Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkit Masa Lalu
"Apa kau selalu berpakaian seperti itu saat bertemu pria?" Terpancing dengan ucapan Aiden, Henry langsung melontarkan pertanyaan yang ia harap bisa menjatuhkan harga diri Lila.
"Apa maksudmu? Memangnya kenapa dengan pakaianku?"
"Kenapa? Kau ini memang bodoh atau hanya pura-pura saja? Apa yang ingin kau tunjukkan pada kami? Apa kau sengaja kembali ke kota ini untuk menunjukkan dirimu yang sekarang? Kau ingin pamer? Kau ingin bilang bahwa kau juga bisa menjadi cantik dan diinginkan para pria? Apa kau masih sakit hati dengan perjanjian yang kami buat?" Henry terus mengoceh tanpa henti seperti seorang bocah pendendam yang tidak pernah menang dari rivalnya. Berbeda dengan image yang ia tunjukkan tadi malam sebagai seorang CEO dari perusahaan ternama yang kharismatik dan berwibawa.
"Hei Henry, sudahlah!" Ucap Pierre yang mencoba menghentikan ocehan kekanakan Henry.
Lila yang menjadi sasaran kebenciannya hanya terdiam dengan mulut terbuka. Ia syok, sangat syok dengan apa yang sedang ia hadapi saat ini. Sudah 10 tahun mereka tidak bertemu dan sekarang mereka harus memperdebatkan sesuatu yang sudah lama terjadi.
"Kau ini bicara apa, hah? Untuk apa aku pamer padamu? Apa menurutmu kau sepenting itu sehingga aku butuh pengakuan darimu? Oh ya Tuhan, kau ini benar-benar keterlaluan ya? Apa kau lupa sudah berapa gigimu yang copot karena pukulan dariku? Apa itu masih belum cukup?" Lila yang tidak bisa menerima ucapan Henry langsung membalas serangannya dengan mengungki aib masa lalu Henry.
Henry terdiam, ia merasa sangat malu karena Lila harus menyerang kebagian yang paling fatal. Itu membuatnya semakin kesal dan ingin membalas Lila lebih buruk lagi.
"Hei, apa gunanya penampilanmu berubah jika sifatmu masih sama saja? Kau mau menipu pria dengan penampilanmu? Sudah berapa pria yang berhasil kau goda dengan ukuran payudaramu itu?" Henry semakin menggila hingga kata-kata yang keluar dari mulutnya bukan hanya membuat Lila saja yang syok, namun Aiden, Jacob dan Pierre sampai kehilangan kata-kata untuk diucapkan.
Lila bangkit dari sofa dan melangkah menghampiri Henry yang berdiri di depan pintu. Ia menatap Henry dengan sorot mata yang memendam kemarahan yang sangat besar. Meski dengan perbedaan tinggi badan dan ukuran tubuh yang mencolok, namun kekuatan Lila tampaknya cukup membuat Henry gentar.
Henry masih ingat masa-masa penuh rasa sakit yang ia rasakan selama bertahun-tahun. Ia harus kehilangan empat giginya di waktu yang berbeda setiap kali mencoba berkelahi dengan Lila. Ia tidak pernah menang satu kalipun meski ia sudah meminta beberapa pelatih seni bela diri untuk membantunya berlatih, Henry tetap kalah. Dan untuk menutupi rasa atas kekalahannya, ia hanya bisa mengungkit status Lila sebagai cucu dari salah seorang mantan pemimpin geng kriminal paling berbahaya di Australia yang sudah pasti sangat kuat meski sebenarnya status dan kekuatannya sama sekali tidak ada hubungannya.
"Apa? Kau mau apa? Kau mau meninjuku? Kau pikir cara itu akan berhasil sekarang?" Ujarnya dengan rasa percaya diri yang tinggi bahwa sekarang Lila tidak akan mungkin bisa menghajarnya seperti dulu lagi.
Lila sama sekali tidak bergeming, tatapan matanya tetap fokus Henry seolah merencanakan sesuatu. Itu membuat Jacob, Aiden dan Pierre khawatir jika sampai kedua teman mereka ini akan berkelahi dengan usia mereka yang sekarang. Sungguh itu bukanlah hal yang lucu jika itu terjadi.
