Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.
Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?
Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.
Ikuti cerita ini terus ya readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Airin cemburu
Airin masih terus memperhatikan tingkah aneh suaminya setelah mendapat bisikan dari temannya. "Bu, ada apa? Mas Wiksa ...." Airin memutus pertanyaannya saat mendengar panggilan Wiksa.
"Bu, apa? Aku sudah rapi?" tanyanya malu-malu seperti laki-laki yang sedang jatuh cinta.
"Tumben kamu berdandan dan terlihat senang?" tanya sang Ibu menelisik.
"Ibu, akan tahu siapa yang datang," jawab Wiksa berbisik lirih, membuat netra sang ibu mertua membola tidak percaya.
"Wiksa ... jangan mengada-ada," ujar sang ibu khawatir kemudian memperhatikan Airin cemas.
Akan tetapi, Wiksa tidak menghiraukan kecemasan sang ibu, wajahnya terlihat berbinar, sesekali melirik ke arah pintu. Wiksa yang sedari tadi sibuk memperhatikan penampilannya sesaat tersadar jika ada yang memperhatikan tingkahnya. "Kamu! Kenapa, menatapku seperti itu!" bentak Wiksa.
Airin langsung menunduk, saat ini dirinya hanya bisa memaklumi semua sikap suaminya. "Tuan, izinkan saya bicara, besok pagi Tuan sudah di perbolehkan pulang," cerita Airin bersama masuknya seorang wanita cantik, tanpa menyapa langsung menghampiri Wiksa dan sang ibu mertua.
Merasa tidak mendapat jawaban dari suaminya, Airin mendongak untuk memastikan pendengarannya. Wajahnya yang sedari tadi tenang kini sedikit kesal saat melihat wanita yang tiba-tiba terlihat akrab dengan suaminya bahkan sang ibu mertua. Airin tidak menyangka bahkan suaminya sendiri mengalami perubahan di wajahnya.
"Siapa dia?" Airin bertanya lirih.
Airin bisa melihat, netra Wiksa seketika berubah teduh, senyumnya terus tersimpul hangat. Menatap wanita cantik, tinggi semampai dengan tubuh yang terlihat berisi yang langsung memeluk sang ibu mertua dan tidak lama memeluk Wiksa erat tanpa malu.
“Wina!” seru Wiksa senang, mengabaikan tatapan Airin.
“Wiksa, maaf. Aku terlambat mengetahui kabar kamu,” ujarnya genit, tersenyum culas, melirik ke arah Airin.
Airin yang melihat situasi yang tidak menyenangkan hatinya langsung mendekat, bagaimanapun juga hatinya terusik dengan pemandangan yang ada didepannya, penuh amarah Airin melerai pelukan mereka. “Kamu tidak sopan, dia suamiku,” tegas Airin menarik tubuh wanita yang masih memeluk suaminya erat.
Wiksa yang terkejut langsung menatap Airin tidak suka, tangannya kembali meraih tangan Wina dan memintanya duduk di sisi ranjang. “Kamu, hanya asisten, pergi! Wina kemarilah dan duduk di dekatku,” tukasnya marah.
“Mas ... apa yang Mas katakan. Aku istri kamu Mas dan dia ... dia.” Airin memutus begitu saja ucapannya dengan mata berkaca-kaca, Airin berusaha menahan semua emosinya, “Wina, tolong jaga sikapmu,” ujar Airin mengingatkan dab berlalu pergi, tetapi masih beberapa langkah, Airin berhenti dan menoleh ke arah suaminya.
"Mas-Mas! Sudah aku tegaskan berapa kali, jangan panggil aku Mas. Jaga bicara kamu!" bentak Wiksa marah.
Wina hanya tersenyum seakan menikmati keadaan yang sedang terjadi. “Kamu, tinggalkan kami berdua!” usir Wiksa tiba-tiba.
“Tapi, Mas ....” Airin keberatan.
“Pergi!” usir Wiksa kesal, " Bu, bawa asisten itu keluar," titah Wiksa tanpa kompromi.
“Mas ....” Airin memutus ucapannya, saat melihat netra Wiksa tajam.
“Pergi!” teriak Wiksa untuk kedua kalinya.
