diam saja tanpa mencari tahu keseharian istrinya, bahkan Roy sangat hafal semua jadwal kuliah putrinya itu.
“Sayang ...,
mau kemana sepagi ini? Bukankaah hari ini tidak ada kuliah?” tanya Roy sambil
menghampiri putrinya yang mengenakan sepatu flat nya di ruang keluarga.
“Ayah ..., aku
harus bertemu dengan teman yah ..."
"Dengen Dio?" tanya Roy.
"Bukan Ayah ..., aku bertemu dengan Dini, nggak mungkin lah yah aku menemui kak Dio."
"Iya ..., ayah percaya ..., Ayah nggak mau jika kamu terlalu dekat dengan Dio. Dia sepertinya tidak terlalu baik."
"Iya ayah ...,maaf ya hari ini tidak bisa bantu ayah. Tapi
Nadin janji lain kali aku bakalan bantu ayah.” Ucap Nadin panjang lebar.
Membuat ayahnya hanya tersenyum dan mengacak rambutnya yang sudah di sisir
rapi.
“A-yah ...,
kebiasaan deh ..., aku sudah cantik yah, jangan di berantakin lagi. Ntar kalau
aku ketemu sama pangeranku bagaimana? Emang ayah mau putri ayah di bilang
jelek.” Ucap Nadin sambil memberengutkan bibirnya.
“Emang pangeran
dari mana yang bakalan menghampiri putri ayah yang cerewet ini ....”
“Ayah ...,
jangan menggodaku pagi-pagi ya ..., tuh di depan di cari tante Nuri ...” Goda
Nadin pada ayahnya.
“Jangan ngaco
kamu ..., ayah gini-gini nggak suka sama yang lebay kayak Nuri tuh ...”
“Iya Nadin
percaya ..., ya udah Nadin berngkat dulu ya. Assalamualaikum ayah ...” Nadin
pun beranjak dari duduknya dan mencium tangan ayahnya.
“Waalaikum
salam. Hati-hati .., cepetan pulang.”
Nadin pun cepat
berlari sambil meraih helm nya. Ia mengendarai motor maticnya. Menuju ke
kontrakan Ara. Setelah berkendara selama tiga puluh menit. Akhirnya Nadin
sampai di depan kontrakan kakaknya.
Nadin segera
melepas helm yang ada di kepalanya. Ia menaruh helmnya di atas spion. Kemudian
mengamati rumah itu. Ia benar-benar tak percaya jika kakaknya tinggal di situ.
Kontrakan yang sempit. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Setelah melawan
keraguannya, akhirnya Nadin benar-benar mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
“mudah-mudahan
nggak salah rumah.” Gumam Nadin sambil menunggu pintu terbuka. Tak perlu
menunggu lama. Akhirnya pintu pun terbuka. Dan benar di depan pintu ada
kakaknya.
“Kakak ...”
Nadin pun segera memeluk kakaknya. “Kenapa kakak nggak ngasih tau aku atau ayah
jika kalian pindah ke sini. Kalian kan bisa tinggal di rumah ayah.”
“Nggak mungkin
kakak ngasih tahu ayah dek. Lagian kak Agra juga nggak akan setuju. Kamu pagi-pagi sudah kesini, nggak kuliah?”
“Ntar siangan
kak. Nggak ada jam. Cuma mau nyari referensi aja di kampus.”
“Ya udah ...,
masuk dek ...” Ara mempersilahkan nadin masuk. Nadin pun segera masuk dan
menyusuri kontrakan kakaknya. Ara henya mengikutinya dari belakang.
“Kakak lagi
apa? Kok baunya enak sekali ...?” tanya nadin saat hidungnya mencium bau yang
tidak asing dan begitu menggugah selera.
“oh iya ....,
nih kakak lagi buat cemilan. Cobain dek ...” Ara menyodoran satu nampan cemilan
di meja dapurnya. Dengan cepat Nadin mengambilnya dan memasukkan kedalam
mulutnya.
“Masih panas ,
Dek ..., pelan-pelan aja ...” ucap Ara saat melihat Nadin beberapa kali
mengipasi mulutnya karena kepanasan.
“Uah..., uahhh
..., uahhh ..., ini enak sekali kak.” Ucap Nadin dengan mulut yang masih penuh
dengan makanan.
“Kakak harusnya
jualin aja kuenya ini. Ini beneran enak lo kak. Ntar aku bantuin deh kak
jualnya. Gimana?”
“Iya ya ...,
kakak kok nggak kepikiran ya ...”
“kakak mah
payah ...”
“Ihhhh ...,
jahat kamu dek ...”
Nadin pun
memfoto kue-kue hasil buatan kakaknya. Kemudian ia memfostingnya ke beberapa
medsos miliknya.
