Di Kota Sentral Raya, kejahatan bukan lagi bayangan yang bersembunyi—ia adalah penguasa. Polisi, aparat, hingga pemerintah berlutut pada satu orang: Wali Kota Sentral Raya, dalang di balik bisnis ilegal, korupsi, dan kekacauan yang membelenggu kota ini.
Namun, ada satu sosok yang tidak tunduk. Adharma—pria yang telah kehilangan segalanya. Orang tua, istri, dan anaknya dibantai tanpa belas kasihan oleh rezim korup demi mempertahankan kekuasaan. Dihantui rasa sakit dan dendam, ia kembali bukan sebagai korban, tetapi sebagai algojo.
Dengan dua cerulit berlumuran darah dan shotgun di punggungnya, Adharma tidak mengenal ampun. Setiap luka yang ia terima hanya membuatnya semakin kuat, mengubahnya menjadi monster yang bahkan kriminal pun takut sebut namanya.
Di balik topeng tengkorak yang menyembunyikan wajahnya, ia memiliki satu tujuan: Menumbangkan Damar Kusuma dan membakar sistem busuk yang telah merenggut segalanya darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saepudin Nurahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Dendam
Malam sudah larut, tapi Darma masih duduk di ruang tamu rumahnya. Cahaya lampu remang-remang, menciptakan bayangan suram di dinding.
Di hadapannya, tergeletak foto keluarganya. Sinta tersenyum lembut, Dwi mengacungkan jari kecilnya dengan ceria, dan kedua orang tuanya tampak bahagia seperti biasa.
Tapi sekarang, mereka semua sudah tidak ada.
Darma mengusap wajahnya. Matanya merah, bukan hanya karena lelah, tetapi juga karena api yang berkobar dalam dadanya.
Di tangannya, ia memegang liontin yang seharusnya ia berikan kepada Sinta. Liontin yang sekarang tidak ada gunanya, karena Sinta sudah pergi.
Perlahan, ia menggenggamnya erat, lalu membuka pengaitnya.
Tanpa ragu, ia memakaikan liontin itu ke lehernya sendiri.
Liontin itu terasa dingin di kulitnya, tetapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai membara.
Dendam.
Darma menghela napas berat, lalu bangkit dari kursinya.
Ia berjalan ke dapur, membuka laci, dan menarik sebuah pisau dapur yang masih tajam. Pantulan wajahnya terlihat di bilah baja itu.
Wajah seorang pria yang sudah kehilangan segalanya.
Ia bukan lagi Guntur Darma yang dulu.
Di dalam dirinya, sesuatu mulai berubah. Rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan mulai bertransformasi menjadi satu hal: tujuan.
Ia tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja.
Kota Sentral Raya akan merasakan apa yang ia rasakan.
Darma membuka lemari penyimpanan di sudut dapur. Tangannya gemetar, tetapi matanya tetap tajam. Ia mencari sesuatu.
Sesuatu yang bisa menjadi alat untuk menumpahkan kemarahan dan dendamnya.
Ketika tangannya menyentuh sesuatu yang dingin, ia menariknya keluar. Dua bilah cerulit dengan mata pisau yang masih tajam.
Ia baru membelinya dua minggu lalu, hanya untuk membersihkan ranting dan ilalang di halaman rumah. Saat itu, alat ini tidak lebih dari sekadar perkakas biasa.
Namun sekarang, cerulit ini terasa berbeda di tangannya.
Ia mengangkatnya di bawah cahaya lampu. Kilatan baja di bilahnya seakan memantulkan kebrutalan yang akan datang.
Darma mengayunkannya perlahan, mengingat kembali teknik yang pernah ia pelajari sejak kecil.
Tubuhnya bergerak otomatis.
Pola, ritme, dan kecepatan yang pernah menjadi bagian dari dirinya kini mulai bangkit lagi.
Bukan lagi sekadar alat berkebun.
Kini, cerulit ini adalah senjata.
Darma meletakkan kedua cerulit itu di atas meja, lalu menghela napas berat. Matanya kini kosong, tetapi penuh dengan kobaran dendam.
Ia belum selesai.
Tangannya bergerak ke arah lemari besi di sudut ruangan. Ia membuka kunci kombinasi yang hanya ia ketahui, jari-jarinya bergerak cepat dan tanpa ragu.
Dengan suara klik, lemari itu terbuka, memperlihatkan isinya.
