NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tawaran dari investor lain

Dua minggu berjalan sejak Rani resmi terlibat langsung dalam evaluasi proyek Alinea, kerja sama antara Cahaya Abadi Investama dan studio kreatif itu berjalan semakin stabil. Dimas menjaga jarak profesional dengan hati-hati, memastikan setiap keputusan besar melalui diskusi tim, bukan lagi sekadar inisiatif pribadinya seperti di awal.

Namun, kestabilan itu terganggu suatu pagi, saat Alya menghubungi Dimas dengan suara panik di telepon.

"Dimas, kamu ada waktu sekarang? Ada yang perlu aku omongin, penting banget."

Dimas segera membatalkan agenda paginya, mengajak Rani ikut serta sesuai prinsip transparansi yang sudah mereka sepakati, dan bergegas menuju studio Alinea.

Sesampainya di sana, suasana studio terasa berbeda dari biasanya—tegang, dengan Alya duduk di meja kerjanya, wajahnya pucat, sebuah dokumen tergeletak di depannya.

"Ada tawaran investasi baru," kata Alya begitu Dimas dan Rani duduk. "Dari perusahaan besar, namanya Vertex Capital. Mereka tawarkan dana lima kali lebih besar dari yang kalian tawarkan, dengan syarat saya harus lepas 40 persen kepemilikan studio ke mereka."

Dimas membaca dokumen itu dengan cepat, alisnya berkerut melihat detail persyaratan yang tertera. "Ini... syaratnya cukup ketat. Mereka minta hak veto penuh atas keputusan kreatif besar, termasuk pemilihan klien dan gaya desain untuk proyek di atas nilai tertentu."

"Aku tahu," jawab Alya, suaranya bergetar. "Ini persis kayak yang terjadi sama studio pertamaku dulu. Tapi Dimas, jumlah dananya... ini bisa bikin studio ini berkembang jauh lebih cepat dari skema kita sekarang."

Dimas menatap Alya, memahami dilema besar yang sedang ia hadapi—antara godaan pertumbuhan cepat dan risiko kehilangan kendali kreatif yang selama ini ia jaga mati-matian.

"Kamu udah kasih tahu tim kamu soal ini?" tanya Dimas.

"Belum," jawab Alya. "Aku pengen dengar pendapat kamu dulu, sebelum aku putuskan apa pun."

Rani, yang sejak tadi memperhatikan diam-diam, akhirnya angkat bicara. "Kalau boleh saya kasih pendapat, Mbak Alya, ini keputusan besar yang nggak seharusnya diambil sendirian. Menurut saya, penting juga dengar pendapat tim kreatif Anda—termasuk Mas Reza, yang saya lihat selalu jadi orang kepercayaan Mbak Alya dalam hal-hal penting."

Dimas menatap Rani sekilas, sedikit terkejut sekaligus lega dengan masukan itu—bukti bahwa keputusan melibatkan tim lebih luas benar-benar membantu menjaga objektivitas, bukan sekadar formalitas belaka.

"Rani benar," kata Dimas, mengangguk setuju. "Saya bisa kasih analisis dari sisi bisnis, tapi keputusan soal arah kreatif studio ini, itu hak kamu dan tim kamu sepenuhnya, Alya. Saya nggak mau kelihatan kayak lagi 'jual diri' cuma karena takut kehilangan klien ke Vertex Capital."

Alya menatap Dimas lama, ada kelegaan tersirat di wajahnya mendengar kejujuran itu. "Itu justru yang aku hargai dari kamu, Dimas. Kamu nggak pernah maksa aku milih kalian cuma demi keuntungan perusahaan kamu sendiri."

Ia memanggil Reza untuk bergabung dalam diskusi itu. Reza masuk dengan ekspresi waspada seperti biasa, tapi kali ini duduk mendengarkan dengan saksama tanpa langsung melontarkan sindiran seperti kebiasaannya.

"Vertex Capital ini bukan nama asing," kata Reza setelah membaca dokumen itu. "Beberapa teman aku di industri kreatif pernah kerja sama dengan mereka. Hasilnya nggak bagus. Studio-studio yang mereka danai akhirnya jadi terlalu komersial, kehilangan ciri khas masing-masing demi ngejar tren pasar."

"Itu juga kekhawatiran aku," kata Alya, mengangguk setuju.

Reza menatap Dimas, ekspresinya untuk pertama kalinya tidak lagi penuh kecurigaan. "Kalau kamu jujur bilang keputusan ini sepenuhnya di tangan Alya, tanpa maksa dia pilih kalian, aku respect itu, Dimas. Itu beda banget sama cara kerja investor-investor besar biasanya."

Setelah diskusi panjang, Alya akhirnya mengambil keputusan untuk menolak tawaran Vertex Capital, memilih tetap melanjutkan kerja sama dengan skema fleksibel bersama Cahaya Abadi Investama meski dengan dana yang jauh lebih kecil.

"Aku lebih milih berkembang pelan-pelan tapi tetap jadi diri sendiri, daripada cepat besar tapi kehilangan identitas," katanya mantap, menandatangani surat penolakan resmi untuk Vertex Capital sore itu juga.

Dimas merasa lega sekaligus bangga melihat keputusan itu, meski ia sadar keputusan itu murni datang dari keyakinan Alya sendiri, bukan karena pengaruh dirinya.

Sepulang dari studio, Dimas melaporkan hasil pertemuan itu ke Kirana, menjelaskan detail situasi dan keputusan akhir yang diambil Alya.

"Kamu tangani ini dengan baik, Dimas," kata Kirana, tersenyum puas mendengar laporan itu. "Kamu nggak maksa dia pilih kita, kamu kasih dia ruang buat mikir sendiri. Itu yang bikin kepercayaan klien bertahan lama, bukan cuma sekadar menang tawaran sesaat."

"Saya belajar itu dari Ibu," jawab Dimas, tersenyum tulus.

Malam itu, setelah semua urusan kerja selesai, Alya mengirim pesan singkat ke Dimas.

"Makasih udah dukung keputusan aku hari ini, bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal cara kamu jujur ke aku. Nggak semua orang berani sejujur itu, apalagi kalau itu bisa bikin mereka rugi."

Dimas menatap pesan itu lama, merasa hangat membaca kalimat itu. Ia mengetik balasan, mempertimbangkan setiap kata dengan hati-hati.

"Aku cuma nggak mau kamu nyesel kayak dulu. Lagian, aku lebih percaya sama insting kamu soal studio ini daripada insting aku sendiri soal angka-angka."

Balasan Alya datang cepat, disertai emoji tertawa kecil. "Insting angka-angka kamu juga penting kok. Kombinasi kita lumayan seimbang, ya?"

Dimas tersenyum membaca pesan itu, merasakan sesuatu yang semakin jelas tumbuh di hatinya—bukan lagi sekadar ketertarikan samar seperti awal mereka bertemu, melainkan perasaan yang mulai ia yakini sepenuhnya, meski ia tahu, langkah selanjutnya untuk mengungkapkannya masih membutuhkan keberanian ekstra yang belum sepenuhnya ia miliki.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!