Bagaimana jika sihir itu benar-benar ada?
Apa yang akan kalian lakukan jika terdampar di sebuah tempat, yang memiliki segala jenis keanehan, bahaya, dan juga monster-monster yang memenuhi seluruh tempat tersebut.
Pasti kalian akan menggigil ketakutan, Kan? Namun hal itu tidak berlaku untuk pria yang yang satu ini.
Dia terlahir kembali dan menjadi salah satu penduduk dunia aneh tersebut, dengan segenap ingatan dari kehidupan sebelumnya.
Sebuah kehidupan kelam yang selalu dia miliki, kini akan berubah menjadi sebuah petualangan yang sangat berarti setelah dirinya terlahir kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hendra dwi maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNYATAAN RAJA
Melihat Kazan kembali pingsan tanpa busana, Garhan bergegas melepas mantep bulu yang melilit tubuhnya. Dia menyelimuti tubuh Kazan kemudian membopong anaknya masuk ke dalam rumah Nenek tua.
Sedangkan semua anggota yang tengah berada di rumah Nenek, mereka berbondong untuk mengangkat dukun tersebut. Mereka juga membawa tubuhnya masuk, kemudian membaringkan tepat di sebelah Kazan.
Selain keluarga Kazan, semua orang bergegas pergi dan menunggu di depan halaman, sedangkan Garhan, Yuzu dan Nuzu dengan sabar menunggu di sebelah tubuh Kazan.
Untuk beberapa waktu mereka tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, baik Nenek maupun Kazan sama sekali tidak menunjukkan sebuah gerakan.
Namun tanpa satupun orang sadari, jiwa mereka berdua tengah berada di satu tempat yang sama, yaitu tempat dimana hanya ada kehampaan, serta warna putih yang secara sempurna membalut tempat tersebut
Saat itu jiwa yang bersemayam dalam tubuh Kazan bertemu dengan jiwa si Nenek tua. Mereka hanya saling menatap, dan tidak membuka suara untuk waktu yang cukup lama.
Setelah merasa cukup canggung, akhirnya Raja membuka suara untuk mencairkan suasana, "Kamu mungkin satu-satunya orang yang tahu jika aku bukan berasal dari dunia kalian," Raja menatap Nenek dengan nanar.
"Apa yang pembunuh sepertimu inginkan? Kedatanganmu ke dalam tubuh Kazan mungkin hanya akan menjadi satu petaka untuk suku kami," ucap Nenek tua dengan tubuh gemetar ketakutan.
Nenek tua sempat melihat ingatan Kazan, ketika dirinya mencoba membangunkannya beberapa saat lalu. Nenek sangat terkejut ketika melihat jiwa yang bersemayam pada Kazan, merupakan satu jiwa yang lebih mengerikan dari bayangannya.
"Aku memang pernah menjadi pembunuh. Tapi itu semua bukan kemauanku, Nenek," jawab Raja sembari mendekat.
"Jangan! Jangan ke sini!" Ucap Nenek sembari beringsut mundur. Dia ketakutan ketika melihat Raja sudah cukup dekat dengannya.
"Tidak apa-apa, Nenek l... Sekarang lakukan lagi apa yang tadi kamu lakukan. Aku mengizinkanmu," ucap Raja sembari menyentuh pundak nenek tua.
Nenek tua hanya bisa meneguk ludahnya, dia sangat ketakutan ketika menatap mata Raja, yang selalu memancarkan kekosongan, bagaikan sepasang mata milik seekor ikan yang sudah mati.
Karena tidak memiliki pilihan lain, Nenek tua kembali mengintip ingatan Raja. Dia berjalan di dalam ruang gelap sendirian, dan terus melangkah masuk semakin jauh dari tempatnya masuk.
Kepingan demi kepingan ingatan milik Raja jelas terlihat di depan wajah nenek tua. Tidak ada yang terlewat hingga dia akhirnya melihat semua kejadian yang sudah dilewatinya. Semenjak hari dimana Raja diberikan nama oleh dua orang yang memungutnya, hingga ketika Raja mati demi menuruti kata hatinya.
Nenek tua kemudian tertunduk lemas, dia bersimpuh di atas permukaan transparan, dengan bulir bening yang mulai mengucur dari sudut kedua matanya.
"Malang sekali nasibmu, anak muda," ucap Nenek tua tersengal, dia menangis sesenggukan, setelah melihat ingatan Raja secara utuh.
Semula dia mengira Raja merupakan satu pembunuh tidak berperasaan. Namun kini dia mengerti jika Raja melakukan hal tersebut karena dia tidak memiliki pilihan lain.
"Sudahlah, Nenek... Sudah tujuh tahun lamanya aku lahir di tempat ini. Aku tidak akan menjadi pembunuh seperti itu lagi, jika kalian tetap menerimaku seperti semula," ucap Raja sembari berjongkok di depan nenek.
Nenek itu menatap ke arah mata Raja, dia merasa sedikit terkejut dengan tatapan pria menyeramkan di depannya, karena itu tatapan mata yang belum pernah dirinya lihat di dalam ingatan Raja.
Raja saat ini tersenyum begitu lebar, pipinya sedikit merona, dengan mata hitam kosongnya yang mulai berkaca.
