NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Belum selesai memikirkan masalah kesehatan Zakia, kini kepala Daren sudah dipenuhi oleh kalimat terakhir Rega, rahasia? Sebesar apa rahasia yang disimpan Zakia sehingga membuat dirinya seperti itu?

Langkah gontai yang diseret itu membawa pelan ke ruangan Zakia, koridor Rumah sakit tidak terlalu ramai, namun ada beberapa orang lewat membuat ruangan ini tidak terlalu sunyi.

"Aduh!" Daren seketika tersadar dari lamunannya, ia menatap ke depan, di ujung sana ada seorang anak menggunakan tongkat yang terjatuh.

"Astaga!" Kaki Daren melangkah cepat menghampiri anak itu, sedikit demi sedikit gerakan tangan Daren membantu anak itu untuk kembali berdiri.

"Kamu gapapa?" Rasa khawatir tergambar jelas diwajah Daren, sang anak yang ditolong tersenyum lebar sampai giginya terlihat.

"Gapapa Om, udah biasa kok," jawabnya. Hati Daren mencelos, udah biasa? Netranya menatap dua tongkat yang tergeletak di lantai, anak itu mengikuti arah pandangan Daren.

"Eh tongkat aku, om boleh ambilin? Kalau ga ada itu aku susah jalan," pintanya. Daren dengan sedang hati mengambil tongkat itu, sang anak. menyambut tongkat itu dan membuat posisi yang pas untuk bisa berjalan.

"Makasih ya om," katanya.

"Iya sama-sama, lain kali hati-hati ya," peringat Daren lembut dan mengusap pucuk kepala anak itu.

Anak itu menunduk dan memanyunkan bibirnya, "aku selalu hati-hati kok, banyak orang bilang sama aku harus hati-hati, padahal aku udah hati-hati dan jalan pangkai tongkat gini ga gampang tau."

Senyum kecil terbit dari bibir Daren, jarinya mencubit pelan pipi gembul anak itu sampai anak itu kembali tertawa karena ulah Daren.

"Iya om paham kok, maaf ya kalau kamu sakit hati, tapi om ga ada maksud kayak gitu, om cuman pengen penyembuhan kamu bisa bagus," ujar Daren.

Anak itu berjalan pelan menggunakan tongkatnya, ia mendekat ke arah Daren dan menepuk pelan tangan Daren.

"Makasih ya om, tapi selama ini orang selalu bilang hati-hati sama aku tapi mereka ga tau kalau aku juga udah berusaha buat hati-hati, ga ada orang yang pengen punya kaki cacat kayak gini," katanya pelan. Anak itu menunduk. memperhatikan kakinya yang dibaluti perban, kaki itu menggantung sehingga membutuhkan tongkat untuk mengganti fungsi kaki yang sudah lemah.

Daren ikut menatap kaki itu, sejenak ia teringat dengan kondisi kaki Zakia, apakah begini gambaran Zakia ke depan harinya jika dia berjalan menggunakan tongkat? Anak kecil di depannya ini saja bisa mengeluh dengan kondisinya sekarang, lalu bagaimana dengan Zakia?

"Om, duduk situ yok, aku ga kuat berdiri kayak gini," ajak anak itu. Ia berjalan mendahului Daren dengan tongkatnya, sesampainya di depan kursi Rumah sakit, tongkat itu dilepaskan dan ia pelan-pelan mendudukkan dirinya di atas kursi besi tersebut.

"Sst!" ringisnya.

"Kenapa?"

"Agak ngilu dikit." Anak itu mengusap pelan kakinya, berharap rasa ngilu itu hilang karena sudah dibawa berdiri lama.

"Om di sini ngapain?"

"Nemenin istri sakit."

"Oh ya, tantenya sakit apa? Mudah-mudahan jangan kayak aku ya, takutnya entar ngerepotin orang," jawabnya. Jantung Daren seketika berhenti mendengar itu, andai anak ini tahu kalau istrinya juga sekarang sedang melawan rasa minder di dalam dirinya karena sakit yang dia alami.

Anak itu melihat seorang bocah yang berjalan di depannya, berjalan menggunakan kaki yang normal, bukankah terasa menyenangkan?

"Kenapa kamu bilang ngerepotin orang?" tanya Daren penasaran.

Anak itu menatap Daren, "iyalah ngerepotin, soalnya ke mana-mana harus dituntun, capek tau Om," katanya.

"Andai aja kemaren ayah tiri aku ga mukulin kaki aku karena aku ngelawan sama dia, pasti kaki aku sehat, pasti aku ga ngerepotin bunda, ini gara-gara aku bunda repot bolak-balik rumah sakit."