Airin sedikit ragu untuk beranjak dari tempatnya berdiri, bagaimanapun juga dia tidak bisa meninggalkan suaminya dengan wanita yang tidak pernah dia kenal sama sekali. “Apa yang kamu tunggu? Pergi!”
“I-iya Mas, Tuan," jawab Airin bersungut-sungut.
Mengayunkan langkah kakinya dengan sedikit berat keluar dari ruangan kamar, timbul rasa kecewa berkali-kali lipat dalam hatinya saat melihat sikap suaminya. Airin melangkah dengan berat hati, saat netranya kembali melihat senyum Wina penuh kemenangan.
"Airin ... maaf 'kan, Wiksa," tutur sang ibu mertua mengejutkan dan kini sudah berjalan di sampingnya.
Airin tersadar jika saat ini ada hal yang lebih penting dari semua rasa cemburunya. "Semoga, wanita itu tidak berniat jahat," tutur Airin sembari meraih tangan sang ibu mertua, mengajaknya untuk duduk di kursi samping ruangan.
Namun, belum juga Airin menyampaikan maksudnya, Airin kembali menoleh saat mendengar tawa Wiksa keras dan tidak lama hening untuk beberapa menit. Airin menggeleng untuk menepis semua pikiran negatif dalam benaknya. "Bu, sebaiknya kita berkemas, besok Mas Wiksa sudah di perbolehkan pulang," cerita Airin pelan.
"Ibu, paham Airin, setelah wanita itu pulang kita berbenah," timpal sang ibu sesekali menoleh ke dalam kamar khawatir.
Airin sesaat meragu dengan tatapan sang ibu mertua yang seakan tidak berkutik dengan kedatangan wanita yang terlihat akrab dengan suaminya bahkan dengan sang ibu mertua. "Bu, boleh Airin menanyakan sesuatu?" tanya Airin hati-hati.
"Boleh," jawab sang ibu dengan suara tertahan, tetapi netranya terus menelisik dalam kamar.
"Bu, siapa wanita itu?"
Mendengar pertanyaan Airin sang ibu mertua sesaat terlonjak, wajahnya terlihat gugup dan pucat. "Airin ... apa? Wiksa tidak pernah bercerita tentang wanita itu?"
Airin menggeleng, menyadari semua ketololannya selama ini, menerima Wiksa tanpa syarat dengan tanpa kejelasan statusnya. "Mas, Wiksa tidak pernah bercerita apa pun," jawab Airin dengan tatapan nanar lurus ke depan.
"Huuff ... anak itu," lirih sang ibu mertua membenarkan posisi duduknya, kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Airin, wanita itu adalah ...." Sang ibu mertua tidak melanjutkan ceritanya, bibirnya seketika terkunci rapat saat mendengar Wiksa tertawa senang, Airin bisa melihat dari raut wajah sang ibu mertua, ada kelegaan tersendiri yang tersirat saat mendengar Wiksa tertawa lepas dan melupakan semua emosinya.
"Bu," panggil Airin menuntut jawab.
Akan tetapi, sang ibu tidak kunjung menjawab masih menahan semua kata-katanya hingga sapaan wanita itu membuyarkan percakapan mereka berdua. "Bu, saya pamit. Besok saya sendiri yang akan menjemput Ibu dan Mas Wiksa," ujarnya yakin.
Sang ibu mertua hanya terdiam, kemudian memilih masuk dalam kamar. Wanita ini tanpa malu langsung memeluk, mencium Wiksa dengan hasrat. "Wiksa, aku pulang," pamitnya sembari mengusap bibir Wiksa dan tidak lama mengusap bibirnya, tersenyum genit sebelum melangkah pergi dan menatap Airin dengan senyum penuh kemenangan.
Airin yang sedari tadi menahan semua gejolak dalam hatinya seketika berdiri, menarik tangan wanita yang sudah berani mencium dan bermesraan di depannya. "Plak ... jaga sikapmu, Wiksa suamiku," tegas Airin bersamaan dengan teriakan Wiksa keras, mengumpat sikapnya.
Wanita ini hanya tertawa mengusap wajahnya sesaat. "Kita lihat, siapa yang akan menang," ujarnya berlalu begitu saja.
