Perkenalkan, author merupakan orang desa di pinggiran kota Trenggalek.
Makasih yang sudah mampir. Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak.
Semoga terhibur. Happy reading.
Apa salahku, mengapa semua terasa tak adil bagiku?
Cahaya Senja adalah seorang gadis remaja yang berprestasi namun tak pandai bersosialisasi hingga membuatnya tak banyak memiliki teman. Tekanan dari keluarga yang membuatnya demikian. Pertemanannya sangat dibatasi, dan yang tak boleh ada di kamusnya adalah berteman dengan laki-laki. Tanpa Senja tahu, ini semua dilakukan karena adanya luka di masa lalu.
Bertahun-tahun Senja hidup dalam kekangan, hingga akhirnya dia masuk di bangku SMP. Dia mulai merasakan indahnya persahabatan, dan saat mulai timbul rasa penasaran terhadap lawan jenis, hadirlah sosok laki-laki yang membuatnya merasa nyaman. Hari-harinya mulai berwarna, semangat belajar yang kian membara, tidak hanya dalam prestasi juga dalam kehidupan.
Ada cinta, ada hasrat, ada rindu, ada asa, dan ada mimpi yang mulai dia pahami.
"Aku ingin dekat dengannya, tapi tak tahu harus berbuat apa jika bersamanya."
"Pacar? Pacaran itu bagaimana? Apakah untuk dekat aku harus belajar pacaran?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angkot
Pagiku cerahku
Matahari bersinar
Kugendong tas merahku di pundak
Seorang gadis nampak menyanyi dengan riang sambil berjalan kesana-kemari menyiapkan keperluan sekolahnya.
Selamat pagi semua
Kunantikan dirimu
Di depan kelasmu
Menantikan kami
Guruku tersayang
Guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku
Nyatanya diriku
Kadang buatmu marah
Namun segala maaf
Kau berikan
"Aya, Ya....," panggil seseorang di balik pintu kamarnya.
"Nggih," jawabnya sambil terus berjalan kesana-kemari.
"Cepat sarapan, nanti kamu telat lagi."
"IYA!!!"
Tak berselang lama, gadis kecil itu keluar dari kamar dengan membawa ransel biru kesayangannya.
"Kamu sebenarnya ngapain aja sih di kamar, mau bangun pagi mau bangun siang tetep aja gak bisa berangkat sekolah pagi," cerocos ibu Ami. Dan yang menjadi objek omelannya adalah Senja, anak bungsunya. Sementara itu yang diomeli masih asik mengecek ranselnya, khawatir jika dia melupakan sesuatu yang akan menyulitkannya di sekolah, sambil mengunyah makanan yang disuapkan oleh Sang Ibu sejak dia tiba di ruang makan.
"Mas Atma gak bisa nganter hari ini, jadi kamu kudu naik angkot yang biasa ditumpangi anak-anak SMP," jelas ibu sambil terus menyuapi Senja.
"Loh, kenapa emang?" tanya Senja yang urung menerima suapan makanan saking kagetnya.
"Mbak Mu dari semalem masuk angin, jadi Atma mau nganter dia ke dokter pagi ini."
"Yah, gimana dong," gerutunya.
"Makanya sekarang cepat berangkat, biar nggak ketinggalan," jelas ibu sambil terus menyuapkan makanan kepada putrinya.
"Tapi Bu..."
"Apanya yang tapi?" tanya ibu.
"Aya nggak ngerti caranya nyegat angkot," lirih Senja.
"Maksudnya?" tanya ibu.
"Ya itu Bu, angkotnya nggak mau berhenti meski aku udah berdiri di pinggir jalan. Angkotnya lewat gitu aja tanpa mau ngangkut aku," terang Senja.
"Astaghfirullah, ya di stop dong Nak, supirnya mana ngerti kalau kamu mau numpang kalau kayak gitu?" jelas ibu.
"Caranya nyetop gimana?" tanya Senja lagi.
"Ya lambaikan tangan doang Nak," terang ibu.
"Tapi aku pernah lihat ada kakak kelas yang cuma berdiri tanpa main lambai-melambai terus angkotnya berhenti pas di depannya," kekeh Senja.
"Ya itu karena dia udah langganan," terang ibu sambil geleng-geleng kepala. "Udah, abis ini kamu langsung berangkat," lanjut ibu kemudian.
"Tapi Bu," Senja menghentikan aktifitas mengikat tali sepatunya.
"Gak ada tapi, atau mau Ibu temenin nunggu angkot," tawar ibu Ami.
"Enggak deh Bu, malu," lirih Senja.
"Ya udah hati-hati."
Senja pun beranjak dari tempatnya. Merapikan seragamnya sebentar kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dia melangkah dengan ragu. Bagi sebagian besar rekan-rekan Senja, mungkin sudah biasa ke sekolah dengan angkot, bahkan kalau pagi ada angkot yang khusus mengangkut anak-anak sekolah dengan hanya membayar setengah harga. Tapi tidak untuk Senja.
Di sini tidak ada bus sekolah seperti di kota-kota. Namun selama 2 bulan masuk SMP, belum sekalipun Senja berangkat sekolah dengan angkot, dia selalu diantar oleh kakaknya. Bukan karena tak mau naik angkot atau apa, tapi Senja tak takut untuk sekedar menyetop angkot. Dia takut karena dia belum pernah melakukannya. Dan mencoba hal baru adalah sebuah ketakutan tersendiri untuk Senja.
