Rahasia Sang Wanita Besi
Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.
Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Bayangan di Balik Iron Maiden
Lorong sempit itu dipenuhi aroma logam dan cat yang mengelupas. Evelyn menatap file dalam genggamannya dengan ekspresi tegang. Proyek Iron Maiden. Nama yang seharusnya telah lama terkubur di masa lalunya.
Liam berdiri di depannya, bersandar pada dinding beton yang lembab. “Kau belum mengatakan apa pun,” katanya pelan. “Aku tahu ini berarti sesuatu bagimu.”
Evelyn menarik napas dalam. Matanya kembali menelusuri setiap kata dalam dokumen itu, mencoba mencari petunjuk apa yang sebenarnya diinginkan Leonard Verhoven.
Iron Maiden bukan sekadar proyek. Itu adalah luka.
Luka yang membentuknya menjadi wanita seperti sekarang.
“Apa yang kau tahu?” Evelyn akhirnya bertanya, suaranya terdengar lebih dalam daripada biasanya.
Liam menyilangkan tangan. “Cukup untuk tahu bahwa Leonard sangat terobsesi dengan ini. Aku menemukan file ini tersembunyi dalam server pribadinya, dikunci dengan enkripsi tingkat tinggi. Butuh waktu berminggu-minggu bagiku untuk membukanya.”
Evelyn meliriknya. “Tapi kau berhasil.”
Liam mengangguk. “Dan begitu aku melihat isinya, aku tahu ini berkaitan denganmu. Evelyn Carter—satu-satunya subjek yang berhasil bertahan dari Proyek Iron Maiden.”
Evelyn mengeraskan rahangnya. “Jangan sebut itu.”
Liam terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Kau satu-satunya yang selamat. Semua orang di proyek itu mati atau menghilang.”
Evelyn memejamkan mata sejenak, memori kelam dari bertahun-tahun lalu mulai kembali. Dia masih bisa mendengar jeritan di laboratorium bawah tanah itu, bisa merasakan dinginnya baja menekan kulitnya, bisa mencium bau obat-obatan dan darah yang memenuhi ruangan eksperimen.
Dia tidak pernah ingin mengingatnya.
Namun kini, masa lalunya kembali menghantuinya.
“Kenapa Leonard ingin tahu tentang ini?” Evelyn bertanya, mencoba fokus pada ancaman saat ini.
Liam mengangkat bahu. “Mungkin dia ingin menghidupkan kembali proyek itu. Atau mungkin dia ingin menemukan sesuatu yang masih tersisa dari eksperimen tersebut.”
Evelyn menggertakkan giginya. Jika Leonard menemukan kebenaran tentang Proyek Iron Maiden, maka segalanya bisa berantakan.
“Kita harus menghentikannya,” katanya dengan suara dingin.
Liam tersenyum miring. “Aku tahu kau akan mengatakan itu.”
Evelyn kembali ke apartemennya dengan langkah cepat, menyalakan sistem keamanan dan memastikan bahwa tidak ada penyusup sebelum akhirnya membuka komputer pribadinya.
Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, mencari informasi tambahan yang mungkin bisa menghubungkan Leonard dengan Proyek Iron Maiden.
Namun, sebelum dia menemukan sesuatu, sebuah pesan masuk ke email rahasianya.
"Kau pikir kau bisa menyembunyikan semuanya selamanya?"
Jantung Evelyn berhenti berdetak sejenak.
Pesan itu tidak memiliki pengirim yang jelas, tetapi dia tahu ini bukan kebetulan. Seseorang tahu bahwa dia sedang mencari informasi tentang proyek itu.
Tepat saat dia hendak membalas, layar komputernya berkedip—sistemnya sedang diretas.
“Brengsek,” Evelyn mengumpat sambil dengan cepat menonaktifkan jaringan internetnya, tapi sudah terlambat. File tentang Iron Maiden yang baru saja dia unduh tiba-tiba menghilang.
Seseorang sedang bermain dengannya. Dan dia tidak menyukainya.
Dengan cepat, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang sudah lama tidak dia ajak bicara.
“Lana, aku butuh bantuanmu,” katanya begitu panggilan tersambung.
