Namaku Naura Callista, aku datang ke ibu kota untuk kuliah disalah satu unniversitas disana dengan mendapatkan beasiswa.
Aku berasal dari panti asuhan di kota S, kota yang jaraknya lumayan jauh dari ibu kota.
Satu tahun lebih berlalu. Aku memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran dekat kampus untuk memenuhi kebutuhan hidupkh di jakarta, karena selama ini pihak pantilah yang memenuhi kebutuhan hidupku.
Linda adalah pemilik resto itu, hubunganku dengan Linda sangat dekat, kami sudah seperti keluarga. Suatu ketika Linda mengidap penyakit, dan itu membuat pernikahannya mulai renggang karna suaminya jarang pulang kerumah.
Linda menceritakan kekhawatirannya pada Aura, dia takut suaminya jatuh kepelukan perempuan lain dan pada akhirnya meninggalkan dia.
Hingga pada akhirnya, Linda memaksa Aura untuk menikah dengan Brian. Mungkin lebih baik Brian berada dipelukan Aura yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, dari pada harus merelakannya dengan orang lain sebelum dia menghbuskan nafas terakhirnya.
Aura yang merasa banyak berhutang budi pada Linda, terpaksa menuruti permintaan Linda untuk menikah dengan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Malam itu Aura menginap di rumah Linda,, tentu saja atas permintaan Linda..
Setelah sarapan bersama, Aura, Linda dan Brian berkumpul di ruang keluarga, Aura dan Linda asik berbincang, sedangkan Brian memilih untuk menonton berita.
Hari ini Brian tidak ke kantor,, Dia ingin menemani istrinya seharian dan mengurusnya, karna hari ini pertama kalinya istrinya menginjakan kaki di rumah setelah satu bulan menginap di rumah sakit.
"Aura,, kamu ngga usah kerja di resto mba lagi ya,," Ucap Linda di sela sela obrolannya..
Aura tampak serius menatap Linda..
"Kenapa mba mecat Aura,,?" Tanya Aura yang terlihat bingun juga sedih..
Linda tersenyum kecil
"Mba ngga bilang begitu" Ucapnya datar,,
Aura mengerutkan keningnya,,
"Iya, tapi mba bilang ngga usah kerja lagi, kalo bukan di pecat,, terus apa dong,,?" Gerutu Aura..
"Kamu pindah kerja di rumah mba,, buat nemenin mba di rumah,, biar ngga bosen di rumah terus,, kamu tau kan mba lagi begini,," Jelas Linda dengan suara lirih di akhir kalimatnya, membuat Aura kembali merasakan sesak di dada,, menatap sendu orang yang dia sayangi.
"Ko diem,, kamu ngga mau nemenin mba,,?" Tanya Linda yang melihat Aura terdiam..
Aura pun menyutujui permintaan Linda,, untuk bekerja mengurus Linda, Linda juga meminta Aura untuk tinggal dirumah nya.. Sebenarnya Aura sangat menolak permintaan itu, Aura merasa tidak enak tingga bersama mereka, tapi Linda terus memaksanya.
Mungkin dengan begini kondisi Linda bisa semakin membaik dan tidak berlarut larut dalam kesedihan.
Pukul delapan pagi, Aura pamit pada Linda dan Brian untuk berangkat ke kampus..
"Mba, kak,, Aura siap siap dulu ya,, mau kuliah,," Pamit Aura yang sudah berdiri.
Linda mengangguk,, Brian menoleh sekilas dan kembali fokus menatap layar televisi.
"Nanti biar mas Brian aja yang nganter kamu Ra,," Ucap Linda yang melirik Brian,,.seketika Brian menatap istrinya dengan kening yang sudah mengkerut..
"Ngga usah mba,, Aura naik taksi aja,," Ucap Aura..
"Bener sayang,, biasanya juga Aura naik taksi kalo abis dari sini,," Timpal Brian yang menolak secara halus..
"Mumpung kamu di rumah mas,, sebentar ko, cuma nganterin aja,," Linda mencoba membujuk Brian..
"Tapi sayang,,,," Keluh Brian yang langsung di bantah oleh Linda..
"Ngga ada tapi tapian mas,, kamu harus anter Aura.. Aura cepet kamu siap siap.." Ucap Linda.. Brian hanya mendengus kesal,, sedangkan Aura mau tidak mau tetap menyetujuinya, Aura pergi ke kamar yang dia tmpati, lalu bersiap..
10 menit kemuan Aura kembali ke ruang tamu,, pamit pada Linda, dan bergegas pergi ke garasi bersama Brian..
"Kak,, nanti turunin Aura di depan komplek aja ya,, biar aku naik taksi.." Ucap Aura setelah mobilnya keluar dari halaman rumah..
"Heh anak kecil,, kamu mau kakak mu yang tampan ini di omelin sama mba mu..!" Ketus Brian yang fokus menyetir..
Aura mengerutkan bibirnya mendengar ucapan Brian..
"Ya ampun,, pede banget sih kak,," Timpal Aura.
Brian tersenyum tipis..
"Bukan pede, tapi kenyataan,," Ucap Brian dengan sombongnya...
"Cukup kak,, perutku mual banget dengerin pengakuan kakak yang kepedean.." Canda Aura...
Brian tersenyum kecut..
"Awas kamu ya,,!" Ketus Brian yang terlihat kesal,, tapi tidak benar benar kesal pastinya..
Membuat Aura menahan tawa..
20 menit kemudian mereka sampai di kampus,, audah beberapa kali Brian mengangar Aura ke kampus, tapi bersama Linda juga pastinya.
"Buruan turun,,,!" Ucap Brian setelah mobil mereka berhenti di depan kampus.
"Sabar kak jangan marah marah,, udah tua nanti tambah tua loh,," Ledek Aura sambil melepas seat belt nya..
