Aku adalah gadis minang, tapi tak banyak yang ku ketahui tentang ranah minang dan adat istiadatnya. Aku di lahirkan di perantauan dan menghabiskan waktu berpindah pindah daerah pulau sumatra.
Aku adalah asisten pengacara, tentu sudah banyak kasus yang aku selesaikan bersama sang pengacara yang tak lain adalah teman ku saat kami kuliah di salah universitas swasta di Jakarta.
Saat ini usia ku sudah 27 tahun, keluarga besar semua khawatir aku menjadi perawan tua. Aku sih enjoy aja toh yang penting aku kerja dan jalan jalan ke daerah mana saja yang objek kasus yang harus di tangani oleh tim pengacara tempat aku kerja.
Sampai suatu ketika aku kaget mendengar keputusan paman dari adik sepupu ibu ku di Padang. Beliau menjodohkan ku dengan seorang duda yang memiliki usaha perniagaan yang cukup berkembang pesat dengan pundi pundi yang fantastis.
aku tak menerima perjodohan itu dan menolaknya, paman marah besar dan berkata dengan sangat kasar pada ayah ku, aku yg tak terima dengan keputusan paman berasumsi apa hak nya paman dengan sampai marah besar karena aku menolak keinginannya?????. Pasti ada maksud terselubung, ayah ku hanya diam saja beliau tidak mau komentar apapun. Tapi aku melihat air mata ayah mengalir perlahan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengajak nikah seorang pria yang baru aku kenal, pemuda itu seorang guru SMU di Serang Banten.
Apakah keputusan ku ini menikahi nya yang terbaik????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Caniago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Lamaran dan Kekesalan Istri Paman Syamsul
Semua keluarga sudah berkumpul. Hidangan makanan pun sudah tersedia, hanya menunggu kedatangan keluarga Ridho. Acara lamaran diadakan di rumah mnek Armen.
"Assalamualaikum."
Terdengar suara salam dari luar rumah yang terucap dari sejumlah rombongan keluarga Ridho, dan langsung di jawab salam dari dalam keluarga besar ku yang memang menanti kedatangan mereka semua.
Setelah semua keluarga aku dan mas Ridho berkumpul, tek Ren dan tek Ratna menghidangkan minuman dan cemilan beberapa jenis kue yang di buat sendiri. Saat ini ke dua keluarga berbincang hangat sembari saling mengenalkan diri masing masing. Mas Ridho duduk bersila diantara apak dan ayahnya yang sejajar dengan keluarga yang laki laki saling membaur di ruang tamu, sementara tuk yang perempuannya duduk bersama di ruang keluarga, aku duduk dekat dengan tek Ratna yang datang dari Bogor, sambil berbincang maklum udah lama banget ngak ketemu karena kesibukan masing masing.
Tak lama mnek Armen mengucapkan salam dan di jawab semua yang ada di dalam rumah tek Ren. Mnek Armen mengenalkan satu persatu keluarga kami kepada keluarga Ridho.
"Assalamualaikum", saya Ibrahim, paman dari Ridho adek dari ayahnya Ridho sebelumnya mengucapkan terimakasih banyak atas sambutan dari keluarga besar nak Nada yang mana maksud kedatangan kami dari keluarga Ridho bermaksud melamar ananda Qotrun Nada Zahira, tuk ponakan saya Ridho".
Ibrahim menjelaskan maksud kedatangan keluarga yang mana sebelumnya sudah dibicarakan lewat telpon, dan sekarang pertemuan dua keluarga tuk saling bermusyawarah membahas pernikahan Nada dan Ridho.
"Saya Andi Rahman Guchi, apaknya Nada menerima lamaran dari nak Ridho, dan saya berharap pernikahan yang kita rencanakan ini mengikat kedua keluarga dan silahturahmi tetap terjaga," ucap apak.
Setelah semua sepakat tentang rencana pernikahan yang akan diadakan di Cirebon kampung halaman Ridho, karena Nada tak mau merepotkan keluarga dari pihak apak maupun pihak amak.
\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di Depok, kediaman mnek Syamsul.
''Akh...kenapa semua rencana yang aku susun berantakan. Sampai kapan pun takkan aku sudi lagi berkeluarga dengan si Guchy sombong tu, udah banyak cara tuk menghancurkan usahanya tapi anehnya selalu saja bangkit, entah siapa yang selalu membantunya, mudah mudahan pernikahan anak anaknya ngak ada yang bahagia, apalagi si Nada. Mudah mudahan cepat jadi janda!."
Sumpah serapah terucap dari mulut mnek Syamsul. Entahlah mengapa ia ingin sekali menghancur keluarga yang sebenarnya adalah saudara dari kerabat keluarganya sendiri.
''Papa, apa papa ngak capek apa ngomel sendiri. Kesal sendiri, toh uda bisa apa, sekarang acara lamaran sudah selesai dan minggu depan pernikahannya di Cirebon". Jelas mintu Aisyah, istri mnek Syamsul.
''Sialan, ngak ada satu dari keluarga kita yang mendukung. Semua memihak sama si uda Rahman, sekarang ia sedang di atas, jadi sudah pasti dengan uang ia bisa berbuat semaunya." Terlihat jelas rasa iri, dengki dan kecemburuan sosial dari sorot matanya.
"Makanya uda tu usaha. Jangan cuma menghayal doang punya usaha, uda tau ngak, selama ini uda cuma makan tidur doang. Gmana mau kaya, selama ini kita hidup dari warisan orang tua ku. Dan hasil keras ku selama ini, pantas aja keluarga uni Yalinar sukses karena suaminya rajin, ulet, tekun dan ngak gengsi kayak uda."
"Uda tu terlalu gengsi mulai usaha dari nol, maunya jadi boss besar. Hhuhhhh mana buktinya yang ada uang habis tuk makan, itu juga uang keluarga ku," cecar mintu Ai panjang lebar pada suaminya,
Memang pada dasarnya karena sifat gengsi mnek Syamsul yang tinggi. Emang sih dulunya ia tergolong sukses dengan usaha dagang nya, tapi yang namanya usaha dan kehidupan ekonomi itu bak roda pedati kadang diatas kadang di bawah, tetapi tidak ada salahnya jika kita memulai membangun usaha dari nol kembali.