Lagi dan lagi Daren teringat dengan istrinya, apakah seperti ini yang dipikirkan Zakia sehingga wanita itu tetap memaksakan diri? Apa karena mengalami sakit kaki itu membuat Zakia berpikir bahwa dia akan merepotkan semua orang di sekitarnya?

"Terus sekarang bundanya mana?" Daren menyusuri sekitar, tapi tidak ada tanda-tanda seorang ibu yang datang menyusul mereka.

"Ada lagi beli udang goreng untuk aku, aku suka banget makan udang goreng, itu makanan favorit aku sejak dulu, tapi semenjak ada ayah tiri aku dia ga izinin aku makan udang goreng, katanya anak kayak aku ga cocok makan udang goreng."

Kesedihan menyelimuti wajah anak itu, tapi sedetik kemudian senyumnya kembali terbit. "Tapi ayah tiri itu ga pernah di rumah lagi, bunda usri dia pas ketahuan mukulin aku dan sekarang aku bisa bebas makan udang goreng kayak dulu," ungkapnya senang.

Daren ikut tersenyum mendengar itu, keceriaan yang dipancarkan anak ini sangat bersinar, sehingga dengan senyumnya saja bisa membuat orang lain ikut tersenyum.

"Yang penting bunda kamu ga kerepotan kan?"

Anak itu menatap ke atas dan menimang pertanyaan Daren. "Mudah-mudahan enggak deh, aku sayang banget sama bunda makanya aku berjuang sembuh buat bunda biar bisa jadi anak baik bunda kayak dulu lagi."

"Sama om juga, mudah-mudahan tante bisa cepat sembuh ya," ujar anak itu dan menepuk pelan paha Daren.

Daren menganggukkan kepalanya, "aamiin, do'ain ya semoga tante bisa sehat dan bisa sekuat sama seceria kamu," jawab Daren. Anak itu mengacungkan ke dua jempolnya tepat ke depan wajah Daren.

Tak lama kemudian, sebuah suara serta langkah kaki kecil memasuki telinga mereka. Wanita di depannya sangat mirip dengan anak ini, mungkin ibunya? Apalagi dengan udang goreng di tangannya, berarti ini memang ibu dari anak itu.

"Om aku pergi dulu ya, dada! Mudah-mudahan tante cepat sembuh ya," kata anak itu. Ia melambaikan tangannya dan berjalan pelan menjauh dari Daren. Daren sendiri membalas lambaian itu dan tersenyum dengan ibu bocah itu.

Helaan nafas berat menemani dirinya di koridor yang sepi ini, matanya menatap lurus akan kepergian bocah itu, namun dalam hati ia membatin semoga Zakia punya semangat yang sama seperti anak ini, karena Zakia tetaplah Zakia, manusia yang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan sama seperti dirinya, itulah kenapa disatukan untuk menutupi kekurangan masing-masing.

Daren melirik jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sudah terlalu lama dirinya meninggalkan Zakia di ruang inap, ya biarpun ada keluarga mereka tapi rasanya sedikit janggal jika bukan Daren yang menjaga langsung.

Daren bergegas bangkit dan berbalik, namun karena tergesa-gesa ia sampai tidak memperhatikan siapapun, akibatnya Daren bertabrakan dengan orang di depannya.

Ponsel pria itu terjatuh ke lantai dan bahkan terlihat sedikit keretakan di sudut atas layarnya.

"Aduh sorry saya ga sengaja," mohon Daren. Daren turun mengambil ponsel itu, ia ingin memberikan ponsel tersebut namun pandangannya teralih ke isi ponsel tersebut.

'Awasi Zakia dan suaminya!'

Begitulah penglihatan Daren tentang isi ponsel tersebut, Daren berpikir mungkin dia salah lihat, saat ingin kembali memastikan, pria itu langsung merebut ponselnya.

"Gapapa, maaf juga gua ga sengaja," ujarnya. Kesannya seperti terburu-buru dan ketakutan, ia berlari kecil menimggalkan Daren, tubuhnya dibaluti dengan celana jeans hitam, jaket maroon, menggunakan topi serta masker.

Alhasil Daren tak mengenalinya dan berpikir sebentar tentang pesan yang sempat dia baca tadi. Mungkinkah dirinya salah lihat?

Daren mengedikkan bahu, persetan dengan hal itu, bertemu Zakia sekarang lebih penting.

Daren tidak tahu, sosok yang tadi menjauh dari dirinya kini berlindung di balik tembok dan memperhatikan langkah Daren yang mulai menjauh.

Ia melepas nafas syukur karena Daren tidak mengenalinya. Bisa gawat jika Daren tahu bahwa dialah yang hampir memperkosa Zakia saat itu.

Loh loh, ntu orang siapa ya kira-kira?

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!