Namun Lila, ia tahu apa yang harus ia lakukan saat menghadapi pria egois, angkuh dan keras kepala seperti Henry. Ia melepaskan cardigannya dan menjatuhkannya ke lantai. Gaun tidurnya terlihat dan transparan. Lila menarik tali bajunya dan menurunkannya sedikit hingga bagian payudaranya terlihat hampir menunjukkan bagian yang sangat penting.
Henry terdiam, ia syok dengan apa yang ia lihat. Lila nyaris membuka bajunya di depan ia dan ketiga temannya di saat tidak ada siapapun di rumah ini selain mereka berempat. Itu bukanlah hal yang baik jika Lila tetap melanjutkan aksi gilanya.
Bukan hanya Henry. Namun Jacob, Aiden dan Pierre melotot dan terkejut. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang dan ini benar-benar berbahaya.
"Apa yang kau-" Ucap Henry gelagapan. Wajahnya memerah. Ia cukup terbiasa dikelilingi banyak wanita, namun yang di depannya ini adalah teman masa kecilnya yang dulu selalu berpenampilan seperti laki-laki.
Pierre bangkit dari sofa dan melepaskan jaket yang ia kenakan. Ia berdiri di belakang Lila dan menyelimuti pundaknya dengan jaket miliknya.
"Sudah cukup! Kami sudah tahu. Kau tidak perlu menunjukkan bahwa kau adalah perempuan!" Ujar Pierre. Lila terdiam, entah mengapa ia merasa sedih saat Pierre mengatakannya.
"Aku sama sekali tidak ingin pengakuan siapapun. Tapi kalianlah yang membuatku harus melakukan ini. Maaf jika aku sudah melakukan sesuatu yang sangat memalukan." Ucapnya sembari melangkah pergi meninggalkan mereka yang terpaku dalam keheningan.
Lila naik ke lantai dua dan masuk ke dat kamarnya. Ia merasa sangat sedih dan tak tahu mengapa hal seperti ini harus terjadi. Ia ingin kembali pada mereka seperti Lila yang dulu mereka kenal seolah tidak pernah ada rasa canggung apapun yang mereka lakukan bersama. Mereka selalu menganggap Lila sama seperti mereka.
Namun saat ini tampaknya kedekatan seperti itu sudah tidak mungkin terjadi. Keadaan dan kondisi mereka sudah berubah, jika ia memaksakan diri untuk kembali dekat dengan mereka, orang-orang pasti akan melihat itu seperti seorang wanita yang berkencan dengan empat orang pria sekaligus.
Sementara itu, Henry yang syok, tak tahu harus melakukan apa sekarang. Untuk sesaat harus ia akui, gairahnya muncul saat melihat Lila dan keindahan tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, dan hal itu pun juga dirasakan oleh Pierre, Jacob dan Aiden.
"Sialan! Kenapa dia bisa jadi secantik itu?" Gumam Aiden sembari menyandarkan kepalanya ke sofa.
Jacob bungkam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Henry, seharusnya kau bisa menahan dirimu untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya sakit hati seperti itu. Kenapa kau masih saja mengungkit masa lalu?" Ujar Pierre.
"Apa kau tidak marah padanya? Apa kau tidak merasa sakit hati mendengar ucapannya? Brengsek, anak buah katanya? Jadi selama 12 tahun aku hanya menjadi anak buahnya? Pantas saja dia sering menyiksaku." Ujar Henry. Ia merasa sangat kecewa.
"Tidak ada waktu memikirkan itu! Minggu depan aku akan kembali ke Sydney. Aku harap saat masih di sini, tidak ada lagi dendam lama yang tersimpan. Henry, pikirkan saja tanggung jawabmu sebagai pimpinan perusahaan. Jangan kecewakan ayahmu. Jake juga akan kembali bekerja dan mungkin kami akan pergi bersama. Dan kau Aiden-" Pierre tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia dan Aiden saling menatap dingin seolah masing-masing dari mereka menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui.
"Kenapa denganku?" Tanya Aiden dengan ekspresi dingin.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Lupakan saja!"
***