Aziya Yunita Wijaya dia terpaksa masuk pesantren karena sikap Aziya yang nakal karena pergaulan dengan teman temannya, apa lagi saat itu Aziya merasa sakit hati karena di tinggal pacarnya menikah.
karena sikap Aziya semakin tak terkendali orang tua nya pun memutuskan memasukan Aziya ke pesantren.
namun apa Aziya bisa berubah saat sudah masuk pesantren? apa lagi banyak hinaan dan cacian pada Aziya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni nurleni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
"Mamah kapan mamah akan mengajak aku pulang, mah aku gak betah di sini" ucap Zia.
"Nanti kalau kamu sudah menimba ilmu di sini mamah akan bawa kamu pulang" ucap Nita.
"Kapan" tanya Zia.
"Makannya kamu harus bersungguh sungguh dalam belajar Zia" ucap Nita.
"Tapi aku gak betah mah, ini bagai penjara yang menjerat aku mah" ucap Zia.
"Jangan banyak drama Zia" ucap Nita.
"Oh ya tadi Alena datang ke rumah" ucap Nita.
"Apa dia menanyaiku" tanya Zia.
"Tentu saja kau itu kan Besty nya" ucap Nita.
"Lalu kemana Alena sekarang" tanya Zia.
"Pulang" jawab Nita.
"Hah pulang, kenapa mamah gak bawa Alena kemari" ucap Zia.
"Dia takut di masukan ke sini" ucap Nita.
"Baiklah mamah akan pulang, jangan nak*l Zia sudah cukup mamah malu karena ulah mu mulai sekarang jangan lagi" ucap Nita.
"Siap bos" ucap Zia.
Zia kembali ke kamarnya membereskan pakaiannya yang baru saja Nita bawa ke pesantren itu.
"Ya ampun Mamah kenapa bajunya begini" gumam Zia menatap baju gamis yang mirip seperti daster.
"Mamah sangat tak tau fashion" gumam Zia lagi.
"Zia bisakah kau menjait jemuran aku di belakang" titah Marwah.
"Kau menyuruhku" tanya Zia kesal sambil menatap tajam pada Marwah.
"Maaf Zia tapi kaki aku sakit" ucap Marwah.
Zia pergi dengan kesal dari tempat itu.
"Siapa dia berani menyuruhku" ucap Zia kesal.
"Zia" sapa Fauzi yang berada di hadapan Zia.
"Ehh Gus Fauzi" tanya Zia.
"Mau kemana" tanya Fauzi.
"Menjahit pakian untuk Nona Ratu" ucap Zia kesal.
"Nona Ratu" ucap Fauzi.
"Ya siapa lagi kalau bukan Marwah, kau bayangkan saja dia berani menyuruhku" ucap Zia kesal sambil melipat tangannya.
"Sabar ya, biar aku bantu" ucap Fauzi.
"Benarkah" tanya Zia yang di balas anggukan kepala oleh Fauzi.
"Gus kau sangat baik, aku terharu mendengarnya" ucap Zia.
"Ayo" ucap Fauzi.
"Lihat Zia, tebar pesona pada setiap laki laki" ucap Husna mentapa Zia dengan tatapan sinis.
"Gus Fauzi ku di embat sama Zia" ucap Rosa teman Husna yang jatuh cinta pada Fauzi.
Dengan cepat Rosa menyusul Zia dan Fauzi.
"Assalamualaikum Gus, mau kemana" tanya Rosa pada Fauzi.
"Rosa, Waalaikumsalam" ucap Fauzi sambil tersenyum.
"Aku dan Zia mau menjahit jemuran" ucap Fauzi.
"Boleh aku ikut, ehh maksudku aku juga akan menjahit jemuran ku juga" ucap Rosa.
"Silahkan" ucap Fauzi.
Rosa menatap Zia dengan tatapan sinis dan berlalu meninggalkan Zia yang masih mematung.
"Aneh" gumam Zia.
"Dimana pakaian Ning Marwah" ucap Zia menatap setiap pakaian yang berjajar di sana.
"Kita cari saja karena setiap jemuran pasti ada namanya" ucap Fauzi.
Zia mencari jemuran yang bernamakan Marwah, dengan sangat teliti namun tetap saja tak ada jemuran yang bernama Marwah.
"Ada Gus" tanya Zia pada Fauzi.
"Gak ada" jawab Fauzi.
Mata Zia menatap pada seorang wanita bercadar dan Adam yang sedang berjalan beriringan.
"Ning Marwah jemuran mu tak ada" teriak Zia hingga membuat orang orang melihat ke arahnya.
"Zia maaf aku lupa, hari ini aku tak nyuci" sahut Marwah yang langsung mendekat kesana.
"Beraninya kau mempermainkan aku Ning, kalau saja kau bukan guru di sini sudah aku bant*ng kau ke tanah" ucap Zia marah pada Marwah.
Sedangkan Marwah hanya bersembunyi saja di balik punggung Adam.