Di ujung sana, terdengar suara tawa kecil. “Kupikir kau sudah mati, Carter.”
“Aku tidak punya waktu untuk bercanda,” kata Evelyn tajam. “Aku perlu tahu siapa yang baru saja meretas sistemku.”
Lana mendesah. “Baiklah, beri aku beberapa menit.”
Evelyn menunggu dengan gelisah, matanya terus mengamati layar komputer yang kini sudah kembali normal. Namun, dia tahu bahwa ini bukan serangan biasa.
Lima menit kemudian, Lana kembali.
“Kabar buruk, Carter. Orang yang meretas sistemmu adalah seorang hacker kelas atas.”
“Siapa?”
“Namanya Vortex. Dia bukan orang sembarangan. Jika dia menargetkanmu, berarti kau sedang berada dalam masalah besar.”
Evelyn mengepalkan tangannya. Dia sudah mendengar nama itu sebelumnya—Vortex adalah salah satu hacker bayaran paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Dan jika dia bekerja untuk Leonard, maka segalanya akan menjadi lebih rumit.
“Aku akan mengurusnya,” Evelyn berkata dingin sebelum menutup telepon.
Dia sudah tahu langkah selanjutnya.
Jika Leonard menggunakan Vortex untuk melacaknya, maka dia harus menemukan Vortex lebih dulu.
Dua jam kemudian, Evelyn duduk di sebuah bar kecil di distrik kumuh kota. Lampu neon berkedip redup, aroma alkohol bercampur asap rokok memenuhi udara.
Dia menunggu.
Dan akhirnya, seseorang duduk di kursi di depannya.
Seorang pria dengan hoodie hitam dan kacamata berwarna biru gelap menatapnya dengan senyum miring.
“Kudengar kau mencariku,” kata pria itu.
Evelyn menatapnya tanpa ekspresi. “Vortex.”
Pria itu terkekeh. “Langsung ke intinya, ya? Aku suka itu.”
Evelyn tidak membuang waktu. “Berapa yang Leonard bayar untuk meretas sistemku?”
Vortex menaikkan alisnya. “Oh, jadi kau tahu? Aku terkesan.”
“Jawab pertanyaanku,” Evelyn menekan suaranya.
Vortex menghela napas dramatis. “Cukup besar untuk membuatku tertarik.”
Evelyn menyandarkan tubuhnya ke belakang, menatapnya tajam. “Bagaimana kalau aku membayarmu dua kali lipat untuk membocorkan informasi yang kau temukan kepadaku?”
Vortex tertawa kecil. “Kau pikir aku bisa dikhianati semudah itu?”
Evelyn mengeluarkan sebuah USB dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Di dalamnya ada sesuatu yang bisa menghancurkan reputasimu di komunitas bawah tanah.”
Mata Vortex menyipit. “Kau menggertak.”
Evelyn tersenyum tipis. “Kau bisa mencobanya sendiri.”
Vortex menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengambil USB itu dan memasukkannya ke laptopnya. Wajahnya berubah seketika saat dia membaca isi file di dalamnya.
“Kau licik, Carter.”
Evelyn tidak menjawab.
Vortex mendesah. “Baiklah, aku akan memberitahumu satu hal.”
Dia mengetik sesuatu di laptopnya sebelum memutarkan layar ke arah Evelyn.
Di sana, tertulis sebuah alamat.
“Ini tempat Leonard menyimpan semua dokumen rahasianya. Jika kau ingin tahu lebih banyak tentang Iron Maiden, kau harus pergi ke sana.”
Evelyn membaca alamat itu dengan mata tajam.
“Terima kasih atas kerjasamanya,” katanya dingin sebelum bangkit dan meninggalkan bar itu.
Malam itu, angin dingin berhembus tajam di sepanjang jalanan kota.
Evelyn tahu, pertempuran baru saja dimulai.
Dan kali ini, dia tidak akan kalah.
Angin malam terasa menusuk kulit saat Evelyn berjalan menyusuri lorong sempit di antara gedung-gedung tua. Setelah mendapatkan alamat dari Vortex, dia tahu bahwa tidak ada waktu untuk berdiam diri. Jika Leonard menyimpan informasi tentang Proyek Iron Maiden di tempat itu, maka dia harus bergerak cepat sebelum orang lain menemukannya lebih dulu.
