Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pasangan Selingkuh
Laluna dengan masker yang menutupi wajahnya dan satu kantong makanan di tangannya, ia melangkah menuju apartemen dimana sang kekasih berada, Kevin Mahesa.
Hubungan mereka sudah terjalin selama 5 tahun. Walau mereka saling sibuk karena pekerjaan masing-masing, mereka tetap berusaha mempertahankan hubungan itu. Kevin adalah satu-satunya pria yang selalu membuat Laluna percaya bahwa cinta mereka akan bertahan selamanya.
Hari ini, Laluna sengaja datang tanpa memberi tahu Kevin. Ia ingin memberikan kejutan kecil setelah beberapa minggu mereka jarang bertemu karena jadwal mereka yang begitu padat.
Dengan senyum kecil di wajahnya, Laluna menekan bel apartemen Kevin. Tidak ada jawaban. Laluna yang tahu bahwa apartemen kekasihnya itu jarang sekali dikunci segera membukanya. Benar saja, pintu tersebut dengan sangat mudah terbuka.
Laluna segera melangkah masuk kedalam apartemen itu. Namun, langkahnya terhenti saat terdengar suara desahan dari arah kamar tidur. Laluna yang mendengar itu mengernyit.
'Suara apa itu? Siapa yang ada disini, kenapa aku mendengar desahan seorang wanita,' batinnya.
Laluna yang penasaran segera melangkah menuju ke dekat kamar itu mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia salah mendengar. Namun, semakin Laluna mendekat. Suara desahan itu semakin terdengar menusuk ke telinganya. Saat ia sampai di depan pintu itu, pintu itu terbuka sedikit yang bisa membuat Laluna melihat siapa orang yang ada di dalam sana.
"Ah... Ah, lebih cepat, sayang," suara wanita terdengar mendesah.
Laluna yang mendengar itu memicingkan pandangannya mencoba melihat jelas siapa orang yang tengah melakukan adegan dewasa di kamar kekasihnya itu. Saat terdengar lagi suara pria yang tak asing bagi Laluna, ia membulatkan matanya.
"Enak kan sayang? Aku cinta sama kamu," suara pria itu terdengar manja dan dari balik pintu terdengar pria itu tengah memeluk wanita yang telanjang bulat.
'Kevin? Kenapa dia berani menyelingkuhiku?' batin Laluna, tangannya mulai mengepal.
Saat melihat wanita yang berada di pelukan sang kekasih adalah asistennya,Selena Aveline. Amarah dari Laluna mulai membuncah, ia segera menendang pintu itu dengan kasar yang membuat Kevin dan Selena terkejut. Selena yang melihat bosnya datang segera mengambil pakaiannya dan memakainya dengan cepat. Sedangkan Kevin, yang kepergok selingkuh segera meraih celana yang tak jauh dari arahnya dan memakainya.
Laluna dengan nafas yang tersengal sengal, akibat amarah yang sudah lagi tidak bisa ia bendung segera menampar Kevin dengan kencang yang membuat pria itu meringis kesakitan.
"Dasar pasangan mesum! Berani sekali kalian mengkhianati ku!" teriak Laluna.
Kevin terdiam membeku. Tidak pernah sedikit pun ia membayangkan Laluna akan datang dan melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
"Lu... Luna, dengarkan aku dulu," ucap Kevin terbata-bata sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparan itu.
Namun, tatapan Laluna yang biasanya penuh kasih kini berubah menjadi tatapan penuh kekecewaan dan kemarahan.
"Mendengarkan apa?" bentak Laluna. "Alasanmu? Atau kebohongan lain yang akan kamu buat supaya aku percaya padamu?"
Kevin membuka mulutnya, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki alasan untuk membela diri. Selena yang sudah mengenakan pakaiannya perlahan mendekati Kevin. Wanita itu tidak terlihat takut sedikit pun, bahkan ada senyum tipis yang tersungging di wajahnya.
"Luna, jangan salah paham..." kata Selena dengan nada tenang yang justru membuat Laluna semakin muak.
"Salah paham?" Laluna tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar pahit. "Aku melihat kalian berdua di tempat tidur. Aku mendengar semuanya dengan telingaku sendiri. Lalu kamu bilang aku salah paham?Enak sekali kau berkata seperti itu, kamu kira aku bodoh?"