Sedikit cerita tentang Senja. Senja adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Senja kecil tak pernah diizinkan bermain ke rumah temannya, kecuali jika sang ibu mau menemaninya. Senja kecil tak boleh kemana-mana, kecuali bersama ibu, ayah, atau kakaknya. Bahkan untuk sekedar ke rumah sanak famili pun tak boleh jika tak bersama minimal salah seorang keluarganya.
Senja tak pernah boleh sendiri.
Senja selalu di dampingi dalam segala hal, kecuali belajar. Untuk belajar, Senja sama sekali tak pernah di ajari di rumah kalau dia mengalami kesulitan terkait pelajarannya di sekolah.
Tapi di luar belajar, dia nyaris tak bisa apa-apa. Sulit bersosialisasi, hingga ia tak punya teman dekat, karena dia sama sekali tak boleh pergi main. Dia bisa pergi sendiri hanya ketika sekolah saja. Bahkan ketika ada kegiatan dharma wisata saat kelas 6 SD, Senja tak diizinkan berangkat sendiri. Dan kakak iparnya lah yang mendampinginya, padahal tak seorang pun dari 25 temannya yang di dampingi keluarga atau orang tuanya.
Buah dari semua itu adalah Senja kini jadi anak yang takut jika harus berhadapan dengan sesuatu yang menurutnya baru. Dia akan merasa begitu takut dan kesulitan jika harus melakukan sesuatu yang sebelumnya dia belum pernah mencoba. Meskipun berangkat sekolah dengan angkot merupakan hal wajar bagi sebagian besar orang, tapi bagi Senja ini adalah masalah besar.
Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, akhirnya Senja tiba di jalan raya, tempat di mana dia harus menunggu angkot dan menjalankan aksi melambai-lambai agak angkot itu mau berhenti dan mengangkutnya menuju sekolah.
Senja POV
"Bismillahirrahmanirrahim, ya Alloh, semoga bisa." Ku coba meyakinkan diri, bahwa aku bisa. Ku lihat jam tangan silver yang bertengger manis di pergelangan tangan kiriku. Saat ini menunjukkan pukul 6 tepat. Biasanya angkot akan lewat 10 atau 15 lagi. Masih ada waktu untuk siap-siap. "Ya ampun, kok deg deg an gini sih," gumam ku.
Jalanan masih nampak sepi, biasanya akan ramai jika sudah sekitar setengah 7. Sebenarnya setiap hari aku sudah berangkat dari rumah jam 6, tapi karena aku tak berani nyetop angkot, akhirnya aku hanya diam di pinggir jalan, hingga akhirnya mas Atma yang akan berangkat mengajar harus mengantarku dulu ke sekolah.
Aku tahu angkot lewat jam berapa, aku tahu jalanan mulai ramai jam berapa, karena aku sudah stand by di jalan raya. Jadi sekarang tahu kan alasanku begitu akrab dengan telat. Bukan karena aku malas, nakal atau apalah. Alasannya adalah karena aku tak berani. Aku tak berani naik angkot tanpa ibu, ayah atau kakakku.
Sekarang sudah pukul 6.10. Aku mulai beranjak dari bawah pohon kersen yang selama ini jadi temanku berdiri setiap pagi. Berharap jika tak ada penghalang, supir angkot akan segera berhenti jika aku melambaikan tangan.
Waktu yang mendebarkan pun akhirnya tiba. Dari arah timur nampak mobil angkot berwarna hijau melaju mendekat ke arahku.
Ku kumpulkan segenap keberanian ku untuk berjalan ke tepi jalanan beraspal. Saat angkot hampir melewatiku, pak sopir nampak melihat ku, aku sedikit melambaikan tanganku, namun tepat di depan ku mobil itu tak juga menghentikan laju.
Ya Tuhan, angkotnya tetep jalan.
"PAK, BARENG!!"
Entah datang kekuatan darimana akhirnya seruan itu mampu membuat angkot itu berhenti kurang lebih sekitar 10 meter dari tempatku berdiri. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, akhirnya aku berlari mendekat dan terbukalah pintu angkot itu. Aku melangkah masuk angkot dengan tubuh yang masih bergetar. Bukan menangis, tapi karena begitu deg degan.
"Tak kira tadi nggak bareng Nak, makanya bapak nggak berhenti," ucap sopir itu.
Aku tak berniat untuk menjawab, karena aku masih berusaha keras menormalkan detak jantungku dan menghilangkan rasa takut serta kegugupanku.
"Tiap hari kamu udah di situ, tapi tumben kali ini naik angkot," ucap seseorang tepat di sampingku.
Suara itu?
Merasa ada yang menggelitik, akhirnya aku menoleh untuk dapat melihat siapa pemilik suara itu. Aku kaget bukan main, karena dia kakak kelas korbanku kemaren. Dan sekarang dia duduk di sampingku hingga sekitar 30 menit ke depan.
"Kak," aku hanya menyapanya dengan canggung. Mau menyebutkan namanya tapi aku lupa. Bukan lupa lagi, aku malah belum tahu namanya. Yang jelas dia anak kelas IX c. Setidaknya itu informasi yang aku peroleh dari bet yang terpasang di seragamnya.
Ah, semoga dia bisa diam atau tak perlu mengajak ku ngobrol. Sungguh aku masih takut.
TBC.
Alhamdulillah, dear.
Selesai juga part ini.
Harapan author, don't be silent rider ya.
Happy reading.