Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
BAB 2
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar.
Indri membuka mata perlahan.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar yang begitu dikenalnya. Kamar itu tidak banyak berubah sejak ia meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Lemari putih masih berdiri di sudut ruangan, meja rias masih dipenuhi bingkai foto keluarga yang sengaja tidak pernah dipindahkan oleh Haris.
Namun, ada satu bingkai yang membuat dadanya sesak.
Foto keluarga saat ulang tahun Cinta.
Di sana masih ada dirinya yang tersenyum lebar. Senyum penuh kesombongan yang kini terasa begitu asing.
"Apa aku benar-benar pernah menjadi perempuan sejahat itu?" bisiknya.
Tok... Tok... Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Tante, sudah bangun?"
Suara kecil itu membuat Indri tersenyum tipis.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Laura kecil muncul dengan rambut yang masih sedikit berantakan. "Mama suruh Laura bangunin Tante."
Indri berjongkok hingga sejajar dengan gadis kecil itu. "Terimakasih."
Laura mengangguk ceria.
"Nanti kita sarapan sama-sama."
Melihat kepolosan anak itu, hati Indri kembali dihantam rasa bersalah.
Anak yang kehilangan ibunya bahkan sebelum sempat mengenalnya. Dan semua itu, berawal dari dirinya.
Di ruang makan.
Haris sudah duduk sambil membaca koran digital di ponselnya. Cinta sibuk menyiapkan sarapan, sementara Vano menuangkan susu untuk kedua anaknya.
Suasana hangat itu membuat Indri merasa seperti orang asing.
"Selamat pagi," ucapnya pelan.
"Selamat pagi," jawab Haris sambil tersenyum. "Bagaimana tidurmu?"
"Cukup nyenyak, Pa."
Haris mengangguk. "Bagus."
Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlari memasuki ruang makan.
"Papa!"
Vano mengangkat putranya ke pangkuan. "Pagi, jagoan."
Indri memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Andai saja dulu ia tidak dikuasai rasa iri. Mungkin hidup semua orang tidak akan berubah seperti sekarang.
Seusai sarapan, Haris mengajak Indri ke ruang kerjanya. Ruangan itu dipenuhi rak berisi map dan dokumen perusahaan.
Haris mengambil sebuah map biru. "Mulai besok kamu ikut Papa ke kantor."
Indri menerimanya.
"Ini laporan perusahaan selama lima tahun terakhir," kata Haris.
Indri membolak-balik halaman demi halaman. "Ternyata perusahaan berkembang cukup pesat."
"Semua berkat Vano."
Indri menoleh. "Maksud Papa?"
"Waktu Papa sakit, Vano yang banyak membantu mengelola perusahaan."
Indri menatap pintu ruang kerja.
Pria yang dulu begitu ia inginkan, kini menjadi suami kakaknya.
Ironis. Tetapi ia sadar, semua itu adalah akibat dari kesalahannya sendiri.
Sementara itu...
Di sebuah gedung perkantoran mewah. Seorang pria berdiri di depan jendela besar. Jas hitam yang dikenakannya tampak rapi.
Tatapannya dingin menatap kota yang sibuk.
"Pak Evan." Seorang asistennya masuk sambil membawa tablet. "Semua data tentang Indri sudah kami perbarui."
Evan menerimanya. Di layar terpampang foto-foto Indri. Keluar dari penjara. Bersama Haris. Bermain dengan Laura kecil. Senyum tipis muncul di sudut bibir Evan. "Dia terlihat bahagia."
"Iya, Pak."
"Terlalu bahagia." Evan meletakkan tablet di atas meja. "Aku ingin semua proyek perusahaan Haris berada dalam pengawasanku."
"Baik, Pak."
"Ingat, jangan sentuh keluarganya. Aku ingin Indri kehilangan sedikit demi sedikit. Harapan, kepercayaan dan ketenangan."
"Dimengerti, Pak."
Sore harinya...
Indri duduk sendirian di taman belakang rumah.
Laura kecil datang menghampirinya membawa bola.
"Tante."
"Hm?"
"Mau main?" ajak Laura kecil.
Indri tersenyum. "Boleh."
Beberapa menit kemudian tawa mereka memenuhi halaman.
Cinta memperhatikan dari balik jendela.
Vano berdiri di samping istrinya.
"Laura cepat sekali akrab dengannya."
Cinta mengangguk pelan.
"Karena anak kecil memang sepolos itu."
Vano terdiam.
"Menurutmu, apa Indri benar-benar berubah?"
Cinta menghela napas. "Aku tidak tahu. Tapi setiap orang pantas diberi kesempatan memperbaiki dirinya."
Vano memandang ke arah Indri yang sedang tertawa bersama Laura. Ia berharap Cinta benar.
Sebab bila masa lalu kembali bangkit, bukan hanya Indri yang akan terluka, tapi seluruh keluarga mereka bisa kembali hancur.
Malam menjelang.
Setelah semua penghuni rumah hampir tertidur, sebuah amplop cokelat tergeletak di depan pintu rumah keluarga Haris.
Satpam yang sedang berpatroli menemukannya dan langsung menghubungi Haris melalui telepon.
Haris yang sudah bersiap tidur itupun segera keluar menemui satpam.
"Pak Haris, sepertinya ada surat."
Haris membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada selembar foto lama. Foto Laura, ibu kandung Laura kecil yang sedang tersenyum. Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan dengan tinta merah.
"Dosa lama tidak pernah mati."
Wajah Haris langsung memucat.
"Siapa yang mengirim ini?"gumamnya.
Di tempat lain, Evan memandang salinan foto yang sama di tangannya. Ia menarik napas panjang.
