Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 8
Keesokan paginya Karina sudah bangun dari awal, karena ia memang tidak tidur. Lalu ia memberanikan bertanya pada Pramudya.
"Mas, semalam kau tidur di mana?" tanya Karina duduk di kursi meja makan. Sementara Zahra duduk di samping Pramudya dan kedua orang tua Pram.
"Aku ketiduran di ruang kerja, bawel buat apa nanya nanya aku tidur di mana." Pramudya menjawab dengan kesal. Sementara Zahra menundukkan kepalanya.
"Karina, kamu itu tidak perlu banyak tanya. Pram mau kemana, mau tidur di mana. Yang penting kamu tidak kekurangan, pengobatan mata kamu bisa di lanjutkan. Sadar diri sedikit, kau hanya menambah beban Pram saja." Sumarni menimpali dengan ketus dan menyakitkan hati Karina.
"Bu, aku tahu diri. Aku memang buta sekarang. Tapi apa salah aku bertanya pada suamiku?" sahut Karina kesal dan sakit rasanya.
"Karina!" Pram membentak hingga Karina terdiam. "Habiskan sarapanmu dan kembali ke kamar!"
"Tidak, aku mau ke tempat ibu. Aku rindu ibuku." Karina menjawab sembari menahan air mata.
"Halah punya Ibu pemabuk, buat apa di rindukan." Sumarni menyela setengah menghina.
"Tapi Ibuku tidak pernah melukaiku dengan ucapan, bahkan tidak pernah memukulku!" Karina berdiri menatap lurus ke depan dengan kesal. Pram ikut berdiri dan menghampiri Karina.
"Plak!"
"Mas Pram, jangan!" seru Zahra menatap kasihan Karina yang kena tamparan keras dari Pram.
"Kau..kau sekarang berani menamparku, Pram?" ucap Karina dengan derai air mata yang tak bisa ia tahan lagi. Lalu ia balik badan melangkahkan kakinya menuju kamar di bantu mbok minah.
"Mas, kau tidak perlu menampar Karina." Zahra tidak setuju kalau Pram menyakiti Karina.
"Sudahlah, jangan kau pikirkan istri tak beeguna seperti dia. Aku berangkat kerja dulu, kau hati hati di rumah." Pram mencium kening Zahra sekilas lalu beranjak pergi keluar rumah.
"Iya Nduk, kamu lagi hamil. Jangan pikirkan wanita itu. Pikirkan saja kehamilanmu." Sumarni mengelus kerudung Zahra dengan lembut.
Zahra hanya diam, ia masih merasa tidak enak hati dan rasa bersalah pada Karina. Tapi ia juga tidak mau kehilangan Pramudya.
Sementara di kamar Karina, ia tengah menangis. Mbok minah mencoba membesarkan hati Karina. Ia sangat tidak tega pada Karina yang baik padanya.
"Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbok minah.
Karina terdiam sesaat, lalu menyeka air mata di pipinya. "Mbok mau bantuku?" tanya Karina balik.
"Tentu saja mau, Ibu sudah sangat berjasa pada saya."
"Mbok tolong perhatikan gerak gerik mas Pram, dan tolong peehatikan juga kalau tiap tengah malam dia pergi kemana." Pinta Karina.
"Baik Bu, akan saya lakukan apapun demi Ibu." Mbok minah tersenyum pada Karina, meski Karina tidak bisa melihatnya.
"Terima kasih Mbok, aku mau ke rumah Ibuku dulu."
"Sama siapa Bu?" tanya Mbok Minah khawatir
"Aku bisa minta tolong Raihan mbok."
"Oh, sepupunya Pak Pram."
Karina menganggukkan kepalanya, lalu ia meminta Mbok Minah untuk menghubungi Raihan supaya mengantarkan Karina ke tempat Ibunya.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Raihan datang ke rumah Pram.
"Raihan? tumben kau datang ke sini?" tanya Sumarni.
"Mau mengantarkan Karina ke rumah Ibunya, tante" Raihan menjawab datar.
"Wanita itu memang bikin repot saja," sungut Sumarni pelan, namun jelas terdengar oleh Raihan.
"Kasihan karina, punya mertua mulutnya mirip sampah," batin Raihan. Ia sendiri tidak menyukai tantenya yang sedikit sombong.
Tak lama Karina keluar dari kamarnya, dan berpamitan pada mertuanya untuk menjenguk ibunya.
moga tidak ya klu iya gk semangat lagi baca nya