Langkahnya terhenti di depan sebuah gudang tua yang tampak terbengkalai. Dari luar, bangunan itu tidak berbeda dengan gudang-gudang kosong lainnya di distrik industri ini. Namun, Evelyn tahu lebih baik daripada menilai sesuatu hanya dari penampilan.
Dia menyentuh anting kecil di telinganya, yang sebenarnya adalah alat komunikasi canggih. “Liam, aku di lokasi.”
Suara Liam terdengar di telinganya, tenang dan terukur. “Ada tiga penjaga di luar. Aku mendeteksi kamera pengawas di sudut kiri gedung dan di atas pintu masuk utama.”
Evelyn melirik ke sekelilingnya, mengamati posisi kamera yang disebutkan Liam. Dia mengambil langkah mundur, bersembunyi di bayangan gedung sebelum mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya—jam tangan EMP mini.
“Matikan kameranya,” katanya pelan.
Liam mengetik beberapa perintah di sistemnya. “Tiga... dua... satu...”
Evelyn melihat lampu kecil di sudut kamera berkedip sebentar sebelum mati sepenuhnya.
“Sekarang,” kata Liam.
Evelyn tidak membuang waktu. Dengan gerakan gesit, dia meluncur ke depan, tubuhnya nyaris tak bersuara saat dia menyelinap di antara bayangan. Tiga pria bersenjata berjaga di sekitar pintu masuk, namun mereka tampak santai, mengira tidak ada yang akan berani mendekati tempat ini.
Kesalahan besar.
Dengan cekatan, Evelyn mengambil pisau kecil dari lengan bajunya dan melemparkannya ke arah pria pertama. Pisau itu menancap tepat di tenggorokannya sebelum dia sempat mengeluarkan suara.
Pria kedua berbalik dengan ekspresi terkejut, tapi Evelyn sudah lebih dulu bergerak. Dalam satu ayunan cepat, dia menendang bagian belakang lututnya, membuatnya jatuh ke tanah sebelum menghantam tengkuknya dengan siku.
Hanya tersisa satu.
Pria terakhir mencoba menarik senjatanya, tapi Evelyn lebih cepat. Dia menangkap tangannya, memutar pergelangan pria itu dengan keras hingga terdengar bunyi patah, lalu dengan gerakan cepat menusukkan jarum bius ke lehernya.
Dalam hitungan detik, ketiga penjaga itu tak lagi menjadi ancaman.
“Penjaga sudah dilumpuhkan,” bisik Evelyn ke alat komunikasinya.
“Bagus. Sekarang masuklah sebelum mereka sadar,” jawab Liam.
Evelyn merogoh saku pria pertama dan menemukan kartu akses. Dia segera menggunakannya untuk membuka pintu gudang, lalu menyelinap masuk.
Begitu berada di dalam, Evelyn langsung melihat bahwa gudang ini bukan tempat biasa.
Ruangan yang tampaknya kosong itu ternyata memiliki lorong tersembunyi di bawah lantai. Dengan hati-hati, dia mengikuti tangga yang menurun ke sebuah bunker bawah tanah.
Lampu neon putih menerangi lorong panjang yang dipenuhi dengan rak-rak besi berisi dokumen dan perangkat komputer tua.
Di ujung lorong, ada sebuah ruangan dengan pintu besi tebal. Evelyn mendekatinya, melihat bahwa pintu itu memiliki pemindai retina.
“Liam, aku butuh akses,” katanya sambil memeriksa pemindai tersebut.
Liam mendecak. “Aku butuh waktu. Ini sistem keamanan tingkat tinggi.”
Evelyn mendesah, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding, mencoba mencari solusi lain. Namun, sebelum Liam bisa mencoba sesuatu, pintu besi itu tiba-tiba terbuka sendiri.
Evelyn langsung waspada.
Seseorang sudah ada di dalam.
Dengan langkah hati-hati, dia masuk ke dalam ruangan itu dan segera melihat sosok pria tinggi berdiri membelakanginya.
Leonard Verhoven.
“Kuduga cepat atau lambat kau akan datang,” kata Leonard tanpa menoleh.