Dalam raut seperti itu, Raja kembali membuka suaranya, "Aku sangat bahagia karena bisa terlahir di dekat kalian. Ini adalah kesempatan kedua yang sudah aku dapatkan, aku tidak ingin membuangnya sama sekali."
Mendengar hal itu, tubuh Nenek seketika bergetar. Dia kembali menangis sejadi-jadinya, kemudian membiarkan Raja mendekap tubuh renta miliknya.
Setelah itu, kesadaran dua manusia itu kembali ke dalam tubuh mereka. Kazan dan Nenek tua kembali sadar hampir bersamaan, dan membuat keluarga Kazan bergegas memapah mereka, untuk membantu dua manusia itu untuk duduk di tempat mereka berbaring.
"Maaf, Garhan... Aku tadi hanya melihat satu pecahan ingatan, dan langsung menyimpulkan jika anakmu berbahaya," ucap Nenek tertunduk.
"Sebenarnya ada apa?" Garhan sangat penasaran.
"Tidak apa-apa, Garhan. Anakmu memiliki takdir yang berat di pundaknya. Sekarang lihat saja di bagian bahu kanan miliknya, kamu mungkin sudah tahu tentang hal itu," sambung Nenek.
Bukan hanya Garhan. Yuzu dan Nuzu juga langsung menghambur ke arah Kazan yang sedang kebingungan dengan perubahan bentuk tubuhnya.
Mereka tidak memperdulikan kebingungan Kazan dan langsung membuka mantel bulu yang tengah melilit tubuh Kazan dengan tergesa.
Yuzu hanya memiringkan kepala, namun Nuzu dan Garhan secara sempurna membulatkan mata setelah melihat apa yang ada di bahu milik anaknya.
Sebuah bekas luka seperti luka bakar benar-benar melekat pada punggung kanan Kazan, dan anehnya lagi bekas luka tersebut memiliki bentuk yang cukup sempurna.
Luka itu bukan hanya sekedar luka bakar saja, melainkan satu penanda yang hanya di
miliki oleh orang-orang yang terpilih, sama seperti leluhur mereka.
Sebuah gambar yang terbentuk dari kulit yang terbakar, membentuk satu ekor naga yang melingkar di balik punggung Kazan.
Melihat hal tersebut, Garhan dan Nuzu hanya bisa menelan ludah yang tercekat di tenggorokan mereka. Tidak ada satu hal pun yang bisa meringankan keterkejutan mereka, karena apa yang pernah mereka dengar dari dongeng, secara tiba-tiba muncul dari darah daging mereka.
"Ada apa di punggungku?" tanya Kazan keheranan, karena semua orang mendadak bungkam setelah melihat punggung miliknya.
"Kazan... Kamu jangan pernah menunjukkan punggungmu kepada siapapun. Kamu bisa janji?" tanya Nuzu sembari membenarkan mantel bulu milik Garhan untuk menutup punggung Kazan, "Yuzu... Rahasiakan apa yang sudah kamu lihat tadi... Kamu juga bisa, kan?" sambung Nuzu kembali.
Kazan dan Yuzu yang tidak mengerti maksud dari perkataan tersebut, hanya bisa mengangguk untuk menjawab permintaan tersebut.
Mereka tidak menganggap itu serius sebelum Garhan membuka suara di dekatnya, "Kalau ada yang tahu tanda itu, saat itu juga hidup Kazan... Tidak, hidup semua anggota suku kita akan langsung dipertaruhkan."
"Benar... Jangan sampai ada satu orangpun yang tahu tentang itu, karena kita tidak bisa mempercayai satupun mulut yang bukan milik kita sendiri," Nenek tua menimpali.
Nenek memasang wajah sangat meyakinkan, dia langsung berhasil membuat Garhan dan Nuzu percaya, kalau Nenek tidak akan membocorkan informasi tersebut.
Memang benar Nenek juga tidak ada maksud untuk membocorkan, karena entah bagaimana rasa iba setelah melihat ingatan Raja berhasil menguasai seluruh hatinya.
Setelah semua setuju, hari itu Kazan pulang bersama semua anggota keluarganya, dia dijanjikan akan mendapat penjelasan dari kedua orang tuanya, setelah mereka sampai pada rumah tercintanya.
Saat mereka sampai di rumah, Garhan dan Nuzu mulai bercerita. Mereka menjabarkan sebuah legenda, yang mungkin hanya dianggap sebagai cerita penghantar tidur saja.
Namun meski dianggap begitu, apa yang dijabarkan oleh Garhan dan Nuzu merupakan sebuah kenyataan. Sebuah kebenaran tentang suku milik Kazan dan kebenaran tentang dunia Khayalia yang hanya diketahui oleh segelintir tokoh saja.
Seperti apa ceritanya?
Kita lanjutkan di episode selanjutnya.
Bersambung....
aku mampir mas Thor..
aku tunggu ya kak di persimpangan sini,, kalo sudah sampai beri tanda ,,, wkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkwkw
cerita mu menarik, selalu buat penasaran. semoga secepat nya dikontrak novelnya ya thor 👍👍
kazan up lgii
mksh udah up
semangat