Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 CROW TERRITORY
Mobil mewah hitam kami akhirnya berhenti tepat di pelataran kediaman megah berarsitektur klasik di kawasan elite pusat kota. CITTT! Gesekan ban mahal di atas paving block mengakhiri perjalanan panjang kami. Pagarnya tinggi menjulang dengan tembok beton kokoh yang memisahkan tempat ini dari kekacauan jalanan Cikampek.
BREG! BREG! Satpam bertubuh tegap dan dua pelayan wanita langsung sibuk membongkar bagasi, mengangkut koper-koper besar bawaan kami. Gua melangkah santai ke dalam rumah bersama Sebas, lalu langsung melempar tubuh rebahan di atas sofa kulit yang luas dan empuk di ruang tamu.
PFTT! Sofa empuk itu berdesis menahan beban tubuh gua. Gua memejamkan mata sejenak, menikmati keheningan ruangan setelah seharian berhadapan sama chaos-nya jalanan.
"Ah... akhirnya sampai juga kita di sini," kata gua sambil menghela napas lega ke arah Sebas. "Sebas, nanti suruh orang buat benerin kaca mobil kita yang hancur tadi."
"Baik, Tuan Muda. Nanti akan saya urus secepatnya," jawab Sebas santai.
"Lho?!" gua tiba-tiba membelalakkan mata, memotong pandangan ke sudut ruangan.
TAK! TAK! Di sudut ruang tamu, tepat di belakang satpam yang lagi kepayahan membopong kardus besar, kelihatan sesosok pria tua ikut pura-pura sibuk ngangkat kardus kecil dengan gaya sok heboh. Pria itu nyengir tanpa dosa saat mata kami berbenturan.
Gua langsung melotot ke arah Sebas. "Sebas! Kenapa orang ini masih ada di sini?!"
Sebas yang ikut menoleh sempat melongo sebentar, sebelum akhirnya tertawa kecil seraya membenarkan posisi jasnya. "Haha... Soal itu—"
GEDEBUK!
Denza menaruh kardus itu secara asal di ubin, lalu melempar tubuhnya ke sofa di depan gua sampai per sofanya mencicit keras.
"Gua cuma ngebantu ngangkatin barang di belakang satpam ini, Bocah! Blagu banget lu malah enak-enakan rebahan!" cerocos Denza santai sambil menyelonjorkan kakinya di atas meja kaca. KLANG! "Oh iya, Sebas... gua tahu bengkel langganan yang bagus buat benerin kaca mobil kalian. Nanti biar gua aja yang urus."
Gua menaikkan sebelah alis, mendudukkan badan seraya menatap Denza. "Bentar... bentar. Lu tuh sebenarnya siapa sih, Bang? Dan kenapa lu kayaknya tahu banget soal kota ini?"
Denza menghela napas panjang, merogoh saku celananya lalu menatap gua dengan pandangan meremehkan. "Tentu aja gua tahu! Lu pikir gua di kota ini cuma jadi kacung? Lu lupa kalau gua ini Old Generation?!"
Gua menggaruk tengkuk yang nggak gatal. "Gua kira Old Generation tuh cuma tahu keadaan kota ini waktu zaman lu aktif doang, dan nggak tahu peta kekuatan fraksi-fraksi sekarang."
"Sembarangan lu!" sahut Denza sambil menepuk pahanya keras-keras. PLAK! "Sepertinya gua harus beberin sedikit aturan dasar di kota ini..."
Denza memajukan duduknya. Pendar lampu gantung mewarnai matanya saat nada suaranya merendah menjadi lebih serius.
"Dengar ya. Di Cikampek ini ada yang namanya Hukum Old Generation. Orang-orang kuat yang udah pensiun dari jalanan atau lulus sekolah, secara otomatis bakalan ditarik jadi bawahan pemerintah sipil kota. Termasuk si Geo yang lu lawan di pos administrasi tadi."