"Kau curang Ning kau menyuruhku tapi seperti mempermainkan aku, dasar wanita manja kau lebih rendah dari ku Ning" geram Zia karena baru kali ini ada orang yang berani mempermainkannya.
Zia bahkan tak segan segan hendak menarik Jilbab yang Marwah pakai, kalau saja tak ada Adam yang melindungi Marwah mungkin Marwah sudah habis di cak*r oleh Zia.
Plakk..
Tak segan segan Adam menampar Zia karena saat ini Zia sangat berontak, saat mendapat tamparan Zia hanya diam dan pandangannya lurus ke depan.
"Kau baik baik saja Zi" tanya Fauzi setengah berbisik karena Fauzi juga sadar kalau Adam sedang marah karena terlihat dari dadanya yang sekarang naik turun menahan emosi.
Zia menatap Adam dengan tatapan sedih bahkan mata Zia sekarang sudah berembun dan hendak menangis.
Zia pergi dari sana dan langsung berlari keluar dari pesantren itu.
Adam menatap Zia yang sekarang sudah pergi, dia menatap tangannya yang baru saja dia gunakan menampar Zia.
"Ya alloh sejak kapan aku menjadi laki laki kasar, Ya alloh karena rasa cintaku pada Ning Marwah yang besar aku sampai rela menyakiti wanita" batin Adam menyesal.
"Gus Adam terima kasih" ucap Marwah.
Namun Adam tak mendengarkan Marwah dia hanya fokus menatap pada tangannya yang kasar itu, bahkan rasa penyesalan pun datang pada Adam.
Adam pergi dari sana guna menyusul Zia, namun Adam tak tau Zia pergi ke mana, Adam menatap kanan dan kiri mencari sosok Zia yang baru saja Adam sakiti.
Sedangkan Marwah dia hanya memutar bola matanya malas karena Adam menyusul Zia, padahal Marwah hanya becanda saja pada Zia.
"Apa kalian melihat Zia" tanya Adam pada santriwati dan hanya di jawab gelengan kepala oleh para santriwati itu.
Adam terus mencari sampai berada di perbatasan dengan Rw lain,
"Apa Zia masuk ke RW ini" gumam Adam.
"Bissmilah semoga ada di sana" gumam Adam sambil masuk kedalam Rw itu dan mencari cari Zia.
Rw itu dan Rw Adam sama mereka bertetanggaan tapi mereka sangat tak suka ada pesantren di sana apa lagi para Warga berfikir jika ada pesantren maka akan berisik.
Makannya sejak saat itu Abah Zakaria mematikan Mikrophon saat sudah Adzan Isya, kalau pun mau ceramah itu pun hanya di beri waktu satu sampai dua jam saja.
Semua orang menatap pada Adam yang Notabenenya seorang anak Ustadz, tak ada yang berani menyapa Adam karena RW itu di kepalai oleh preman yang kasar dan bahkan tak taat pada Agama.
Adam melihat Zia sedang di goda oleh para preman di sana, bahkan tak segan segan mereka memegang tangan Zia.
"Lepaskan aku" sahut Zia.
"Anak cantik kenapa menangis hah, ada yang menyakitimu" tanya preman itu.
"Bukan urusan mu" ucap Zia.
"Kau masuk kedalam wilayah kami, aku rasa kau bukan orang sini cantik".
"Lepaskan dia" sahut Adam.
"Pak Ustadz senang akhirnya kau mau menemui aku" ucap Preman itu.
"Jangan ganggu dia, dia anak dari pesantren Al- Zakaria" ucap Adam.
"Oh silahkan ambil" ucap preman itu sopan pada Adam.
"Ayo Zia kita pergi" ucap Adam menarik tangan Zia dan membawanya pergi dari sana untuk kembali ke pesantren.
"Lepaskan aku, kita bukan muhrim" ucap Zia berontak dan hendak membuka cekalan tangan Adam pada tangannya.
"Jangan sok peduli padaku Adam, sudah jelas jelas kau menamparku lalu untuk apa kau menyusul ku" bentak Zia.
Adam hanya menatap Zia dengan tatapan sendu, rasanya sangat aneh bagi Adam jika hanya di panggil nama saja namun Adam tau Zia pasti sangat marah padanya.
Zia hendak pergi dari sana, namun tangannya di cekal oleh Adam sehingga langkah Zia terhenti.
"Lepaskan tanganku" ucap Zia sambil menatap tajam pada Adam.
Adam melepaskan tangannya yang mencekal tangan Zia.
Dengan secepat kilat Zia berlari dan masuk kedalam kamarnya.
Zia masuk dan menangis sejadi jadinya di dalam kamarnya, karena sekarang Zia merasa sakit hati karena sejak dulu tak ada yang berani memukul atau menampar Zia tak sekarang Adam berani menampar Zia.
Apa lagi Adam melakukannya di depan orang banyak sudah Zia pastikan kalau dia akan menjadi buah bibir para santriwan dan santriwati di pesantren itu.