Evelyn segera menarik pistolnya. “Jangan bergerak.”
Leonard berbalik perlahan, wajahnya tenang seolah tak terganggu dengan ancaman senjata yang diarahkan kepadanya.
“Apa yang kau cari, Evelyn?” tanyanya, nada suaranya santai.
Evelyn tidak menjawab. Matanya menelusuri ruangan itu dan segera melihat sebuah layar komputer besar yang menampilkan dokumen-dokumen yang sangat familiar baginya.
Dokumen tentang Proyek Iron Maiden.
“Kau benar-benar terobsesi dengan ini,” kata Evelyn dingin.
Leonard tersenyum tipis. “Tentu saja. Bagaimana tidak? Kau adalah satu-satunya subjek yang berhasil dari eksperimen itu.”
Evelyn merasakan gelombang kemarahan dalam dirinya. “Aku bukan subjek eksperimen. Aku korban.”
Leonard menggeleng. “Tidak, Evelyn. Kau adalah mahakarya.”
Dia mengangkat tangannya dan mengetik sesuatu di keyboard komputer. Dalam sekejap, layar menampilkan rekaman video lama—gambar laboratorium bawah tanah dengan seorang gadis kecil yang terbaring di atas meja operasi.
Evelyn merasakan darahnya membeku.
Dia mengenali gadis itu.
Itu dirinya.
“Berhenti,” katanya dengan suara bergetar.
Namun Leonard terus berbicara. “Kau tidak ingat, bukan? Tapi aku ingat semuanya. Aku ingat bagaimana mereka mengubahmu, membentukmu menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih cepat, lebih pintar...”
Dia menatap Evelyn dengan penuh kekaguman. “Kau adalah ciptaan paling sempurna dari eksperimen itu.”
Evelyn menelan ludah. Jari-jarinya menggenggam pistol lebih erat.
“Apa yang kau inginkan, Leonard?” tanyanya dengan nada dingin.
Leonard tersenyum kecil. “Aku ingin kau kembali.”
Evelyn menegang.
“Kembali?”
“Kau dan aku, kita bisa menghidupkan proyek ini kembali,” kata Leonard. “Dunia ini penuh dengan orang-orang lemah. Dengan Iron Maiden, kita bisa menciptakan generasi baru manusia yang lebih kuat. Sama sepertimu.”
Evelyn menatapnya dengan penuh kebencian. “Aku lebih baik mati.”
Leonard menghela napas. “Sayang sekali.”
Dalam sekejap, dia menekan tombol merah di meja komputer, dan alarm berbunyi keras.
Evelyn langsung tahu apa yang terjadi—Leonard sudah menyiapkan jebakan.
“Liam! Aku butuh jalan keluar sekarang!” katanya sambil mundur, mengarahkan pistolnya ke Leonard.
“Ada pasukan datang ke arahmu,” kata Liam. “Keluar dari sana, cepat!”
Evelyn tidak berpikir dua kali. Dia melepaskan tembakan ke arah layar komputer, menghancurkannya dalam sekejap, sebelum berbalik dan berlari keluar ruangan.
Dari balik lorong, beberapa pria bersenjata sudah berlari ke arahnya.
Tanpa ragu, Evelyn menembak lampu di langit-langit, membuat ruangan itu menjadi gelap gulita. Lalu, dengan kecepatan luar biasa, dia berlari ke pintu keluar, menghindari tembakan yang melesat ke arahnya.
Dia berhasil mencapai tangga dan berlari ke atas, keluar dari gudang sebelum seluruh tempat itu dikunci.
Begitu sampai di luar, dia melihat Liam sudah menunggunya di dalam mobil.
“Masuk!” teriaknya.
Evelyn melompat masuk, dan mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan gudang yang kini dikelilingi oleh pasukan Leonard.
Napasnya masih memburu, pikirannya dipenuhi dengan kata-kata Leonard.
Aku ingin kau kembali.
Tidak. Evelyn tidak akan pernah kembali.
Dia akan menghancurkan Proyek Iron Maiden sampai ke akar-akarnya.
Dan dia akan memastikan Leonard tidak akan pernah memiliki kesempatan lagi.
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