Sementara itu, Wiksa yang tidak terima dengan sikap Airin, langsung menarik tubuh Airin dan melempar ke dalam kamar. "Wiksa!" sentak sang ibu kesal.
"Jaga, sikapmu, ingat di sini rumah sakit, lagi pula dia istrimu dan sudah berapa kali kamu menyakitinya dan wanita itu, argh ...." Sang ibu seketika menahan semua emosinya, menatap Wiksa kesal, "maaf. Ibu lupa, semarah apa pun Ibu, kamu bahkan tidak paham dan menyadari kesalahan kamu," tandas sang ibu berakhir kecewa.
"Airin, sebaiknya kita berkemas untuk malam ini, Ibu akan menemani kamu," tukas sang ibu yakin.
Tanpa di minta dua kali, Airin langsung berkemas, membereskan beberapa barang, sementara Wiksa duduk dengan wajah dan senyum gembira. Sesekali tangannya memegang dadanya. Airin yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa memasang wajah cemberut dan kesal. "Airin, kamu paham 'kan akan sikap Wiksa?" tanya sang ibu seakan menyadarkan sikapnya.
Hari ini waktu berjalan terasa melambat, sikap Wiksa yang arogan seketika menghilang dengan datangngya wanita itu. Sepanjang siang hanya berbaring dengan senyum yang selalu terhias di bibirnya, layaknya wajah laki-laki yang sedang kasmaran. Sore ini Wina datang lagi dengan pakaian yang lebih seksi, Wiksa yang tengah berbaring langsung bangun menyambut Wina penuh senyum. Lagi-lagi Airin menahan semua onaknya, mencoba berdamai dengan penyakit suaminya.
"Ibu, bawa asisten itu keluar," pinta Wiksa yang tiba-tiba lembut.
Wina langsung tersenyum culas penuh kemenangan. "Paham 'kan," ketus Wina sebelum Airin keluar.
Airin menatap Wiksa sekilas untuk memastikan hatinya. "Ya, Allah, ternyata Mas Wiksa benar-benar melupakan aku," lirihnya sesaat.
Airin segera bangkit, keluar bersama sang ibu mertua. Langkah mereka hanya terhenti di depan pintu kamar. "Bu, siapa Wina?" tanya Airin saat mereka sudah berada di luar kamar.
"Airin, sebenarnya Wina."
Sang ibu mertua flashback on
Sang ibu mertua terdengar menghela napas panjang sebelum menatap Airin, tersenyum simpul untuk mengurai ketegangan di antara mereka. Wina, anak itu ternyata masih begitu terobsesi dengan Wiksa. Dia adalah wanita yang mengejar-ngejar Wiksa, tetapi mereka berdua sempat menjalin hubungan selama mereka SMA dan berlanjut hingga kuliah.
Namun, Wiksa tidak mengira jika hubungan mereka terganjal oleh restu orang tua Wina. Wiksa secara ikhlas melepas Wina, meskipun hingga sekarang wanita itu masih terus mengejar Wiksa. Ibu tidak mengerti dengan kelanjutan kisah mereka, hingga akhirnya mereka kembali bertemu dan melanjutkan kisah mereka yang terputus, tetapi ada hal yang membuat Wiksa tiba-tiba menghilang dari Wina. Ibu hanya mendengar jika mereka tidak lagi berhubungan dan Wiksa akhirnya mengenalkan kamu.
Sang ibu mertua flashback off
Airin semakin terdiam, netranya sesekali terkejap untuk menepis semua logikanya sekarang. "Ibu, berarti Wina adalah mantan Mas Wiksa?"
"Ya, bisa di bilang seperti itu. Tapi ... dulu Wiksa pernah menegaskan jika Wina dan dirinya benar-benar usai," yakin sang ibu pelan.
Lagi-lagi Airin hanya bisa menahan semua gejolak dalam jiwanya, saat ini yang di butuhkan adalah akal yang sehat dan pemahaman tentang kondisi suaminya. "Bu, kenapa Airin merasa jika Wina mempunyai niat tidak baik," lirih Airin cemas.
"Airin, apa kamu akan merelakan jika Wina merebutnya?"