Sebas ikut menyimak dengan cermat, berdiri tegap di samping sofa. "Jadi bentrokan di pos tadi..."
"Itu perintah dari orang-orang di atas sana," potong Denza. "Geo cuma menjalankan tugas buat menguji kelayakan Tuan Muda lu. Dan gua terpaksa nurutin Geo karena gua udah terikat sama aturan Old Generation itu."
Denza menyenderkan punggungnya kembali, menatap langit-langit berukir. "Nah, buat peta kekuatan jalanan... lu harus tahu dulu kalau Cikampek itu terbagi jadi dua teritorial utama: Teritorial Siang untuk anak-anak sekolah, dan Teritorial Malam untuk geng jalanan."
"Beda penguasa pas siang dan malam?" tanya gua tertarik.
"Tepat," jawab Denza. "Tapi gua nggak akan pusingin lu sama puluhan fraksi kecil dulu. Yang paling krusial buat lu tahu malam ini cuma satu hal: kekuatan malam di kota ini dikuasai sama Dua Aliansi Besar yang saling sikat."
Denza menegakkan badannya, menunjuk ke arah luar jendela tempat kegelapan Cikampek membentang.
"Aliansi pertama dinamakan Aliansi OKOM. Ini aliansi paling tua dan rapi. Pendirinya ada dua fraksi besar yang bertetangga di wilayah Kramat: geng T.O.K yang dipimpin Rizal Farel dengan massa sekitar 50-an orang, sama geng T.O.M yang dipimpin Oki Febrian yang punya hampir 50 anggota."
"Teritorial siangnya?" sela Sebas.
"Anak-anak OKOM ini kalau siang hari biasanya menguasai wilayah Senopati, basis utamanya di SMK 1 Cikampek sama SMK Muhammadiyah," jawab Denza. "Mereka menaungi belasan fraksi kecil lain di belakang mereka."
Gua mengangguk-angguk paham. "Terus aliansi musuhnya?"
"Aliansi kedua," sambung Denza dengan mata bersinar berbahaya. "Aliansi Slonong Boys. Aliansi ini jauh lebih agresif dan dibentuk sama gabungan tiga geng raksasa dari wilayah berbeda."
Denza mulai menghitung dengan menekuk jarinya satu per satu. *TAK! TAK! TAK!
"Pertama, geng WARJO di Jomin, dipimpin Rega Raditya sama Sahdan Saputra dengan pasokan 50-an anggota. Pas siang, wilayah Jomin ini dikuasai anak-anak SMK Tri Mitra. Kedua, geng TOP di Pangulah, dipimpin Dimby Fatkay dengan puluhan anggota. Dan yang ketiga..."
Denza menunjuk ke ubin marmer rumah yang sedang kami tempati. TAK!
"...Geng CBC alias Cikampek Boys Celebrity, dipimpin Alfriza Farizy sama Fatah Sewu dengan kekuatan sekitar 40-an orang. Dan teritorial CBC ini ada tepat di kawasan Sukaseri, tempat rumah yang lagi kita tempati ini berdiri!"
Gua tertegun sejenak. "Tunggu... Sukaseri?"
"Yup," nyengir Denza. "Sukaseri kalau siang hari itu wilayahnya SMK Insan Tazaka, SMK PGRI, sama SMA 1 Cikampek. Tapi kalau malam... ini jantung kekuasaannya CBC, salah satu pilar Slonong Boys. Jadi secara nggak langsung, begitu lu menginjakkan kaki di rumah ini, lu udah masuk ke radar mereka."
Gua terdiam sejenak. BAM! Darah di tubuh gua mendadak berdesir hangat bagai tersiram bensin. Rasa penasaran dan gairah bertarung yang tadinya terendam kini meluap kembali. Gua meremas jemari tangan hingga berbunyi benturan tulang. KRAK! KRAK!