Di dalamnya, terdapat dua shotgun yang selama ini ia simpan.
Senjata ini bukan untuk berburu atau sekadar koleksi.
Darma sudah lama menyadari bahwa Kota Sentral Raya adalah tempat yang berbahaya. Ia membeli senjata ini secara ilegal, hanya untuk berjaga-jaga.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan benar-benar menggunakannya.
Darma mengangkat satu shotgun, merasakan bobotnya yang berat namun familiar di tangannya.
Ia menarik tuas pengisian peluru.
Suara mekanisnya bergema di dalam ruangan yang sepi.
Diikuti dengan suara yang sama saat ia menyiapkan shotgun satunya lagi.
Kini, ia berdiri di tengah ruangan dengan dua cerulit dan dua shotgun di hadapannya.
Ia bukan lagi pria biasa yang bekerja di perusahaan logistik.
Ia adalah seseorang yang telah kehilangan segalanya.
Dan kini, ia hanya memiliki satu tujuan.
Dan ia akan menggunakannya.
Darma berdiri diam di depan lemari pakaian yang sudah lama tak ia sentuh. Tangannya bergerak membuka pintunya perlahan, seakan menyadari bahwa ini bukan sekadar pakaian, tapi sisa-sisa kenangan yang akan segera ia ubah menjadi sesuatu yang baru.
Di dalamnya, tergantung sebuah seragam tactical milik almarhum abangnya.
Seragam yang dulu digunakan oleh kakaknya, seorang mantan tentara. Ia gugur dalam kecelakaan saat bertugas di medan perang, dan pakaian ini adalah satu-satunya peninggalannya yang masih utuh.
Darma meraba kain itu. Setiap jahitan mengandung cerita, perjuangan, dan pengorbanan.
Tanpa ragu, ia mulai mengenakannya.
Saat ia merasakan bahan tactical itu melekat di tubuhnya, ia merasakan sesuatu—bukan sekadar pakaian yang membalut tubuhnya, tetapi warisan keberanian yang kini ia warisi.
Namun, itu belum cukup.
Ia berbalik menuju lemari Sinta.
Di sana, tergantung sebuah trench coat panjang dengan kerah tinggi—mantel favorit Sinta.
Sinta selalu mengenakannya saat hujan turun atau saat cuaca dingin menyelimuti Kota Sentral Raya.
Darma mengambilnya perlahan. Aroma samar Sinta masih tertinggal di sana.
Sesaat, ia terpaku.
Sakit.
Begitu menyakitkan mengingat bahwa wanita yang selalu tersenyum kepadanya, yang selalu memeluknya di kala ia lelah, kini tidak lagi ada di dunia ini.
Namun, Darma tahu bahwa ia harus membawa sebagian dari mereka bersamanya.
Ia mengenakan trench coat itu, merasakan kainnya yang sedikit berat menyelimuti tubuhnya.
Kini, ia bukan hanya membawa kenangan abangnya. Ia juga membawa kenangan istrinya.
Lalu, ia membuka laci di meja kecil di pojok ruangan.
Di sana, terdapat sebuah topeng full-face tengkorak.
Ia tersenyum kecil, meski getir.
Topeng ini dulu hanya mainan.
Ia sering mengenakannya untuk menakut-nakuti Dwi saat bermain. Putrinya akan tertawa dan berteriak, lalu berlari memeluknya sambil berkata, "Ayah serem banget! Tapi aku nggak takut!"
Kini, topeng ini bukan lagi sekadar lelucon.
Ia mengangkatnya perlahan, menatapnya lama.
Kemudian, ia memakainya.
Dalam sekejap, dunia di sekelilingnya terasa berubah.
Darma berbalik menghadap cermin.
Di sana, bukan lagi seorang pria biasa yang mengenakan kemeja kerja dan tersenyum lembut.
Yang ia lihat adalah seseorang yang telah kehilangan segalanya.
Seseorang yang kini hanya hidup untuk satu tujuan.
Balas dendam.
Darma mengepalkan tangan, napasnya berat.
Air mata jatuh dari balik topengnya, tetapi ia tidak menahannya.
Ini bukan sekadar kesedihan.
Ini adalah kelahiran kembali.
Darma menatap bayangannya sendiri sekali lagi.
Kemudian, ia berbisik lirih.
"Aku bukan lagi Guntur Darma yang dulu."