Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.
Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.
"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.
Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan Yang Berbeda
"Sialan! Cuma gara-gara pembantu kotor itu gue didepak dari proyek Bali! Awas aja tuh cewek, lihat aja nanti!" umpat Rafa bermulut lancang saat berjalan menyusuri koridor VIP kantor. Makian demi makian terus meluncur dari bibirnya yang robek, meluapkan amarah dan rasa tidak terimanya.
Di sampingnya, Randy dan Dion berjalan dengan wajah tegang. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat membela atau menenangkan Rafa.
"Lu bisa diam gak, Fa?" cetus Randy akhirnya, memotong makian Rafa dengan suara datar penuh kepasrahan. "Lu yang berbuat keji, lu yang bikin ulah, tapi lu malah nyalahin Aluna? Lu tuh hancurin diri lu sendiri."
"Gue gak nyangka moral lu serendah ini, Fa," tambah Dion dingin tanpa sedikit pun menatap ke arah Rafa. "Arsen masih cukup baik gak melaporkan lu ke polisi. Kalau gue jadi Arsen, lu udah ada di balik jeruji besi sekarang."
Rafa tertegun, melirik kedua sahabatnya yang kini menatapnya dengan pandangan asing dan penuh kekecewaan.
Begitu sampai di depan lift, Dion dan Randy melepas pegangan mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk berpamitan, keduanya membalikkan badan dan berjalan kembali ke ruangan Arsen, meninggalkan Rafa seorang diri yang berdiri mematung di depan pintu lift dengan wajah pucat dan penuh kekesalan.
Begitu pintu kaca tertutup rapat dan langkah kaki di luar koridor perlahan menghilang, keheningan kembali menguasai ruang kerja Arsen. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, memejamkan mata sembari menarik napas panjang.
Hembusan napasnya terasa berat, namun ada rasa lega yang perlahan menjalar di dadanya. Beban dan amarah membara yang menghimpitnya sejak semalam kini berangsur terangkat. Ia memang baru saja menendang sahabatnya sendiri dari proyek besar, tetapi Arsen tahu tindakan itu sangat pantas. Ia berhasil berdiri membela Aluna dan menjaga kehormatan rumahnya dari kelakuan kotor Rafa.
Tok, tok, tok.
Pintu ketukan pelan terdengar. Dion dan Randy melangkah masuk kembali ke dalam ruangan dengan raut wajah serius namun jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Gimana, Sen?" tanya Dion pelan, mengambil tempat duduk di depan meja kerja Arsen. "Lu oke?"
Arsen membuka matanya, menatap kedua sahabatnya itu dengan hening sejenak sebelum mengangguk tipis. "Gue oke. Makasih udah bantu nahan gue tadi."
Randy menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. "Jujur, gue kecewa banget sama Rafa. Tapi pilihan lu mendepak dia dari proyek Bali itu tindakan paling tepat, Sen. Kita gak bisa kerja sama dengan orang yang nggak punya etika dan tanggung jawab kayak gitu."
"Iya," timpal Dion menyetujui. "Soal Aluna... lu nggak usah khawatir. Kita berdua bakal tutup mulut dan gak bakal bahas ini lagi di luar."
Arsen menatap kedua teman yang masih bisa ia percaya itu. Rasa lega di hatinya kini benar-benar mantap. Ia tidak menyesali sedikit pun keputusannya—baik untuk memukul Rafa, maupun untuk melindunginya dari kehancuran yang hampir terjadi pada Aluna semalam.
Arsen menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerja yang empuk, membiarkan keheningan mengalir menyelimuti seluruh sudut ruangan. Untuk pertama kalinya sejak kekacauan semalam, pikiran dan hatinya benar-benar merasa tenang.
Rasa bersalah dan kemarahan yang sempat bergejolak hebat kini berganti dengan ketetapan hati yang mantap. Ia tahu apa yang dilakukannya sudah benar. Melindungi orang yang ada di bawah atap rumahnya—terlebih gadis sepolos Aluna—adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, terlepas dari apa pun statusnya.
"Gue bakal urus sisa berkas pengalihan saham proyek Bali sama tim legal esok hari," ucap Arsen pelan, suaranya kini kembali datar, tenang, dan dipenuhi wibawa.
Dion mengangguk paham. "Sip, Sen. Serahin bagian itu ke gue juga kalau butuh bantuan. Sekarang mending lu balik awal aja, nenangin diri di rumah."
"Bener, Sen. Masalah kantor udah aman kok untuk hari ini," timpal Randy sembari tersenyum tipis, mencoba mencairkan sisa-sisa ketegangan di antara mereka.
Arsen menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang tak terucap. Ia melirik jam tangan mewahnya—waktu menunjukkan sore hari, menandakan jam kerja akan segera berakhir.
Membayangkan suasana rumahnya yang kini kembali aman dan tenang, Arsen berbenah, merapikan kemejanya, dan mengambil jas hitam yang tergantung di kursi. Ia berniat untuk segera pulang, ingin memastikan sendiri bahwa Aluna baik-baik saja dan tak ada lagi ketakutan yang tersisa di rumahnya.