Dilarang boom like dan tabung bab, tolong baca bab nya satu per-satu tanpa dilompat yah 🙏
Sebuah tragedi membuat seorang wanita bernama Vania Garvita harus terpaksa berpisah dengan putra semata wayangnya, Alvaro Neandra.
Setelah menjalani hukuman selama beberapa tahun, Vania berhasil bebas dan langsung mendatangi putranya di panti asuhan.
Namun, Vania dikejutkan karena ternyata Varo tidak berada di tempat itu. Sampai akhirnya dia tahu jika putranya sudah diambil oleh sepasang suami istri beberapa tahun silam tanpa sepengetahuannya.
Apakah yang sebenarnya terjadi pada kehidupan Vania? Dan siapakah yang telah mengambil putranya dari panti asuhan?
Yuk, ikuti kisah mereka yang penuh dengan perjuangan dan air mata!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Sambutan Hangat.
Sonya tersentak kaget saat mendengar ucapan sang kakak, sementara Vania sendiri terdiam dengan tubuh gemetar dan wajah merah padam.
"Ti-tidak. Kenapa Kakak berkata seperti itu?" seru Sonya dengan tergagap. Dasar kakak gila, kenapa berkata seperti itu di hadapan Vania sih? Dia benar-benar ingin sekali memukul bibir kakaknya itu supaya tidak bisa bicara lagi.
Arsen tampak tersenyum tipis sambil melirik ke arah Vania yang sedang menatapnya dengan tajam. "Kenapa? Aku 'kan cuma bertanya saja, memang di mana salahnya?" Dia mengendikkan bahu dengan tidak peduli, lalu dengan santai duduk di sofa yang berada tepat di hadapan Vania.
Vania mengepalkan kedua tangan dengan erat seraya semakin menajamkan tatapan matanya ke arah Arsen. Hati yang sedang hancur dan terluka serasa seperti disiram oleh air garam karena perkataan laki-laki itu, membuat dadanya langsung bergejolak.
"Urus saja urusan Kakak sendiri dan jangan ikut campur dengan urusanku!" bentak Sonya. Dia merasa jika kakaknya sudah keterlaluan, apalagi kondisi Vania saat ini sedang sangat buruk.
Arsen berdecih dan tetap merasa tidak peduli. Padahal apa yang dia katakan itu benar, tetapi kenapa adiknya malah marah seperti itu? Dasar aneh sekali.
"Sudahlah, ayo kita-"
"Ya, aku memang membunuh suamiku sendiri. Aku menc*abik-c*abik tubuhnya sampai dia mati. Kenapa, apa kau mau juga kuc*abik-cabik seperti itu, hah?" bentak Vania membuat Sonya tidak dapat melanjutkan ucapannya. Dia benar-benar merasa murka melihat senyum sinis dan merendahkan diwajah Arsen. Memangnya tahu apa laki-laki itu tentang hidupnya sehingga bisa berkata seperti itu?
Sonya langsung menenangkan Vania agar tidak tersulut emosi dengan apa yang kakaknya katakan, anggap saja jika laki-laki itu orang gila dan bergegas untuk mengajak Vania ke dalam kamarnya.
Mereka berdua lalu beranjak menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamar Sonya berada, sementara Arsen terus menatap ke arah Vania dengan tajam seraya memasang smirik iblisnya.
"Wanita yang menarik," gumam Arsen seraya memikirkan sesuatu tentang wanita yang sejak tadi dia lihat.
Setelah sampai di kamar, Vania duduk di atas ranjang sambil mencoba untuk menenangkan diri. Dia merasa bersalah karena sudah tersulut emosi dan membuat Sonya tidak nyaman, seharusnya dia tidak menanggapi ucapan laki-laki itu.
"Maafkan kakakku ya, Vania. Aku tidak tahu kalau dia ada di rumah, kalau tidak aku pasti tidak akan membawamu ke sini," ucap Sonya dengan perasaan bersalah. Padahal selama ini kakaknya hampir tidak pernah pulang, tetapi kenapa sekarang malah berada di sini?
Vania menggelengkan kepalanya. "Tidak, Buk. Seharusnya saya yang minta maaf karena sudah berkata tidak sopan seperti itu pada beliau."
Sonya langsung membantah ucapan Vania dan mengatakan bahwa semua orang juga pasti akan emosi jika mendengar ucapan kakaknya, dia lalu meminta agar wanita itu menganggapnya sebagai teman.
"Bukankah kita sudah lama berteman, kenapa masih bersikap formal padaku? Aku benar-benar merasa sedih," ucap Sonya.
Vania tersenyum. "Ba-baiklah, Sonya. Maafkan aku."
Seketika Sonya memeluk tubuh Vania dengan erat karena merasa senang dengan ucapan wanita itu, tetapi di sisi lain dia juga merasa sedih dengan apa yang terjadi saat ini.
"Aku akan berusaha keras untuk mengambil Varo kembali, Vania," ucap Sonya seraya melepas pelukannya. "Aku berjanji akan membuat Varo kembali padamu."
Vania mengangguk dengan kata berkaca-kaca. "Terima kasih, Sonya. Aku tidak akan pernah melupakan semua bantuanmu selama ini, terima kasih."
Kedua wanita itu lalu tertawa karena merasa lucu dan sedih disaat bersamaan seperti ini. Kemudian Sonya berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Vania memilih pergi ke balkon untuk menghirup udara segar.
