NovelToon NovelToon
Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Menuju Rumah

Aku mautapi bagaimana dengan pekerjaanku disini ? Pertanyaan Naomy mengudara, menyisakan keheningan tipis di antara mereka. Raka menatap wajah wanita di hadapannya. Ia bisa melihat binar kebingungan sekaligus rasa tanggung jawab yang besar di mata Naomy. Ini bukan sekadar tentang ikut bersamanya ke Jakarta; ini tentang komitmen yang telah Naomy buat dengan sekolah dan anak-anak didik di desa ini.

​Raka tersenyum maklum. Ia menggenggam jemari Naomy sedikit lebih erat, menyalurkan rasa tenang.

​"Aku tahu tempat ini berarti banyak buat kamu, Naomy," ucap Raka lembut, suaranya terdengar begitu suportif. "Kamu datang ke sini bukan cuma untuk melarikan diri dari sakit hati, tapi kamu benar-benar mendedikasikan dirimu sebagai guru di sini, kan?"

​Naomy mengangguk pelan. "Aku sudah terikat kontrak mengajar di sini, Raka. Anak-anak didikku baru saja beradaptasi, dan aku tidak bisa begitu saja pergi dan meninggalkan mereka tanpa pertanggungjawaban. Itu tidak adil untuk sekolah ini."

​Raka mengusap lembut punggung tangan Naomy. Ia tidak lagi menjadi pria egois yang hanya memaksakan kehendaknya seperti dulu.

​"Aku tidak akan pernah memintamu untuk mengorbankan hal yang kamu cintai, Sayang," ujar Raka tulus. "Kalau kamu butuh waktu untuk menyelesaikan tugasmu di sini sampai akhir semester atau sampai penggantimu ada, aku akan mendukungmu. Aku bisa bolak-balik Jakarta–Karanganyar setiap akhir pekan untuk menengokmu."

​Naomy menatap Raka tidak percaya. "Kamu... serius? Kamu rela bolak-balik sejauh itu?"

​"Jarak ratusan kilometer tidak ada artinya dibanding dua minggu saat aku kehilanganmu tanpa kabar," jawab Raka mantap. "Atau... kalau kamu setuju, aku bisa bicara dengan pihak yayasan atau kepala sekolah di sini secara baik-baik. Kita cari solusi terbaik yang tidak merugikan sekolah, apakah itu menyelesaikan sisa semester ini dulu, atau membantu proses transisi pengajar baru secara profesional."

​Raka mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Naomy. "Keputusannya ada di tanganmu, Naomy. Aku di sini bukan untuk mencabut akarmu, tapi untuk menjadi tempatmu bersandar ke mana pun kamu tumbuh."

​Airmata haru kembali menggenang di sudut mata Naomy. Pria di depannya ini benar-benar telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih dewasa, bijaksana, dan sangat menghargai jalannya.

​"Yasudah, kita bicara di rumah hunian yaa," ucap Naomy lembut seraya menyunggingkan senyum hangat yang paling tulus untuk Raka.

​Raka mengangguk setuju. Ia melepaskan genggaman tangannya perlahan, memberikan ruang bagi Naomy untuk merapikan barang-barang di meja guru dan berpamitan sejenak kepada rekan sejawatnya.

​Sepanjang jalan setapak menuju kompleks hunian guru, mereka berjalan bersisian. Angin pegunungan yang berembus pelan membawa hawa sejuk, membelai wajah keduanya. Namun, berbeda dengan malam-malam penuh ketegangan sebelumnya, kali ini suasana di antara mereka terasa begitu menenangkan dan sarat akan keterbukaan.

​Cklek.

​Naomy membuka pintu rumah huniannya dan membiarkan Raka masuk terlebih dahulu. Ia segera melangkah ke dapur kecilnya, menyeduh dua cangkir teh hangat untuk mencairkan suasana.

​Tak lama kemudian, Naomy kembali ke ruang tamu kecil itu dan meletakkan cangkir teh di atas meja kayu. Ia duduk di hadapan Raka, menatap pria yang kini memandangnya dengan penuh keseriusan dan rasa hormat.

​"Raka... terima kasih ya, karena kamu mau mengerti posisiku sebagai guru di sini," buka Naomy pelan, memegang cangkir tehnya yang masih berasap tipis. "Jujur, aku sangat bahagia mendengar kabar tentang keluarga kamu dan pembatalan perjodohan itu. Rasanya seperti mimpi."

​"Ini bukan mimpi, Naomy. Semuanya nyata," jawab Raka tegas, matanya menatap lurus ke arah Naomy. "Dan sekarang, aku ingin mendengar apa yang ada di dalam pikiranmu. Apa pun keputusannya terkait pekerjaanmu di sini, aku siap mendukung."

​Naomy menghela napas panjang, meresapi rasa lega yang akhirnya menghinggapi hatinya secara utuh. Di ruangan sederhana ini, mereka siap merancang masa depan baru yang telah mereka perjuangkan bersama.

1
dinda.glow
haloo ku mampir yah!! ceritamu banyak banget ihihi. jadi bingung mau baca yg mana ehehe
dinda.glow: iyaww
total 2 replies
dinda.glow
haloo izin mampir ya... saling mampir yuk
bsjelfjbrndsabdvr
nyimak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!