Dekat dengan calon mertua sejak SMP, membuat Syifa bermanja-manja pada Papa sang pacar. Siapa sangka pria itu malah mencintainya.
Syifa gadis berusia 25 tahun, terkejut dan menolak cinta papa sang pacar, karena dia sangat mencintai pria yang sudah bersamanya sejak SMP.
Sehingga Syerkhan, menanamkan benih kepemilikan di rahim Syifa agar gadis itu menjadi miliknya. Tanpa memikirkan anak dan istrinya.
Seperti apakah kisahnya? Yuk simak sampai Tamat.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cinta Terindah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Entah mengapa, saat Syifa mengatakan tidak berjodoh dengan sang anak, Syerkhan sedikit bergembira. Ia langsung merangkul gadis itu dengan lembut, mencoba menyembunyikan rasa gembira yang menggebu-gebu dalam hatinya.
"Sayang, bila kamu tidak berjodoh dengan Anggi, maka Papa yang akan menikahi mu," ucap Syerkhan dengan lembut, mencoba mengutarakan perasaannya.
Anggi dan Dila tertawa bersama, karena mereka pikir Syerkhan hanya bercanda akan menikahi gadis itu.
"Papa, sudahlah ... biarkan mereka menyelesaikan permasalah berdua, kita diam dan menerima kabar gembira saja," ucap Dila dengan lembut, mencoba menenangkan Syerkhan.
Syerkhan tersenyum dan melepaskan Syifa dari rangkulannya, kemudian mereka memakan makanan masing-masing.
Setelah selesai makan, Syifa membuka ponselnya dan ada pesan masuk dari sang sahabat.
Juwita: Syifa, kamu di mana? Malam ini kita ketemuan bisa?
Syifa menghela nafas panjang, karena malam ini dia kembali harus mengerjakan tugas yang sengaja dihapus, hanya karena tidak mau pergi bersama Syerkhan.
"Ada apa, Nak?" tanya Dila sambil menatap wajah sedih Syifa dengan penuh perhatian.
Syifa langsung menoleh, begitu juga dengan yang lain. Sebab, Dila bertanya ada apa dengan gadis itu.
"Tidak ada Tan, hanya Juwita mengajak bertemu nanti malam. Tapi, Syifa tidak bisa, karena ada pekerjaan bersama Om Syerkhan," jawab Syifa dengan lembut, mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.
Syerkhan hanya diam, karena Syifa tidak akan pergi yang artinya dia bisa berduaan nanti malam bersama gadis itu.
'Semoga nanti malam, kami bisa bersama dan menghabiskan waktu berdua hanya berdua,' batin Syerkhan, mencoba mengusir rasa gelisah yang menggerogoti hatinya.
Dila tersenyum dan kembali melanjutkan cerita bersama Anggi, karena tiba-tiba mereka memiliki masalah di butik dan toko baju Anggi.
'Sampai sekarang saja dia tidak ada bertanya apapun padaku,' batin Syifa kesal, mencoba menahan rasa kecewanya. Bagaimana dia tidak kesal, karena sejak tadi Anggi sama sekali tidak mau mengatakan apa pun padanya. Di tambah lagi pria itu menunda pernikahan mereka lagi dan lagi.
Setelah sore hari tiba . . .
Mereka semua bergegas pulang, karena hari sudah semakin sore dan sama seperti sebelumnya. Syifa duduk di depan bersama Syerkhan.
Namun, gadis itu tertidur pulas sehingga kepalanya bersandar di bahu Syerkhan membuat pria itu senang.
'Andai tidak ada mereka, pasti aku sudah mencium Syifa habis-habisan,' batin Syerkhan dengan geram, mencoba mengusir rasa gelisahnya.
Setelah sampai di rumah, Syerkhan sengaja menyuruh sang istri dan anaknya masuk duluan, dia beralasan akan membawa Syifa masuk agar gadis itu tidak terbangun.
"Sayang, di sini hanya kita berdua," ucap Syerkhan dengan pelan sambil menatap wajah gadis itu dengan penuh kekaguman.
Perlahan Syerkhan mencium wajah Syifa dengan lembut dan nafsu yang sudah dia tahan selama ini.
"Maafkan Papa ya sayang," ucap Syerkhan lagi, mencoba mengusir rasa bersalahnya. Sebab, pria itu akan melahap bibir Syifa dengan lembut dan terjadilah. Namun, sang empunya sama sekali tidak terbangun saat Syerkhan melakukan hal itu.
Syerkhan sangat menikmati hal indah ini, sebab dia tahu ini kali pertama buat Syifa, karena masih terasa manis.
"Terima kasih sayang," ucap Syerkhan sambil mengecup manis pipi gadis itu.
Syerkhan mengelap bibir Syifa yang sudah basah akibat ulahnya tadi, dan mengendong gadis itu masuk ke dalam. Dengan perasaan yang sangat membahagiakan.
Pria itu sama sekali tidak memikirkan anaknya, yang menjadi kekasih Syifa. Bahkan, dia berniat akan menyatakan cinta malam ini pada calon menantunya.
. . .
Setelah sampai di dalam kamar Syifa, pria itu meletakan calon mertuanya dengan perlahan ke tempat tidur. Kemudian, dia menatap gadis itu dengan dalam.
"Maaf, karena sudah berbuat hal tadi," ucap Syerkhan dengan lembut, mencoba meredakan rasa bersalahnya.
Pria itu bergegas pergi dari sana, sambil mengelap bibirnya yang sedikit basah, kemudian mengingat kembali kejadian tadi.
