Siapa sangka, menabrak mobil mewah bisa berujung pada pernikahan?
Zuzu, gadis lugu dengan serangkaian kartu identitas lengkap, terpaksa masuk ke dalam sandiwara gila Sean, cassanova yang ingin lolos dari desakan orangtuanya. Awalnya, itu hanya drama. Tapi dengan tingkah lucu Zuzu yang polos dan penuh semangat, orangtua Sean justru jatuh hati dan memutuskan untuk menikahkan mereka malam itu juga.
Apakah pernikahan itu hanya permainan? Atau, sebuah takdir yang telah ditulis untuk mereka?
Mampukan Zuzu beradaptasi dengan kehidupan Sean yang dikelilingi banyak wanita?
Yuk, ikuti kisah mereka dengan hal-hal random yang dilakukan Zuzu!
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Seorang Wanita
Zuzu mengerucutkan bibir saat mengamati dari kejauhan, para orangtua sibuk membakar ikan. Perut yang sejak tadi belum sepenuhnya diisi pun, mulai berdemo.
Sean mendengus dingin. Gairahnya kembali padam melihat wajah menyedihkan Zuzu. "Kamu belum makan? Apa gak ada makanan di rumah ini, sampai kamu kelaparan seperti itu?"
Zuzu menggeleng perlahan. "Bukan gak ada makanan, Sean. Tapi… sejak pagi aku sibuk menyiapkan ini semua untuk kamu," jawab Zuzu dengan suara lemah, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.
"Aku berfoto dengan berbagai gaya yang sangat memalukan. Tapi, Mama terus mengancam. Kalau kamu bisa saja diambil pelakor." Zuzu bercerita dengan wajah lelah.
Sean berdehem. Dia melepaskan rangkulannya, lalu melipat tangan di dada, berusaha terlihat cool. "Memangnya kenapa jika aku direbut pelakor? Aku hanya main-main saja dengan mereka. Istriku, cuma kamu saja, satu."
Zuzu mendelik horor. "Mana boleh?" Dia menggeleng tegas. "Kamu sudah punya istri. Dekat dengan wanita lain, itu sudah masuk ke dalam kategori selingkuh."
"Aku gak terima!" Zuzu ikut melipat tangan di dada, ekspresi wajahnya cemberut.
"Kita menikah hanya terpaksa, Zu… hanya formalitas. Jangan baper," kata Sean, tanpa beban.
Zuzu memutar tubuh dan berkacak pinggang. "Tapi aku sudah menyerahkan kesucianku. Jadi, sebagai gantinya, kamu gak boleh ada main dengan wanita lain selama kita m-e-n-i-k-a-h!" tegas Zuzu, sambil mengerjapkan mata. Ekspresinya tak nampak tanda-tanda peringatan.
Sean tersenyum sinis, sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Oke, gak masalah." Sean seolah menerima tantangan Zuzu dengan santai. Dia meraih rambut istrinya, dielus lembut dan digerai ke depan dada.
Dia mendekatkan wajah, matanya sayu. Sedangkan Zuzu spontan menjauhkan wajahnya dengan kening berkerut, takut. Pria itu menyeringai lebar, lalu berbisik pelan, "Selama kamu bisa memuaskan aku di atas ranjang, mungkin aku gak perlu cari wanita lain."
Zuzu mendorong tubuh suaminya dengan kuat, lalu menolehkan wajah kembali ke arah jendela.
"Gimana?" tanya Sean sambil menaikkan sebelah alis, netranya tak lepas dari wajah wanita berkacamata di hadapannya.
Zuzu melirik kanan-kiri, atas-bawah berusaha mencari kalimat yang cocok untuk menjawab tantangan suaminya. Melayani, itu bukan masalah besar untuknya. Namun, jika harus memuaskan, dia merasa tidak percaya diri.
Disaat Zuzu berpikir dengan serius, dari balik jendela kamar di lantai dua itu, dia melihat seorang wanita datang dan menghampiri orang tua dan mertuanya.
"Siapa dia?" gumam Zuzu, sedikit mencondongkan tubuh ke jendela.
Sean terheran-heran mendengar gumaman istrinya. "Siapa apa maksud kamu, Zu? Kok gak nyambung. Kita sedang membicarakan soal kesepakatan ini!" keluh Sean, merasa kesal.
Zuzu tak menanggapi omelan Sean. Mata berfokus pada wanita yang nampak akrab dengan mertuanya.
"Itu siapa ya yang ngobrol sama Mama, Sean? Apa dia saudara kamu?" tanya Zuzu, tanpa mengalihkan pandangan.
Kening Sean berkerut, tak mengerti. "Kamu lihat siapa sih?" Sean meletakan dagu di puncak kepala istrinya, menatap ke arah yang sama.
'Astaga, itu Bianca. Untuk apa dia datang kemari?' batin Sean, mendadak panik. Dia belum siap mengumumkan pernikahannya ke publik. Termasuk kepada para wanita yang sering menghangatkan ranjangnya.
"Zu, kamu tetap di sini, ya. Jangan ke mana-mana," pesan Sean, terdengar terburu-buru.
"Tapi, Sean… aku lapar. Asam lambungku mungkin akan kambuh kalau aku telat makan," ujar Zuzu, dia membetulkan letak kacamata dan memasang wajah memelas.
Sean memegang kedua lengan istrinya, dan berucap dengan lembut. Nada suara yang pertama kali Zuzu dengar. "Aku akan minta pelayan bawakan makanan untukmu. Kamu ingin ikan bakar, 'kan? Aku akan meminta pelayan membakarnya untukmu. Kamu gak perlu repot-repot melakukannya."