"Dua aliansi raksasa... OKOM dan Slonong Boys," gumam gua pelan seraya tersenyum miring. "Dan kita sekarang tidur tepat di teritorial salah satu pendirinya."
Sebas membenarkan posisi jasnya, lalu tersenyum tipis melihat reaksi gua. "Tampaknya lokasi rumah ini dipilihkan dengan sangat sengaja oleh Tuan Besar."
"Baguslah!" gua berdiri dari sofa dengan mata berbinar liar. "Gak perlu repot-repot nyari musuh."
Gua menoleh ke arah Sebas. "Oh iya, Sebas. Soal urusan sekolah besok... Kakek udah daftarin gua di mana?"
Sebas merogoh tasnya, mengeluarkan map cokelat dengan suara lembaran kertas bergesek. SREET! "Semua berkas administrasi sudah diselesaikan oleh Tuan Besar kemarin, Tuan Muda. Mulai besok, Anda dan saya resmi terdaftar sebagai siswa di SMK PGRI Cikampek."
UHUK!! UHUK-UHUK!
Denza yang baru aja mau menyulut pemantik apinya mendadak tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk-batuk hebat. SREK! Rokok di tangannya terlepas dan jatuh ke karpet. Dia menatap gua dan Sebas dengan mata membelalak lebar, seolah baru aja denger kami mau melompat ke dalam kawah gunung berapi.
"B-Bentar... lu bilang apa tadi?!" teriak Denza dengan suara melengking heboh. "SMK PGRI Cikampek?! Lu berdua gila apa gimana?!"
Gua mengerutkan dahi heran melihat reaksi lebay pria tua ini. "Napa sih, Bang? Biasa aja kali. Ada yang salah sama sekolah itu?"
"Biasa aja mata lu!" cerocos Denza sambil menepuk jidatnya keras-keras. PLAK! "Di antara puluhan sekolah di Cikampek, kenapa harus PGRI?! Sekolah itu tuh sarang paling parah di seluruh kota ini, Bocah! Itu sekolah penghasil berandalan terbanyak! Sistem di sana udah nggak kayak sekolah formal lagi, tapi udah kayak arena pembantaian hukum rimba! Siapa yang kuat, dia yang megang kendali!"
Denza menatap Sebas penuh ketidakpercayaan. "Tuan Besar lu beneran masukin cucunya ke sana?! Itu sama aja kayak dilempar langsung ke kandang macan yang lagi kelaparan!"
Gua bukannya takut, malah tertawa puas mendengarnya. HAHAHA! Informasi dari Denza justru bikin darah gua makin membara.
"Sarang berandalan terbanyak dan hukum rimba?" gua menyeringai lebar, merapikan jaket yang gua pakai. SREET! "Dengar itu, Sebas. Tampaknya masa-masa sekolah gua di sini nggak bakalan membosankan."
Sebas merapikan jasnya dengan tenang, seolah teriakan histeris Denza tadi cuma suara angin lalu. "Seperti biasa, saya akan selalu mendukung Anda di mana pun, Tuan Muda."
Gua memutar badan dan melangkah menuju pintu depan rumah.
"Mau ke mana lu, Bocah? Ini udah mau malam!" panggil Denza heran melihat gua berjalan ke luar.
"Jalan-jalan sebentar," jawab gua tanpa menoleh sambil melambaikan tangan santai. "Gua mau menghirup udara malam Cikampek dan ngeliat langsung sejauh mana kota ini bisa bikin gua terhibur."
"Baik, Tuan Muda. Apakah perlu saya dampingi?" ucap Sebas menawarkan diri dengan sopan.
"Gak usah, gua lagi pengen sendiri dulu," balas gua sambil tersenyum kecil.
CKLAK! Gua membuka pintu kayu tebal kediaman kami, lalu melangkah keluar menerobos dinginnya angin malam.
Malam itu, langkah pertama gua di jalanan Cikampek resmi dimulai.