Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
“Apa?” Kayla langsung bangkit, wajahnya berubah kesal. tangan mengepal kuat, erat di sisi tubuhnya.
“Rina lagi… dia selalu saja mengganggu di hidupnya setiap hari.”
Kayla bergegas akan keluar dari kamar. Namun saat dia hampir melangkah keluar, Maharani justru masuk. langkahnya langsung terhenti di ambang pintu.
“Kamu Kayla kan?” tanya Maharani dengan senyum sumringah yang hangat.
“I,,iya nyonya,” jawab Kayla dengan suara gemetar. tubuhnya kaku dan tegang menahan rasa takut.
“Jangan panggil aku nyonya, aku ini neneknya Rian. Kamu panggil aku nenek saja dengan sopan.”
“I,,iya,,nenek,,maaf ya nenek aku harus segera kembali ke hotel,” Kayla tampak terburu-buru, pikirannya kacau membayangkan barang-barangnya sudah dibuang. napasnya tersengal cepat.
“Kenapa tergesa-gesa sekali?” kata Nyonya Maharani dengan penuh tanya.
“Maaf nenek aku ada masalah besar,” Kayla mencium tangan Maharani lalu segera pergi dari kamar itu. matanya berkaca-kaca.
“Kayla, jangan lari kamu sedang hamil!” ucap Maharani setengah berteriak dari belakang.
Maharani segera turun tangga dengan hati-hati. setiap langkah terasa nyeri di kakinya, namun ia tetap mempercepat langkahnya sambil berpegangan erat pada railing.
“Adik ini kenapa terburu-buru sih,” gumamnya sampai di lantai bawah, namun Kayla sudah tidak terlihat lagi. dadanya terasa sesak dan khawatir.
“Rian,,, Rian!” ucap Maharani setengah teriak memanggil cucunya.
“Ada apa Nek?” ucap Rian dari ruang kerjanya dengan suara tenang, namun matanya langsung waspada.
“Rian,, sepertinya Kayla ada masalah,, dia tadi tergesa-gesa sekali,” ucap Maharani dengan napas terengah.
Wajah Adrian menegang, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Sekarang dia ke mana?” tanyanya tegas.
“Katanya dia mau ke hotel,, cepat kamu susul dia sekarang,” jawab Maharani cemas.
“Aku akan menyusul dia,” Adrian langsung bergegas keluar rumah sambil menghubungi Aldo di ponselnya.
“Ke hotel sekarang.”
Kayla menaiki taksi online menuju asrama hotel tempat ia tinggal selama ini. hatinya gelisah, pikirannya penuh kekhawatiran tentang barang-barang pentingnya. jarinya bergetar pelan di pangkuan.
Sementara itu di asrama, suasana sudah kacau dan tidak terkendali. Lemari kayla sudah terbuka paksa baju dan buku berserakan di lantai, kasur sudah acak-acakan, rina dan kawanannya sedang mengeluarkan paksa barang barang kayla, lisa berusaha mencegah mereka namun dia hanya seorang diri tak banyak yang bisa dia lakukan,
“Rina kamu tidak bisa melakukan ini,” ucap Lisa yang berdiri di tengah, dikelilingi Rina, Mila, dan Mira. wajahnya tegang..
“Kamu jangan keterlaluan, Rina!” bentak Lisa dengan mata melotot marah.
“Aku keterlaluan?” ucap Rina sinis dengan senyum dingin di wajahnya.
“Aku sedang menyingkirkan sampah di asrama ini. wanita hamil sebelum menikah itu sampah, jadi aku harus mengusirnya.” Tatapan rina tajam pada Lisa.
“Tidak ada aturan wanita hamil di luar pernikahan tidak boleh tinggal di sini,” bela Lisa dengan suara tegas.
“Lisa oh Lisa sampai kapan kamu akan jadi budak Kayla,” ucap Mira mengejek. “Jangan bela wanita hamil tanpa pernikahan, bahkan yang jelas saja tidak boleh tinggal di asrama ini.”
“Dengar Lisa, Kayla itu sampah dari keluarga miskin. Kenapa kamu terus membelanya? Lebih baik aku bakar saja barang-barang Kayla ini, sedangkan aku ini adalah tunangannya pak Adrian pemilik hotel ini, apa kamu sudah bosan kerja disini terus melawanku” ucap Rina sinis.
Lisa terdiam dia susah payah mendapatkan jabatan sebagai wakil manajer di hotel, dilain sisi dia adalah teman baik kayla, tapi Rina juga bukan dari keluarga sembarangan, lisa hanya bisa diam berharap kayla cepat datang.