Selena terdiam sesaat, lalu menyilangkan tangannya di depan dada.
"Kevin dan aku memang sudah lama dekat."
Mata Laluna langsung menatap Selena tajam. "Apa maksudmu?"
Selena melirik Kevin sebentar sebelum kembali menatap Laluna.
"Aku dan Kevin sudah bersama bahkan dari kamu dan Kevin berpacaran," ujarnya, santai.
Jantung Laluna seakan berhenti berdetak. Pengkhianatan yang sudah terjadi begitu lama membuat Laluna semakin merasa terkhianati. Sikap Kevin yang selalu peduli dan menerima semua kesibukannya ternyata hanya sebuah kepalsuan yang diperlihatkan pria itu.
"Apa benar yang dikatakan wanita itu?" suara Laluna bergetar. "Kevin?"
Kevin menundukkan kepalanya. Sikap diamnya justru menjadi jawaban paling menyakitkan bagi Laluna. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tetapi ia menahannya mati-matian. Ia tidak ingin menangis di depan dua orang yang sudah menghancurkan harga dirinya.
"Selama lima tahun..." bisiknya. "Lima tahun aku percaya sama kamu, tapi ini balasanmu. Kevin Mahesa!!!"
Laluna dengan amarah yang menggebu gebu menarik tangan Kevin dengan cepat. Kevin terkejut saat Laluna tiba-tiba menarik lengannya dengan kasar. Tidak ada lagi kelembutan yang biasanya ia lihat dari wanita yang telah menemaninya selama lima tahun.
"Luna! Lepaskan aku!" teriak Kevin panik.
Namun, Laluna tidak mendengarkan. Amarah, rasa kecewa, dan sakit hati yang selama ini ia tahan akhirnya meledak.
"Keluar!" bentaknya.
Selena yang berjalan di belakang mereka juga mulai kehilangan ketenangannya. Ia tidak menyangka Laluna yang selama ini dikenal sebagai wanita tenang bisa berubah seperti ini.
"Luna, jangan berlebihan!" ucap Selena kesal.
Mendengar itu, Laluna langsung berhenti berjalan. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang membuat Selena terdiam.
"Berlebihan?"
Laluna tertawa kecil, tetapi air matanya mulai jatuh tanpa ia sadari. "Aku memergoki kekasihku sendiri tidur dengan wanita lain di apartemen yang sudah aku beli. Dan siapnya, wanita itu adalah asistenku yang setiap hari bekerja bersamaku. Dan kamu masih bilang aku berlebihan?"
Selena mengeraskan rahangnya. "Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Yang aku tahu adalah kalian mengkhianatiku."
Laluna kembali menarik Kevin hingga pria itu terdorong keluar dari pintu apartemen.
"Pergi dari sini!Ini apartemen milikku!"
Kevin menatap Laluna dengan wajah penuh rasa bersalah. "Luna, tolong dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa?" teriak Laluna. "Bahwa kamu tidak sengaja mencintai wanita lain? Bahwa selama lima tahun aku hanya menjadi seseorang yang kamu pertahankan karena karirmu?"
Kevin terdiam. Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan apa pun. Selena yang berada di samping Kevin tiba-tiba tertawa kecil.
"Sudahlah, Kevin. Tidak perlu menjelaskan. Toh dia sudah tahu."
Tatapan Laluna langsung berpindah kepadanya. "Kamu puas?Jalang!"
Selena mengangkat alis. "Apa?"
"Kamu berhasil menghancurkan hubungan kami. Kamu berhasil mengambil seseorang yang aku percaya."
Selena tersenyum tipis. "Jangan menyalahkanku, Luna. Kalau Kevin benar-benar mencintaimu, dia tidak akan memilihku."
Ucapan itu membuat dada Laluna terasa sesak. Ia mengangkat tangannya dan menampar wanita itu di depan semua orang. Yang membuat Selena meringis kesakitan.
"Dasar pengkhianat! Pergi dari apartemenku! Dan jangan sampai aku melihat kalian di hadapanku lagi!"
Selena hanya tersenyum tipis melihat amarah dari Laluna, ia segera membantu Kevin bangkit untuk pergi dari Laluna. Namun, sebelum melangkah lebih jauh. Selena menoleh ke arah Laluna yang masih menatap benci ke arah mereka.
"Luna, nantikan kehancuranmu!" Senyum sinis terukir di wajah Selena.