“Kak ...,
beneran nih ..., responnya positif. Banyak yang minta aku buat jualin.”
“Beneran dek
...?”
“Bener kak ...,
liat saja nih ...” Nadin pun menunjukkan ponselnya. “besok kita mulai jualan
aja kak. Aku bakalan ke sini pagi buat ambil pesenan temen-temen aku. Gimana
kak, kakak setuju kan?”
“Iya ..., besok
kakak bakalan buat ...”
“ya udah aku ke
kampus dulu ya kak ..., besok kita ketemu lagi.”
“Iya ...,
makasih ya dek ...”
“sama-sama kak.
Ya udah assalamualaikum.”
“Waalaikum
salam ...”
***
Seperti yang di
ucapkan pada kakaknya kemarin.Nadin pagi ini kembali ke kontrakan kakaknya
untuk mengambil kue. Nadin membawa kue-kue itu ke kampus dan menitipkannya di
kantin.
“Nad ....”
Nadin yang hendak ke kantin langkahnya segera terhenti. Saat seseorang
memanggilnya. Suaranya sangat familiar.
“kak Dio ...”
“kamu bawa
apa?”
“Ini ..., aku
bawa kue.”
“Kue ...?” Dio
tampak bingung. “Kamu jualan kue?”
“Iya ...”
“Kenapa?”
“Maaf kak ...,
aku ada kelas. Jadi aku harus antar ini ke kantin. Dan kembali ke kelas. Bye
...” Nadin pun segera meninggalkan Dio yang masih bingung.
Nadin terlambat
masuk ke kelas, gara-gara Dio. Ia sudah terlambat lima menit. Nadin
mengendap-endap hendak masuk. Tapi ternyata langkahnya kalah cepat dengan dosen
yang dengan cepat menatap ke arahnya.
“Siapa kamu?”
tanya dosen.
“Maaf pak. Saya
Nadin ..., saya terlambat.”
“Seperti
kesepakatan yang kita buat, sebelum memulai pembelajaran pada mata kuliah saya.
Siapapun yang terlambat. Bererti wajib menyalin materi yang ada di papan
sebanyak jumlah menit. Jadi karena anada terlambat lima menit, berarti anda
harus menyalinnya lima kali. Apa anda mengerti?”
“Mengerti pak
...”
“Silahkan duduk
...”
“Makasih pak”
“Mari kita
lanjutkan pembelajaran kita.”
Saat dosen
sibuk dengan penjelasannya. Nadin malah sibuk mengobrol dengan Dini.
“Lo dari mana
aja?” tanya Dini sedikit berbisik.
“Entar gue
ceritain. Pinjem catatan lo ...” Dini pun segera menyerahkan catatannya.
Bukannya mendengarkan penjelasan dosen selanjutnya. Nadin sibuk menyalin
tulisan-tulisan itu sebanyak lima kali.
Setelah jam
kuliah berakhir. Barulah Dini kembali menghampiri Nadin.
“Lo kenapa
terlambat?”
“tadi aku
ketemu dulu sama kak Dio.”
“kenapa lagi
dia nemuin lo? Bukankah kakak lo sudah nikah?”
“Iya ..., nggak
tau ...” akhirnya Nadin berhasil menyelesaikan hukumannya. “ ya udah aku ke
ruang dosen dulu. Ntar keburu pak Nathan pulang.”
“Ok ..., aku
tunggu di kantin ya ...”
“Ok ..., bye
...” Nadin pun berlalu meninggalkan Dini. Dengan langkah cepatnya Ia menuju ke ruang dosen. Ia
menyusuri lorong kampus, hingga sampai di ruangan paling ujung yang bertuliskan
Ruang Dosen.
“kok sepi ya
...” ucap Nadin. “seumur-umur baru kali ini masuk ruang dosen.”
Tok tok tok
“masuk ...”
Ada sahutan dari dalam, suara seorang perempuan, Nadin pun
segera masuk ke ruangan itu.
“Bu ..., saya
mau ketemu sama pak Nathan. Apa beliau masih ada?” tanya Nadin pada seoranmg dosen wanita yang sepertinya
bersiap-siap untuk pulang.
“masih di
ruangannya. Tapi sepertinya sedang ada tamu.”
“ya udah bu,
kalau gitu boleh aku nunggu di sini.”
“oh iya
silahkan ...”
“oh ..iya bu
.., ruangan pak Nathan yang mana ya?”
“itu ...” bu
dosen itu menunjuk pada sebuah ruangan yang pintunya hanya tertutup sebagian.
“ya sudah ..., ibu tinggal ya ...”
“iya bu ...,
makasih ...”