Vania menatap langit sore yang dihiasi dengan warna orange akibat matahari yang akan tenggelam, sungguh sangat indah sekali dipandang mata. Namun, keindahan itu tidak mampu untuk mengobati hatinya yang sedang terluka parah. Jangankan mengobati, membuat tenang pun bahkan tidak bisa.
"Maafkan mama, Varo. Maafkan mama," gumam Vania dengan terisak. Dia merasa sangat sedih dan bersalah karena tidak bisa bersama dengan sang putra walau sudah bebas dari tahanan. "Tapi mama janji kalau mama pasti akan segera menjemputmu, Nak. Kita akan kembali lagi seperti dulu, kita akan bersama dan tidak akan pernah lagi berpisah. Mama janji."
Vania lalu mengusap air matanya karena harus tetap kuat dan bertahan untuk melawan semuanya. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia akan tetap berjuang untuk mendapatkan putranya kembali. Walau dunia menentang dan menghalangi, dia sama sekali tidak peduli dan akan menghancurkan semuanya.
***
Malam harinya, Sonya mengajak Vania keluar dari kamar untuk makan malam bersama dengan kedua orangtuanya. Namun, si*alnya sang kakak juga masih berada di rumah membuatnya langsung harap-harap cemas mengingat kejadian siang tadi.
"Kalau Kakak mengatakan satu kata saja pada Vania, maka aku tidak akan tinggal diam!" bisik Sonya dengan penuh penekanan pada sang kakak membuat Arsen langsung tergelak.
Tidak disangka sang adik sampai mengancamnya seperti ini hanya karena wanita itu, membuat Arsen malah ingin sekali menggodanya.
"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun. Apa kau puas, adikku tersayang?" seru Arsen dengan tajam seolah mengatakan hal yang sebaliknya.
Sonya mendengus kesal mendengar jawaban sang kakak, sementara Vania hanya diam dan sama sekali tidak melihat ke arah Arsen. Persetan dengan laki-laki itu, dia sama sekali tidak peduli.
"Jangan membuat ribut, Arsen," tegur wanita paruh baya bernama Syila, dia adalah mamanya Sonya dan Arsen.
Arsen mengangguk dengan acuh saat mendapat teguran dari sang mama, kemudian Syila beralih melihat ke arah Vania sambil tersenyum dengan ramah.
"Duduklah, Vania. Maaf kalau tadi siang tante tidak bisa menyambut kedatanganmu," ucap Syila dengan lembut. Kebetulan dia dan sang suami sedang ada pekerjaan di luar, itu sebabnya mereka terpaksa pergi dan baru kembali saat petang.
"Tidak apa-apa, Tante. Terima kasih karena sudah mengizinkan saya datang ke sini," balas Vania dengan sopan.
Syila tersenyum senang. Setelah bertahun-tahun mendengar cerita tentang Vania dari putrinya, baru kali ini dia berbincang langsung dengan wanita itu.
"Tidak perlu sungkan, Vania. Anggaplah kami sebagai otangtuamu sendiri, dan tinggalah di rumah ini dengan nyaman," seru Antonio, dia adalah ayahnya Sonya dan Arsen.
Vania terkesiap saat mendengar ucapan orangtua Sonya. Tidak disangka bahwa Antonio akan berkata seperti itu padanya, hingga membuat dadanya berdebar dengan kuat.
"Te-terima kasih, Om," sahut Vania dengan tergagap. Dia tidak tahu harus berkata apa dan suaranya pun terasa tercekat di tenggorokan, sungguh semua ini sangat mengejutkan untuknya.
Sonya lalu mengajak Vania untuk duduk dan menikmati makan malam yang sudah tersedia di hadapan mereka sambil berbincang dengan orangtuanya, sementara Arsen hanya diam dan enggan untuk ikut bersuara.
Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, tetapi tanpa Arsen yang sudah pergi entah ke mana.
"Kami ikut sedih mendengar tentang putramu, Vania. Tapi kau tidak perlu khawatir, kami akan berusaha untuk mengambilnya agar bisa bersama denganmu," ucap Syila. Dia sudah dengar tentang apa yang terjadi pada Varo.
Vania kembali mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh orangtua Sonya. Dia lalu permisi sebentar untuk ke kamar mandi karena merasa akan kembali menangis.
"Berhenti."
Langkah Vania langsung terhenti saat mendengar suara seseorang, dengan cepat dia berbalik dan terkejut saat melihat keberadaan Arsen.
"Aku ingin bicara denganmu, ikut aku!"
•
•
•
Tbc.
beni jadi bima
dan Belinda sebaiknya kamu jujur sama Brian , daripada nanti Brian akan membencimu karena kebohongan mu .
lanjut terus kak... semangat moga sehat dan sukses selalu . saranghaeyo ❤️❤️❤️
helloooo..... Ivan apakah kau lupa bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta alam semesta ini .
harusnya kamu sadar tekanan yang kamu lakukan pada Brian akan membuat dia menjadi sosok pria yang dingin dan kaku .
lanjut terus kak.... semangat dan moga sehat slalu .
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .
Vania.... aku selalu mendukungmu , misi mu untuk menghancurkan keluarga suamimu pasti lah berhasil dengan dukungan dari Arsen ,
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .