NovelToon NovelToon
Pesona Pria Patah Hati

Pesona Pria Patah Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Trauma masa lalu / Romansa pedesaan
Popularitas:33.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Sebuah kisah pertemuan tak terduga, jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, takdir mempertemukan mereka di desa Tabebuya.

Dua hati yang sama-sama remuk, oleh cinta pengkhianatan. Waktu seolah tak cukup menghapus luka, hanya menyisakan rapuh dan senyum yang disembunyikan.

Namun cinta yang perlahan tumbuh dari luka tak pernah berjalan mulus. Masih ada bayang-bayang masa lalu, ketakutan untuk kembali percaya, dan dilema antara bertahan dalam trauma atau berani membuka hati.

Sebuah kisah tentang perjalanan menyembuhkan diri, tentang pesona seorang pria yang hancur hatinya namun tetap berusaha mencintai dengan tulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Jalan Sore

“Tomatnya seribu tiga, Bu! Murah, murah!” teriak seorang pedagang dari balik tumpukan sayur segar.

Pasar sore itu riuh. Aroma bumbu dapur bercampur dengan wangi gorengan yang mengepul dari wajan besar. Pedagang buah mengangkat semangka tinggi-tinggi sambil memanggil calon pembeli, sementara di lorong sempit, suara tawar-menawar terdengar saling bersahutan.

“Lima ribu aja, Bu… ini udah harga pacar!” seru penjual cabai, dibalas tawa seorang ibu yang mencoba menawar lebih rendah.

Yaya jongkok di depan lapak sayur, membolak-balik ikat kangkung satu per satu.

Arya berdiri di belakang, menguap kecil. Semua kelihatannya sama aja… pikirnya.

“Lama banget, pilih sayur kayak pilih calon suami aja,” ledeknya.

“Ya biar dapat yang segar dan manis,” jawab Yaya santai tanpa menoleh, masih sibuk Membolak-balik sayur.

Arya mendesah dramatis. “Kalau calon suami kan bisa diajak ngobrol sama pdkt… lah ini, sayur kangkung, brokoli, sama caisim."

Yaya nyaris tersedak tawa, tapi cepat-cepat pura-pura serius lagi. Sementara itu, Arya merasa waktu di pasar berjalan seperti kereta api mogok—nggak maju-maju.

Habis dari tukang sayur, mereka mampir ke kios beras. Setelah karung kecil terisi, mereka lanjut jalan ke tukang daging.

Di tukang daging, Yaya langsung membuka jurus tawar-menawar.

“Sekilo lima puluh ribu, Mbak,” kata pedagang.

“Empat puluh lima aja, Bang. Saya kan langganan,” balas Yaya cepat.

Pedagang menggeleng. “Waduh, rugi kalau segitu.”

Yaya menyipitkan mata. “Kalau gitu saya pindah lapak, deh.” Ia pura-pura melangkah pergi.

Pedagang buru-buru menahan. “Ya udah, yaudah… empat puluh delapan, deh.”

Arya berdiri di belakang, menggeser-geser kakinya yang pegal. Dari tadi ia hanya mendengar angka naik-turun seperti lelang barang langka saja, padahal cuma sepotong daging sapi untuk makan malam.

“Ya ampun… beli daging doang kok ribet. Tinggal bayar terus pulang,” bisiknya setengah kesal.

Yaya melirik sebentar tanpa menghentikan tawar-menawarnya. “Duduk aja di pojok sana. Biar aku yang urus, supaya jatuhnya lebih murah.”

Arya mendesah panjang. Lebih murah sih iya… tapi umurku berkurang lima menit tiap nungguin kamu nawar.

Begitu kaki mereka keluar dari keramaian pasar, Arya langsung menghela napas lega.

“Fiuh… rasanya kayak baru lolos dari babak final turnamen,” ujarnya, sambil menyeka kening yang sebenarnya tidak terlalu berkeringat.

Yaya menoleh sambil nyengir. “Lebay banget sih, padahal cuma ikut aku belanja.”

Saat Vespa tua itu melaju meninggalkan pasar, Arya berseru, “Sebelum pulang kita jajan dulu, ya. Gua laper!”

Yaya yang duduk di belakang menepuk pelan bahunya. “Oke, kita ke taman aja. Deket sini, banyak pedagang kaki lima ngumpul di sana.”

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah taman kecil dekat pasar. Di sepanjang jalan setapak, deretan gerobak dan tenda berjajar.

Arya memarkir Vespanya di bawah pohon, menatap kanan-kiri dengan mata berbinar. “Wah… kayak festival kuliner versi mini.”