"Tapi, Sean…"
"Pokoknya, kamu jangan keluar dari kamar ini. Nurut apa kata suami!" tegas Sean, tak menerima bantahan. Setelah mengatakan itu, ia melesat pergi meninggalkan Zuzu dalam kebingungan sendiri.
"Memangnya wanita itu siapa sih? Kenapa Sean terlihat cemas," gumam Zuzu, kembali menatap ke luar jendela, namun sosok wanita asing itu sudah tidak ada.
Di luar, Sean segera menemui Bianca. Wanita cantik itu tengah duduk di sofa ruang tamu. Begitu melihat kedatangan sang CEO, dia bangkit berdiri dan tersenyum lebar, penuh arti.
"Tuan Muda," sapa Bianca sambil mengedipkan sebelah mata, menggoda.
Sean menarik tangan wanita itu, menjauh dari pintu utama. "Kamu ngapain kemari?!" tanya Sean berbisik, namun nada suaranya penuh penekanan. Dia menoleh sekilas ke arah pintu, khawatir percakapan mereka didengar oleh ibunya.
"Aku hanya ingin mengantarkan dokumen hasil pertemuan tadi," jawab Bianca, sambil memegang tangan Sean. “Aku tadi telepon kamu, tapi kamu gak angkat.” Nada suaranya berubah manja.
"Mana dokumennya?" Sean mengulurkan tangan ke depan dada sang sekretaris. "Kamu seharusnya gak datang kemari, Bi. Dokumen ini masih bisa aku tandatangani besok," ucap Sean, kembali berbisik.
Sikap Sean yang seperti itu, membuat Bianca semakin berani. Dia mengusap lembut dada bidang yang terbalut kemeja putih dipadukan jas berwarna biru tua.
"Kali aja kamu kangen sama aku. Kita udah beberapa hari loh gak ngamar bareng. Kangen juga aku sama pistol kamu yang besar itu," sahut Bianca, dia hendak menyandarkan kepala di dada pria itu, namun didorong kasar, membuat tubuhnya hampir terjatuh jika tak berpegangan pada ujung sofa.
"Apa yang kamu lakukan?!" bentak Sean, berusaha terlihat marah. Tatapan dia tertuju ke arah pintu, di mana ibunya muncul.
Sandrina menyipitkan mata, penuh selidik. "Bianca, apa sofa di rumah saya kurang nyaman. Sehingga kalian bicara sambil berdiri seperti itu?" Nada suara wanita itu terdengar sinis.
Bianca lantas bangkit berdiri dan menundukkan kepala. "Maaf, Nyonya. Saya… saya merasa tidak sopan saja jika Tuan muda sendiri berdiri seperti itu," jawabnya, terdengar masuk akal.
"Oh…" Tatapan Sandrina pada setiap wanita yang dekat dengan putranya, selalu penuh sinisme.
"Terus kamu masih ada urusan apalagi di sini? Kalau sudah selesai. Langsung pulang saja. Kami sedang ada acara keluarga," kata Sandrina, mengusir secara halus.
Bianca meremas ujung roknya, gugup. Tatapan Sandrina yang tajam seolah tengah mengulitinya.
"Saya… saya hanya butuh tanda tangan Se.. maksud saya, saya membutuhkan tanda tangan Tuan Muda Sean, Nyonya," jawab Bianca terbata-bata, dia menggigit ujung lidah, hampir keceplosan.
"Tanda tangan? Hanya karena ingin mendapatkan tanda tangan, kamu sampai berani datang ke rumah bos kamu sendiri? Sekretaris macam apa kamu ini?" cibir Sandrina, dia memang tidak pernah menyukai wanita di sekeliling putranya.
Menurut dia, semua teman wanita putranya hanya tertarik pada jabatan dan uang, tidak ada yang benar-benar mencintai Sean, dan bisa merubah kebiasaan pria itu, hingga dia bertemu Zuzu dan mendapatkan harapan baru.
"Sudahlah, Ma. Aku akan segera tandatangani, mungkin memang penting makanya gak bisa nunggu sampai besok." Sean meminta pulpen pada Bianca, lalu duduk di sofa dan menorehkan tinta hitam di atas kertas putih itu.
"Nih, simpan baik-baik di meja kerja saya besok!" titah Sean, ucapan dan nada suaranya terdengar formal.
Bianca, dia harus menelan rasa kecewanya, karena rencana untuk menggoda Sean gagal. 'Ternyata bener, gak ada wanita yang bisa masuk di rumah ini. Pantas saja sampai detik ini dia masih melajang, ibunya ternyata sangat posesif,' batin Bianca, menggerutu.
"Tunggu apalagi? Sana pergi!" Suara Sandrina menarik Bianca dari lamunannya.
Wanita itu segera mengangguk, dan berpamitan pergi. Namun, belum sempat melangkah, suara seseorang dari arah tangga mengurungkan niatnya.
"Sean, mana makanannya? Perutku sudah sangat perih."
Bianca memicingkan mata, dia menunggu beberapa saat untuk mengetahui asal suara tersebut. Tak membutuhkan waktu lama, sosok Zuzu pun akhirnya muncul dengan wajah menyedihkan sembari mengusap-usap perut.
"Si-siapa dia?" gumam Bianca, terkejut melihat ada wanita di rumah Ceo-nya. Dia menoleh sekilas ke arah Sean, wajah pria itu nampak pucat dan tegang.
Zuzu berjalan gontai mendekati suaminya. "Maaf, Sean. Aku gak bisa nunggu di kamar. Perutku sudah sangat lapar. Apa sekarang aku sudah boleh makan?"
Melihat wajah terkejut Bianca, Sandrina tersenyum puas. Dia jadi tidak tahan untuk mengungkapkan identitas menantunya.
"Bianca, perkenalkan… dia Zuzu, istri Sean dan menantu keluarga ini!"
Bersambung…