'Bagaimanapun caranya, aku akan tetap menyatakan cinta pada Syifa. Sebab, Anggi juga selalu menunda pernikahan mereka,' batin Syerkhan, mencoba mengusir rasa gelisahnya.
. . .
Anggi duduk diam sambil menimbang semua keputusannya untuk menyembunyikan rencana pernikahan yang sudah disiapkan.
"Apa aku beritahu Syifa saja, karena dia terlihat sedih. Sebab, aku selalu menunda pernikahan kami," ucap Anggi dengan bingung, mencoba mencari solusi terbaik.
Pria itu bingung, karena tadi dia mendengar kalau Syifa berkata mereka tidak berjodoh, dan ia takut hal itu terjadi.
"Sehabis dia pulang dari luar kota, aku akan memberitahu dia. Sebab, semuanya hampir selesai, kalau sekarang, masih sedikit yang selesai," ucap Anggi dengan bergembira, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Pria itu akan memberitahu Syifa kalau dia sudah mempersiapkan semua acara pernikahan mereka, dan berharap gadis itu akan senang padanya.
. . .
Perlahan Syifa membuka kedua matanya, dan merasa sangat harus. Kemudian dia terdiam sambil memegang bibirnya.
"Tadi aku mimpi hal yang sangat aneh, karena ciuman itu terasa sangat nyata," ucap Syifa dengan bingung, mencoba memahami mimpinya.
Gadis itu bergegas mandi, karena hari sudah hampir malam yang artinya dia harus mengejar tugas bersama Syerkhan.
Setelah selesai mandi, Syifa mengunakan piyama yang sedikit seksi dari Dila. Sebab, wanita itu sudah tidak memiliki pakaian yang sopan.
"Ya ampun, bagaimana ini? Aku terlihat sangat menggoda, aku jadi takut bertemu dengan Om Syerkhan," gumam Syifa sambil berjalan ke luar dari kamarnya, mencoba mengusir rasa takutnya.
Gadis itu berjalan dengan perlahan menuju ruangan kerja calon mertuanya, dan masuk ke dalam.
Betapa terkejutnya Syifa, karena calon mertuanya sudah ada di sana dengan sangat santai.
'Ya ampun, tidak seperti biasanya Om Syerkhan berpakaian seperti ini,' batin Syifa, mencoba memahami perubahan sikap Syerkhan.
Ya, Syerkhan memakai kaus dan celana pendek. Padahal, biasanya pria itu selalu menggunakan celana panjang, selama 12 tahun Syifa mengenalnya.
"Sini sayang!" panggil Syerkhan, mencoba menarik perhatian Syifa.
Syifa tersenyum dan menghampiri Syerkhan, kemudian mereka mengerjakan tugas bersama sampai selesai.
Syifa senang, karena Syerkhan sama sekali tidak berbuat mesum selama mereka mengerjakan tugas.
"Om, Syifa pergi dulu karena ini sudah larut malam," ucap Syifa dengan lembut sambil beranjak bangun.
Syerkhan menarik tangan Syifa, sehingga gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Sontak Syifa terkejut.
"Mau ke mana? Ada hal yang akan Papa sampaikan," ucap Syerkhan, mencoba menahan Syifa.
Syifa bangun dan duduk di samping pria itu, karena dia takut ada masalah yang penting. Sebab, wajah pria itu sangat serius.
"Katakan Om," ucap Syifa dengan lembut, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.
"Aku mencintaimu," ungkap Syerkhan, mencoba mengutarakan perasaannya.
Syifa membuka mata lebar-lebar, saat calon mertua yang selama ini sudah dianggap sebagai ayah kandung, menyatakan cinta padanya.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu," tambah Syerkhan lagi, mencoba meyakinkan Syifa.
Syifa langsung bangun dan menjauh.
"Om, selama ini Syifa sudah menganggap Om sebagai ayah Syifa. Tapi, apa ini?!" tanya Syifa sambil menangis, mencoba menahan emosinya.
Syerkhan bangun dan mendekati Syifa, kemudian memeluk gadis itu dengan erat, agar sang pujaan hati tidak pergi.
"Maafkan aku. Tapi, rasa ini tidak bisa aku pendam lagi," ucap Syerkhan dengan lirih, mencoba menjelaskan perasaannya.
Syifa melepaskan pelukannya, kemudian menatap pria itu dengan dalam dan lirih, sebab sudah membuat hatinya hancur.
"Syifa ini calon menantu Om, dan pacar anak kandung Om, apa Om sama sekali tidak memikirkan hal itu?!" tanya Syifa dengan sangat emosi, suaranya bergetar menahan amarah.
Syerkhan menggelengkan kepala, mencoba menjelaskan perasaannya. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa menahan rasa ini lagi. Aku mencintaimu, Syifa."
Bersambung.
emang bisa Syifa menikah dengan Anggi sedangkan dia sudah tidur dan hamil anaknya syerkhan
walaupun nikah sama Anggi tetap saja Anggi tidak bisa menyentuh Syifa mereka haram untuk disentuh
ya emang baiknya cari wanita lain dinikahi...
beda cerita kalau Syifa tidur dan hamil anaknya BPK tiri masih ada kemungkin merak bersatu..
dan cintanya Juwita yang obsesi
sebenarnya kedua orang ini mempunyai cinta yang benar gk tulus soalnya aku suka banget tipe² orang² mencintai seperti mencari celah..
lebih prihatin sama nasip Dila dan Anggi lebih disakiti hatinya