"Ini baru permulaan, Indri. Masa lalumu akan datang menagih satu per satu."
***
Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Indri berdiri di depan cermin dengan setelan kerja berwarna krem yang baru dibelikan Haris. Sudah bertahun-tahun ia tidak mengenakan pakaian formal seperti itu. Jemarinya sempat bergetar saat memasang kancing blazer.
"Hari pertama..." bisiknya.
Ia menarik napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya bahwa hidupnya benar-benar bisa dimulai kembali.
Di ruang makan, Haris sudah menunggu. "Kamu cantik sekali," pujinya ketika Indri baru saja tiba.
Indri tersenyum tipis. "Semoga aku tidak mengecewakan Papa."
"Kamu tidak perlu menjadi sempurna. Cukup bekerja dengan jujur."
Indri mengangguk. "Terima kasih, Pa."
Setelah sarapan mereka pun bergegas berangkat. Mobil memasuki pelataran kantor pusat Haris Group.
Gedung itu berdiri megah dengan puluhan karyawan yang mulai berdatangan. Begitu Haris turun dari mobil, para pegawai langsung menyapanya.
"Selamat pagi, Pak Haris."
"Pagi."
Tatapan mereka kemudian beralih kepada Indri. Beberapa orang saling berbisik.
"Itu putri bungsunya Pak Haris, ya?"
"Katanya baru keluar dari penjara."
"Dia yang akan menggantikan Pak Haris?"
Indri berusaha mengabaikan semua tatapan itu. Namun, ia tahu dirinya akan selalu menjadi pusat perhatian.
Haris menepuk bahunya. "Tenang. Papa percaya kamu bisa."
Indri mengangguk pelan.
Di lantai dua puluh.
Haris memperkenalkan Indri kepada seluruh jajaran direksi.
"Mulai hari ini Indri akan belajar mengelola perusahaan."
Semua memberikan tepuk tangan. Meski begitu, beberapa wajah tampak kurang senang.
Setelah rapat selesai, Haris mengajak Indri berkeliling kantor.
"Kamu akan banyak belajar dulu. Papa tidak ingin kamu terburu-buru mengambil keputusan."
"Aku mengerti, Pa."
Di tempat lain.
Seorang pria berdiri di depan jendela gedung bertingkat.
Setelan jas hitam melekat sempurna di tubuhnya.
Tatapannya dingin mengarah ke gedung Haris Group yang terlihat dari kejauhan.
"Asisten."
"Ya, Pak Evan."
"Bagaimana? Indri sudah mulai bekerja."
Evan menerima sebuah tablet.
Di layar terlihat foto Indri saat memasuki gedung kantor pagi tadi. Tatapan Evan berubah tajam.
"Akhirnya..." Ia menutup layar tablet. "Bertahun-tahun aku menunggu hari ini."
Asistennya menunduk.
"Apakah rencana pertama langsung dijalankan?"
Evan menggeleng. "Belum. Dia bahkan belum tahu siapa aku. Sebelum menghancurkannya, aku ingin dia percaya bahwa aku hanyalah seorang rekan bisnis."
Menjelang siang. Seorang wanita yang merupakan Sekretaris Haris mengetuk pintu ruang kerja Haris.
"Pak Haris. Perwakilan dari Evara Capital sudah datang."
"Oh, silahkan masuk."
Pintu terbuka. Seorang pria tinggi dengan jas hitam melangkah masuk. Wajahnya tenang, senyumnya tipis.
"Selamat siang, Pak Haris."
"Selamat siang Pak Evan." Haris menyambutnya hangat. "Terima kasih sudah datang."
Mereka berjabat tangan.
"Silakan duduk."
Haris kemudian memerintahkan sekretarisnya memanggil Indri.
Tak berselang lama Indri masuk sambil membawa beberapa berkas. "Ya, Pa?"
Haris tersenyum. " Indri, perkenalkan ini Pak Evan Pratama. Pemilik Evara Capital. Beliau sedang mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaan kita."
Indri mengangguk sopan.
"Selamat siang, Pak Evan."
Evan membalas uluran tangannya. "Selamat siang, Bu Indri."
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Bagi Indri, pria itu hanyalah seorang pengusaha muda yang tampak berwibawa. Namun entah mengapa, sorot matanya terasa begitu dingin hingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Senang bertemu dengan Anda," ucap Indri.
"Begitu juga dengan saya," balas Evan.
Jawabannya terdengar biasa. Sangat profesional. Tak sedikit pun memperlihatkan kebencian yang selama ini ia simpan.
Pertemuan berlangsung singkat.
Evan membahas proyek investasi bersama Haris seolah tidak memiliki kepentingan lain.
Indri beberapa kali mencatat poin-poin rapat, tanpa menyadari bahwa setiap gerak-geriknya diamati oleh Evan.
Usai rapat. Evan berjalan menuju lift ditemani asistennya. "Indri tidak mengenalku. Ternyata, keluarga mereka benar-benar telah menutup masa lalu. Bahkan Indri tidak diberitahu bahwa Laura mempunyai kakak," gumamnya dalam hati.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Indri memandang berkas kerja sama yang baru saja ditinggalkan Evan. Entah mengapa, pertemuan singkat itu meninggalkan perasaan tidak nyaman.
"Kenapa tatapan Pak Evan terasa begitu aneh?" gumamnya.
Ia menggeleng pelan.
"Mungkin aku terlalu gugup."
Indri sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang baru dikenalnya hari ini bukan sekadar calon mitra bisnis.
Pria itu datang membawa luka lama yang belum sembuh, dan telah bersumpah untuk membuatnya membayar setiap air mata yang pernah ditumpahkan adiknya.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