Yaya hanya terkekeh sambil mulai melangkah, matanya sudah tertuju pada gerobak cilok di ujung jalan.

Suasana taman ramai tapi santai—anak-anak berlarian, pasangan muda duduk di bangku sambil makan es krim, mereka juga duduk sambil menikmati jajanan.

Yaya menusuk satu butir cilok lalu menyuapkannya ke mulut. Arya di sebelahnya sibuk mengunyah tahu goreng yang baru dibelinya, aroma gurihnya bercampur dengan wangi sate dari gerobak sebelah.

“Gue penasaran deh… kenapa kamu milih pindah ke desa? Lalu pilih tinggal sama Kakek Abi?” tanyanya tiba-tiba.

Yaya mengunyah pelan, “Ya… ada alasannya.”

Arya menaikkan alis. “Alasan apaan?”

Yaya hanya menatap ke depan, seolah menikmati keramaian taman, tapi jelas-jelas sedang menahan sesuatu di pikirannya. “Ya… pokoknya ada alasan pribadi,” ujarnya singkat sambil pura-pura sibuk meniup cilok panas di tangannya.

Arya menyipitkan mata. “Hmm… ini pasti ada hubungannya sama patah hati karena ditinggal calon suami, kan?”

Yaya sangat terkejut, tubuhnya membeku sejenak. “Hah? Kok kamu bisa—”

“Tadi pagi waktu kamu ngambek, Kakek Abi sempet cerita soal lo ke gua,” kata Arya sambil mengunyah tahu. “Tapi gue juga nggak kalah tragis dari Lo, kok. Gue ditinggal kawin… dan parahnya, gue diundang ke acara resepsi.”

Yaya mengerutkan kening. “Ya terus lo datang?”

Arya mengangguk lemas. “Datang… bahkan disuruh nyanyi di panggung waktu resepsi. Bayangin, Ya, gue jadi soundtrack pernikahan mantan sendiri.”

Yaya menatap Arya, kaget sekaligus… agak pengen ketawa. “Serius lo?”

Arya mengangguk, tersenyum kecut. “Iya. Makanya, kita tuh kayak lagi ikut lomba patah hati massal, cuma belum dikasih medali aja.”

Yaya tertawa keras, tapi matanya tetap menyimpan sisa luka yang belum sembuh.

"Kalau lo bisa nyanyi di panggung? Berarti suara lo bagus, dong.”

Arya mengangkat bahu, pura-pura santai. “Gak juga kok, suara gua biasa aja.”

“Ah, bohong. Aku yakin pasti bagus,” ujar Yaya pelan, tapi nadanya hangat. “Kapan-kapan kita duduk di teras rumah Kakek, terus lo nyanyi sambil gue dengerin ya.”

Arya terdiam sesaat, merasakan wajahnya memanas. “Malu, gua nggak bisa nyanyi.”

“Lah, tadi katanya nyanyi di resepsi mantan?”

“Itu… beda, Ya. Waktu itu gue nyanyi buat lampiaskan rasa sakit, sekaligus nahan nangis,” balas Arya.

Yaya ngakak. “Waduh, pantes mantan lo moved on cepet. Dia takut rumah tangganya diiringin lagu-lagu mellow lo.”

Arya ikut tertawa. “Eh, jangan salah, lagu mellow yang gue nyanyiin, bisa bikin orang baper seumur hidup, loh. Kalau gue niat, satu lagu bisa bikin lo kepikiran setahun.”

Yaya pura-pura merinding. “Aduh, kalau gitu jangan nyanyi di dekat sawah, nanti padi-padi pada layu.”

Keduanya tertawa, langkah mereka menyusuri taman yang mulai diselimuti cahaya keemasan. Untuk sesaat, patah hati yang mereka bawa terasa ringan—seperti ikut terbang bersama hembusan angin sore, menguap di antara aroma jajanan kaki lima dan senja yang merayap perlahan.

*****

Jrengg—Arya memetik senar gitar yang ia keluarkan dari ruang tamu rumah Kakek Abi. Gitar itu milik almarhum ayahnya, yang dulu sering ia dengar dipetik setiap kali keluarga berkumpul.

Kayu tuanya sudah mulai kusam, tapi suaranya masih terdengar bagus. Arya mengelus bagian bodi gitar itu sebentar, seakan menyapa kenangan yang menempel di setiap senarnya, lalu menatap kakek dan Yaya yang duduk menemaninya di teras.

“Jadi inget, tiap malam liburan, si Ari suka nyanyi sambil main gitar ini,” ucap Kakek Abi sambil tersenyum, matanya menerawang pada kenangan lama.

Yaya mencondongkan tubuhnya. “Ayo, Mas Arya, nyanyi. Penasaran banget sama suara emas lo.”

Arya menghela napas pura-pura malas. “Ya udah, kalau lo maksa.”

Yaya nyengir. “Ya dong. Masa udah pamer cerita manggung di nikahan mantan, tapi nggak mau buktiin suara emasnya?”

Arya mulai memetik gitar, nada-nadanya mengalun pelan, seperti membentuk selimut hangat yang menutupi seisi teras. Suaranya terdengar jernih ketika mulai menyanyikan bait demi bait lagu itu:

Di saat ku menatap langit 🎵🎶🎵

Apa engkau juga menatapnya? 🎶🎵

Yaya awalnya tersenyum, mencoba menikmatinya. Tapi semakin Arya melantunkan baris-baris selanjutnya, senyumnya mulai pudar.

Cobalah kaupejamkan mata 🎶🎵

Gerimis jatuh bagai air mata...🎵🎶

Suara Arya seolah meremas kenangan yang selama ini Yaya simpan rapat. Saat bait tentang “menunggu” dan “rindu” terdengar, matanya mulai terasa panas.

Jika kita ditakdirkan bersatu, betapa bahagia hatiku...🎵🎶🎵🎶

Yaya tak sanggup lagi. Setetes air mata jatuh, lalu menyusul yang lain, mengalir pelan di pipinya.

Kakek Abi yang sedari tadi duduk di kursi goyang, menghentikan cucunya. “Udah… berhenti nyanyi dulu. Suaramu bikin ayam kakek ikutan sedih, bisa-bisa besok pagi nggak mau bertelur.”

Arya terdiam, lalu menatap Yaya yang menunduk menyeka airmata di pipinya, sementara gitar di pangkuannya jadi terasa berat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️

**Jangan lupa meninggalkan jejak kebaikan dengan Like, Subscribe, dan Vote ya...~ biar Author makin semangat menulis cerita ini, bentuk dukungan kalian adalah penyemangat ku...😘😘😘**.

1
DdCantik
Seru ternyata....👍👍👍👍👍👍👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih kak 🤭
total 1 replies
Verde
btw perkembangan Jotta kayak agak beda ya. mungkin dia bisa lebih santai atau tenang. Tidak terlalu agresif ngadepin arya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: Baperrr : Berteman awalnya, suka kemudian, eh perih endingnya alias di Ghosting 🗿
total 3 replies
Verde
nope jotta. besok2 bongkar motor arya sampe ke jadi remahan
Verde: nanti jadi cepet tamat 🤣
total 2 replies
Verde
di bab ini ada gambarnya ga? atau emang error?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: gambarnya error semuaa 🤣 aku revisi dulu🤧
total 1 replies
Verde
masih lanjut ternyata🗿

btw pintu keluar ada di ujung sana
Verde: btw ini cuma aku saja kah? ga bisa komen per paragraf karna nimpa
total 2 replies
Tati Hartati
aku baru mampir... seperti kisah ku...aku merasakannya...
Tati Hartati: sama sama kak
total 2 replies
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
ikut nangis😭😭😭
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
/Facepalm//Facepalm/ gagal sudah 🤣🤣
☕︎⃝❥ z̶e̶v̶a̶𝟏
ini kakek ada penyakit yang serius bener ya😔
Capt Blacksheep 🐑
hidup bukan perlobaan, jadi penasaran hidup si arya ini apa ya
Capt Blacksheep 🐑
bule yg satu itu emang anomali takut hantu😁😁😁
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
wahhhh untung Yaya datang tepat waktuu dan menggagalkan rencana mbak Maimunah yg jelas-jelas sengaja membuat suaminya marah karena salah paham 🙄
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
wahhh Yaya keliatan cemburuu gituu yaa jika mbak Maimunah mendekati arya🤭🤣
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
heemmmm jadii kepinn 🤤🤤 kayaknya eenak banget ituu ramennya🤤🤤
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
pengalaman pertama ngadepin anak SD sama aja dengan ngadepin anak TK, banyak sabarnya yaa aryaa🤭
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
wahhh ternyata aryaa menerima tawaran Klara untuk jadi guru seni tohh🤭
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
ihhhh mbak mai kok sengaja bikin salah paham sihhh🙄
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
nahlooo apa maksudnya mbak Maimunah yaaa🙄🙄kok bisa ngomong gituu🙄
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
ahhh jadi penasaran akankah Arya menyetujui tawarannya Klara🤔🤭
❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ
inii klaraa pinter banget cara mengambil hati penduduk desaa biarr bisaa memilih dirinya menjadi kepala desaa 🙄🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!