Setelah bu
dosen itu keluar dari ruangan. Nadin memilih untuk duduk di kursi besi yang ada
di ruangan itu. Tapi belum sempat ia mendudukkan bokongnya. Pintu yang sedari
tadi menjadi pusat perhatian terbuka. Nadin kembali berdiri.
“Pak Rendi ...” ucap Nadin tanpa suara, tapi mata mereka bertemu sejenak. Sebelum sebuah suara membuyarkannya.
“ada perlu apa
anda kemari?” tanya Nathan saat melihat Nadin di ruang dosen.
“maaf pak, saya
mau mengumpulkan ini ..., hukuman tadi.” Nadin menyerahkan lembaran kertasnya.
“lain kali
jangan terlambat lagi di jam saya ...” ucap Nathan sambil mengambil kertas-kertas itu dari tangan Nadin.
“baik pak,
kalau begitu saya permisi ...” Nadin pun segera meninggalkan ruangan. Tapi ia
masih tetap berdiri di depan ruang dosen. Ia penasaran kenapa Rendi berada di
ruangan pak Nathan.
Nadin terus
mondar-mandir di depan ruang dosen. Lima menit kemudian pintu yang sedari tadi
tertutup kemudian terbuka. Nadin segera menyembunyikan diri di balik dinding.
“udah lo antar
sampek sini aja...” ucap Rendi.
“Ngak pa pa nih
...”
“Udah jangan
sungkan.”
“ya udah gue
masuk ke dalam ya ..., soalnya ada pekerjaan yang harus gue selesaiin sebelum
gue berangkat ke Surabaya besok.”
“ok ...,
masuklah..., bye ...”
Setelah Nathan
kembali masuk ke dalam ruangannya. Barulah nadin berani menghampiri Rendi yang
sudah berjalan menjauh menyusuri lorong.
“Pak ..., pak
Rendi ...” panggil Nadin sambil mengejar Rendi. walaupun baru saja berjalan
tapi langkah lebarnya dapat dengan cepat membuat Rendi menjauh. Merasa namanya
di panggil Rendi pun menghentikan langkahnya.
“Pak Rendi
kenal sama pak Nathan?” tanya Nadin saat sudah bisa mengikis jarak di antara
mereka. Kinihanya tersisa satu meter jarak mereka.
“Bukan urusan
kamu ...” jawab Rendi dingin dan kembali melanjutkan langkahnya. Lagi-lagi
Nadin masih tetap mengejarnya.
“aku lihat
kalian dekat, apa kalian berteman. Aku seneng pak Rendi berteman sama pak
Nathan.”
Rendi pun
kembali menghentikan langkahnya. Kali ini dengan mendekat ia balik mengikis
jarak mereka. Hingga membuat Nadin memundurkan langkahnya. Langkah Nadin
terhenti saat punggungnya sudah membentur tembok. Rendi mendekat pada Nadin dan
mengungkung Nadin dengan kedua lengannya di samping kiri kanan Nadin. Hingga
Nadin tak bisa bergerak lagi.
Rendi menatap
tajam ke arah Nadin. “Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku tidak suka sama
orang yang terlalu ikut campur urusan orang. Kau punya satu kesempatan untuk
menjelaskan urusanmu denganku?”
Saat seperti
ini, Nadin malah terdiam. Ia seperti tersihir dengan ucapan dan tatapan Rendi.
hening beberapa saat.
“Sudah cukup
waktu kamu untuk menjelaskan sudah habis. Jadi jangan menggangguku lagi ...” ucap Rendi
yang kemudian meninggalkan Nadin yang masih terdiam. Tapi saat Rendi sudah
mulai menjauh. Nadin pun tersadar.
“Pak ....”
teriak Nadin. Tapi Rendi tak juga menghentikan langkahnya.
“Aku Cuma ingin
pak Rendi mencintai aku sama seperti pak Rendi mencintai kak Ara.” Mendengar
ucapan Nadin , langkah Rendi terhenti sebentar. Tapi seperti biasa Rendi hanya
bersikap dingin. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Nadin yang
hanya terdiam.
“ahhhh ..., apa
yang sudah aku katakan ...., aku seperti cewek gampangan, masak aku nembak
cowok duluan sih ...” ucap Nadin sambil mengutuki kebodohannya sendiri. Ia tak
tahu harus bagaimana bersikap jika bertemu dengan Rendi lagi.
“mudah-mudahan
dia tidak mendengarnya ...”
****
Seseorang dicintai karena ia dicintai. Tak ada alasan yang dibutuhkan untuk mencintai.” - Paulo Coelho, The Alchemist
BERSAMBUNG
**Jangan lupa bayar Author dengan memberikan like dan komentarnya ya, kasih Vote juga
terimakasih
Happy Reading ...,😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️❤️**