Salah satu buku Kayla diambil dari meja dengan kasar. korek dinyalakan, api kecil muncul dan siap menyentuh halaman buku itu.
“Rina jangan lakukan itu!” ucap Lisa panik, namun Mila dan Mira langsung memegang tangannya erat. tubuhnya tertahan kuat.
Api semakin dekat ke buku Kayla.
Namun sebelum api menyentuh—
“Apa yang kamu lakukan?” Kayla merebut korek itu dari tangan Rina dengan cepat. tatapannya tajam penuh dengan amarah dan kesal pada Rina dan kawanannya.
Ruangan langsung sunyi sesaat.
Tatapan Kayla menghujam Rina tanpa ragu sedikit pun. Rina mendengus kesal, tidak mundur sedikit pun dari tempatnya.
“Rupanya sampah sudah datang,” ketusnya dengan senyum sinis penuh penghinaan pada Kayla
“Kenapa kamu selalu menggangguku?” kata Kayla kesal, dadanya naik turun menahan emosi.
“Aku tidak mengganggu kamu. Aku sedang menegakkan aturan dan keadilan. Tidak masuk kerja berhari-hari, dan masih mau tinggal di sini, tidak tahu malu,” ucap Rina tajam, sinis.
“Aku tidak masuk karena dirawat dan menikah,” kata itu hanya ada dalam pikiran Kayla. Ia belum mau mengungkap status dirinya yang sebenarnya.
“Aku juga sebenarnya mau pindah, kalian tidak usah membuang apalagi membakar barangku,” ucap Kayla pelan, menahan getir di dadanya.
“Alasan saja!” Mira menukas tajam. “Jangan mentang-mentang kamu dekat dengan atasan, kamu bertindak seenaknya, Kayla. Sudah tidak masuk kerja, hamil di luar nikah, masih saja mau tinggal di asrama. Benar-benar serahkah tak tahu malu”
“Masih banyak karyawan lain yang lebih berhak tinggal di asrama ini,” tambah Mila dengan nada menghina. “Kamu tinggal saja di kosan. Minta saja lelaki bejat kamu itu membiayai hidupmu. Apa jangan-jangan dia pengangguran miskin, berandalan?”
Kayla mengatupkan bibirnya rapat. Ia menarik napas dalam, menahan semua amarah yang mulai naik ke dadanya.
“Aku akan pergi dari asrama ini, tapi semuanya perlu proses. Beri aku waktu beberapa hari saja,” kata Kayla pelan, hampir memohon.
“Kayla kamu terlalu berbelit! Pokoknya kamu harus pergi sekarang!” bentak Rina sambil mengangkat kardus berisi barang-barang Kayla.
“bruk” kardus di lempar ke luar pintu barang barang Kayla berhamburan di luar ruangan.
“Rina” geram Kayla menggertakan gigi menahan amarah.
“Hentikan, Rina!” Lisa berteriak, namun tubuhnya langsung didorong oleh Mira dan Mila hingga jatuh ke lantai.
“Kalian tidak boleh melakukan itu!” ucap Kayla dengan kesal, matanya mulai memerah.
“Sudahlah, buang semua sampah di kamar ini,” perintah Rina dingin.
Mira dan Mila segera mengeluarkan semua barang Kayla, melemparnya keluar pintu tanpa belas kasihan. Buku, baju, dan barang pribadi berserakan di lantai lorong seperti tidak berharga.
Kayla mengepalkan tangannya erat. Andai saja ia tidak sedang mengandung, mungkin ia sudah menjambak rambut mereka Kayla walau serba kekurangan dari dulu bukan orang yang mudah ditindas.
“Masih ada satu lagi sampah yang belum dibuang,” ucap Rina sinis sambil melirik Kayla.
“Sekarang kita buang yang satu ini,” lanjutnya memberi kode pada Mira dan Mila.
Tiga orang itu kemudian mendorong Kayla keluar dari kamar. Tubuh Kayla hampir terjatuh, namun sebuah tangan kokoh tiba-tiba menangkapnya dan menahan pinggangnya.
“Pak Adrian…” ucap Kayla lirih, menatap pria itu dengan mata terkejut.
Rina, Mira, dan Mila langsung membeku di tempat. Wajah mereka menegang saat menyadari Adrian, pemilik hotel, sudah berdiri di depan kamar dengan tatapan tajam.
“Apa yang kalian lakukan?” suara Adrian terdengar dingin, dalam, dan penuh tekanan. Dia masih memeluk kayla seolah memastikan kalau kayla baik-baik saja.