"Kak Zia" ucap Rena yang melihat Zia menangis di sudut dekat tembok dan menyembuyikan wajahnya di antara tangannya.
"Kak maafkan Gus Adam, aku tau dia salah tadi emosinya tak terkontrol, jadi aku mohon maafkan Gus Adam" ucap Rena.
Tak ada jawaban dari Zia, Zia hanya terus saja menangis dan semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam tangannya yang dia lipat.
Rena pun paham kalau sekarang Zia sedang mau sendiri, dia pun memutuskan untuk keluar dan membiarkan Zia sendirian untuk sekarang mungkin saja Zia sedang membutuhkan waktu sendiri dulu.
Berita itu tentu saja sampai ke telinga Umi dan Abah, karena banyak sekali para santri yang lihat jadi gosip itu menyebar dari mulut ke mulut.
Abah sangat marah mendengar hal itu, apa lagi Abah mendidik Adam dengan sangat keras waktu Adam kecil supaya Adam tau kalau menyakiti orang lain itu bagaimana rasanya.
Tapi baru kali ini Abah mendengar Adam menampar seseorang apa lagi menampar seorang wanita.
"Umi panggilkan Adam" titah Abah yang sekarang sudah emosi.
"Ya abah".
Umi melihat Adam yang sekarang sedang duduk di taman.
" Adam pulang" titah Umi.
Adam bangkit dan pulang ke rumah menyusul Umi yang sekarang sudah masuk kedalam rumah.
Adam menatap Abah yang sekarang sedang marah.
"Kau tau apa kesalahan mu" tanya Abah pada Adam.
"Tau Abah aku sangat menyesal" ucap Adam.
"Kenapa kau menampar Zia, kau tau bukan Zia adalah wanita, kenapa kau menampar wanita yang sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya" ucap Abah lurus ke depan dan tak menatap pada Adam.
"Ya Abah, niatnya aku akan melindungi Ning Marwah namun Zia berontak" ucap Adam membela dirinya.
Pletak..
Tongkat kecil punya Abah mengenai kaki Adam dan hal itu membuat kaki Adam perih dan meninggalkan bekas merah yang sudah bias di perkirakan akan sembuh dua atau tiga hari.
Adam hanya menerimanya dengan senyuman, bahkan hukuman itu pun tak akan cukup membalas rasa sakit pada pipi Zia.
"Segeralah minta maaf" titah Abah.
"Ya Abah" ucap Adam menundukan kepalanya.
Adam pergi dari sana dengan kaki sedikit sakit jika berjalan, namun dia sekuat tenaga menahannya.
Adam hendak masuk kedalam kamar Zia namun Adam mendapati suara tangisan yang sudah Adam yakini itu tangisan dari Zia.
Adam melihat keadaan di dalam lewat jendela di sana, dan benar saja Zia menangis sambil menyembuyikan wajahnya.
"Dia sangat cengeng bukan" ucap Husna pada temannya Rosa yang menjadi saksi mata kejadian tadi.
"Tentu saja dia akan menangis, kau tau Ning pipinya sampai memerah karena Gus Adam menamparnya dengan kencang" ucap Rosa yang melihat Gus Adam datang ke kamar Zia.
Adam masuk kedalam kamar Zia,
"Zia aku mau bicara" ucap Adam.
Tak ada jawaban dari Zia, hal itu tak membuat Adam menyerah Adam mendekat pada Zia dan duduk di lantai samping Zia.
"Maafkan aku" ucap Adam.
Adam hendak memegang Zia yang sekarang tubuhnya bergetar seperti ketakutan.
"Zia aku tau aku sudah keterlaluan tapi aku mohon maafkan aku" ucap Adam.
Zia menatap pada Adam namun hanya sekilas.
"Pergilah, aku tak mau melihatmu ada di sini" ucap Zia ketus.
"Kau marah padaku, mana mungkin aku bisa pergi dari sini" ucap Adam.
"Haha pergilah bukannya di mata mu aku hanya seorang wanita Nak*l yang tak punya hati, aku bisa menebak semuanya" ucap Zia.
"Maafkan aku" ucap Adam memohon.
"Pergilah" ucap Zia.
"Maaf" lirih Adam.
"Sangat mudah meminta maaf bukan, sayangnya dengan kata maaf tak akan bisa membuat rasa sakit ku ini hilang" ucap Zia ketus.
"Maafkan aku, aku janji tak akan melakukannya lagi" ucap Adam.
"Pergi" titah Zia dengan nada marah dan penuh penekanan.
Bersambung...
ngeriah kalo ngidam gitu
mudan cepat terbongkar si rosa itu geregetan aku loh thor
aku juga jurusan bhs inggris
dan aku sekarang mengikuti pengajian tasaup jadi aku rasa thor juga sama dengan ku
kalo gk salah tebak 🥰
aku juga pernah mengalami itu jika dengan tidak ada cobaan kita tidak tau seberapa kuatnya kita menghadapi masalah
tuhan tidak tidur saro