"Kebangetan ya kamu,, kakak mu ini masih sangat muda dan tampan,," Ucap Brian yang menyangkal perkataan Aura..
Aura tertawa kecil,, dia membuka mobil dan mengucapkan terima kasih sebelum menutup pintu kembali..
"Aura,,,," Panggil seseorang setelah Aura menutup pintu mobil.
Aura menoleh ke sumber suara..
"Kak Erlan,,,?" Ucap Aura,, Erlan sudah berdiri di depan Aura..
"Masuk yuk,,," Ajak Erlan yang sudah memposisikan tangannya di pergelangan tangan Aura dan menggandengnya masuk ke kampus...
Aura hanya diam saja,, tidak bisa menolak karna gerakan tangan Erlan sangat cepat dan menyeretnya begitu saja ke dalam kampus..
Brian yang masih berada di dalam mobil hanya tersenyum,, menatap Aura dan Erlan sampai tubuh mereka tidak terlihat lagi di pandangan Brian.
"Anak kecil bisa pacaran juga,," Gumam Brian.
Dia memutar mobilnya lalu bergegas pulang..
Setelah masuk cukup jauh ke halam kampus, Erlan mengehtikan langkahnya dan melepas genggaman tangannya, membuat Aura ikut menghentikan langkah dan menatap Erlan penuh tanya..
"Kamu di anter siapa Ra,,?" Tanya Erlan yang terlihat tidak semangat.
Erlan tau yang mengantar Aura seorang laki laki.,, Karna sebelum memanggil Aura, Erlan sudah memperhatikan orang yang berada di mobil itu.
"Itu suaminya mba Linda kak,, boss aku di resto.." Jawab Aura jujur..
Elran membuang napas pelan, dalam hatinya mengucap syukur. Posisinya masih aman, karna cuma dia yang sedang dekat dengan Aura saat ini..
"Ayo aku antar kamu ke kelas,,," Ajak Erlan yang kembali memegang tangan Aura..
"Ekheem,,ekheem,,," Suara deheman yang sangat di dlsengaja terdengar jelas di belakang mereka,, Erlan dan Aura langsung melepas tangan mereka dan membalik badannya..
Seketika Erlan menjadi lesu,, 'pengganggu' Batinnya..
Aura terlihat kaget sekaligus malu,, membuatnya salah tingkah..
"Ya ampun,, masih pagi udah gandengan aja,," Ledek Anna.. dia tersenyum jahil..
"Tau nih,, yang lagi kasmaran ngga inget waktu,," Timpal Ditha,, mereka cengengesan ngga jelas..
Aura menatap sahabatnya dengan kesal,,
Sama halnya dengan Erlan yang menatap mereka tak bersahabat,,,
"Yaudah aku duluan Ra,," Ucap Erlan yang berlalu begitu seninggalkan Aura dan sahabatnya..
Mereka melongo menatap Erlan yang pergi begitu saja..
"Astaga,,, kak Erlan marah Ra.." Ucap Anna yang masih menatap kepergian Erlan.
"Kalian sih,, bikin ulah mulu,,!" Ketus Aura..
"Ra buruan kejar,, kayaknya beneran marah dia,," Ucap Ditha sambil mendorong pelan tubuh Aura, agar Aura mengejar Erlan..
Aura pun langsung mengejar Erlan,, dia merasa tak enak hati dengan ulah para sahabatnya itu...
"Kak Erlan tunggu,,," Teriak Aura,, posisi mereka lumayan jauh, membuat Aura harus mengencangkan suaranya.
Erlan berhenti dan membalikkan badannya,, melihat Aura yang masih berlari kecil ke arahnya..
"Kenapa,,?" Ucap Erlan datar,,
"Maafin ucapan mereka ya,," Ucap Aura dengan rasa bersalah karna tingkah sahabtnya...
"Nggak apa apa,, Aku ke kelas dulu, udah telat.." Jawab Erlan yang langsung membelakangi Aura dan mulai melangkahkan kakinya..
Tap,,,,,,
Dengan sigap tangan Aura sudah menarik tangan Erlan.
Deeghh,,,,
Jantung Erlan bededup kencang, walaupun ini bukan pertama kalinya tangan mereka saling bersentuhan, namun ini pertama kalinya Aura yang memegang tangan Erlan duluan..
Ada perasaan senang dalam hatinya,, karna Aura mau menyentuhnya.,,
"Aura memegang tangku karna berfikir aku marah,,?? dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya,, apa harus sering bersikap seperti ini,,," Gumam Erlan dalam hati.
"Kak Erlan,,," Ucap Aura sambil menggoyang goyangkan tangannya yang sedang memegang tangan Erlan..
Seketika membuyarkan lamunan Erlan..
"Kenapa lagi,,?" Tanya Erlan.. dia fokus menatap Aura, tapi menikmati tangan Aura yang sedang menggenggam tangannya,, membuat hatinya berbunga bunga.
"Apa kakak marah,,?" Ucap Aura yang terlihat ragu ragu menanyakan itu.
"Sedikit,," Jawab Erlan singkat..
"Jangan marah,, pleaseee,,," Ucap Aura dengan memasang wajah imut dan mengatupkan kedua telapak tangannya..
Erlan menahan senyumnya melihat gadis yang sangat dia cintai bertingkah sangat menggemaskan di hadapannya,, ini pertama kalinya Erlan melihat Aura seperti ini.
Bisa bisa Erlan semakin meleleh di buatnya.
Erlan hanya tersenyum, lalu begesas meningggalkan Aura tanpa memgucapkan apapun, rasanya tidak kuat berlama lama di depan Aura dengan tingkah yang menggemaskan itu,, bisa bisa jantungnya copot..